oleh

Menjaga Profesionalisme Guru dengan Meminimalisir Multitasking

Oleh: Nelson Sihaloho

Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi

 

Abstrak:

Perkembangan dunia teknologi yang semakin ditandai dengan era revolusi 4.0 menuntut seluruh bidang dapat ikut berkembang dalam mengimbangi perkembangan tersebut. Salah satu elemen yang harus bergerak cepat mengimbanginya yakni dunia pendidikan termasuk guru. Dunia pendidikan dituntut untuk dapat memperkuat perannya sebagai sumber pengetahuan yakni. Diera abad 21 saat ini sumber pembelajaran siswa tidak hanya ada disekolah, dan para guru bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan maupun informasi. Kemajuan industri dan teknologi mampu menyediakan kemudahan beragam sumber ilmu pengetahuan yang dapat diakses kapan saja oleh peserta didik. Peningkatan profesionalisme guru saat ini merupakan salah satu syarat utama dalam mewujudkan pendidikan berkualitas, berkarakter serta menguasai kecakapan di era teknologi sebagaimana dibutuhkan oleh peserta didik. Kualitas pendidikan sangat tergantung pada kualitas guru. Sebagaimana kebijakan pemerintah ada 5 kebijakan yang di tekankan pada bidang pendidikan saat ini. Yakni pendidikan karakter, Peraturan pengganti undang-undang (Perpu) yang harus segera dilaksanakan/disederhanakan, pendidikan Dasar (PAUD-SMA/MA/SMK), pendidikan vokasi dan profesi (sertifikasi profesi) serta teknologi.

Menjadi guru di abad 21 berbeda dengan guru era sebelumnya. Di era digital, eksistensi guru tidak lagi dilihat dari kharismanya semata. Seorang guru harus mampu mengikuti perkembangan zaman dengan mengubah pola komunikasi dan beradaptasi dengan era digital. Guru di era digital dituntut mampu berinovasi dan kreatif sesuai dengan tuntutan abad 21 yakni era industry serta era Society 5.0. Berkat teknologi semua hal serasa menjadi lebih dekat dan lebih cepat. Sisi positif dari kemajuan teknologi ini telah banyak diulas bahkan sangat kita rasakan. Disisi lain, kemajuan teknologi ini telah melahirkan “generasi multitasking”. Generasi multitasking adalah mereka terbiasa berkomunikasi dengan sesamanya sembari tetap memainkan iPhone, iPad, BB dan perangkat pintar berteknologi tinggi lainnya. Mungkin sebagian dari mereka berpikir itu lebih efisien, karena dalam satu waktu melakukan banyak hal sekaligus. Padahal, berbagai riset menunjukkan bahwa multitasking ternyata lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya.

Kata kunci: profesionalisme, guru dan multitasking

Profesionalisme Guru

Generasi digital merupakan generasi yang biasa memperoleh informasi melalui perangkat digital. Mereka mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, kreatifitas sangat tinggi, dan multitasking. Berkaitan dengan hal ini peran guru sangat dibutuhkan untuk membimbing mereka. Stephanus dalam Herimanto dan Winarno, (2012:161) menyatakan bahwa perkembangan teknologi dan informasi saat ini telah mempengaruhi kehidupan anak-anak. Anak-anak yang hidup di era milenial pasti dipengaruhi oleh teknologi digital. Kemajuan teknologi juga memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan baik cara pandang terhadap pengetahuan hingga bagaimana pengetahuan itu direalisasikan pada proses belajar mengajar. Pesatnya perkembangan teknologi menuntut para guru tidak hanya profesional namun juga harus mengimbangi dan memanfaatkan perkembangan teknologi dalam proses pembelajaran. Guru profesional di era revolusi 4.0 merupakan guru yang mampu menguasai dan memanfaatkan teknologi digital untuk proses pembelajaran. Dalam menghadapi pekerjaan misalnya, Mc Kinsey (2017) menyatakan bahwa ada 5 prinsip dasar pengembangan keahlian tenaga kerja. Yakni (1) menetapkan potensi lokal/wilayah dan mengidentifikasi target profesi/keahlian; (2). menginformasikan ke perusahaan/industri akan pentingnya peningkatan kompetensi atau keahlian pekerja, seperti meningkatnya produktivitas, kinerja perusahaan, kecepatan promosi bagi tenaga kerjanya; (3). melaksanakan metode pelatihan yang komprehensif dan sesuai kebutuhan industri (demand-driven), termasuk melaksanakan magang;( 4). melakukan assessment dan menyiapkan calon peserta diklat sebelum memulai diklat (kompetensi dasar yang harus dimiliki sebelum diklat); serta (5). Dilaksanakan secara terkoordinasi. Karena itu guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Meningkatnya tuntutan masyarakat atas kebutuhan keahlian profesional dan sikap profesional menimbulkan suatu reaksi yang berkembang cepat di masyarakat yang bertujuan dapat mengisi kebutuhan sesuai dengan perkembangan di berbagai bidang yang semakin komplek yang membutuhkan penanganan dan pengamanan yang semakin sempurna. diperlukan sumber daya manusia yang memiliki ketangguhan daya saing dan kualitas yang tinggi. Sumber daya manusia seperti itu sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara dalam abad globalisasi yang akan menghadapi persaingan yang semakin berat dan ketat dalam semua aspek kehidupan di sepanjang abad 21. Merujuk pada UU Nomor 14 tahun 2005, seorang pendidik dikatakan memiliki keprofesionalan jika mereka setidaknya memiliki 4 kompetensi. yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi Kepribadian, (3) kompetensi profesional dan ke (4) kompetensi sosial. Seorang pekerja professional memiliki filisofi yang menyikapi dan melaksanakan pekerjaannya (Syafruddin Nurdin, 2002:16). Adapun Rochman Natawidjajayang dikutip SyafruddinNurdin (2002:18) mengemukakan beberapa kriteria sebagai ciri suatu profesi; 1) Ada standar untuk kerja yang baku dan jelas, 2) Ada lembaga pendidikan khusus yang menghasilkan pelakunya dengan program dan jenjang pendidikan yang baku serta memiliki standar akademik yang memadai dan yang bertanggung jawabtentang pengembangan ilmu pengetahuan yang melandasi profesiitu, 3) Ada organisasi yang mewadahi para pelakunya untuk mempertahankankan dan memperjuangkan eksistensi dan kesejahtraannya, 4) Ada etika dan kode etik yang mengatur prilaku para pelakunya dalam memperlakukan kliennya, 5) Ada sistem imbalan terhadap jasa layanannya yang adil dan baku, 6) Ada pengakuan masyarakat (professional,penguasa dan awam)terhadap pekerjaan itu sebagai suatu profesi. Jadi dengan kriteria, telah disebutkan itulah menurut Rochman Natawijaja dapat diadakan penilaian apakah guru suatu profesi. Di era-globalisasai pergeseran dan saling mempengaruhi antar nilai-nilai budaya tidak dapat dihindarkan lagi. Kemajuan ilmu dan teknologi tersebut seolah-olah telah mampu menciptakan kebudayaan global. Guru harus mampu melihat jauh ke depan dalam mengantisipasi dan menjawab tantangan yang dihadapi oleh sektor pendidikan sebagai suatu sistem. Dengan demikian bahwa penyelenggaraan pendidikan pada era global menuntut konsekuensi tentang mutu sumber daya guru. Guru perlu diberikan keleluasaan dalam mengembangkan kemampuan para siswanya melalui pemahaman, keaktifan, pembelajaran sesuai kemajuan zaman dengan mengembangkan keterampilan hidup agar siswa memiliki sikap kemandirian, perilaku adaptif, koperatif dan kompetitif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari. Payong (2016:16) dalam penelitiannya pada tahun 2014, sejumlah persoalan guru meliputi: (1) para guru belum siap menerapkan inovasi pembelajaran, mereka cenderung kembali kepada pola-pola pembelajaran konvensional, (2) Program peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru tidak berdampak secara langsung terhadap peningkatan prestasi siswa, (3) Program pengembangan keprofesian berkelanjutan tidak dilihat sebagai program strategis yang memiliki nilai tambah pada pengayaan wawasan dan keterampilan guru, (4) Guru terlibat politik praktis dalam pilkada langsung yang berpengaruh pada kinerjanya dalam pembelajaran dan hubungan dengan teman sejawat, (5) Guru terjebak dalam pola pikir birokrasi dalam menerapkan kurikulum dan (6) Dorongan dan kemauan untuk belajar dan mengembangkan diri belum diutamakan oleh guru-guru yang telah disertifikasi.

 

Multitasking

 

Saat ini sedang menggema kegiatan Program Sekolah Penggerak (PSP) Program Guru Penggerak (PGP), Assesmen Nasional dan pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum terjadap siswa diseluruh Indonesia. AKM diperuntukkan terhadap siswa kelas IV, VIII dan 11. Sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) maka ujian sekolah pada akhir tahun ajaran pada kelas akhir dilakukan dengan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Mendapatkan kabar gembira dari program Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang kini dijabat oleh Nadiem Anwar Makarim, maka guru merasa kembali diberi ruang untuk berekspresi dengan lebih merdeka. Betapa tidak dengan program Merdeka Belajar maka kepercayaan diri guru semakin baik. Pelatihan yang berlangsung selama 9 bulan itu diharapkan agar Guru Penggerak benar-benar harus siap dalam menjalankan tugasnya. Sangat penting disikapi bahwa menjadi Guru Penggerak harus tetap menjalankan tugas utamanya sebagai guru di tempatnya mengajar/bertugas. Menjadi seorang guru penggerak menuntut dan mempersyaratkan kemampuan multitasking terhadap pelaku ataupun pelaksana. Menguatnya budaya multitasking dalam perkembangan budaya modern yang didominasi oleh ICT (information and communication technology) dalam berbagai bentuknya menjadi budaya baru abad ke-21.

Sesungguhnya multitasking adalah kemampuan untuk melakukan dua jenis kegiatan atau lebih pada saat bersamaan dengan mengandalkan audio (bicara) ataupun visual (penglihatan). Kendati awalnya merupakan istilah dunia teknologi informasi, kini sudah menjadi istilah jamak dalam pergaulan hidup masyarakat yang semakin maju. Multitasking sebenarnya memiliki dua macam. Pertama, multitasking sederhana, dalam arti sempit, yaitu apa yang di kenal dengan parallel processing. Orang mengerjakan dua tugas atau lebih dalam waktu yang bersamaan. Ini terjadi, misalnya, ketika siswa membaca buku sambil mendengarkan musik. Adapun jenis yang kedua ialah task-switching. Multitasking jenis kedua ini terjadi jika seseorang dengan cepat berpindah dari mengerjakan tugas yang satu ke tugas berikutnya. Contohnya ketika siswa sedang membaca buku, ada layanan pesan singkat (SMS/WA) masuk untuk segera direspons. Kendati terdapat perbedaan tipis diantara kedua perilaku tersebut, implikasinya sungguh sangat berbeda. Tugend,, (2008) menyatakan bahwa parallel processing, misalnya, mungkin memang meningkatkan efisiensi, terutama ketika salah satu tugas melibatkan kegiatan motorik seperti berjalan, atau tindakan lain yang sudah dilakukan secara rutin. Sedangkan, rapid switching antartugas mental yang berbeda-beda dapat menurunkan efisiensi, terutama jika tugas-tugas itu menuntut proses kognitif yang lebih menantang. Studi Rubinstein, Meyer, & Evans, (2001) menunjukkan bahwa setiap pergeseran perhatian dari satu tugas ke tugas yang lain membutuhkan aktifasi sirkuit saraf yang berbeda, yang dikoordinasikan oleh frontal lobe. Switching ini membutuhkan waktu, terutama ketika tugas mental tersebut baru atau belum begitu familier. Dalam sebuah studi yang menyelidiki efek media multitasking di dalam kelas, satu kelompok mahasiswa diizinkan menggunakan laptop selama kuliah, dan kelompok lain tidak. Ternyata yang menggunakan laptop memiliki skor lebih rendah pada tes memori tradisional terhadap isi kuliah. Para peneliti juga mencatat, bagaimanapun, kinerja mahasiswa secara keseluruhan dalam kuliah ini tidak terlalu terpengaruh oleh fakta bahwa mereka didorong untuk menggunakan laptop di kelas dan telah aktif melakukan multitasking sepanjang semester; hasil ini mungkin terjadi karena pembelajaran dilakukan secara nontradisional, sangat dinamis, dan interaktif (Hembrooke & Gay, 2003). Siswa yang sangat sibuk mungkin berpikir bahwa mereka akan dapat menyelesaikan tugas dengan melakukan multitasking, tetapi ternyata, menurut penelitian ini, dengan cara tersebut mereka justru malah membutuhkan lebih banyak waktu guna mencapai tingkat kinerja yang sama pada tugas akademik yang dibebankan (Viadero, 2008). Peneliti lain bahkan menemukan bahwa interupsi benar-benar dapat memfasilitasi kinerja pengambilan keputusan, jika tugas yang diinterupsi sederhana dan interupsi ini berbeda dengan tugas aslinya (Speier, Valacich, & Vessey, 2007). Dengan kata lain, multitasking tidak selalu buruk dalam proses belajar mengajar. Ini juga tidak lantas membuat siswa menjadi lebih mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas. Namun, kita juga dapat menyimpulkan bahwa switching tugas pada khususnya meningkatkan jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Multitasking baik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan sistem memori yang beraneka ragam, yang pada akhirnya berimplikasi pada fleksibilitas siswa dalam menggunakan pengetahuan yang sudah dipelajari. Hilangnya perhatian dan waktu yang dihabiskan untuk beralih dari satu tugas ke tugas mungkin memiliki efek buruk pada kemampuan siswa dalam mempelajari fakta dan konsep baru yang kompleks. Yang perlu diwaspadai dengan lebih serius ialah jangan sampai dengan tradisi baru multitasking ini siswa dan guru malah kehilangan kedalaman berefleksi, melakukan permenungan terhadap setiap fenomena yang dipelajari. Sebab, refleksi kritis inilah sesungguhnya yang justru dapat mendekatkan siswa pada spiritualitas sebagaimana dikehendaki dalam kurikulum baik itu Kurikulum 2013 maupun revisinya. Guru apabila rutin melakukan multitasking dengan teknologi baru sering menjadi pelupa, kurang hangat Multitasking juga sering memicu stress dan merasa cemas. Dampak lainnya yakni meningkatkan tekanan darah, mengganggu daya ingat termasuk menurunkan kreatifitas. bahkan meningkatkan resiko kecelakaan. Sisi positif tentang kemampuan multitasking dalam mengerjakan sesuatu bisa berjalan efektif apabila memenuhi beberapa persyaratan antara lain. Yakni mengerjakan pekerjaan yang masih berkaitan serta menentukan skala prioritas pekerjaan. Mampu menentukan deadline, berusaha fokus pada pekerjaan yang sedang dilakukan serta beristirahat jika sudah lelah,

 

Menjaga Profesioinalisme

 

Guru professional dituntut untuk terus menjaga marwah profesionalismenya dan sedapat mungkin agar menghindat multitasking. Multitasking seringkali diyakini orang merupakan ketrampilan yang menurunkan produktifitas. Selain itu merusak memori pada otak, berpotensi mengalami stress, menurunkan kualitas dan efesiensi kerja, penurunan focus. Berpotensi meningkatkan kecemasan sosial dan depresi bahkan multitasking dapat menurunkan kreatifitas

Menurut survei Bank Dunia tentang belajar-mengajar di Indonesia pada tahun 2011, menunjukkan bahwa program sertifikasi yang dilakukan sejak 2007 belum mampu meningkatkan kualitas guru dalam mengajar (sumber: Media Indonesia, 21/11/2012). Di lapangan setidaknya ada dua permasalahan yang masih membelenggu guru yang berlabel profesional, yakni masalah keprofesionalan dan gairah mengajar. Masalah keprofesionalan terkait erat dengan kemampuan guru dalam mengajar-mendidik. Perlu juga dicermati bahwa bahwa kurikulum dengan konsep yang sangat bagus tidak akan berjalan baik tanpa peran guru yang memegang komitmen. Komitmen merupakan wujud pengabdian diri terhadap suatu pekerjaan atau tugas atas dasar loyalitas dan tanggung jawab yang disandarkan pada niat yang tulus. Komitmen itu bisa dibangun dengan membangkitkan kesadaran akan tugasnya sebagai seorang pengajar dan pendidik. Profesi guru berhubungan dengan kualitas manusia yang dibentuknya. Kepiawaian guru menjadi hal yang paling utama dalam menentukan kualitasnya. Guru sebagai agen pembaharuan yang mempengaruhi keputusan inovasi para peserta didiknya kearah yang diharapkan. Sebagai agen pembaharuan, guru harus memperhatikan tiga tahapan yakni tahapan invention (penemuan) yang meliputi penemuan hal-hal baru atau aspek tertentu dalam pendidikan. Selanjutnya tahap development (pengembangan) meliputi saran alternatif pemecahan masalah, percobaan, penelitian, percobaan kembali, dan penilaian. Tahap terakhir adalah diffusion (penyebaran), mencakup penyebaran ide-ide baru kepada sasaran penerimanya.

Sebagaimana Permendiknas RI nomor 16 tahun 2007 bahwa Perilaku professional guru di samping memiliki standar kualifikasi akademik adalah, Pertama, bertindak sesuai dengan norma-norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia; Kedua, menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat; Ketiga, menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa; Keempat, menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri; Kelima, menjunjung tinggi kode etik guru. Karena itu agar profesionalisme tetap terjaga khususnya guru PNS bersertifikasi sedapat mungkin menghindari kegiatan multitasking. Sebab selain dapat mengurangi produktivitasnya menjadi guru juga menambah beban mental. Bertepatan dengan Hari Guru yang diperingati setiap tanggal 25 November setiap tahunnya hendaknya dapat dijadikan momentum serta refleksi kembali profesionalisme guru. Seiring dengan semakin banyak organisasi profesi guru harus menjadi ajang pembuktian bahwa pemimpin irgansiasi guru adalah orang-orang yang kredibel di bidangnya danwajib tunduk terhadap semua peraturan-peraturan yang berkaitan dengan tugas pengembangan keprofesian berkelanjutan. Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2021.Semoga Berrmanfaat.

 

Rujukan:

 

1. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Draf Naskah Akademik Program

Pendidikan Profesi Guru Prajabatan. Jakarta: Direktorat Ketenagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depdiknas. 2005.

2. Edu, L. Ambros. , Arifian, Dus F. dan Nardi, Mikael. 2016. Etika dan Tantangan Profesionalisme Guru. Bandung: Alfabeta.

3. Payong, Marselus, R. 2011. Sertifikasi Profesi Guru: Konsep dasar, Problematika dan Implementasinya. Jakarta: PT Indeks.

4. Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 84/sipres/A6/III/2021, Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2015 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta.

 

 

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed