Upaya Meminimalisir Perilaku Menyimpang Murid dengan Pendekatan  Transformatif

Oleh: Nelson Sihaloho 

 

ABSTRAK

 

Saat ini banyak kita saksikan berbagai kasus-kasus yang terjadi tentang perilaku “kurang baik” pada anak bahkan sampai viral dan mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Perilaku “kurang baik” siswa bisa bersumber dari banyak hal. Mungkin saja bersumber dari luar situasi kelas bahkan sebagian bisa disebabkan atau  kurang diperkuat dengan situasi kelas oleh guru yang mengajar.Kurangnya kontrol dan pengawasan akibatnya bisa mengurangi intensitas pembelajaran atau bahkan dapat menimbulkan kesedihan baik pada siswa maupun pada guru. Sudah menjadi rahasia umum bahwa siswa belajar tentang nilai-nilai disekolah. Dalam kegiatan belajar siswa dituntut untuk menttatai peraturan dan tata tertib disekolahnya. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya adalah disiplin siswa. Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah. Perilaku negative atau kurang baik  yang terjadi di kalangan siswa maupun remaja pada akhir-akhir ini memang sudah sangat mengkhawatirkan. Diantaranya terlibat dalam narkoba, geng motor dan berbagai tindakan yang menjurus ke arah kriminalitas. Sekolah sebagai tempat dan rumah kedua siswa dituntut untuk membuat kondisi sekolah yang aman kondusif dan menjadi ramah untuk anak. Sekolah harus menjadi penguat nilai-nilai sosial dan menjadi transformatif dengan menerapkan manajemen di dalam kelas untuk mencegah dan mengatasi perilaku menyimpang siswa. Salah satu upaya dan solusi yang bisa dilakukan untuk memanilisir perilaku menyimpang atau kurang baik murid adalah dengan pendekatan transformative.

Kata kunci: perilaku menyimpang, pendekatan transfotmatif

 

Perilaku “Kurang Baik”

 

Umumnya murid atau siswa belajar nilai-nilai dari sekolah mengikuti keberadaan norma-norma masyarakat yang tercermin dalam praktek di sekolah. Inisiatif guru dalam mengendalikan perilaku-perilaku diskriminatif di lingkungan sekitar sekolah merupakan upaya yang dirancang untuk membuat sekolah terasa aman bagi siswa (Deborah dan Toni, 2005:10). Sekolah merupakan sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa/murid di bawah pengawasan guru pada lingkungan sekolah. Seorang anak yang sering melihat orang tuanya bertengkar dapat melarikan diri pada obat-obatan atau narkoba. Pergaulan individu yang berhubungan teman-temannya, media massa, media cetak, media elektronik. Santrock dalam (Amelia Sari, 2008:87) ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku remaja. Faktor tersebut adalah pertama Identiti (identitas). Pada masa remaja ada masanya pada tahap ini remaja mengalami masalah identiti. Perubahan biologi dan sosial memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi pada keperibadian remaja: satu, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan dua, tercapainya identiti peranan, kurang lebih dengan cara menggabungkan motivasi, nilai-nilai, kemampuan dan gaya yang dimiliki remaja dengan peranan yang dituntut dari remaja. Kedua, faktor keluarga yang sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemacu timbulnya perilaku remaja.

Ketiga, teman sebaya, hubungan pertemanan juga mempengaruhi tingkat kenakalan remaja. Keempat, kontrol diri, remaja telah mempelajari perbedaan antara tingkah laku yang dapat diterima dan tingkah laku yang tidak dapat diterima. Kelima, lingkungan tempat tinggal. Lingkungan dapat berperan dalam memunculkan perilaku remaja. Lingkungan masyarakat yang lebih luas dengan keragaman perilaku memungkinkan remaja mengamati berbagai model perilaku tersebut. Mengutip Herien Puspitawati (2008) menyatakan rasa ingin mendapatkan pengakuan sosial (social recognition) dan perhatian orang tua merupakan faktor pemicu remaja dalam berperilaku. Sedangkan menurut Paul B. Horton (Muin Idianto, 2013: 156-158) penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut. a). Penyimpangan harus dapat didefinisikan. Tidak ada perbuatan yang terjadi begitu saja dinilaiatau dianggap menyimpang. Perilaku mnyimpang bukanlah hanya dari ciri tindakan yang dilakukan orang, melainkan akbiat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku tersebut. b). Penyimpangan bisa diterima atau bisa juga ditolak. Tidak semua perilaku menyimpang negatif, ada juga yang diterima bahkan diputih dan dihormati seperti orang genius yangbertentangan dengan pendapat umum. c). Penyimpangan Relatif dan Penyimpangan Mutlak, di dalam satu masyarakat tidak ada seorang pun yang termasuk dalam kategori sepenuhnya penurut (konformis) ataupun spenuhnya. Pada dasarnya semua orang normal pasti pernah melakukan tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku, namun terdapat batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk setiap orang. d). Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal. Budaya ideal disini adalah seluruh peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarkat. Namun, dari kenyataannya, tidak orang yang patuh dari seluruh peraturan resmi. f). Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan). Penyimpangan sosial tidak selalu sebagai ancaman karena biasanya dianggp sebagai alat pemelihara ketenangan atau ketentraman sosial. Di satu pihak, masyarakat memerlukan keteraturan dan kepastian dalam kehidupan. Pencegahan dalam terjadi perilaku penyimpangan sosial dilakukan seseorang atau berbagai pihak agar tidak berada dalam penyimpangan sosial yang lebih merugikan atau bersifat negative.

 

Pendekatan Transformatif

 

Pembelajaran transformatif pada dasarnya merupakan suatu pembelajaran yang menghasilkan perubahan mendasar pada diri murid. Adapun pengertian transformasi yang dikutip dari Webster Dictionary dapat disimpulkan bahwa transformasi memiliki makna: (a) merubah bentuk, penampilan atau struktur; (b) mengubah kondisi, hakikat atau karakteristik; (c) mengganti substansi (Moedzakir, 2010). Mezirow (2000) mendefinisikannya sebagai suatu proses yaitu dengan mentransformasikan kerangka acuan (pola pikir, kebiasaan pikiran, prespektif makna) kumpulan asumsi dan harapan yang problematis dan membuatnya lebih inklusif, memilah, terbuka, reflektif dan secara emosional bisa berubah. Kerangka tersebut menjadi lebih baik karena berpeluang lebih besar untuk menumbuhkan keyakinan dan opini yang akan terbukti lebih benar atau bisa dijustifikasikan guna menuntun tindakan (Illeris, 2011: 116) Adapun proses pembelajaran transformatif menurut Illeris (2011, 117-118) meliputi: (1) Merenungkan secara kritis sumber, karakteristik dan konsekuen dari asumsi-asumsi yang relevan baik milik kita sendiri maupun orang lain, (2) Di dalam pembelajaran instrumental, menetapkan kebenaran bahwa sesuatu adalah benar (sesuai dengan apa yang dikatakan tentangnya) dengan menggunakan metode riset empiris, (3) Di dalam pembelajaran komunikatif, tiba pada keyakinan yang lebih bisa dijustifikasi dengan cara berperan serta secara penuh dan bebas dalam wacana yang berwawasan dan berkesinambungan. (4) Menjalankan prespektif yang telah tertransformasikan yaitu dengan mengambil keputusan dan menempuh apa yang telah kita yakini sampai kemudian menjumpai fakta, argumen atau prespektif baru yang menyebabkan orientasi tersebut bermasalah dan menghendaki pertimbangan ulang. (5) Menghasilkan kecenderungan alamiah sehingga menjadi lebih reflektif dan kritis terhadap asumsi sendiri dan pihak lain, mengusahakan pengesahan atas wawasan transformatif kita dengan berpartisipasi secara lebih leluasa dan penuh dalam wacana dan meninjaklanjuti keputusan dengan menjalankan wawasan yang sudah tertransformasikan. Tujuan pembelajaran transformatif yang dirangkum menurut Soenarwan (2008: 167) adalah untuk mentransformasi pembelajar ke dalam suatu keadaan, sehingga pembelajar dapat mencapai pembelajaran, mengembangkan seluruh potensi yang diinginkan, dan untuk memperkuat serta memotivasi pembelajar dalam usaha pengalaman pembelajaran. Farias (2012-2013: 67) yaitu pembelajaran transformatif juga dapat meningkatkan psikomotor dan kognitif siswa.  Melalui pembelajaran transformatif, para peserta didik dikondisikan untuksecara terus-menerus melakukan refleksi, mempertanyakan atau bahkan menggugat terhadap perspektif yang telah dimiliki selama ini (Rhamadani, 2013). Adapun strategi implementasi model pembelajaran transformative sebagaimana menurut Rhamadani (2013) meliputi: 1) Persiapan Pembelajaran a) Melakukan prakondisi kepada peserta didik b) Penyiapan perangkat dan media pembelajaran c) Pengaturan latar belajar d) Penyiapan strategi monitoring dan evaluasi belajar e) Peningkatan pemahaman pendidik tentang pembelajaran f) Transformatif 2) Pelaksanaan Pembelajaran Transformatif a) Mengubah peran pendidik menjadi fasilitator belajar b) Memperlakukan peserta didik sebagai subjek belajar c) Mendayagunakan pengalaman peserta didik dan potensi lingkungan sebagai penunjang sumber belajar d) Membangun interaksi pembelajaran berbasis interaksi konsultatif-dialogik e) Rambu-rambu pola interaksi edukatif dalam pembelajaran transformatif f) Memilih dan menerapkan kata-kata persuasif dalam pembelajaran g) Persyaratan pendidik dalam pembelajaran fasilitatif h) Suasana kreatif dalam proses pembelajaran transformatif 3) Evaluasi Pembelajaran. Alur pembelajaran transformatif menurut Gonigal (2005) meliputi: 1) Mengaktifasi kejadian (Activating event). Hal ini dipahami sebagai kondisi di mana cara pandang/perspektif yang dimiliki seseorang selama ini ternyata mengandung keterbatasan, kelemahan, dan kekurang-akuratan (Pada tahapan ini seseorang memiliki disorienting dilemma atau merasa adanya kelemahan pada perspektif yang dia miliki selama ini) 2) Tahap mengidentifikasi asumsi terkini (fase identifying current assumption) pada tahap ini seseorang mulai memahami secara mendalam tentang perspektif yang dia miliki, mencoba untuk mengetahui dan memahamilebih jauh terhadap perspektif orang lain, serta berusaha mencari tahu asumsi dasar atau keyakinan yang mendasari perspektif tersebut. 3) Mengharapkan refleksi diri secara kritis (Encouraging critical selfreflection) Tahapan ini merupakan suatu fase di mana seseorang mulai ragu terhadap keabsahan dari kebenaran asumsi dasar atau keyakinan yang mendasari cara pandangnya selama ini. 4) Mengharapkan komunikasi secara kritis (Encouraging critical discourse) Pada tahap ini bertujuan untuk memperoleh penguatan atau pemantapan dalam proses refleksi diri, dan sekaligus memperoleh pemahaman lebih komprehensif terhadap perspektif lain beserta asumsi dasar yang mendasarinya. Sebagai contoh seseorang melakukan dialog secara intensif dengan orang lain, terutama mereka yang memiliki perspektif lain. 5) Kesempatan untuk menguji paradikma/ prespektif baru (Opportunity to test new paradigm/perspective) Fase ini seseorang mulai tertarik untuk mecoba menggunakan cara untuk memandang, memahami, atau memaknai terhadap kenyataan atau pengalaman.

 

Solusi dan Dukungan Lingkungan

Perilaku menyimpang merupakan bentuk penyimpangan sosial dalam masyarakat. Dalam kegiatan pembelajaran utamanya dilingkungan sekolah perlu dicermati sumber perilaku buru siswa. sebagaimana kita ketahui bahwa aktivitas pembelajaran merupakan kegiatan moral yang inheren, karena mengkomunikasikan nilai-nilai, keyakinan, sikap guru untuk mempraktikan perilaku yang pantas atau tidak pantas. Bentuk perilaku yang tidak formal merupakan sumber masalah manajemen yang sering kali terjadi seperti emosional dan sifat kekanak-kanakan siswa (kids-will-be-kids). Lickona (2012:139) mengemukakan bahwa rasa hormat, kesopanan, dan kepedulian siswa cenderung terkikis oleh kenakalan teman sebayanya yang tidak patuh terhadap budaya sekolah yang dikembangkan. Setiap siswa, memiliki reaksi afektif atau emosional (Self esteem or self worth) yang terbagi menjadi dua golongan, yakni siswa dengan harga diri tinggi memiliki keyakinan, kemandirian, dan motivasi dalam bergaul dengan lingkungannya. Sedangkan siswa dengan harga diri yang rendah justru terlibat dalam perilaku antisosial. Sumber perilaku buruk siswa bisa bersumber dari gender. Siswa laki-laki secara genetik cenderung lebih agresif daripada siswa perempuan dan keagresifan ini terkadang berwujud perilaku kenakalan-kenakalan. Pendapat ini dipertegas melalui hasil penelitian menurut Dufour (2011:119) yang mengungkapkan bahwa anak laki-laki cenderung menyukai situasi persaingan dan menunjukkan serangan fisik secara berlebihan. Sedangkan perempuan lebih menyukai lingkungan yang kooperatif dan bersifat afiliatif. Keudian perbedaan perlakuan terhadap siswa Arends (2013:49) mengemukakan bahwa perbedaan perlakuan kepada siswa ditengarai dari ekspektasi guru tentang prestasi siswa yang menciptakan pola siklus perilaku bagi siswa. Siswa yang menunjukkan prestasi baik, maka akan lebih diterima oleh guru serta selalu mendapatkan perhatian positif, pujian, dan keramahan. Perbedaan capaian prestasi siswa ini berujung pada pengelompokkan yang dilakukan oleh guru dalam kelas, dimana kriteria yang paling sering digunakan guru untuk menempatkan siswa dalam kelompok melalui hasil tes siswa. Arends (2013:53) Pengalaman sekolah yang negatif memunculkan konsekuensi bagi siswa untuk menempati resiko kegagalan. Begitu juga dnegan persahabatan.  Ada dua alasan utama yang menjelaskan mengapa hubungan persahabatan merupakan konteks yang ideal bagi siswa dalam berperilaku. Pertama, persahabatan didefinisikan sebagai tingginya tingkat kasih sayang, hubungan sukarela, dan rentan untuk berkahir. Kedua, persahabatan selalu memiliki persamaan dalam status. Melalui persahabatan, anak jelas termotivasi untuk mengikuti norma dan standar persahabatan yang pada akhirnya mengarah pada upaya melestarikan hubungan. Sebaliknya, bergaul dengan teman yang memiliki orientasi sikap kenakalan, tidak sopan, dan tidak hormat dapat menjadi kerugian perkembangan anak didik. Demikian juga dalam menghadapi abad 21 win-win solusion harus tetap dikedepankan dalam menghadapi berbagai bentuk penyimpanan kurang baik peserta didik. Merujuk Gerstein (2013, 2014) meringkas berbagai keterampilan abad ke21 dalam daftar berikut yakni komunikasi lisan dan tertulis yang efektif, kolaborasi lintas jejaring, kelincahan dan kemampuan beradaptasi, keberanian, ketangguhan, empati dan penatalayanan global, memiliki visi, regulasi diri, harapan dan optimisme, rasa ingin tahu dan imajinasi, inisiatif dan kewirausahaan,  berpikir kritis, pemecahan masalah, dan mengetahui cara belajar. Karena itu sebagai pendidik di Abad 21  bahwa sebagai tenaga pendidik perlu memiliki berbagai kompetensi dalam mengatasi perilaku anak didik yang kurang baik. Diantaranya meningkatkan pengetahuan keilmuan, manajemen kelas, antusiasme, profesionalisme, mudah bergaul, pengajaran dan penilaian yang jelas.Komunikasi yang baik, pemahaman tentang inklusi dan keberagaman; pemahaman tentang psikologi perkembangan dan bagaimana kerja kelompok, penggunaan teknologi dan media sosial, keterampilan reflektif dan metakognitif. Guru harus beradaptasi terhadap konteks pendidikan, kemampuan untuk mengalami perubahan, kerja tim, berkolaborasi dan kemampuan dalam jejaring, perencanaan dan berorganisasi. Slf-efficacy, kemampuan pengembangan pemecahan masalah dan keterampilan berpikir kritis peserta didik, keterampilan pengembangan kurikulum, dan kemampuan pengembangan pembelajaran yang lebih konstruktif. Dengan demikian upaya meminimalisir perilaku menyimpang murid dapat dilakukan dengan pendekatan transformative. Semoga bermanfaat. (*****)

 

Rujukan:

  1. Kasali, Rhenald. (2005). Change! Tak Peduli Berapa Jauh Jalan Salah yang Anda Jalani, Putar Arah Sekarang Juga. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Cetakan keenam.
  2. Mappiare, Andi. 1998. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
  3. 2004. Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta.
  4. Ritzer, George & Douglas J. Goodman. (2004). Teori Sosial Modern. (terjemahan Alimandan). Penerbit: McGrew Hill. (Buku asli diterbitkan tahun 2003).
  5. Wibowo, Agus. (2012). Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Komentar