Oleh : Natrina Ujung, S.Stat., M.M
(Koordinator Fungsi Statistik Produksi BPS Kabupaten Bungo Provinsi Jambi)

Akhir-akhir ini Indonesia dan dunia Internasional sedang tertuju pada kegiatan yang sedang viral yakni Citayam Fashion Week (CFW). Salah satu media luar negeri, media mode Jepang, Tokyo Fashion menyoroti fenomena CFW mirip seperti Harajuku yang ada di Jepang. Fenomena lenggak-lenggok dengan outfit baju kekinian ala remaja Citayam menyita perhatian masyarakat di seluruh Indonesia. Citayam Fashion Week berawal dari sekelompok remaja tanggung yang menghabiskan waktunya nongkrong di kawasan Dukuh, Jalan Jendral Sudirman.
Aktivitas nongkrong itu dibalut dan dikemas dengan adu gaya berpakaian nyentrik serta didokumentasikan untuk diviralkan di media sosial, tak terkecuali ibu-ibu rumahan, serta anak-anak juga turut meramaikan dengan ikut catwalking di Citayam Fashion Week. Bahkan Gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil serta beberapa artis pun ikut tertangkap kamera melakukan catwalking di Citayam.
Sungguh luar biasa pengaruh CFW, dapat mengubah keadaan yang sebelumnya sunyi senyap saat covid melanda, kini CFW menjadi penggerak kebangkitan rakyat Indonesia untuk memulai kreativitas tanpa batas.
Fenomena CFW tidak lagi hanya sekedar gaya busana yang kekinian, akan tetapi menjadi peluang untuk membuat perekonomian pulih kembali. Sebagian besar masyarakat melihatnya sebagai peluang untuk menghasilkan “cuan” dan menciptakan pekerjaan baru bagi pengangguran yang sebelumnya di PHK karena dampak dari Covid-19. CFW juga masih merupakan pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Di saat Pemerintah sedang gencar menangani Covid-19, di saat itu pula situasi keramaian menjadi alasan sebagian masyarakat enggan untuk mendatangi keramaian karena rentan dengan penularan Covid-19. Di sisi lain, tren CFW ini juga ditentang oleh beberapa pihak karena dianggap sebagai pemicu kemacetan lalu lintas.
Dari fenomena CFW yang terjadi saat ini, kegiatan nongkrong dan melakukan aksi yang tergolong unik dan asing cendrung ekstrim ini, menjadi alasan yang kuat bagi remaja di Citayam khususnya untuk melakukan temu kangen dengan sesama teman yang selama 2 tahun terakhir dilarang keras oleh pemerintah untuk keluar rumah karena pandemi yang melanda dunia. Dan di awal tahun 2022 pemerintah sudah memperbolehkan aktivitas di luar rumah, akan tetapi masih tetap harus mengikuti protokol kesehatan.
Berdasarkan pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pada keterangan pers Rapat Terbatas Evaluasi PPKM (Antara, Senin (4/4/2022), bahwa penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia memang belum sempurna, namun kondisi di Indonesia masih lebih baik daripada negara-negara tetangga. Berdasarkan hasil survey serologi antibody penduduk Indonesia terhadap virus SARS-CoV-2 yang dilakukan pada November-Desember 2021, sebanyak 86,6 persen populasi Indonesia memiliki antibodi terhadap Covid-19. Artinya 86,6 persen penduduk Indonesia memiliki kekebalan terhadap Covid-19 pada bulan tersebut. Namun seiring masih dilakukannya program vaksinasi Covid-19 dan penerapan protokol kesehatan yang ketat di kalangan masyarakat, maka jumlah penduduk yang memiliki kekebalan terhadap Covid-19 akan semakin bertambah.
Berdasarkan pernyataan dan himbauan yang disampaikan oleh pemerintah dan seluruh jajarannya terkait menurunnya kasus Covid-19 serta upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dalam menangani pandemi, membuat masyarakat Indonesia dapat bernafas lega, karena pada akhirnya pandemi akan berakhir. Itulah sebabnya, masyarakat kini mulai bebas beraktivitas di luar ruangan dan tidak lagi memakai masker. Akan tetapi sebagian masyarakat masih menggunakan masker di dalam maupun di luar ruangan karena lebih nyaman dan sudah terbiasa menggunakan masker, serta mencegah penularan virus.
Kini masyarakat sudah menggeliat untuk bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19. Salah satu bentuk geliat yang diekpresikan adalah kegiatan Citayam Fashion Week. CFW mendapat apresiasi oleh beberapa kalangan masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Kini CFW-CFW sudah mulai menjamur di berbagai daerah, saperti Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, Sumatera Barat, Sulawesi, NTT dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bukan tidak mungkin tren CFW ini akan dipandang dan diikuti oleh negara-negara lain di dunia.
Jika CFW di Jakarta berlenggak lenggok menggunakan pakaian nyentrik kekinian, berbeda halnya CFW yang berada di kota-kota provinsi di Indonesia lainnya. Seperti generasi muda di Bukit Tinggi, mereka tidak mau ketinggalan tren yang sedang viral di Jakarta, mereka menampilkan busana adat dan budaya Minangkabau di jalur penyebrangan jalan Pasar Atas Taman Jam Gadang, mereka menamakan kegiatan tersebut Jam Gadang Fashion Week. Pemerintah Kota Bukit Tinggi merespon baik kegiatan tersebut karena memperkenalkan adat dan budaya lokal dengan menampilkan keunikan adat Minangkabau. Sementara di Madura, disebut dengan Madura Fashion Week, gaya busana dikemas dengan konsep Islami, beberapa anak muda mengenakan busana muslim dan muslimah sebagai seorang santriawan dan santriwati.
Kini CFW sudah keluar dari konsep awal di Citayam, CFW merupakan penggerak bagi anak bangsa untuk melakukan kreativitas, CFW berkembang menjadi gerakan demokrasi dalam bergaya busana dan dapat memberi kesempatan bagi siapapun untuk berkarya dan berkarsa dalam industri busana. CFW juga mendobrak benteng monopoli industri adibusana yang mutlak dikuasai pemodal besar yang mana kegiatan tersebut dilakukan di dalam ruangan pada gedung-gedung mewah. Dan kini, justru sebaliknya peragaan busana bisa dilakukan di ruangan terbuka bahkan di jalanan yang dapat disaksikan langsung oleh seluruh kalangan masyarakat. Gaya busana yang biasanya dilakoni oleh peragawan/peragawati di atas panggung dengan berat badan ideal, bertubuh tinggi langsing dengan balutan busana mewah bermerk tidak lagi menjadi syarat mutlak.
CFW membuka kesempatan bagi semua orang untuk dapat menjadi perancang busana maupun sebagai peraga busana dengan pakaian seadanya sesuai pemiliknya. Disamping itu juga terbuka luas untuk menjadi content creator media sosial yang dapat menghasilkan uang miliaran rupiah dan bahkan melahirkan artis dadakan dengan konsep yang berbeda dari artis biasanya. Tentu saja menjadi sorotan bagi media untuk menampilkan warna baru pada dunia entertainment.
Jika kita mengamati kondisi saat covid melanda dengan kondisi saat ini, tentu saja akan terlihat jelas perubahan ketenagakerjaan yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan sumber data dari BPS, bahwa jumlah pengangguran terbuka di Indonesia pada bulan Februari 2021 sebesar 6,26 persen, sedangkan pada bulan Februari 2022 angka pengangguran terbuka di Indonesia sebesar 5,83 persen, terjadi penurunan angka pengangguran sebesar 0,43 persen. Ini menunjukkan pemulihan ekonomi di beberapa sektor sudah mulai bangkit.
Bukan tidak mungkin fenomena CFW ini juga berdampak mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Melalui media sosial seorang content creator dan atau pelaku seni yang memanfaatkan fenomena CFW, siapa saja bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan dapat menjadi lebih bermanfaat. Berbeda jauh sebelum covid, pekerjaan sebagai content creator pada media sosial hanya sebagai pekerjaan sampingan, kini pekerjaan yang berkecimpung pada media sosial menjadi pekerjaan utama bagi beberapa orang. CFW bukanlah untuk ditentang dan dilawan, tetapi dirangkul dan diayomi untuk menegakkan eksistensi dan jati diri dalam berekspresi.
CFW hadir memberikan warna baru dalam bergaya busana, dan menjadi pemacu bagi anak muda dalam berkreativitas. Masyarakat Indonesia dapat menjadikannya sebagai motivasi penggerak kreativitas khususnya bagi anak muda di Indonesia.
CFW juga sebagai penggerak perubahan ekonomi rakyat, geliat CFW bagian dari geliat ekonomi rakyat. Gerakan CFW-CFW lainnya dapat menjadi pelopor kebangkitan anak-anak muda dalam berkreasi dan berinovasi. Zaman sudah berubah, perubahan yang baik dapat menjadi motor penggerak untuk maju dalam meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Setelah 2 tahun Covid-19 memporakporandakan perekonomian bangsa dan negara di dunia khususnya Indonesia, maka dengan menatap CFW dari sisi positif, harapan ke depannya Indonesia dapat pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat.
Recover Together Recover Stronger
Dirgahayu Republik Indonesia ke-77
(17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2022)
-M E R D E K A-

























Komentar