Pergeseran Paradigma Belajar dan Pengembangan Profesi Guru di Abad 21

Oleh: Nelson Sihaloho

Penulis:Guru SMPN 11 Kota Jambi

ABSTRAK:

Pergeseran paradigma pembelajaran terjadi karena pembelajaran merupakan suatu proses, sehingga pada suatu ketika tidak akan bisa menolak terjadinya pergeseran paradigmanya. Pergeseran paradigma pada proses pembelajaran disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek),adaptasi terhadap kebutuhan hidup, tidak terprediksi serta inovasi dan kreatifitas. Perkembangan Iptek akan menyebabkan pergeseran paradigma dan manusia tidak dapat menolak munculnya kehadiran Iptek yang baru.

 

Kondisi tersebut akan mengakibatkan perubahan terhadap banyak hal termasuk terhadap cara pandang proses pembelajaran. Perkembangan Iptek secara otomatis dituntut untuk beradaptasi termasuk tuntutan akan kebutuhan hidup. Adaptasi terhadap kebutuhan hidup ini pada akhirnya juga akan menyebabkan pergeseran paradigma dalam pembelajaran.

Demikian juga dengan pengembangan profesi guru dituntut untuk beradaptasi sesuai dengan iklim pembelajaran Abad 21. Profesi guru harus menjadi garda terdepan dalam mengubah terjadinya pergeseran paradigma pembelajaran kearah yang lebih baik. Sesuai dengan ciri abad  21 sebagai abad informasi, komputasi, otomatisasi, dan Komunikasi tentunya akan berdampak pada perubahan proses pembelajaran yang akan dilakukan oleh pendidik di kelas. Guru dituntut untuk menyesuaikan gaya belajar dengan ciri abad 21. Efek proses perubahan gaya belajar akan sangat dirasakan oleh peserta didik pada masa mereka sudah meninggalkan bangku sekolah dan terjun ke dalam dunia sesungguhnya.

Pergeseran paradigm belajar harus sejalan dengan pengembangan profesi guru di abad 21 yang identic dengan abad pengetahuan.
Kata kunci: paradigma belajar, pengembangan profesi guru, abad 21

Pergeseran Paradiga Belajar

Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong mereka melakukan proses belajar. Pembelajaran juga dikatakan sebagai proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada peserta didik dalam melakukan proses belajar (Pane&Dasopang, 2017). Pembelajaran yang baik meruoakan pembelajaran yang memberikan kecepatan kepada siswa untuk belajar lebih bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan pengalaman dan mampu mengembangkan kemampuan emosi sosilanya (Bressington:2018; Kostiainen:2018).

Untuk mewujudkannya bukanlah hal yang mudah apa lagi di era digitalisasi saat ini, pembelajaran sedang dilanda perubahan yang signifikan. Guru merupakan pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah (Kamiludin & Suryaman, 2017). Guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik, pembimbing dan pengajar, dimana kemampuan tersebut tercermin pada kompetensi guru.

Kompetensi guru menjadi penentu utama keberhasilan proses pembelajaran, termasuk di Indonesia.
Guru akan berusaha agar kegiatan pembelajaran yang dilakukan berhasil. Guru berperan sebagai pengorganisasi lingkungan belajar dan sekaligus sebagai fasilitator belajar. Untuk memenuhi hal tersebut, maka guru harus memenuhi aspek bahwa guru sebagai model, perencana, peramal, pemimpin, dan penunjuk jalan atau pembimbing ke arah pusatpusat belajar. Guru berperan untuk mengarahkan dan memberi fasilitas belajar kepada peserta didik (directing and facilitating the learning) agar proses belajar berjalan secara memadai, tidak semata-mata memberikan informasi. Bagaimana dan apapun bentuk strategi, model, dan media pembelajaran yang digunakan guru, sejatinya diorientasikan pada satu syarat utama, yaitu menarik sehingga menumbuhkan minat belajar siswa (Wahyono, 2020).

Seperti saat ini, guru sangat perlu memahami dan mampu memilih media pembelajaran yang sesaui untuk digunakan. Menggunakan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan efektivitas serta kualitas dari proses pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang menyangkut software dan hardware yang dapat digunakan untuk menyampaikan isi materi ajar dari sumber pembelajaran ke peserta didik (individu atau kelompok), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat pembelajar sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran (di dalam/ di luar kelas) menjadi lebih efektif (Jalinus, 2016).
Media yang dipilih hendaknya yang benar-benar efektif dan efisien (Puspita: 2017). Penggunaan media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi, minat, kebutuhan, dan kondisi peserta didik (Aras, 2019; Lestari: 2018).

 

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, media pembelajaran dapat menumbuhkan motivasi dan meningkatkan aktivitas pembelajaran (Setiawan, 2019). Dalam pembelajaran guru penting mengingatkan siswa untuk mencari infomrasi. Informasi pembelajaran diarahkan untuk mendorong siswa untuk mencari tahu bukan diberitahu. Guru tidak perlu lagi memberitahu dengan menceramahi peserta didik dengan informasi yang sebenarnya sudah ada di dalam genggaman mereka.

Siswa dalam hal ini diarahkan untuk mencari tahu informasi tersebut. Siswa akan lebih mudah untuk mengingat materi jika mereka mencari tahu sendiri mengenai materi yang ingin dipelajari dibandingkan dengan diberitahu oleh Guru. Paradigma pergeseran pembelajaran selanjutnya adalh komputasi.. Pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam hal merumuskan masalah bukan hanya menyelesaikan atau menjawab masalah. Ketika mereka akan terjun ke dalam masyarakat, maka anak-anak didik kita akan menghadapi ketidakpastian dan hal ini juga sudah kita rasakan saat ini. Ketika banyak sekali bisnis retail menutup gerai mereka satu persatu maka ada asumsi bahwa bisnis retail masanya sudah habis digantikan dengan bisnis digital tetapi dalam kenyataannya perusahaan yang bergerak dalam bisnis digital juga melakukan PHK besar-besaran sehingga menimbulkan banyak sekali spekulasi dalam masyarakat.

Hal itu juga akan dihadapi oleh generasi pengganti kita, karena itu kita perlu mempersiapkan mereka untuk menghadapi ketidakpastian tersebut dan bagaimana mereka akan menghadapi ketidakpastian tersebut. Hal ini perlu dilatih sejak dini sehingga mereka tidak menjadi generasi galau ketika menghadapi ketidakpastian. Saat ini juga terjadi otomatisasi pembelajaran. Pembelajaran yang mampu membina siswa berpikir kritis bukan mekanis. Berpikir mekanis sudah tidak sesuai lagi dengan abad 21 karena pola berpikir saat ini hanya cocok untuk dunia industri Abad 20 bukan abad 21. Peserta didik harus dilatih untuk berpikir kritis bukan hanya sekadar menerima informasi tanpa melakukan analisa mendalam karena hal tersebut yang mereka butuhkan di masa mereka. Dalam komunikasi khususnya komunikasi pembelajaran juga terhadi pergeseran. Pembelajaran yang mampu mengembangkan siswa dalam hal berkomunikasi dan berkolaborasi dalam berbagai permasalahan kontekstual yang dihadapinya.

 

Komunikasi generasi saat ini tentunya berbeda dengan generasi sebelumnya bahkan komunikasi generasi saat ini cenderung lebih mengarah ke nonverbal melalui dunia maya yang sedang mereka gandrungi dan terkadang lupa bahwa sebenarnya komunikasi yang paling hebat dan yang paling efektif adalah komunikasi verbal. Para pendidik dan lingkungan harus mengingatkan ini jika sebenarnya teknologi komunikasi hanya merupakan alat bantu dan bukan segala-galanya. Pendidik harus memiliki strategi untuk membuat peserta didiknya mahir dalam berkomunikasi secara verbal karena terkadang seorang peserta didik sangat gugup ketika melakukan komunikasi secara verbal tetapi sangat lancar ketika berkomunikasi melalui dunia maya. Hal ini yang perlu kita waspadai, karena jika kita perhatikan pengusaha-pengusaha yang bergerak dalam dunia bisnis digital saat ini.  Dunia pendidikan saat ini memiliki tantangan yang sangat berat karena mereka harus merubah pola pikir calon-calon pemimpin dunia yang akan datang dengan situasi yang penuh ketidakpastian.

 

Karena itu dituntut Guru yang memiliki kreativitas yang luar biasa dalam melakukan hal tersebut yaitu Guru yang mampu melakukan proses pembelajaran Abad 21.
Arah dan Pengembangan Profesi Guru di Abad 21

Perubahan paradigma pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran guru. Sebab berbagai informasi terkini senantiasa mengalir kepada siswa atas kerja keras yang dilakukannya. Kemajuan arus informasi saat ini, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Namun perannya dalam proses pendidikan tetap diperlukan, terutama dalam hal kontak psikologis dan sentuhan edukatif pada peserta didik. Guru dituntut untuk terus berperan sebagai pendidik dan juga berperan sebagai administrator atau fasilitator pendidikan, sehingga guru harus mampu merencanakan, melaksanakan dan mengelola sumber daya dalam pendidikan agar siswa dapat belajar dengan cara produktif. Apabila guru tidak dapat mengimbangi perkembangan zaman akan semakin tertinggal dan tidak dapat memainkan perannya dengan efektif dan mengemban tugas profesinya.

 

Di Abad 21 guruharus memiliki semangat juang dan etos kerja yang tinggi disertai kualitas keimanan dan ketakwaan yang mantap. Mampu memanfaatkan Iptek sesuai tuntutan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya. Berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dalam menjalankan tugas profesinya. Memiliki wawasan ke depan yang lebih luas. Memiliki keteladanan moral serta rasa estetika yang tinggi.

 

Mengembangkan prinsip kerja bersaing dan bersanding. Menghadapi tantangan abad 21, diperlukan guru yang benar-benar profesional. Dalam membantu siswa beradaptasi dengan perubahan sosial dan teknologi abad ke-21, guru harus memiliki keterampilan penting selain empat kompetensi juga harus memiliki akuntabilitas dan kemampuan beradaptasi. Dalam memenuhi tanggung jawabnya, guru harus memiliki fleksibilitas pribadi dengan pekerjaan kepada masyarakat sekitar.

Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Mengutip Susanto (2010) dikutip dari Husain (2016), terdapat 7 tantangan guru di abad 21. Yakni

1). Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa.

2). Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep).

3). Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif.

4). Teaching and technology, mengajar dan teknologi.

5). Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan.

6). Teaching and choice, mengajar dan pilihan.

7). Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas. Proses pengembangan profesionalisme guru harus menjadi perhatian sesuai dengan perkembangan Iptek yang semakin dinamis. Pengembangan profesional guru dapat berlangsung dan terlihat saat guru bisa menciptakan kondisi dan interaksi yang aktif sehingga proses pembelajaran akan kondusif dan optimal. Kemampuan profesionalitas yang dimiliki guru dapat dilihat dari cara guru merancang, mengembangkan, bahkan memberdayakan sumber belajar yang ada baik melalui pembelajaran tradisional maupun secara digital (modern).

Karena itum pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan yang modern dan professional. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya dengan efektif serta keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi, dan keterlibatan orang tua/masyarakat. Selain itu tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang, keimanan dan ketakwaan, penguasaan iptek, etos kerja dan disiplin, profesionalisme, kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin, wawasan masa depan, kepastian karir, dan kesejahteraan lahir batin. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. Termasuk pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru, belajar dari siswa lain, dan belajar pada diri sendiri. Di Abad Pengetahuan, Guru sebagai fasilitator, pembimbing, konsultan, sebagai kawan belajar dan belajar diarahkan oleh siswa maupun kurikulum.

 

Belajar secara terbuka, ketat dengan waktu yang terbatas fleksibel sesuai keperluan, terutama berdasarkan proyek dan masalah. Dunia nyata, dan refleksi prinsip dan survey, penyelidikan dan perancangan. Penemuan dan penciptaan, colaboratif dan berfokus pada masyarakat. Selanjutnya khasilnya terbuka, keanekaragaman yang kreatif, komputer sebagai peralatan semua jenis belajar.

Interaksi multi media yang dinamis, komunikasi tidak terbatas ke seluruh dunia. Unjuk kerja diukur oleh pakar, penasehat, kawan sebaya dan diri sendiri. Di abad pengetahuan yang diinginkan paradigma belajar adalah melalui proyek-proyek dan permasalahan-permasalahan, inkuiri dan desain, menemukan dan penciptaan.

Diakui begitu sulit untuk mencapai reformasi yang sistemik. Sebab apabila paradigma lama masih dominan, dampak reformasi cenderung akan ditelan oleh pengaruh paradigma lama.
Kendati telah dinyatakan sebagai polaritas, perbedaan praktik pembelajaran di Abad Pengetahuan dan Abad Industri dianggap sebagai suatu kontinum.

Walaupunn saat ini dimungkinkan memandang banyak contoh praktek di Abad Industri yang “murni” dan jauh lebih sedikit contoh lingkungan pembelajaran di Abad Pengetahuan yang “murni”, besar kemungkinan menemukan metode persilangan perpaduan antara metode di Abad Pengetahuan dan metode di Abad Industri.

Perlu diingat bahwa dalam melakukan reformasi pembelajaran, metode lama tidak sepenuhnya hilang, namun hanya digunakan kurang lebih jarang dibanding metode-metode baru. Praktek pembelajaran di Abad Pengetahuan lebih sesuai dengan teori belajar modern.

Melalui penggunaan prinsip-prinsip belajar berorientasi pada proyek dan permasalahan sampai aktivitas kolaboratif dan difokuskan pada masyarakat, belajar kontekstual yang didasarkan pada dunia nyata dalam konteks ke peningkatan perhatian pada tindakan-tindakan atas dorongan pembelajar sendiri.

Di Abad Pengetahuan nampaknya praktek pembelajaran tergantung pada piranti-piranti pengetahuan modern yakni komputer dan telekomunikasi, namun sebagian besar karakteristik Abad Pengetahuan bisa dicapai tanpa memanfaatkan piranti modern. Meskipun TIK merupakan katalis penting yang membawa kita pada metode belajar Abad Pengetahuan, perlu diingat bahwa yang membedakan metode tersebut adalah pelaksanaan hasilnya bukan alatnya. Kita dapat melengkapi peralatan lembaga pendidikan kita dengan teknologi canggih tanpa mengubah pelaksanaan dan hasilnya.

Karena itu profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan. Untuk menjadi profesional seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal yakni Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa.

Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. Memasuki abad 21 pendidikan akan mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat, dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik, dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan, dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai. Dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi, budaya, dan computer.

Dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja, Dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif.Semoga bermanfaat. (******)

 

Rujukan:
Amin, M. (2017). Sadar berprofesi guru sains, sadar literasi: Tantangan guru di abad 21. Research Report.

Amir, A. (2013). Pengembangan Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran Melalui Model Lesson Study. Logaritma, 1(2), 130–143.

Notanubun, Z. (2019a). Jurnal Bimbingan Konseling dan Terapan. Pengembangan Kompetensi Profesionalisme Guru Di Era Digital (Abad 21), 3(2), 54–64.

Notanubun, Z. (2019b). Pengembangan Kompetensi Profesionalisme Guru di Era Digital (2021). Jurnal Bimbingan Dan Konseling Terapan, 3(2), 54–64.
Susanto, H. (2020). Profesi Keguruan. Banjarmasin: FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
Wawan Setiawan, 2009, Pengembangan Profesionalisme Guru, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung

Komentar