oleh

Penilaian Kinerja Guru Tantangannya di Era Industri 4.0

Oleh :Nelson Sihaloho

Guru SMPN 11 Kota Jambi

 

Abstrak:

Banyak isu-isu strategis yang berkembang saat ini di bidang pendidikan salah satu diantaranya evolusi karir. Evolusi memiliki makna perubahan yang terjadi dalam waktu panjang. Namun, di era digital dan memasuki trend 5G dalam memaknai evolusi tidak lagi memerlukan waktu yang panjang. Reformasi di sekolah tidak akan terjadi jika kepala sekolah dan pengawas sekolah belum dibenahi, Termasuk dalam pengangkatan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang dilakukan berdasarkan kompetensi, bukan karena dipengaruhi kepentingan tertentu atau kepentingan politik. Kinerja kepala sekolah apabila baik dapat menjabat lebih dari dua periode dengan catatan harus pindah ke sekolah lain. Kepala sekolah merupakan manajer disekolah, apabila ada kepala sekolah yang kinerjanya kurang baik sebaiknya dirotasi ke sekolah yang peringkat dan akreditasinya lebih redah. Belakangan ini banyak guru yang dibingungkan seperti tidak dapat mengusulkan kenaikan pangkat karena belum mempunyai sertifikat pendidik. Apa hubungan sertifikat pendidik dengan Jabatan Fungsional, dan kenaikan pangkat guru. Dalam menghadapi era industry 4.0 guru juga semakin dibebani dengan berbagai peningkatan mutu pendidikan. Dengan kondisi demikiantigas guru di masa depan akan semakin berat. Pembelajaran abad 21 yang ditandai dengan semakin masifnya perkembangan Ilmu pengetahuann dan teknologi (Iptek) maupun era Society 5.0 tantangan yang dihadapi guru kelak akan semakin kompleks. Kompleksitas permasalahn yang dihadapi kelak tersebut juga akan berpengaruh terhadap penilaian kinerja guru.
Kata kunci: penilaian kinerja guru, era industri

Kinerja Guru

Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya diatur dalam Permenpan RB Nomor 16 tahun 2009. Pada pasal 30 ayat 1 disebutkan bahwa, PNS yang diangkat pertama kali dalam jabatan fungsional guru harus memenuhi pesrsyaratan . Yakni berijazah paling rendah Sarjana (S1) atau Diploma IV, dan bersertifikat pendidik. Pangkat paling rendah golongan penata muda golongan ruang III/a;Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian  Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) atau sekarang disebut Penilaian Prestasi Kerja (PPK) paling rendah bernilai baik dalam satu tahun terakhir; dan mempunyai kinerja baik yang dinilai pada masa Program Induksi. Berdasarkan peraturan bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan kepegawaian Negara No. 03/V/PB/2010/No. 14 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, maka mulai berlaku efektif tanggal 1 Januari 2013. Kinerja merupakan terjemahan dari kata performance (Job Performance), secara etimologis performance berasal dari kata to perform yang berarti menampilkan atau melaksanakan, sedang kata performance berarti “The act of performing; execution” (Webster Super New School and Office Dictionary). Kinerja didefinisikan sebagai hasil yang tampak dari sebuah pekerjaan atau aktivitas, selama kurun waktu tertentu (Bernardin dan Russel dalam Ruky, 2004:15). Menurut Mathis dan Jackson (2006) kinerja guru adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi. Kuswana (2008:3) mengemukakan bahwa kinerja guru dikatakan berhasil apabila, memberikan efek terhadap perkembangan potensi siswa dalam konteks psikologis dan fisik, yakni bersifat positif terhadap apa yang dipelajarinya, baik dilihat dari tujuan serta manfaatnya. Kinerja merupakan ungkapan dari kata performance dalam bahasa Inggris yang memiliki tiga makna yaitu prestasi, pertunjukan, dan pelaksanaan tugas. (Ruky, dalam Supardi, 2016:45). Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (2016:598) kinerja memiliki tiga arti lain yakni “cara, kemampuan, dan sikap atau perilaku. Kinerja merupakan suatu prestasi/hasil kerja yang dihasilkan oleh sikap/prilaku berdasarkan kemampuan dalam melaksanakan tugasnya. Kinerja akan menjadi sebuah prestasi apabila menunjukan suatu kegiatan dalam melaksanakan tugas yang telah dibebankan. Fatah dalam Rachmawati (2013:17) menjelaskan bahwa “kinerja bukan merupakan perilaku individu seperti bakat atau kemampuan, melainkan perwujudan dari kemampuan itu dalam bentuk karya nyata, kinerja yang didasari oleh kemampuan, sikap, pengetahuan, dan motivasi akan menghasilkan suatu prestasi/keberhasilan. Saondi dalam Manullang (2017:1) menyatakan bahwa “kinerja guru adalah kemampuan yang ditunjukan oleh guru dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, kinerja dikatakan baik atau memuaskan apabila tujuan yang dicapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Adapun Priansa (2018:79) menyatakan bahwa “kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam rangka untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai”. Guru memiliki tugas utama dalam mendidik, mengajar, mengarahkan, membimbing, menilai, melatih dan melakukan evaluasi terhadap siswa sehingga dapat dikatakan sebagai pendidik yang profesional. Adapun kewajiban seorang guru yang profesional yaitu merencanakan pembelajaran, menjalankan proses pembelajaran yang bermutu, dan menilai serta mengevaluasi hasil pembelajaran. Priansa, et,al menyatakan bahwa tugas pokok dari seorang guru adalah merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih siswa. Kinerja guru merupakan tingkat keberhasilan guru dalam menyelesaikan pekerjaannya. Kinerja guru dapat terlihat jelas dalam pembelajaran yang diperlihatkan dari perolehan hasil belajar yang dihasilkan oleh siswa-siswanya. Kualitas kinerja guru yang baik akan menunjukan hasil belajar siswa yang baik. Tidak hanya dalam aspek kualitas pembelajaran dan kesesuaian tingkat pembelajaran, kinerja guru juga dapat dilihat dari aspek pengimplementasian kurikulum yang dilakukan oleh guru tersebut. Kinerja guru menjadi salah satu hal yang mendukung dari tinggi rendahnya mutu pendidikan. Kinerja guru dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Susanto (2012:198) menyebutkan bahwa kinerja guru dipengaruhi oleh faktor: “(a) motivasi, (b) kompetensi guru dan (c) kepemimpinan kepala sekolah. Seharningsih dalam Sobirin (2012: 2) menyebutkan ada 4 faktor kinerja guru, diantaranya yaitu: (a) kemampuan dan semangat guru yang tinggi, (b) pembinaan yang diberikan oleh kepala sekolah secara rutin (c) kemampuan kepala sekolah dengan mengadakan supervisi sehingga bisa melaksanakan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan pembelajaran, dan (d) keberhasilan kepala sekolah dalam menciptakan iklim sekolah yang kondusif sehingga guru bersemangat dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Mangkunegara dalam Ahmad (2017: 135-136) menyebutkan bahwa kinerja guru dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor kemampuan, dan motivasi. Ahmad (2017:138-140) menggolongkan faktor yang mempengaruhi kinerja guru ke dalam dua macam, yaitu faktor intern atau yang berasal dari dalam diri sendiri serta faktor eksteren yang berasal dari luar diri. Penilaian kinerja seseorang guru akan nampak pada situasi dan kondisi belajar mengajar selama satu tahun ajaran. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya menggambarkan bagaimana ia berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Hasibuan (2006:95) mengemukakan bahwa aspek-aspek yang dinilai kinerja mencakup sebagai berikut: (a). Kesetiaan (b). Prestasi kerja, (c). Kejujuran (d). Kedisiplinan, (e). Kreatifitas, (f). Kerjasama, (g). Kepemimpinan, (h). Kepribadian, (i). Prakarsa, (j). Kecakapan, (k). Tanggung jawab. Ada beberapa teori yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja guru. Salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 137 tahun 2014. Evaluasi kinerja guru dilakukan dalam satu tahun ajaran, dengan pertimbangan dari satu tahun masa ajaran tersebut kinerja guru bisa dilihat dan dibandingkan dari tahun sebelumnya.

Kepemimpinan Transformasional

Kesempatan berprestasi dapat menimbulkan dorongan psikologis untuk meningkatkan dedikasi serta pemanfaatan potensi yang dimiliki dalam meningkatkan kinerjanya. Banyak para ahli menyebutkan bahwa faktor terpenting yang mempengaruhi kinerja guru yaitu faktor kepemimpinan dan sikap Organizational Citizenship Behaviour (OCB). Terdapat beberapa penelitian yang juga menyatakan bahwa kepemimpinan dan sikap Organizational Citizenship Behaviour (OCB) merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja. Penelitian yang dilakukan oleh Kaihatu dan Rini (2007) menjelaskan bahwa bahwa penerapan kepemimpinan transformasional dari kepala sekolah meningkatkan kualitas kehidupan kerja, dan hal ini cenderung akan meningkatkan perilaku kewargaan organisasi dari para guru. Sedangkan Putra dan Adnyani (2016) pada penelitiannya menemukan bahwa kepemimpinan transformasional dan OCB memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja. Penelitian Putri dan Utami (2017) juga menemukan bahwa kelima aspek OCB yang terdiri dari Altruism, Conscientiousness, Sportmanship, Courtesy, Civic Virtue hanya Courtesy yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja. Kepemimpinan kepala sekolah yang diharapkan mampu untuk memberikan dorongan dan motivasi untuk guru-guru mampu berpikir kreatif dan inovatif serta pemimpin yang mampu menumbuhkan rasa peduli terhadap tujuan atau visi lembaga. Seorang pemimpin transformasional dapat memotivasi para pengikutnya dengan tiga cara, yaitu: (1) membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil‐hasil suatu pekerjaan, (2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau tim daripada kepentingan diri sendiri, dan (3) mengaktifkan kebutuhan‐kebutuhan mereka pada yang lebih tinggi (Yukl, 2006). Menurut Aviolo (dalam Case, 2003), bahwa “fungsi utama dari seorang pemimpin transformasional adalah memberikan pelayanan sebagai katalisator dari perubahan (catalyst of change), namun saat bersamaan sebagai seorang pengawas dari perubahan (a controller of change)”. Hingga saat ini di Indonesia, belum ada peta jalan dan kriteria pemenuhan kompetensi yang jelas untuk kemajuan karier guru. Guru dalam era teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya sekadar mengajar (transfer of knowledge) melainkan harus menjadi manajer belajar.B eberapa tantangan globalisasi yang harus disikapi guru yakni perkembangan Iptek, krisis moral, krisis sosial. Pemimpin yang efektif dalam hubungannya dengan bawahan adalah pemimpin yang mampu meyakinkan mereka bahwa kepentingan pribadi dari bawahan adalah visi pemimpin, serta mampu meyakinkan bahwa mereka mempunyai andil dalam mengimplementasikannya. Perlu diketahui dengan bijak bahwa input sekolah itu sendiri berasal dari masyarakat dan akan kembali kepada masyarakat. Kepemimpinan transformasional merupakan salah satu pendekatan yang hangat dibicarakan selama dua dekade terakhir ini. Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang melibatkan perubahan dalam organisasi (dipertentangkan dengan kepemimpinan yang dirancang untuk memelihara status quo). Perhatian pada kepemimpinan di dalam proses perubahan (management o f change) mulai muncul ketika orang mulai menyadari bahwa pendekatan mekanistik yang selama ini digunakan untuk menjelaskan fenomena perubahan ini, kerap kali bertentangan dengan anggapan bahwa perubahan itu justru menjadikan tempat kerja itu lebih manusiawi. Dalam merumuskan proses perubahan, biasanya digunakan pendekatan transformasional yang manusiawi, dimana lingkungan kerja yang partisipatif, peluang untuk mengembangkan kepribadian. Keterbukaan dianggap sebagai kondisi yang melatarbelakangi proses, tetapi di dalam praktik proses perubahan itu dijalankan dengan bertumpu pada pendekatan transaksional yang mekanistik dan bersifat teknikal. Manusia cenderung dipandang sebagai suatu entity ekonomik yang siap untuk dimanipulasi dengan menggunakan sistem imbalan dan umpan balik negatif, dalam rangka mencapai manfaat ekonomik yang sebesar-besarnya. Kepemimpinan transformasional dijalankan oleh pemimpin dengan: (a) Cerdas mengeluarkan pikirannya mengenai suaiu visi masa depan. (b) Menggunakan berbagai ceritera dan simbol untuk mengkomunikasikan visi dan pesannya. (c) Merinci mengenai pentingnya memiliki perasaan yang kuat mengenai tujuan dan misi bersama. (d) Berbicara dengan optimis dan antusias dan menunjukkan percaya diri bahwa tujuan bisa tercapai. (e) Menimbulkan kepercayaan dan tanggungjawab para pengikutnya dengan melakukan hal yang benar tidak semata-mata melakukan sesuatu secara benar. (f) Menanakan kebanggaan para pegikutnya terhadap berbagai hal yang terkait dengan mereka. (g) Memperbincangkan nilai dan keyakinan yang paling penting bagi mereka. (h) Mempertimbangkan konsekwensi moral dan etis dari suatu. keputusan. (i) Mencari pandangan yang beragam manakala memecahkan suatu masalah. (j) Membujuk para pengikut untuk menantang asumsi lama mereka dan memecahkan masalah dengan cara baru. (k) Menghabiskan waktu untuk mengajar dan melatih. (l) Mempertimbankan perbedaan kebutuah, kemampuan dan aspirasi (keinginan) para pengikut. (m) Merasa iba, apresiatif, dan responsif kepada setiap pengikut dan mengenali serta merayakan setiap prestasi para pengikut. Pemimpin transformasional bisa berhasil mengubah status quo dalam organisasinya dengan cara mempraktikkan perilaku yang sesuai pada setiap tahapan proses transformasi. Mengutip Yukl (1994:311-315) mengemukakan dari berbagai hasil penelitian mengenai kepemimpinan transformasional, beberapa pedoman bagi pemimpin yang mengimpelementasikan kepemimpinan transformasional. (a) Kembangkan sebuah visi yang jelas dan menarik. (b) Kembangkan sebuah visi untuk mencapai visi tersebut. (c) Artikulasikan dan promosikan visi tersebut. (d) Bertindak dengan rasa percaya diri dan optimis, (e) Ekspresikan rasa percaya kepada para pengikut. (f) Gunakan keberhasilan sebelumnya dalam tahap-tahap kecil untuk membangun rasa percaya diri. (g) Rayakan keberhasilan. (h) Gunakan tindakan-tindakan yang dramatis dan simbolis untuk menemukan nilai-nilai utama. (i) Memimpin melalui contoh. (j) Menciptakan, memodifikasi, atau menghapuskan bentuk-bentuk kultural. (k) Gunakan upacara-upacara transisi untuk membantu orang melewati perubahan. Kepemimpinan transformasional adalah sebuah gaya kepemimpinan dimana kepala sekolah mampu melakukan perubahan dalam diri individu untuk mencapai performa terbaik melalui kharisma, pemberian stimulasi intelektual, motivasi, dan perhatian pada individu. Gaya kepemimpinan transformasional diyakini mampu memberikan implikasi baik terhadap manajemen dan pengelolaan sekolah termasuk dalam hal penilaian kinerja guru. Seorang kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Intinya kepemimpinan transformasional merupakan suatu proses untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan kinerjanya. Upaya yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka meningkatkan pengaruh idealnya adalah dengan meningkatkan kharisma melalui pemberian teladan, menunjukkan kewibawaan, memiliki keyakinan diri yang kuat, bertanggung jawab, loyalitas, pekerja keras, konsisten dan komitmen, mampu menunjukkan ide-ide besar serta membangkitkan kepercayaan. Kepala sekolah harus mampu menjadi suri teladan bagi para komponen organisasi pendidikan termasuk dalam penilaian keinerja guru. Menghadapi era Sosciety 5.0 tantangan yang dihadapi dalam penilaian kinerja akan semakin berat dan kompleks. Dibutuhkan ide-iide baru, hahasan serta kreatfitas yang baru untuk menhasilkan karya-katua inovatif guru dalam meningkatkan kinerjanya. Kinerja dan rekam jejak guru kelak semuanya akan berbasis bukti dan transparansi termasuk karya-karya inovatif guru akan semakin mudah diketahui apakah orisionil, bisa dilihat di google ataupun bisa ditemukan di situs web. Semoga beranfaat.

Rujukan
Ana-Maria Petrescu, M. N. (2015). Innovative Aspects of the PROFILES Professional Development Programme Dedicated to Science Teachers. Procedia – Social and Behavioral Sciences 19, 1355 – 1360 .
Dee, T., & Wyckoff, J. (2013). Incentives, Selection, and Teacher Performance. National Bureau of Ecomomic Research Working Paper Series.
Maggioli. (2004). Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta.
Soewarni, E. (2004). Kebijakan Pedoman Pengembangan Profesi. Jakarta: Rajawali Press
https://mediaindonesia.com/humaniora/226167/kemendikbud-tata-jenjang-karier-kepsek-dan-pengawas-sekolah

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed