Terbaik, Model Pembelajaran Tatap Muka

277

Oleh: Nelson Sihaloho

 

Rasional:

Proses kegiatan pembelajaran yang dilakukan selama pandemi Covid-19 memberikan banyak pelajaran sangat penting. Sebab, kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka ternyata lebih efektif apabila dibandingkan dengan sistem pembelajaran online. Banyak kalangan menyatakan bahwa efektivitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring sulit diukur. Pasalnya, belajar daring selama pandemi virus korona (covid-19) banyak ditemukan kendala. Sistem belajar mengajar tanpa tatap muka antar guru dengan peserta didik selama 4 bulan dengan menggunakan media online kurang maksimal. Salah satunya akibat dari keterbatasan koneksi internet di sejumlah daerah. Selain itu keberagaman dengan latar belakang ekonomi hingga akses terhadap teknologi pun menjadi hambatan. Dalam kondisi demikian tidak hanya para peserta didik yang dihadapkan pada tantangan untuk belajar jarak jauh termasuk juga para kalangan orang tua. Peserta didikpun akhirnya merasakan kewalahan dengan tugas menumpuk yang diberikan. Termasuk biaya kuota internet yang dibutuhkan untuk merampungkan tugas. Merujuk Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 ditegaskan ada empat hal yang perlu dicermati. Empat ketentuan proses belajar dari rumah, pertama, untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa tanpa terbebani penuntasan kurikulum; kedua, fokus pada pendidikan kecakapan hidup, misalnya soal pandemi Covid-19; ketiga, aktivitas dan tugas disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing siswa; serta keempat, evaluasi siswa/i bersifat kualitatif, bukan kuantitatif. Mencermati hal tersebut bahwa tatap muka tetap menjadi sistem pembelajaran terbaik diantara sistem pembelajaran yang ada.

Daring Bertarif?

Model pembelajaran daring di masa pandemic Covid-19 memang menjadi pilihan utama dalam system pembelajaran yang identik dengan belajar dari rumah (BDR). Dengan sistem daring peserta didik bisa menerima materi pembelajaran dengan lebih santai, menyenangkan, fleksibel, efisien, singkat, praktis, cepat, tepat, aman, mudah, hemat waktu, hemat tenaga. Model pembelajaran dalam jaringan para orang tua bisa mengawasi anak-anaknya dalam belajar. Bisa juga membuat para peserta didik dan guru menjadi melek teknologi, mempercepat era society 5.0. Bisa juga meningkatkan kemampuan siswa untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas-yugas yang diberikan kepada mereka. Banyak kalangan juga menyatakan bahwa dengan pembelajaran daring juga merupakan salah satu upaya dalam mempersiapkan peserta didik untuk siap bersaing di era digital.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan peserta didik yang dilakukan melalui online dengan menggunakan jaringan internet. Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet sudah barang tentu akan bertarif. Kendatipun guru dapat melakukan pembelajaran dengan bersama pada waktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran kouta internet akan berkurang. Termasuk apabila dilakukan pembelajaran daring melalui internet sekolah tetap akan berbayar sebab anggaran jaringan internet tidak ada yang gratis. Sistem pembelajaran daring juga memiliki kendala dalam pelaksanaanya di lapangan. Terutama apabila ada orang tua peserta didik yang tidak memiliki handphone maka peserta didik akan terkendala untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini berimbas pada pihak sekolah yang terpaksa ikut mencari solusi untuk mengantisipasi hal-hal yang ditemukan tersebut. Tidak mungkin pihak sekolah memiliki anggaran untuk membeli hand phone untuk peserta didik. Perlu digarisbawahi bahwa kuota untuk pembelajaran daring membutuhkan biaya cukup tinggi terutama peserta didik dan guru guna memfasilitasi terlaksananya kegiatan pembelajaran daring juga menjadi salah satu kendala. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak, bahkan banyak kalangan orangtua peserta didik tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet. Berdasarkan pengalaman penulis mengajar secara daring, sistem ini hanya efektif untuk memberi penugasan itupun jika dilakukan dengan menggunakan WhatsApp Group dan Aplikasi WhatsApp (WA). Tidak semua aplikasi pembelajaran daring bisa digunakan begitu saja dan harus dipertimbangkan kebutuhan guru dan peserta didik, kesesuaian terhadap materi termasuk keterbatasan infrastrukur perangkat. Sistem belajar daring harus mengacu pada prinsip mudah, murah dan bisa dilakukan oleh siswa seperti laporan kegiatan sehari-hari di rumah. Tidak perlu banyak gaya dan bentuk aplikasinya mentereng dipamerkan dalam grup daring namun sulit dimengerti oleh peserta didik. Termasuk dalam mengikuti ujian daring semestinya menggunakan prinsip mudah efektif dan efesien untuk diakses oleh peserta didik.
Selain hal tersebut sedapat mungkin mengurangi sistem online terus menerus agar tidak menghabiskan kuota peserta didik. Pembelajaran daring dan ujian daring juga diusahakan se-efesien mungkin serta menghindari peserta didik agar tidak sampai mengisi absen online diluar jam resmi. Apabila kondisi seperti itu terjadi akan mengganggu serta memberikan suatu rasa ketidaknyamanan.

Pembelajaran Tatap Muka

Sistem pembelajaran terbaik adalah pembelajaran dengan bertatap muka dan berinteraksi dengan guru dan teman-teman. Dalam kegiatan proses belajar-mengajar secara tatap muka ada nilai yang bisa diambil oleh siswa. Diantaranya proses pendewasaan sosial, budaya, etika, moral dan hanya bisa didapatkan dengan interaksi sosial pada suatu area pendidikan. Dalam melaksanakan kegiatan PBM, pengelolaan siswa dilakukan dalam beragam bentuk seperti individual, berpasangan, kelompok kecil, atau klasikal. Beberapa pertimbangan perlu diperhitungkan sewaktu melakukan pengelolaan siswa. Antara lain jenis kegiatan, tujuan kegiatan, keterlibatan siswa, waktu belajar, dan ketersediaan sarana/prasarana. Hal yang sangat penting perlu diperhitungkan adalah keberagaman karakteristik siswa. Guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. Untuk itu, perlu dirancang kegiatan belajar mengajar dengan suasana yang memungkinkan setiap siswa memperoleh peluang sama untuk menunjukkan dan mengembangkan potensinya. Beberapa contoh perbedaan karakteristik masing-masing siswa yakni factor keberagaman yakni dari sisi isi (by content). Pengelolaannya adalah dengan memberikan peluang kepada siswa untuk mempelajari materi yang berbeda dalam sasaran kompetensi yang sama ataupun berbeda. Sedangkan dari sisi minat dan motivasi siswa (by interest) pengelolaannya adalah dengan memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi sesuai dengan minat dan motivasi belajar terlepas dari kompetensi yang sama atau berbeda. Hal ini diharapkan mampu memacu motivasi siswa untuk belajar lebih lanjut secara mandiri. Untuk kecepatan tahapan belajar (by pace) pengelolaannya dengan memberikan peluang kepada siswa untuk belajar (bekerja) sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran, serta kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Adapun factor keberagaman tingkat kemampuan (by level) yaitu dengan memberikan peluang kepada setiap siswa untuk mencapai kompetensi secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki. Keberagaman bisa pada kompetensi dan/atau isi materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan siswa.
Begitu juga dengan reaksi yang diberikan siswa (by respond) focus dengan memberikan kesempatan atau peluang kepada siswa untuk menunjukkan respon melalui presentasi/menyajikan hasil karyanya secara lisan, tertulis, benda kreasi, dan sebagainya. Untuk siklus cara berpikir (by circular sequence) yakni dengan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menguasai materi melalui cara-cara berdasarkan perspektif yang mereka pilih struktur pengetahuan (by structure). Sedangkan untuk waktu (by time) adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih (menyeleksi) materi berdasarkan cara yang dikuasai, misal: dari yang mudah ke sulit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari dekat ke jauh. Adapun pendekatan pembelajaran (by teaching style) yakni dengan memberikan perhatian kepada setiap individu siswa yang kemungkinannya memiliki perbedaan durasi untuk mencapai ketuntasan dalam belajar Memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap individu sesuai dengan keadaan siswa.

Metode Tatap Muka dan Online

Kegiatan tatap muka merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Untuk sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen dan metode lainnya.Umumnya strategi pembelajaran tatap muka adalah suatu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre oriented). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri (discovery inquiry).
Pemilihan strategi ekspositori dilakukan apabila karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai; sumber referensi terbatas;jumlah pesera didik dalam kelas banyak;Alokasi waktu terbatas; danJumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak. Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan yakni, preparasi, guru menyiapkan bahan/materipembelajaran Apersepsi diperlukan untuk penyegaran. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran.Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan yakni karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai;Sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup;Jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak;Materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan Alokasi waktu cukup tersedia. Adapun Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri yakni memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran bisa berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya. Adapun langkah-langkahnya yakni Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah, merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau jawaban sementara. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data, Menganalisis data dan melakukan verifikasi; Melakukan generalisasi. Bandingkan dengan model mengajar online ini dimana seorang guru/ instruktur berada di tempat lain, namun bisa mengajar di kelas yang dia inginkan. Dalam pengajaran online, instruktur berkomunikasi dengan siswa yang berada di kelas. Kehadiran mereka biasanya ditandai textually dan kadang-kadang visual oleh SKYPE, yahoo messager, facebook, line, atau kakaotalk. Dalam belajar secara Online, siswa mengikuti proses pembelajaran yang disampaikan (delivered) secara online melalui jaringan baik internet maupun intranet. Salah satu cara dalam mengembangkan sistem pembelajaran online yaitu dengan menggunakan aplikasi LMS (Learning manajemen Sistem) yaitu sebuah perangkat untuk membuat materi pembelajaran berbasis web yang mengelolah kegiatan pembelajaran beserta hasilnya dan menfasilitasi interaksi antar guru dan siswa, antar guru dan guru, dan antar siswa dengan siswa. Adapun keuntungan menggunakan metode online dapat digunakan media yang bervariasi;Informasi yang up-to-date; navigasi ; bertukar ide; komunikasi yang nyaman; biaya rendah; menghemat waktu, mengurangi stress; mengurangi kelelahan; dapat mengajar dari jauh dan masih bisa menjaga kelasnya.
Sedangkan yang menjadi kelemahan mengajar online yakni harus ada jaringan/ koneksi internet ditempat belajar mengajar, guru atau instruktunya tidak gaptek, sarana dan prasarana guru/ intsruktur dan tempat mengajar harus modern. Umur-materi yang tidak pantas, hak cipta, pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya, pendukung serta akses.

Picu Kesenjangan

Sistem pembelajaran tatap muka maupun sistem pembelajaran jarak jauh, dua-duanya dapat dilaksanakan dan dikembangkan dengan menggunakan berbagai teori belajar yang ada. Teori belajar berperan sebagai sarana/media/alat/program yang dapat dilaksanakan dan dikembangkan ke dalam dua jenis sistem pembelajaran, baik pada pembelajaran dengan sistem tatap muka maupun jarak jauh. Selain itu perlu dipertimbangkan pelaksanaannya serta disesuaikan dengan keadaan/kondisi di lapangan. Sistem tatap muka dapat diaplikasikan pada pembelajaran bersifat paedagogis, sedangkan sistem jarak jauh akan efektif untuk pembelajaran andragogis.
Banyak kalangan menyatakan bahwa materi pembelajaran jarak jauh lebih sulit daripada materi pembelajaran tatap muka. Bahkan banyak siswa mengeluhkan bosan mengikuti pembelajaran daring dan lebih bersemangat mengikuti pembelajaran tatap muka. Selain itu disparitas atau kesenjangan kualitas yang masih lebar khususnya di kawasan perkotaan dengan pedesaan. Juga menimbulkan disparitas dan persoalan baru dalam proses belajar mengajar jarak jauh akibat pandemi Covid-19. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi juga kesenjangan prestasi di antara siswa dari latar belakang sosial ekonomi berbeda dengan masyarakat miskin. Apabila dilakukan penelitian lebih lanjut berkemungkinan besar banyak siswa merasa sulit untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dengan system pembelajaran jarak jauh. Apabila esensi dari belajar bertujuan untuk mencari tahu apa yang belum diketahui, serta mengolah informasi menjadi ilmu pengetahuan, maka idealnya koneksi internet bukanlah halangan.
Konsekuensi yang terjadi di lapangan bahwa belajar daring yang banyak dipilih sekolah pada akhirnya sangat membebani keluarga berpenghasilan pas-pasan. Beberapa hal yang berbeda tatkala kegiatan belajar tatap muka sebelum dan selampandemic Covid-19. Diantaranya sekolah tatap muka pada saat sebelum pandemi sifatnya wajib. Sedangkan, pada masa pandemi tidak wajib. Sebelum pandemi seluruh jenjang diwajibkan sekolah, sementara pada saat pandemi jenjang yang diperbolehkan untuk kembali ke sekolah mulai dari jenjang SMP. Kapasitas kelas saat sebelum pandemi juga bisa sepenuhnya dimanfaatkan. Sedangkan pada masa pandemi, sekolah yang boleh dibuka hanya diperbolehkan menampung 30-50 persen kapasitas kelas tergantung dari luas ruangan. Jadwal masuk sekolah pada saat sebelum pandemi adalah 5-6 hari kerja, Jadwal masuk dan pulang berbeda, sebelum pandemi jadwal masuk sekolah antara pukul 07.15 Wib dan pulang sekitar pukul 14.30. Pada masa pandemi, siswa berangkat ke sekolah masuk mulai pukul 07.30 dan selesai pukul 11.30. Sekolah yang diperbolehkan buka dan melakukan proses belajar mengajar secara tatap muka diwajibkan menerapkan protokol kesehatan, menyediakan fasilitas cuci tangan, mewajibkan penggunaan masker, dan memastikan seluruh orang yang masuk ke dalam sekolah menjaga jarak. Saat pandemi beberapa fasilitas dan kegiatan sekolah seperti kantin dilarang buka untuk menghindari para siswa berkerumun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran terbaik adalah pembelajaran tatap muka yang bisa diukur pencapaiannya dengan melalui interaksi antara guru dengan peserta didik. Hasil pembelajaran bisa langsung dipraktikkan dengan baik oleh para peserta didik khusunya di sekolah kejuruan. Selain itu bisa mengurangi kesenjangan dalam penguasaan materi pelajaran apabila dilakukan dengan tatap muka. Semoga Bermanfaat. (Penulis: Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi)

Rujukan:

1. Hartanto, W. (2016). Penggunaan ELearning sebagai Media Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Ekonomi, 10(1), 1–18. “Indonesia confirms first cases of coronavirus”. Bangkok Post (dalam bahasa Inggris). Reuters. 2 Maret 2020.Diakses tanggal 2 Maret 2020.
2. Prawiradilaga, Salma, dkk. 2016. Mozaik Teknologi Pendidikan : E-Learning.Jakarta : Prenadamedia Group.
3. Ratcliffe, Rebecca (2 Maret 2020). “First coronavirus cases confirmed in Indonesia amid fearsnation is ill-prepared for an outbreak”. The Guardian (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Maret 2020.
4. Rustiani, R., Djafar, S., Rusnim, R., Nadar, N., Arwan, A., & Elihami, E. (2019, October). Measuring Usable Knowledge: Teacher’s Analyses of Mathematics for Teaching Quality and Student Learning. In International Conference on Natural and Social Sciences (ICONSS) Proceeding Series (pp. 239-245).
5. Yaumi, Muhammad. 2018. Media dan Teknologi Pembelajaran.Jakarta: Prenadamedia Grup.

 

Facebook Comments