Bungonews.net-Pertambangan emas tanpa izin bukan lagi sekadar aktivitas ilegal, tetapi telah menjadi potret nyata bagaimana kerakusan manusia mampu menghancurkan alam tanpa memikirkan masa depan. Demi mengejar keuntungan cepat, hutan ditebang, sungai dirusak, dan perut bumi dikoyak tanpa kendali. Sementara segelintir orang menikmati hasilnya, masyarakat luas justru harus menanggung dampak yang berkepanjangan.
Banjir, longsor, air sungai yang tercemar, hingga rusaknya lahan pertanian kini menjadi ancaman nyata di banyak daerah. Ironisnya, ketika bencana datang, alam sering disalahkan. Padahal kerusakan itu lahir dari tangan manusia sendiri yang terus memaksakan eksploitasi tanpa batas.
Keserakahan telah membuat sebagian orang lupa bahwa alam bukan sekadar sumber kekayaan, melainkan sumber kehidupan. Emas yang diambil dengan cara merusak lingkungan mungkin mampu mendatangkan keuntungan besar dalam waktu singkat, tetapi tidak akan pernah mampu mengganti hutan yang hilang, sumber air yang tercemar, dan nyawa masyarakat yang menjadi korban.
Dalam banyak ajaran, manusia telah diingatkan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi. Sebab setiap perbuatan akan membawa akibat. Ketika alam terus dipaksa dan dirusak, maka bencana hanyalah soal waktu.
“Jangan salahkan hujan saat banjir datang, dan jangan salahkan alam ketika longsor menghancurkan kampung. Sebab yang paling merusak bukan alam, melainkan keserakahan manusia yang terus menggali bumi tanpa hati nurani.”
Keuntungan dari tambang ilegal mungkin hanya dinikmati sesaat, tetapi dampak kerusakannya bisa diwariskan hingga ke generasi mendatang.
Dalam pandangan Islam, merusak alam demi kepentingan pribadi termasuk perbuatan yang dilarang. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, yang memiliki tugas menjaga, merawat, dan memakmurkan alam, bukan menghancurkannya demi kerakusan.
Allah SWT telah memperingatkan dalam Al-Qur’an:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa berbagai bencana dan kerusakan yang terjadi sering kali berasal dari ulah manusia sendiri. Ketika hutan dibabat, sungai dirusak, dan gunung dihancurkan demi tambang emas ilegal, maka manusia sejatinya sedang menciptakan kerusakan yang dampaknya kembali kepada kehidupan mereka sendiri.
Islam juga melarang mengambil hak orang lain dengan cara zalim. Pertambangan ilegal yang merusak lingkungan, mencemari air, dan mengancam keselamatan masyarakat termasuk bentuk kezaliman sosial. Keuntungan yang diperoleh dari jalan yang merusak dan melanggar aturan tidak akan membawa keberkahan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman dan tanggung jawab moral. Bahkan menanam pohon dan menjaga sumber air dipandang sebagai amal kebaikan. Sebaliknya, merusak alam yang menyebabkan penderitaan masyarakat termasuk perbuatan yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
“Ketika manusia lebih mencintai emas daripada menjaga bumi ciptaan Tuhan, maka sesungguhnya mereka sedang menukar keberkahan dengan bencana.”
Islam tidak melarang mencari rezeki dan kekayaan, tetapi melarang keserakahan yang menghancurkan alam dan menyengsarakan orang lain. Sebab harta yang diperoleh dengan merusak bumi bisa jadi mendatangkan keuntungan sesaat, namun meninggalkan dosa dan kerusakan yang panjang. (Redaksi )





















Komentar