Bungonews.net- Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi tempat berbagi hampir seluruh aktivitas kehidupan. Mulai dari pekerjaan, perjalanan, hingga urusan pribadi kerap dipublikasikan demi mendapatkan perhatian dan pengakuan. Namun dalam pandangan Islam, ada batas-batas yang perlu dijaga, terutama terkait ibadah dan harta.
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga keikhlasan dalam beramal. Ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT memiliki nilai yang jauh lebih mulia dibanding amal yang dilakukan demi pujian manusia. Karena itu, terlalu sering memamerkan sedekah, shalat, bantuan, hingga aktivitas keagamaan di media sosial dikhawatirkan dapat menimbulkan riya’ atau sikap pamer.
Riya’ merupakan perilaku yang sangat dibenci dalam Islam karena dapat menghapus pahala amal seseorang. Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa riya’ termasuk penyakit hati yang harus dihindari setiap Muslim. Amal yang seharusnya menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah bisa berubah hanya menjadi pencitraan apabila niatnya tidak lagi lurus.
Selain ibadah, Islam juga mengajarkan agar seseorang tidak berlebihan memamerkan harta dan kemewahan hidup. Memperlihatkan kekayaan secara terus-menerus di media sosial dapat memicu iri hati, kesombongan, hingga fitnah di tengah masyarakat. Tidak sedikit pula orang yang akhirnya terjebak dalam perlombaan gaya hidup hanya demi pengakuan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan. Harta hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Karena itu, sikap rendah hati dan sederhana jauh lebih dianjurkan dibanding mempertontonkan kemewahan kepada publik.
Meski demikian, bukan berarti semua bentuk publikasi ibadah atau harta otomatis dilarang. Dalam kondisi tertentu, berbagi dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain, selama tetap menjaga niat, adab, dan tidak berlebihan. Islam menekankan bahwa ukuran utama bukan terletak pada apa yang terlihat manusia, melainkan apa yang tersembunyi di dalam hati.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Bijak atau tidaknya bergantung pada cara seseorang menggunakannya. Dalam Islam, menjaga keikhlasan lebih penting daripada mencari pengakuan, karena amal yang tenang dan tulus lebih dekat pada keberkahan daripada pujian manusia.**





















Komentar