oleh

Optimalisasi Modalitas Belajar Siswa  dengan Metode Adaptive Learning

Oleh: Nelson Sihaloho

Guru SMPN 11 Kota Jambi

 

bstrak:

 

Tugas guru adalah mengoptimalkan modalitas belajar siswa yang paling menonjol. Salah satu ciri pertanda seseornag telah belajar sesuatu yakni adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan bersifat kognitif (pengetahuan), keterampilan, maupun nilai dan sikap. Modalitas belajar atau gaya belajar merupakan suatu kombinasi bagaimana seseorang menyerap, mengatur serta mengolah informasi. Seorang anak yang memahami modalitas belajarnya akan memperoleh banyak manfaat dalam pembelajarannya, sebab telah terbiasa dengan cara belajar yang cocok untuk dirinya.

Dimasa Pendemi Covid-19 hingga menghadapi sistem pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang kini telah diimplementasikan semakin banyak materi pembelajaran yang bisa diakses melalui platform E-learning. Media dan alat pembelajaran yang semakin beragam itu mengindikasikan bahwa  peserta didik juga dituntut untuk mengadaptasi materi pembelajaran. Kini semakin banyak konten pembelajaran dan objek pembelajaran yang bisa diadaptasikan dengan metode Adaptive Learning. Internet kini telah menjadi alat komunikasi yang kuat, dinamis, dan fleksibel serta merupakan medium belajar yang dapat mengembangkan pembelajaran sesuai permintaan dan menjadi sebuah instruksi pembelajaran maupun latihan yang terpusat. Selain itu, dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam setting pendidikan untuk menawarkan pembelajaran terbuka, berbasis web, interaktif dan inovatif untuk siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Dengan demikian optimalisasi modalitas belajar siswa dapat ditingkatkan dengan meberapkan metode Adaptive Learning.

Kata kunci: modalitas belajar, adaptive learning

 

Modalitas belajar

 

Modalitas Belajar telah dikembangkan berbagai pakar di Amerika, antara lain Environmental Learning Styles, Felder-Silverman Learning Style Model, Grasha-Riechmann Student Learning Styles, The Gregoric-Butler Theory, Kolb’s Learning Style Model, Herrmann Brain Dominance Instrument, Levine’s Neurodevelopmental Profiles, The MyersBriggs Type Indicator, Multiple Intelligences Theory, Media or Sensory Channel, R J Riding’s Dimensions, Styles of Mental Self-Government, Priscilla L. Vail’s Learning Styles (A Catalog of Learning Styles Theories, http://www.familychristian academy.com/ learnstyle/stylelinks. html). Menurut Keefe (1979), modalitas belajar merupakan gabungan dari karakteristik kognitif, afektif, dan faktor fisiologis yang berfungsi sebagai indikator yang relatif stabil tentang bagaimana pelajar merasakan, berinteraksi dengan, dan merespon lingkungan belajar. Adapun Brown (2000) mendefinisikan gaya belajar sebagai cara seseorang mempersepsikan dan memproses informasi dalam situasi belajar. Brown,et,al berpendapat bahwa preferensi gaya belajar merupakan salah satu aspek gaya belajar, dan mengacu pada pilihan satu situasi belajar atau kondisi di atas preferensi yang lain. Merujuk pada Neuro-Linguistic Programming sebagaimana dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder dalam model strategi komunikasi, diketahui bahwa selain seseorang memasukkan informasi dari kelima indera, juga ada preferensi bagaimana seseorang menciptakan dan memberikan arti pada suatu informasi. Pada umumnya seseorang menggunakan tiga preferensi sensori yaitu berdasarkan pada visual (penglihatan), auditori (pendengaran), dan kinestetik (sentuhan dan gerakan). Inilah yang dikenal dengan nama modalitas. Modalitas belajar adalah cara seseorang menyerap informasi melalui indera yang dimiliki. Penggunaan modalitas belajar dalam pembelajaran di kelas dapat meningkatkan konsentrasi belajar siswa sehingga meningkatnya motivasi berprestasi siswa yang kemudian berpengaruh pada meningkatnya hasil belajar siswa.  Dengan demikian maka modalitas belajari memiliki kedudukan yang penting dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Penggunaan modalitas belajar dalam pembelajaran di kelas dapat meningkatkan konsentrasi belajar siswa sehingga meningkatnya motivasi berprestasi siswa yang kemudian berpengaruh pada meningkatnya hasil belajar siswa. Adatiga modalitas belajar yakni modalitas belajar visual, modalitas belajar auditorial serta modalitas belajar kinestetik. Modalitas belajar visual adalah belajar dengan melihat sesuatu. Modalitas ini mengakses citra visual, yang diciptakan maupun yang diingat. Warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Adapun ciri siswa yang sangat visual yakni pertama, teratur memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan. Kedua, mengingat dengan gambar, lebih suka membaca dari pada dibacakan. Ketiga, membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh serta menangkap detail mengingat apa yang dilihat. Sedangkan modalitas belajar auditorial adalah belajar dengan mendengar sesuatu. Contohnya adalah seseorang yang suka mendengarkan kaset audio, ceramah kuliah, diskusi, debat dan instruksi (perintah) verbal. Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata baik yang diucapkan maupun diingat. Penjelasan tertulis akan lebih mudah ditangkap oleh para pembelajar auditori. Adapun ciri siswa yang sangat auditorial yakni petrama, perhatiannya mudah terpecah. Kedua, berbicara dengan pola berirama. Ketiga, belajar dengan cara mendengarkan, menggerakkan bibir atau bersuara saat membaca. Keempat berdialog dengan cara internal dan eksternal. Adapun modalitas belajar kinestetik adalah belajar melalui aktifitas fisik dan keterlibatan langsung. Adapun ciri siswa yang masuk dalam kategori kinestetik yakni (1) menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak. (2) Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik. (3) Mengingat sambil berjalan dan melihat.

 

Pembelajaran Adaptive

 

Menuurt Brusilovsky, (2001) menyatakan bahwa pembelajaran adaptif dapat menjadi sebuah alternatif untuk kurikulum biasa yang mencakup semua kurikulum pembelajaran online. Adapun Weber, (2012) mengungkapkan bahwa sistem pembelajaran adaptif (sering disebut dengan lingkungan belajar adaptif) bertujuan untuk mendukung peserta didik dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam pembelajaran tertentu. Sistem pembelajaran adaptif memainkan peranan penting dalam keberhasilan dan daya tahan belajar, serta meminimalisir kegagalan peserta didik dalam belajar.

Sebagaimana dikutip dari sumber ulasan pada sebuah paper yang diterbitkan oleh Educause Learning Iniative pada tahun 2017, dalam menjalankan adaptive learning, guru harus menyesuaikan diri dalam interaksi dengan siswa agar bisa memberikan konten pembelajaran yang tepat, sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik. Guru perlu mempelajari pola interaksi peserta didik agar bisa menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan. Adaptive learning mendorong guru memantau siswa mana yang membutuhkan bantuan, mengukur kinerja kurikulum, serta memaksimalkan pembelajaran. Guru sekaligus berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Metode Pembelajaran Adaptive diyakini membuat semua peserta didik bisa belajar sesuai tingkat kemampuan dan porsi kebutuhan masing-masing. Selain itu kesenjangan dalam pemahaman bisa berkurang karena para guru akan memastikan siswa mencapai penguasaan materi pelajaran terlebih dahulu sebelum pembelajaran naik ke level yang lebih tinggi.  Adaptive learning memilikin kesamaan dengan blended learning namun yang membedakannya adalah metode yang diberikan kepada peserta didik. Apabila merujuk definisi adaptive learning adalah metode pembelajaran yang diberikan dengan mengedepankan peningkatan pengetahuan, pemahaman, ketertarikan dan kemampuan dari masing-masing individu. Untuk saat ini, belended learning menjadi metode pembelajaran yang dapat diimplementasikan untuk menjalankan metode pembelajaran adaptive learning kepada para pelajar. Pasalnya, blended learning sendiri memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk meningkatkan kemampuannya berdasarkan metode pembelajaran yang memaksimalkan minat. Mengapa personalisasi pembelajaran merupakan salah satu inti dari adaptive learning?. Sebab personalisasi yang diberikan oleh pengajar terhadap para peserta didik akan memberikan efek yang sangat besar terhadap pemahaman, pengetahuan, kemampuan dan minat pelajar. Banyak manfaat yang didapatkan peserta didik  dengan mengoptimalkan adaptive learning. Dantaranya mengurangi tingkat kebosanan belajar, kesiapan mengikuti pelajaran dengan terus menerus serta kemudahan dalam mengikuti indtsruksi.

Adaptif atau disesuaikan/penyesuaian adalah alasan mengapa para peserta didik dapat lebih menikmati proses pembelajaran dan lebih terhindar dari rasa bosan selama mengikuti jam pelajaran. Ada minat yang diutamakan di dalamnya, sebab minat yang tinggi akan menghasilkan kualitas tersendiri peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Munculnya rasa senang dari peserta didik dengan metode pembelajaran adaptive akan menambah gairah mereka dalam belajar.. Peserta didik yang senang belajar dan mengikuti pelajaran maka akan meningkatkan keinginan peserta didk untuk terus mengikuti pelajaran. Apabila daya kemampuan peserta didik sudah meningkat, penguasaan materi berkembang maka akan menjadi budaya positif dalam meningkatkan modalitas belajar peserta didik.  Peserta didik yang tidak senang dengan satu mata pelajaran, mereka cenderung melakukan penolakan ketika mendapatkan instruksi dari pengajar. Dengan metode pembelajaran adaptive peserta didik akan lebih mudah untuk mengikuti instruksi yang diberikan oleh pengajar.

Banyak kalangan pakar menyatakan bahwa salah satu solusi untuk mengatasi pemahaman dan pengetahuan yang berbeda-beda (learning gap) yakni dengan sistem pembelajaran adaptif (adaptive learning). Metode ini memungkinkan materi pelajaran dipersonalisasi atau dirancang khusus sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Sistem pembelajaran adaptif bisa menjadi solusi untuk masa depan pendidikan Indonesia. Menggunakan bantuan algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), setiap siswa difasilitasi untuk belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing, serta mendapatkan umpan balik yang lebih relevan agar mereka bisa mengetahui dimana kelemahan maupun kekuatannya. Penerapan pembelajaran adaptif bisa mempermudah guru untuk memantau siswa mana yang membutuhkan bantuan, mengukur efektivitas kurikulum yang telah dibuat, serta memaksimalkan hasil belajar. Pembelajaran adaptif merupakan metode pembelajaran yang dirancang khusus untuk memberikan pengalaman belajar personal. Setiap siswa akan memiliki kesempatan untuk mengejar ketertinggalan maupun mengulang pelajaran agar mampu menguasai materi dengan utuh, sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

 

Mereduksi Ketidakpastian

 

Sebagaimana ditegaskan bahwa pembelajaran adaptif merupakan pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dengan menerapkan program pembelajaran individu yang didasarkan pada profil pembelajar yang dikumpulkan sebelum dan selama proses pembelajaran. Begitu juga definisi lain terkait dengan pembelajaran adaptif merupakan suatu pendekatan manajemen yang tegas menerima ketidakpastian itu ada serta tidak dimilikinya sebuah jawaban untuk keseluruhan. Pendekatan ini berusaha mereduksi sekaligus mengelola sumber daya. Dalam hal ini pengelolaan pembelajaran dan mereduksi ketidakpastian tentang sistem sumber daya yang dikelola menjadi bagian penting dan integral dari manajemen. Kendati dengan ccara teoritis pembelajaran adaptif berpotensi dilakukan tanpa bantuan teknologi, namun praktiknya kondisi tersebut sangat jarang mampu dilakukan. Sebab sering dijelaskan pembelajaran adaptif sebagai sebuah teknologi. Platform pembelajaran adaptif yang baik umumnya apabila dibangun menggunakan beragam bentuk penggalian data (data mining) yang ditempelkan bersama-sama dengan konten pembelajaran sehingga mampu mengoptimasi klasifikasi kebutuhan peserta didik. Dengan demikian maka penggunaan pembelajaran adaptif dalam pembalajaran mampu memberikan pengalaman belajar individual yang baik yang diyakini akan memberikan hasil belajar yang baik pula. Teknologi pembelajaran adaptif menawarkan tiga hal yakni personalized learning, automated teaching, dan  addressing higher Ed’s greatest pain points. Personalized learning, kondisi ideal pengajaran dan pem-belajaran yang dikhususkan untuk individu siswa tercapai apabila materi, asesmen, dan ketuntasannya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan unik individu siswa. Automated teaching, teknologi adaptif menggantikan model kelas tradisional dengan pembelajaran yang di otomatisasi format yang lebih luas dan sedikit bergantung pada instruksi langsung. Teknologi pembelajaran adaptif tidak mengulang pembelajaran face-to-face sebagaimana pada pembelajaran dalam jejaring namun lebih mendorong pembelajaran sejak awal hingga akhir dengan menggabungkan pembelajaran dalam jejaring dengan face-to-face yang cocok. Addressing higher Ed’s Greatest Pain Points, untuk kelompok yang mendukung, pasti cepat mengakui bahwa pembelajaran adaptif dapat memecahkan permasalahan yakni biaya, akses, dan kualitas dengan menggantikan teknologi untuk pekerja serta sebaliknya mengizinkan pedagogi dan analisis terbaik diterapkan di kelas untuk meningkatkan  kualitas pendidikan. Dengan demikian pembelajaran adaptif dengan signifikan menjanjikan terhadap pembelajaran inovatif ternasuk salah satu solusi pembelajaran di masa depan.  Proses penyesuaian pe,belajaran di masa pandemic Covid-19 yang sering dikeluhkan banyak mengalami hambatan dapat dilakukan dengan metode pembelajaran adaptif. Semua pihak harus bisa menyesuaikan diri, mulai dari guru, siswa dan juga orang tua. Seorang guru atau pendidik dituntut untuk mengelola pembelajaran yang adaptif. Selain adaptif juga fleksibel serta akomodatif terhadap tugas-tugas perkembangan peserta didik. Pentingnya materi literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar dan general. Kemampuan literasi dan numerasi akan membantu peserta didik untuk bisa bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungannya. Pendidikan kecaapan hidup misalnya sangat relevan dengan pembelajaran adaptif. Metode pembelajaran adaptif sebaiknya dilakukan dengan berbasis aktifitas, nerbasis proyek serta berbasis pemecahan masalah. Dengan demikian optimalisasi modalitas belajar siswa dapat berkembang dengan signifikan dengan penerapan metode adaptif learning (pembelajaran adaptif). Dimasa depan pembelajaran adaptive akan selalu diadaptasikan sesuai dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Termasuk modalitas belajar peserta didik harus terus dioptimalisasikan agar mereka berkembang sesuai dengan potensi, bakat serta minat yang mereka miliki.. Semoga bermanfaat.

 

Rujukan:

 

  1. Bobby Deporter.(2002).Quantum Learning: Unleasinhing The The Genius In You. New York: Dell Publishing.
  2. Depotter, Bobbi, 2010, Quantum Learning, Mempraktikkan Quantum Learning di ruang kelas. Bandung PT. Mizan Pustaka
  3. Douglas.(2000). Principles of Language Learning and Teaching.San Francisco : Longman. Frederick J. Mc. Donald, Educational Psychology,(Tokyo: Overseas Publications, Ltd,1959.
  4. (2015). Motivasi Pembelajaran Perspektif Guru dan Siswa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
  5. Sanjaya, Wina. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Group Wiedarti Pangesti (2018) Seri Manual GLS Pentingnya Memahami Gaya Belajar.Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed