HGN dan Sekolah penggerak Bereputasi

Oleh: Nelson Sihaloho
*). Penulis:Guru SMPN 011 Kota Jambi

ABSTRAK:

Sebagaimana kita ketahui bahwa Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035  yang di paparkan pada Mei 2020 oleh Mendikbud  Nadiem Anwar Makarim  yakni Tren Global dan Masa Depan Pembelajaran, Gambaran Pendidikan di Indonesia dan Tantangannya, Peta Jalan Pendidikan Indonesia. Sejalan dengan itu maka Program Sekolah Penggerak pun digulirkan termasuk Guru Penggerak. Pada Hari Guru Nasional (HGN) 2022 seiring dengan lbelum tuntasnya persoalan guru di negara kita momentum yang tepat untuk melakukan evaluasi dengan komprehensif sekolah penggerak utamanya sekolah penggerak bereputasi. Peran dan visi besar yang harus diwujudkan bangsa Indonesia. Indonesia Emas pada tahun 2045 tepat satu abad Indonesia merdeka perlu dikuatkan melalui penajaman action di lapangan.

Seiring era digital  pengaruh cara berpikir masyarakat pun telah bergeser. Digitalisasi yang merupakan sebuah proses percepatan bahwa pemanfaatan digital dalam pembelajaran akan menjadi lebih menyederhanakan  prosedur kegiatan belajar mengajar.

Demikian juga halnya dengan landasan strategi peningkatan kualitas guru penting untuk terus ditingkatkan berkesinambungan. Dua prinsip utama yang menjadi landasan strategi peningkatan kualitas guru yakni kesejahteraan dan kinerja, Semua guru yang mengabdi harus mendapatkan penghasilan yang layak terutama pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

Termasuk kinerja harus obyektif bahwa penghargaan lebih akan diberikan kepada guru dengan kompetensi yang baik atau performa yang berkualitas bukan malah sebaliknya diberikan terhadap guru yang memiliki kinerja atas kedekatan dengan pimpinan, hunbungan family sekampung, keponakan dan hubungan nepotisme lainnya. HGN 2022 merupakan momentum yang tepat untuk melakukan evaluasi yang komprehensif terhadap sekolah yang bereputasi.
Kata kunci: HGN, sekolah penggerak, bereputasi

HGN Bukan Seremonial Belaka

Setiap tahun rutin diperingat Hari Guru Nasional (HGN) bahkan setiap tahun tema peringatan hari guru selalu berubah. Tema utama peringatan Hari Besar Nasional tahun ini adalah “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”. Kita berharap bahwa peringatan HGN 2022 tidak lagi menjadi seremonial belaka. Namun lebih dari itu mengevaluasi dengan betul-betul  tentang kesejahteraan dan kinerja guru. Apakah persoalan guru telah diselesaikan dengan baik? Termasuk kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknilogi (Kendikbudristek) sudah berpihak terhadap guru. Ibarat dalam menjalankan pembelajaran  bahwa tujuan pembelajaran mendorong pada percepatan pendidikaan menuju Indonesia maju yang bermutu.

Peserta didik hanya dapat tergali kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosionalnya melalui kegiatan pembelajaran. Program-program Kemdikbudristek yang belumterealisasi janji-janjinya seperti pengangkatan PPPK dan peningkatan kesejahteraan guru harus diwujudkan. Kita berharap tidak terjadi rasa “tawar hati” pada kalangan guru yang telah lama menunggu reaisasi janji-janji tersebut.

Apabila hal tersebut tidak diimplementasikan dengan tuntas akan berakibat penurunan (degradasi) dalam mutu pendidikan. Selama ini mainset dalam belajar  berfokus pada nilai ataupun angka.  Kesuksesan dalam  belajar dianggap akan bermakna apabila diiming-imingi hadiah dengan nilai yang tinggi, maka tumbuhlah budaya keterpaksaan. Akhitrnya tujuan utama belajar menjadi terlupakan,  seakan-akan belajar  hanya untuk nilai, yang pada ujung-ujungnya belajar untuk mencari pekerjaan. Guru harus menjadi penggerak, pendidik yang sadar lingkungan, agar bisa bertahan dan beradaptasi.

Jadilah guru penggerak yang bisa menggerakkan semua elemen kemanusiaannya termasuk dunia digital/maya sebagai dunia tempat mendapatkan informasi, dan perluasan wawasan ilmunya. Sebagai guru pengggerak, guru hadir dengan pribadi yang menggerakkan, aktif, dinamis, terdepan dalam melakukan perubahan, tegas dalam bersikap, lembut dalam empati, mampu menggerakkan hati setiap orang, serta mampu menciptakan tantangan baru.

Teknologi tidak perlu ditakuti oleh guru. Sebab teknologi adalah alat yang dirancang hanya mengikuti aturan, tidak berpikir, karena semua sudah diprogram. Teknologi itu bukan pendidik. Dalam pembelajaran teknologi dipakai agar lebih efisien, cepat dan luas. Di Era digital guru-guru harus melangkah ke depan melihat cakrawala dunia dengan terbuka dan lebar. Karena itu di HGN dan HUT PGRI Tahun 2022 diharapkan tidak lagi menjadi ajang seremonial namun berupaya mewujudkan semua program-program yang selama ini dijanjikan terhadap guru. Diharapkan rasa “tawar hati guru” pada janji-janji pemerintah tidak terulang lagi.

Termasuk Kepala Dinas Pendidikan di wilayah propinsi, kabupaten/kota agar menjadikan momentum HGN dan HUT PGRI sebagai seremonial belaka.

Termasuk tidak menciptakan “koloni-koloni baru” yang membuat kecewa dan “tawar hati” para guru. Para kepala sekolah juga harus demikian untuk tidak menciptakan  “rasa tawar hati” pada guru maupun staf tata usaha dilingkungan sekolah tempatnya memimpin.

Sekolah Penggerak Arahnya Kemana?

Program Sekolah Penggerak semestinya dapat dirasakan langsung oleh semua pihak termasuk para orang tua dan pemangku kepentingan. Mulai dari guru yang menjadi rajin untuk terus berinovasi menciptakan pembelajaran yang efektif, hingga peserta didik terbiasa menerapkan karakter profil pelajar pancasila. Pada hakikatnya Program Sekolah Penggerak (PSP)  merupakan Inovasi pendidikan yang cukup membawa perubahan besar khususnya terhadap dunia pendidikan di lingkungan sekolah yang mendapat status sebagai sekolah penggerak. Arifa dan Prayito (2019) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kualitas pendidikan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidiknya. Guru sebagai pelaksana dari pendidikan pada jenjang dasar, menengah dan usia dini harus memiliki kompetensi dan kualifikasi yang memenuhi standar nasional pendidikan.

Hasil penelitian Arifa dan Prayito (2019) juga menunjukkan pengelolaan pendidikan profesi guru yang belum optimal. Diperlukan adanya mekanisme yang sistematis dan terstruktur dimulai dari sistem seleksi calon guru profesional melalui PPG prajabatan yang profesional. Berkembangnya zaman, pendidik dituntut untuk mengembangkan pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman. Termasuk perubahan dan pembaruan yang parsial sebagai proses inovasi. Dengan adanya inovasi tersebut maka guru diperlukan pengetahuan dan penerapan inovasi yang baik supaya pengembangan proses pembelajaran dapat berjaan dengan kondusif dan mendapatkan hasil yang optimal. (Mubarokah, 2021).

Mendikbud Nadiem Karim mengubah kurikulum 2013 menjadi kurikulum MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) pada tahun 2019 (Vhalery, 2022). Sekolah Penggerak sudah berjalan sejak bulan Februari tahun 2021. Program tersebut adalah salah satu project dalam menerapkan kurikulum Merdeka Belajar yang digagas oleh Kemendikbudristek. Setelah meluncurkan dan menetapkan satuan pendidikan yang berhak mengikuti program sekolah penggerak harus mengikuti prosedur dan penetapannya oleh Kemdikbudristek.

Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kompetensi dan karakter seperti halnyadengan profil pelajar Pancasila. Program ini menjamin pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia dengan meningkatkan kapasitas SDM (kepala sekolah) yang menjadi pengampu bagi satuan pendidikan. SDM akan mendapatkan pelatihan, pendampingan dan penguatandalam menggunakan platform belajar.  Program sekolah penggerak meliputi kegiatan kolaborasi kemitraan antara Kemendikbudristek dengan Pemda yang merupakan pamong utama. Mulai dari SDM yang unggul, hasil belajar, perencanaan, digitalisasi, serta Pemerintah yang mendampingi dilakukan secara holistik. Ruang lingkup program yang menyeluruh baik sekolah negeri maupun swasta. Sekolah Penggerak melakukan transformasi secara mandiri setelah pelaksanaan pendampingan 3 tahun ajaran.

Program akan dirasakan hingga seluruh Indonesia. Kemdikbudristek (2021) Menegaskan bahwa  Sekolah Penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi) serta nonkognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Kepala sekolah dan guru dari Sekolah Penggerak melakukan pengimbasan kepada satuan pendidikan lain.

Program Sekolah Penggerak adalah program untuk meningkatkan kualitas belajar siswa yang terdiri dari 5 jenis intervensi untuk mengakselerasi sekolah bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun ajaran. Banyak keuntungan yang akan didapat bagi sekolah yang melaksanakan Program Sekolah Penggerak, yait peningkatan mutu hasil belajar dalam kurun waktu 3 tahun, peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru.

Percepatan digitalisasi sekolah, kesempatan menjadi katalis perubahan bagi satuan pendidikan lain. Percepatan pencapaian Profil Pelajar Pancasila, mendapatkan pendampingan intensif serta memperoleh tambahan anggaran untuk pembelian buku bagi pembelajaran dengan paradigma baru.

Kemdikbudristek,et,al, Sekolah Penggerak adalah bagian dari ekosistem pendidikan, di jangka panjang semua sekolah akan menjadi Sekolah Penggerak. Untuk Tahun Ajaran 2021-2022, ditargetkan menjangkau 2.500 satuan pendidikan (316 PAUD, 1.089 SD, 546 SMP, 374 SMA, 175 SLB) di 34 Provinsi, 111 Kabupaten/Kota.

Kemendikbud akan membuka pendaftaran untuk kepala sekolah di provinsi  dan kabupaten/Kota yang telah terpilih untuk menyelenggarakan program Sekolah Penggerak. Kepala sekolah yang mendaftar akan diseleksi untuk kemudian ditetapkan oleh tim panel. Sekolah penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik. Upaya ini dilakukan dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, mencakup kompetensi dan karakter SDM terbaik.Termasuk transformasi sekolah. Ada 4 tahap transformasi sekolah dapat dilihat dari 4 aspek, yaitu hasil belajar, lingkungan belajar, pembelajaran, serta refleksi diri dan pengimbasan. Program sekolah penggerak merupakan program yang dirancang untuk meningkatkan mutu belajar siswa. Program ini terdiri dari 5 intervensi yang bertujuan mengakselerasi sekolah yang bergerak pada tahap 1-2 agar lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun ajaran.

Berikut program-program sekolah penggerak yakni pertama Pendampingan Konsultatif dan Asimetris Program awal berupa dampingan yang diberikan oleh Kemendikbud kepada Pemerintah Daerah melalui Uji Pelaksana Teknis (UPT) terkait perencanaan Program Sekolah Penggerak. Kedua, Penguatan SDM Sekolah. Penguatan diberikan kepada SDM Sekolah mencakup, kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik, dan guru.

Penguatan dilakukan program yang disediakan oleh Kemendikbud berupa program pelatihan dan pendampingan intensif one to one yang diberikan oleh pelatih yang sudah profesional. Ketiga, pembelajaran dengan Paradigma Baru Paradigma baru di sini maksudnya adalah pembelajaran yang dirancang sesuai dengan prinsip pembelajaran yang terdiferensiasi.

Dengan begitu, siswa dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing.. Keemapt, Perencanaan Berbasis Data. Perencanaan dilakukan berbasis data yang bersumber dari refleksi diri sekolah. Diawali dengan membuat laporan potret kondisi kualitas pendidikan, kemudian menjadikannya sebagai bahan refleksi diri. Tahap selanjutnya merencanakan program perbaikan dan diakhiri dengan pendampingan oleh UPT dan atau eksper. Kelima, digitalisasi Sekolah. Sekolah akan menggunakan berbagai macam platform digital dengan tujuan meminimalisir kompleksitas, meningkatkan efisiensi, dan menambah inspirasi serta melakukan pendekatan yang telah disesuaikan.

Tren global dan Masa Depan

Setiap negara  dimasa akan bersaing dengan  negara-negara lain dan membuktikan kualitas SDM masing-masing. Generasi saat ini harus kita persiapkan dengan baik jika kita berkeinginan memenangu persaingan di era mendatang. HGN 2022 selain sebagai momentum untuk merefleksi diri, Sekolah Penggerak harus mampu melakukan evaluasi dan refleksi dir untuk melakukan perubahan dalam menghadapi tren global.  Kemdiknud ristek (2020) menyatakan berkaitan dengan tren global dan masa depan pembelajaran yakni  adanya perubahan teknologi, sosial, dan lingkungan sedang terjadi secara global. Dari segi teknologi yakni terjadinya disrupsi teknologi akan berdampak pada semua sektor.

Termasuk penerapan otomatisasi, AI (Artificial Intelligence), dan big data pada semua sector.  Konektivitas 5G yang memungkinkan teknologi lainnya saling terhubung seperti kendaraan otonom, drones, dan lain sebagainya.

Pencetakan 3D (3D printing), smart wearables, augmented dan realitas maya (virtual reality) (AR dan VR), dan lain-lain. Sedangkan sosio kultural yakni perubahan demografi, profil sosio ekonomi dari populasi dunia. meningkatnya usia harapan hidup dan usia lama bekerja.   Tumbuhnya migrasi, urbanisasi, keragaman budaya, dan kelas menengah, Meningkatnya tenaga kerja yang terus bergerak (mobile) dan fleksibel  serta  munculnya kepedulian konsumen terhadap etika, privasi, dan kesehatan. Sedangkan untuk lingkungan yakni habisnya bahan bakar fosil, krisis air, perubahan iklim, permukaan laut naik.

Meningkatnya kebutuhan energi dan air dan berkurangnya sumber daya alam,  meningkatnya perhatian terhadap energi alternatif untuk melawan perubahan iklim. Termasuk upaya berkelanjutan pada isu lingkungan seperti plastik dan limbah nuklir. Cara bekerja di masa depan akan jauh berbeda apabila dibandingkan dengan hari ini. Tren perubahan dengan munculnya jenis pekerjaan baru, struktur organisasi, perusahaan, dan tipe pekerjaan baru banyak muncul untuk mengakomodasi  manusia dan teknologi yang berubah dengan serba cepat tersebut.

Tenaga kerja multigenerasi dan beragam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, 5 generasi bekerja bersamaan dan meningkatnya kesadaran akan keberagaman di tempat kerja. Pekerjaan dapat dilakukan di mana saja dan dengan waktu yang fleksibel. Rasio pekerja tidak tetap meningkat (freelancer). Karier ditentukan oleh pekerja, bukan perusahaan. Pekerja memiliki kontrol yang lebih besar akan perjalanan kariernya. Teknologi menyederhanakan pekerjaan sehari-hari dan menghubungkan pekerja dengan efisien.

Akses dan pengolahan data semakin massif. Data memberikan pemahaman lebih baik tentang perilaku dan kualitas pekerja. Pembahasan sedang berjalan di tingkat global terkait pembelajaran masa depan yang harus dipersiapkan. Mengutip Kemdikbudristek (2020) mengemukanan tentang OECD Learning Compass 2030 terdiri dari 4 komonen  penting. Bahwa kerangka pembelajaran untuk membantu negara-negara memikirkan pembangunan kompetensi agar dapat maju dan sejahtera pada tahun 2030. Pertama Kesejahteraan 2030, melebihi sekadar faktor ekonomi, seperti pekerjaan, pendapatan, dan perumahan, tetapi juga faktor kualitas hidup, seperti keseimbangan kehidupan kerja, pendidikan, keamanan, kepuasan hidup, kesehatan, keterlibatan publik, lingkungan, dan masyarakat, Kedua, siswa dan Ko-agen yakni menekankan pada kebutuhan agar siswa belajar mencari dan menemukan arah mereka sendiri melalui cara yang bermakna dan bertanggung jawab (agen siswa) . Dalam hal ini dilengkapi dengan interaksi dan bimbingan dari teman sebaya, orang tua, guru, masyarakat, dll. (ko-agen). Ketiga, pondasi Inti, Kompetensi Inti, dan Transformatif yakni mengidentifikasi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai, dan kemampuan inti yang perlu dikembangkan agar dapat maju dan sejahtera pada tahun 2030. Perubahan dari pembangunan pengetahuan menuju pembangunan keterampilan, sikap, nilai, dan kompetensi yang lebih luas. Keempat siklus Antisipasi – Aksi – Refleksi (AAR) yakni pembelajaran sebagai proses berulang, yaitu siswa terus-menerus meningkatkan pemikiran dan sikap bertanggung jawab untuk kesejahteraan bersama.

Karena itu pada HGN 2022 hendaknya Sekolah Penggerak mampu membuktikan dirinya sebagai sekolah bereputasi. Reputasi yang dibangun dengan kerja keras berbasis keunggulan hendaknya terus menerus melakukan inovasi dalam mewujudkan pendidikan yang bermutunglobal. Selamat HGN dan HUT PGRI Tahun  2022 semoga tidak ada lagi janji-janji pemerintah maupun organisasi guru yang membuat para guru “tawar hati”. Semoga bermanfaat. (*****)

Rujukan:

Alifah, S. (2021). Peningkatan Kualitas Pendidikan Di Indonesia Untuk Mengejar Ketertinggalan Dari Negara Lain. CERMIN: Jurnal Penelitian, 5(1), 113. https://doi.org/10.36841/cermin_unars.v5i1.968

Ansori, A., & Sari, Arifa, F. N., & Prayitno, U. S. (2019). Peningkatan Kualitas Pendidikan: Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Guru Profesional di Indonesia. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 10(1), 1–17. https://doi.org/10.46807/aspirasi.v10i1.1229

Patilima, S. (2022). Sekolah Penggerak Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar, 0(0), 228–236. http://ejurnal.pps.ung.ac.id/index.php/PSNPD/article/view/1069

Vhalery, R., Setyastanto, A. M., & Leksono, A. W. (2022). Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka: Sebuah Kajian Literatur. Research and Development Journal of Education, 8(1), 185. https://doi.org/10.30998/rdje.v8i1.11718

Komentar