HUT Bungo dan Uang Rakyat yang Terlalu Mudah Menguap

OPINI DAN ARTIKEL1223 Dilihat

Oleh: Azwari

Setiap rupiah dari APBD adalah uang rakyat. Karena itu, perayaan HUT Bungo yang disebut menelan dana Ratusan Juta Rupiah patut dikawal agar tidak berubah menjadi panggung pemborosan dan pungutan bermasalah.

Kemeriahan dan Tanda Tanya

Kabupaten Bungo kembali merayakan hari jadinya dengan berbagai acara megah panggung hiburan, pameran pembangunan, hingga lomba-lomba rakyat. Namun di balik gegap gempita itu, publik mulai bertanya: berapa sebenarnya biaya yang dikeluarkan, dan untuk kepentingan siapa dana ratusan juta itu dihabiskan?
Kabar mengenai anggaran besar untuk pameran HUT dan adanya pungutan kepada peserta membuat masyarakat cemas. Jika kegiatan ini sepenuhnya dibiayai APBD, pemerintah wajib membuka rincian penggunaan dan hasil kegiatan. Sebaliknya, jika ada pungutan kepada peserta, maka dasar hukumnya harus jelas. Tanpa itu, potensi pelanggaran hukum dan ketidakpercayaan publik semakin besar.

Pungutan Berisiko

Pemerintah daerah memiliki kewenangan menarik retribusi, tetapi hanya jika diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang hubungan keuangan pusat dan daerah. Jika pungutan dilakukan tanpa dasar hukum, maka bisa dikategorikan sebagai pungutan liar (pungli) sebuah tindakan yang dapat berimplikasi hukum.
Apalagi, pungutan dalam konteks kegiatan publik seperti pameran sering kali menekan pelaku usaha kecil yang justru ingin berpartisipasi memperkenalkan produknya. Ketika mereka dibebani biaya tanpa kejelasan dasar hukum, semangat pemberdayaan UMKM malah berubah menjadi beban ekonomi baru.

Uang Publik, Bukan Dana Pribadi

Sering kali, perayaan hari jadi daerah dijadikan ajang menunjukkan “kemajuan” lewat pameran dan pesta rakyat. Tapi yang perlu diingat, anggaran publik bukan dana pribadi pejabat. Uang tersebut berasal dari pajak dan retribusi masyarakat yang seharusnya kembali ke masyarakat dalam bentuk pelayanan dan pembangunan nyata.
Kegiatan yang menelan biaya besar wajib menunjukkan nilai tambah sosial dan ekonomi, bukan sekadar kepuasan estetika. Jika tidak ada laporan manfaat yang terukur, maka acara semacam ini hanya akan memperkuat kesan bahwa pemerintah lebih sibuk berpesta ketimbang bekerja.

Kemeriahan Tak Harus Mahal

Banyak daerah lain berhasil merayakan hari jadinya dengan biaya efisien tanpa kehilangan makna. Pemerintah cukup mengedepankan kreativitas, kolaborasi, dan transparansi.
Contohnya, melibatkan pelaku UMKM lokal tanpa biaya sewa, menggandeng sponsor swasta secara terbuka, serta memanfaatkan ruang publik tanpa pengeluaran besar.
Intinya, kemeriahan tidak harus mahal. Yang lebih penting adalah makna dan dampaknya bagi warga. Saat perayaan menjadi ajang partisipasi masyarakat, bukan beban anggaran, di situlah nilai HUT daerah benar-benar terasa.

Refleksi untuk Pemerintah Daerah

Perayaan ulang tahun seharusnya menjadi momen introspeksi: sudah sejauh mana pemerintah menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya? Jika justru diwarnai polemik anggaran dan pungutan, maka yang perlu dibenahi bukan sekadar acara, tetapi cara berpikir dalam mengelola uang publik.
Pemerintah Kabupaten Bungo perlu menjadikan isu ini sebagai pelajaran. Publik menuntut transparansi anggaran, keterbukaan informasi, dan kejelasan dasar hukum pungutan. Tanpa itu, pesta tahunan hanya akan meninggalkan jejak kekecewaan dan rasa tidak percaya.

Penutup
Kita semua tentu ingin daerah ini maju dan berbahagia di hari jadinya. Tetapi kemajuan tidak diukur dari megahnya panggung, melainkan dari bijaknya pemerintah mengelola uang rakyat.
Ketika pesta usai, yang tersisa seharusnya bukan tumpukan tagihan, melainkan rasa bangga bahwa uang publik telah digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama.

Azwari.: Pemred Bungo news

Komentar