Bungonews.net- Ada satu tipe yang selalu muncul dalam setiap dinamika kekuasaan: mereka yang kemarin menghilang, bahkan tak segan menghujat dari kejauhan, namun hari ini datang dengan wajah baru lebih ramah, lebih lantang, dan jauh lebih “setia”. Bukan karena mereka berubah, tapi karena panggung sudah siap dan arah sorotan sudah jelas.
Fenomena ini bukan sekadar soal inkonsistensi, tapi soal karakter. Ketika keadaan belum pasti, mereka memilih aman dengan bersembunyi. Ketika risiko masih tinggi, mereka justru menjadi pengkritik paling keras bukan untuk memperbaiki, tapi untuk menjaga jarak. Namun begitu situasi menguntungkan, mereka berbalik arah tanpa rasa malu, seolah-olah tak pernah pergi, seolah-olah tak pernah mencaci.
Inilah wajah asli para penjilat kekuasaan: oportunis yang menjadikan loyalitas sebagai komoditas. Mereka tidak punya pijakan nilai, hanya punya radar kepentingan. Mereka tidak peduli siapa yang benar, yang penting siapa yang menang. Dan ironisnya, mereka sering tampil paling depan, paling vokal, bahkan mencoba mengklaim peran yang tidak pernah mereka jalani.
Lebih memprihatinkan lagi, keberadaan mereka kerap dibiarkan. Panggung kekuasaan seperti memberi ruang bagi aktor-aktor instan ini untuk menari bebas, sementara mereka yang konsisten sejak awal justru terpinggirkan. Yang setia dianggap biasa, yang datang belakangan justru dipuja.
Publik seharusnya tidak mudah lupa. Rekam jejak tidak bisa dihapus hanya dengan pencitraan sesaat. Mereka yang kemarin menghilang dan menghujat, lalu hari ini hadir berlebihan, bukanlah pejuang mereka hanyalah penumpang gelap dalam perjalanan panjang yang tidak mereka tempuh dari awal.
Jika fenomena ini terus dibiarkan, maka yang rusak bukan hanya etika politik, tapi juga kepercayaan publik. Karena pada akhirnya, yang dipertontonkan bukan lagi perjuangan dan ketulusan, melainkan sandiwara kepentingan yang dipoles seolah-olah pengabdian. ( Redaksi )





















Komentar