Manusia diciptakan sebagai penjaga bumi, bukan perusaknya. Namun dalam kenyataan hari ini, alam sering diperlakukan sebaliknya: digali tanpa batas, dieksploitasi tanpa kendali, dan ditinggalkan dalam keadaan rusak. Fenomena Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang marak di Kabupaten Bungo menjadi gambaran nyata bagaimana keserakahan manusia dapat mengalahkan akal sehat dan tanggung jawab moral.
Dalam Al-Qur’an, Allah telah mengingatkan dengan sangat tegas:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini seperti menggambarkan situasi yang sedang terjadi di banyak daerah, termasuk di Bungo. Sungai yang dulu jernih kini keruh, hutan yang dulu hijau berubah menjadi lahan rusak, dan tanah yang dulu subur kini dipenuhi lubang-lubang bekas tambang.
Aktivitas PETI memang sering dibungkus dengan alasan ekonomi: mencari nafkah, bertahan hidup, atau meningkatkan pendapatan. Namun ketika kegiatan itu merusak alam, mencemari sungai, dan mengancam keselamatan masyarakat, maka persoalannya tidak lagi sekadar ekonomi. Ia telah berubah menjadi persoalan hukum, moral, dan bahkan dosa terhadap alam yang merupakan ciptaan Allah.
Islam dengan jelas melarang perusakan bumi. Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Kerusakan alam bukan hanya tentang hilangnya pohon atau tercemarnya air. Lebih dari itu, ia adalah awal dari berbagai bencana: banjir, longsor, kekeringan, bahkan konflik sosial. Alam yang rusak akan selalu menagih harga yang mahal kepada manusia.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari PETI?
Sering kali yang mendapatkan keuntungan terbesar bukanlah masyarakat kecil yang bekerja di lapangan, melainkan para pemodal di belakang layar. Sementara masyarakat sekitar justru menanggung dampak lingkungan yang berat.
Di sinilah pentingnya kesadaran bersama. Pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, dan masyarakat sendiri harus memiliki keberanian untuk menghentikan praktik yang merusak ini. Jika tidak, maka kerusakan yang terjadi hari ini akan menjadi beban bagi generasi yang akan datang.
Allah telah memberi peringatan. Kerusakan yang dibuat manusia pada akhirnya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Alam memiliki cara untuk menyeimbangkan dirinya, dan sering kali manusia yang harus menanggung akibatnya.
Bungo adalah tanah yang kaya. Sungainya adalah sumber kehidupan, hutannya adalah penyangga alam, dan tanahnya adalah warisan untuk anak cucu. Jika semuanya dirusak demi emas yang hanya bertahan sesaat, maka yang tersisa bukanlah kemakmuran, melainkan kehancuran.
Pada akhirnya, persoalan PETI bukan hanya soal tambang ilegal. Ia adalah ujian bagi nurani manusia: apakah kita akan menjadi penjaga bumi, atau justru menjadi perusaknya.
Karena janji Allah sudah jelas setiap kerusakan yang dibuat manusia di bumi akan kembali sebagai akibat bagi manusia itu sendiri.( Redaksi )
Ketika Keserakahan Menggali Bumi Janji Allah untuk Perusak Alam dan Realitas PETI di Bungo
Oleh: Azwari





















Komentar