oleh

Meningkatkan Soft Skill, Prestasi Non Akademik dengan Ekstrakurikuler

Oleh:Nelson Sihaloho

*).Guru SMPN 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

 

Abstrak:

 

Banyak kalangan maupun berbagai hasil penelitian mengatakan bahwa kesuksesan karir seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh soft skill dengan persentase 85%, sedangkan hard skill hanya mencapai 15%. Umumnya terdapat tiga catatan penting yang wajib dipahami berkaitan dengan soft skill. Pertama, pada dasarnya soft skill merupakan kemampuan yang sudah melekat pada diri seseorang, tetapi dapat dikembangkan dengan maksimal dan dibutuhkan dalam dunia pekerjaan sebagai pelengkap dari kemampuan hard skill. Kedua, soft skill dibedakan menjadi dua macam, yakni soft skill yang terkait dengan personal, contohnya kemampuan mengendalikan emosi dalam diri, dapat menerima nasehat orang lain, mampu memanajemen waktu, dan selalu berpikir positif; dan soft skill yang terakait dengan intra-personal, contohnya kemampuan berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, bekerja sama dengan kelompok lain, dan lain lain. Ketiga, bahwa soft skill merupakan komplemen dari hard skill.  Pengintegrasian soft skills pada aspek kemampuan disiplin siswa terutama dalam kegiatan ekstrakurikuler melalui pengamatan perilaku maupun praktik serta pengumpulan tugas penting untuk ditekankan. Pengintegrasian soft skills pada kegiatan ekstrakurikuler dapat dinilai oleh guru dari selama proses kegiatannya berlangsung. Baik ketika di luar jam belajar, saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler hingga kegiatan lomba atau meraih prestasi non akademik. Umumnya pengintegrasian soft skills pada semua aspek kegiatan ekstrakurikuler sangat penting diutamakan sesuai petunuk teknis dan pelaksanaannya (juknisnya). Semakin baik program ekstrakurikuler direncanakan dan dilaksanakan akan memberikan kontribusi positif dalam meraih prestasi siswa dibidang non akademik.

Kata kunci: soft skills, nonakademik, ekstrakurikuler

 

Soft Skill

 

Menurut Sucipta (2009:1) “soft skills dimiliki oleh setiap orang dengan jumlah dan kadar yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh kebiasaan berpikir, berkata, bertindak dan bersikap.Menurut Elfindri, dkk., (2011:67), menyatakan bahwa soft skills didefinisikan sebagai berikut: “Soft skills merupakan keterampilan dan kecakapan hidup, baik untuk sendiri, berkelompok, atau bermasyarakat, serta dengan Sang Pencipta. Berdasarkan Survey National Association of Collegesand Employe (NACE, 2002) dalam Elfindri, dkk., (2011: 156), terdapat 19 kemampuan yang diperlukan di pasar kerja, kemampuan yang diperlukan di abad 21. Bahwa 16 dari 19 kemampuan yang diperlukan di pasar kerja adalah aspek soft skills dan ranking 7 teratas ditempati juga oleh aspek soft skills.

Efindri, et,al menyatakan mulai dari kemampuan komunikasi sampai dengan kemampuan entrepreneurship diharapkan dapat diajarkan kepada siswa sehingga siswa akan menjadi lulusan yang siap pakai di dunia kerja dan tidak hanya memiliki kemampuan hard skills saja tetapi juga kemampuan soft skills.

Peserta didik yang soft skillnya bagus maka kelak akan mampu melakukan berbagai aktifitas-aktifitasnya dengan lancar. Soft skill yang bagus juga akan lebih mudah diterima saat mencari pekerjaan. Itulah sebabnya kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, akan tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).  Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill. Sebagaimana ditegaskan Berthhall (Diknas, 2008) menyetakan bahwa soft skill atau keterampilan lunak sebagai “personal and interpersonal behaviour that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, decision making, initiative).” merupakan tingkah laku personal dan interpersonal yang dapat mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia (melalui pelatihan, pengembangan kerja sama tim, inisiatif, pengambilan keputusan lainnya. Keterampilan lunak ini merupakan modal dasar peserta didik untuk berkembang dengan maksimal sesuai pribadi masing-masing.

Karena itu dalam kegiatan pendidikan di sekolah maupun dengan daring (online) di masa Covid-19 saat ini kegiatan pembelajaran oleh guru harus terprogram dan terstruktur memasukkan aspek  soft skills dalam kegiatan belajar mengajarnya. Suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila benar-benar memberikan hasil dan kontribusi terhadap kemajuan peserrta didik. Menurut Usman (2009)  menyatakan pembelajaran efektif sedikitnya melibatkan lima indicator. Pertama melibatkan siswa secara aktif. Aktivitas yang dimaksud meliputi: (1) aktivitas visual (visual activities), seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen, dan demonstrasi; (2) aktivitas lisan (oral activities), seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, menyanyi; (3) aktivitas mendengarkan (listening activities), seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, pengarahan; (4) aktivitas gerak (motor activities), seperti senam, atletik, menari, melukis; (5) aktivitas menulis (writing activities), seperti mengarang, membuat makalah, membuat surat. Kedua, menarik minat dan perhatian siswa Hal ini bisa dilakukan melalui penggunaan media atau model pemeblajaran yang dapt membuat materi pelajaran lebih menarik. Ketiga, membangkitkan motivasi siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan penghargaan kepada siswa atas tugas-tugasnya yang dikerjakannya. Keempat, prinsip individualitas. Prinsip ini dilaksanakan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mencari, mengelola dan menyampaikan informasi secara mandiri. Kelima, peragaan dalam pengajaran. Guru mengajar siswa agar dapat mempraktekan dan mengaplikasikan materi pembelajaran

 

Ekstra Kurikuler

 

Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia  (KBBI) pengertian ekstra adalah tambahan diluar yang resmi, sedangkan kurikuler adalah bersangkutan dengan kurikulum. Jadi ekstrakurikuler adalah kegiatan luar sekolah pemisah atau sebagian ruang lingkup pelajaran yang diberikan di lingkungan pendidikan bukan merupakan bagian integral dari mata pelajaran yang sudah diterapkan dalam kurikulum. Dengan cara sederhana istilah kegiatan ekstrakurikuler mengandung pengertian yang menunjukkan semua macam, aktifitas di sekolah atau lembaga pendidikan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran.

Menurut A. Hamid Syarief (1995), menyatakan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai keadaan dan kebutuhan sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler berupa kegiatan pengayaan dan perbaikan yang berkaitan dengan program intrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler diarahkan untuk memantapkan pembentukan kepribadian dan juga untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program intrakurikuler dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Mengutip Rohmad Mulyana menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan diluar jam pelajaran yang bertujuan untuk melatih siswa pada pengalaman-pengalaman nyata. Sedangkan Daryanto mengartikan, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan untuk membantu memperlancar pengembangan individu murid sebagai manusia seutuhnya. Adapun Zuhairini mengartikan, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan diluar jam terjadwal (termasuk pada waktu libur) yang dilakukan diluar sekolah dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan siswa, mengenal hubungan antara berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya. Dengan demikian ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan diluar ketentuan kurikulum yang berlaku, akan tetapi bersifat paedagogis dan menunjang pendidikan dalam rangka ketercapaian tujuan pendidikan.

Kegiatan ekstrakurikuler dibagi menjadi dua jenis, yaitu bersifat rutin dan bersifat periodik. Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat rutin adalah bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan dengan cara terus-menerus. Seperti latihan bola volley, latihan sepakbola, Pramuka, PMR, kegiatan penelitian ilmiah,karya jurnaistik, kegiatan penerbitan majalah sekolah  dan lain sebagainya. Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat periodik adalah bentuk kegiatan yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu saja, seperti lintas alam, camping, pertandingan olahraga dan sebagainya. Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler dapat dibagi menjadi 2 jenis yakni kegiatan ekstrakurikuler yang sifatnya berkelanjutan, yaitu jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan secara secara terus menerus selama satu periode tertentu. Untuk menyelesaikan satu program kegiatan ekstrakurikuler ini biasanya diperlukan waktu yang lama. Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat periodic atau sesaat yaitu kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan sewaktu-waktu tertentu saja. Banyak macam dan jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah-sekolah dewasa ini. Mungkin tidak ada yang sama dalam jenis maupun pengembangannya. Banyak upaya organisasi yang bersifat ekstrakurikuler namun  langsung berkaitan dengan mata pelajaran di kelas. Beberapa diantaranya seperti seni musik, drama, olahraga, Pramuka, yang berpusat pada mata pelajaran. Aktifitas ekstrakurikuler memiliki fungsi dan tujuan untuk mengembangkan bakat dan minat serta menghasilkan suatu keahlian atau soft skill.

 

 

 

Pengintegrasian soft skills pada semua kegiatan ekstrakurikuler harus dilaksanakan dengan baik direncanakan dengan matang sehingga memperoleh hasil yang baik. Misalnya pada pengintegrasian soft skills pada aspek motivasi  berprestasi, guru harus memberikan tugas yang cukup sulit terhadap siswa siswa. Sehingga siswa yang memiliki motivasi tinggilah yang akan mampu meraih prestasi karena dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Dari sisi aspek organisasi dan kepemimpinan guru dalam organisasi siswa intra sekolah (OSIS) hendaknya selalu mendorong  siswa agar lebih aktif mengikuti kegiatan organisasi terutama kegiatan ekstrakurikuler di sekolah agar menjadi bekal siswa dalam bersosialisasi. Pengintegrasian soft skills sangat penting dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler sehingga peserta didik semakin terasah kemampuannya dalam mengembangkan bakat dan minatnya.  Setelah soft skills diintegrasikan dalam proses belajar kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, maka guru perlu melakukan penilaian seberapa besar kemampuan soft skills yang dimiliki oleh siswa sesuai dengan kegiatan ekstrakurikuler yang dipilihnya.

 

Kelola dengan Baik

 

Kegiatan ekstrakurikuler utamanya dalam pendidikan perlu dikelola dengan manajemen yang baik agar mampu meningkatkan dan mengembangkan minat serta bakat siswa. Kegiatan ekstrakurikuler akan menjadi wadah minat maupun bakat siswa. Permendikbud No 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum menjelaskan bahwa “Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan di luar kelas dan di luar jam pelajaran untuk menumbuhkankembangkan potensi sumberdaya manusia (SDM) yang dimiliki peserta didik. Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang didasarkan pada penjatahan waktu untuk setiap mata pelajaran sebagaimana tercantum dalam kurikulum sekolah lebih dikenal dengan sebutan kurikuler. Manajemen kegiatan ekstrakurikuler adalah seluruh proses yang direncanakan dan diusahakan dengan cara terorganisasi mengenai kegiatan sekolah yang dilakukan di luar kelas dan di luar jam pelajaran (kurikulum) untuk menumbuhkembangkan potensi SDM yang dimiliki peserta didik. Permendikbud nomor 81A tahun 2013 tentang implementasi Kurikulum adapun kegiatan ekstrakurikuler terdiri dari Krida; meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), dan lainnya. Karya ilmiah; meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, dan lainnya. Latihan/olah bakat/prestasi; meliputi pengembangan bakat olahraga, seni dan budaya, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan, dan lainnya.  Kegiatan ekstrakurikuler dalam kurikulum 2013 dikelompokkan berdasarkan kaitan kegiatan tersebut dengan kurikulum, yakni ekstrakurikuler wajib dan ekstrakurikuler pilihan. Ekstrakurikuler wajib merupakan program ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik, terkecuali peserta didik dengan kondisi yang tidak memungkinkan dia untuk mengikutinya. Sedangkan ekstrakurikuler pilihan adalah ekstrakurikuler yang dapat diikuti ataupun tidak oleh peserta didik seperti kegiatan OSIS, UKS, dan PMR. Satuan pendidikan perlu dengan cara aktif dalam mengidentifikasi kebutuhan dan minat peserta didik yang akan dikembangkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler yang bermanfaat positif bagi peserta didik. Ide tersebut dapat diambil dari usulan sekelompok peserta didik Setelah kegiatan identifikasi tentang kegiatan ekstrakurikuler apa yang akan dilaksanakan maka kegiatan selanjutnya menyusun panduan kegiatan ekstrakurikuler yang berlaku di satuan pendidikan dan mendiseminasikannya kepada peserta didik pada setiap awal tahun pelajaran. Panduan kegiatan ekstrakurikuler di satuan pendidikan sedikitnya memuat beberapa point. Diantaranya: kebijakan mengenai program ekstrakurikuler, rasional dan tujuan kebijakan program ekstrakurikuler dan deskripsi program. Deskripsi program yakni ragam kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan, tujuan dan kegunaan kegiatan ekstrakurikuler, keanggotaan dan persyaratan, jadwal kegiatan, level supervisi yang diperlukan dari orang tua peserta didik. Manajemen program ekstrakurikuler meliputi, struktur organisasi pengelolaan program ekstrakurikuler pada satuan pendidikan, level supervisi yang disiapkan oleh satuan pendidikan untuk masing–masing kegiatan ekstrakurikuler, level asuransi yang disiapkan oleh satuan pendidikan untuk masing–masing kegiatan ekstrakurikuler. Pendanaan dan mekanisme pendanaan program ekstrakurikuler Program kegiatan ekstrakurikuler pada dasarnya diberikan untuk semua siswa sesuai dengan potensi, minat, bakat, dan kemampuannya. Program kegiatan ekstrakurikuler pada prinsipnya didasarkan kebijakan yang berlaku dan kemampuan sekolah, kemampuan para orang tua/masyarakat, dan kondisi lingkungan sekolah. sekolah dapat mengembangkan alternatif program kegiatan ekstrakurikuler. Adapun teknisnya dapat dilakukan  melalui cara sebagai berikut. Pertama alternatif 1 top– down: Sekolah menyediakan program kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk paket–paket yang diperkirakan dibutuhkan siswa. Kedua, alternatif 2 bottom–up: sekolah mengakomodasikan keragaman potensi, keinginan, minat, bakat, motivasi, dan kemampuan seseorang atau kelompok siswa untuk kemudian menetapkan program kegiatan ekstrakurikuler. Kriga, alternatif 3: variasi alternatif 1 dan alternatif 2. Alternatif mana pun hendaknya dipertimbangkan tenaga, biaya, sumber, waktu , tempat, dan kesempatan, dan sistem penyelenggara/evaluasi yang tersedia dan dapat digali. Dengan demikian kegiatan ekstrakurikuler yang dikelola baik dengan selain sangat penting dalam meningkatkan soft skills peserta didik juga mampu dengan signifikab meningkatkan prestasi nonakademiknya. Semoga bermanfaat. (*****).

 

Rujukan:

  1. 2014. Manajemen Peserta Didik, Jakarta: PT Indeks.
  2. Gardner, Horward E. 2008. Multiple Intelligences: New Horizons In Theory And Pratice. New York: Hachete UK.
  3. 2017. Manajemen Pendidikan: Komponen– Komponen Elementer Kemajuan Sekolah. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
  4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya No. 814 Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Kegiatan Ekstrakurikuler
  5. P eraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Kegiatan Ekstrakurikuler.
Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed