Oleh: Nelson Sihaloho
Guru SMPN 11 Kota Jambi
PD. ABKIN Provinsi Jambi Bidang Publikasi Ilmiah (Anggota) Periode 2022-2026
ABSTRAK:
Kendati dalam dunia Pendidikan metode pembelajaran telah mengalam evolusi serta perubahan yang cukup signifikan model-model pembelajaran dalam ruang kelas tetap menunjukkan keunggulannya. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, otak manusia dituntut utuk terus belajar dan belajar leboh efektif. Metode brainstorming sebagai salah satu metode dalam merangsang daya pikir kreatif dan inovatif siswa diyakini oleh berbagai kalangan memiliki keungulan. Diantaranya menjadi alat yang berharga untuk merangsang imajinasi serta mendorong ide-ide segar di kalangan peserta didik.diyakini mampu menghasilkan ide-ide kreatif yang dimiliki oleh siswa. Brainstorming atau curah pendapat dalam penelitian ilmiah bisa diyakini menghasilkan karya-karya brilian para siswa. Dalam konteks pendidikan, brainstorming digunakan untuk memfasilitasi diskusi dan ide-ide baru yang melibatkan peserta didik.
Metode brainstorming yang mirip dengan metode diskusi bertujuan menghimpun gagasan maupun pendapat informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Pada metode diskusi gagasan dari peserta didik dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, namun pada metode brainstorming pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Metode brainstorming dipopulerkan oleh Alex Faickney Osborn pada tahun 1953 sebagaimana dalam bukunya “Applied Imagination”. Menurut Osborn, kelompok dapat menggandakan hasil kreatifnya dengan brainstorming, dimana brainstorming bekerja dengan cara fokus pada masalah dan selanjutnya dengan bebas bermunculan sebanyak mungkin solusi dan mengembangkannya sejauh mungkin. Tatkala brainstorming fokus pada penyelesaian masalah, maka dapat diyakini sangat berguna untuk menganalisa masalah dengan alat-alat yang membawa pada solusi kreatif. Brainstorming analitis adalah cara yang relatif mudah bagi guru pda umumnya. Karena itu menggambarkan pada kemampuan menghasilkan ide yang telah mereka bangun dalam sekolah dan tempat kerja. Tidak ada yang dipermalukan ketika diminta untuk menganalisa sebuah situasi, itulah hakikat sesungguhnya brainstorming.
Kata kunci: ide, produktif, brainstorming
Brainstorming dan Era Digital
Banyak kalangan para pakar ahli mengemukakan pendapatnya tentang brainstorming. Bahkan hasil-hasil dari kegiatan brainstorming dapat disebarluaskan informasinya dengan cepat dengan dunia digital. Sutikno (2007), mengungkapkan bahwa brainstorming adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode brainstorming pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Adapun Minter dan Reid (2007), menyatakan brainstorming adalah cara lain yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan ide-ide pada masa kini. Brainstorming adalah mengumpulkan sekelompok orang, dengan tujuan menghasilkan pikiran-pikiran yang baru dan segar. Sedangkan Roestiyah (2012), menyatakan bahwa brainstorming adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas, dengan cara melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian peserta didik menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai satu cara untuk mendapatkan ide dari sekelompok manusia dalam waktu singkat. Adapun Aqib (2013), memberikan defenisi tentang brainstorming adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Metode ini dilakukan dengan melontarkan suatu masalah ke siswa oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru. Brainstorming merupakan salah satu teknik yang sangat efektif dalam menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif untuk memulai ataupun mengembangkan pembelajaran digital. Dalam era yang didominasi oleh teknologi dan internet, kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang segar dan relevan sangat penting untuk kesuksesan pembelajaran brainstorming berbasis digital. Di era digital yang terus berkembang, tantangan baru muncul di dunia kerja dan kreativitas menjadi kunci penting untuk menghadapinya. Termasuk dalam pembelajaran bagaimana guru dilapangan mampu mengadopsi pendekatan pembelajaran dengan. Bebagai strategi yang dapat diterapkan oleh guru dalam brainstorming yakni mengasah ketrampilan digitalnya, mengadopsi mindset inovatif, berkolaborasi dan membangun jaringan, memanfaatkan peluang digital serta mencari inspirasi dari sumber kreatif. Merujuk pendapat Fitriyani, Kurniawan and Lestari, (2019) menyatakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode brainstorming dalam kegiatan menulis antara lain (1). Guru sebagai fasilitator (2). Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok 5-6 (3). Semua peserta didik menuangkan ide (4). Setiap ide kelompok dicatat oleh ketua kelompok (5). Semua ide dijadikan sebuah teks (6). Kemudian mempresentasikan didepan kelas Dengan metode brainstorming, peserta didik bisa melatih pola pikir mereka dalam mengungkapkan ide-ide ataupun gagasan bersama dengan bertukar argumen dengan teman kelompoknya pada kegiatan menulis teks dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Brainstorming Menggali Ide Brilian
Untuk menggali ide brilian saat melakukan brainstorming kita bisa melakukan langkah-langkah ataupun berbagai strategi. Pertama, menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas. Guru harus bisa memastikan ruangan nyaman dan bebas tekanan, dengan pencahayaan yang baik termasuk alat tulis yang diperlukan oleh peserta didik. Strategi selanjutnya adalah dengan menetapkan tujuan yang jelas. Guru sebelum memulai kegiatan brainstorming harus menentukan apa yang ingin dicapai melalui proses kegiatan brainstorming. Sedapat mungkin kegatan harus dilakukan dengan rileks mengabaikan ketegangan, sebab kondisi yang santai dapat memicu ide-ide baru dari siswa. Tahap selanjutnya adalah mengajak semua anggota tim berpartisipasi. Guru harus bisa memastikan setiap siswa memiliki kesempatan untuk menyampaikan ide mereka tanpa rasa takut. Gunakanlah teknik brainstorming dengan efektif. Seperti teknik brainwriting, metode 6-3-5, atau reverse brainstorming untuk meningkatkan jumlah ide yang dihasilkan. Dengan mengikuti langkah-langkah sebagaimana diuraikan tersebut maka guru dapat meningkatkan peluang untuk menghasilkan ide-ide yang inovatif dan beragam. Dalam menulis karya lmiah terutama untuk lomba karya tulis metode brainstorming sangat tepat digunakan. Dengan demikian curah pendapat atau brainstorming adalah metode yang memanfaatkan teknik kreativitas untuk mencari solusi dari suatu masalah. Metode ini melibatkan pengumpulan gagasan secara spontan dari anggota kelompok, yang dapat dilakukan baik secara individu maupun dalam kelompok. Beberapa poin penting yang harus diperhatikan dalam tentang curah pendapat. Tujuannya mampu menghasilkan ide-ide baru tanpa mengkritik pemikiran lain, sehingga dapat memecahkan masalah secara kreatif. Terdapat berbagai metode dalam curah pendapat, seperti pemetaan pikiran dan teknik kelompok.Kemudian menentukan tujuan, atur ruang yang nyaman, dan berikan kebebasan bagi anggota tim untuk berbicara tanpa kritik. Adapun manfaatnya yakni mendorong kreativitas, meningkatkan proses ide, dan memberikan perspektif baru. Melalui penerapan curah pendapat, anggota kelompok dapat saling berbagi ide dan menciptakan solusi yang lebih baik. Merujuk pendapat Makarao (2009), adapun beberapa tujuan pelaksanaan metode brainstorming dalam pembelajaran. Mendorong terjadinya penyampaian ide atau pengalaman pembelajaran yang sangat membantu terjadinya refleksi dalam kelompok. Mendapatkan sebanyak-banyaknya pendapat, ide dari pembelajaran tentang permasalahan yang sedang dibahas.Membina pembelajaran dalam mengkombinasikan dan mengembangkan kreativitas berpikir melalui ide-ide yang muncul. Kemudian merangsang partisipasi pembelajaran, menciptakan suasana yang menyenangkan. Melatih daya kreativitas berfikir pembelajar, melatih pembelajar untuk mengekspresikan gagasan baru menurut daya imajinasinya. Serta, mengumpulkan sejumlah pendapat dari kelompok belajar yang berasal dari kenyataan di lapangan. Sani (2013), menyatakan ada beberapa langkah-langkah metode brainstorming dalam pembelajaran. Pahami aturan untuk melakukan brainstorming dan sampaikan atau kemukakan kembali aturan tersebut, serta menempelkannya di dinding sehingga semua peserta didik dapat melihat lembaran aturan. Guru menentukan topik bahasan dan menuliskan topik bahasan pada flipchart. Guru menunjuk seorang peserta didik untuk menuliskan ide-ide pada flipchart/papan tulis. Guru meminta peserta didik atau kelompok untuk mengemukakan ide yang terkait dengan topik yang dibahas. Berhenti dan istirahat untuk menetaskan ide (masa inkubasi). Jika direncanakan untuk melanjutkan ke tahap evaluasi (pada tahap pertama), istirahat dapat diselingi dengan diskusi untuk mengklarifikasi ide-ide tersebut, bukan untuk mengkritik. Tahap evaluasi ide, guru membahas satu persatu respon yang muncul.
Kreatifitas Mengubah Dunia
Dalam brainstorming apabila digali dengan baik biasanya akan banyak muncul ide-ide serta kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan untuk memunculkan ide-ide baru dan orisinal. Hal tersebut akan melibatkan kemampuan untuk berpikir di luar kotak dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Kreativitas dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, termasuk seni, musik, sastra, dan bahkan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu contohnya kreativitas yang mengubah dunia adalah penemuan lampu pijar oleh Thomas Edison. Dengan berpikir kreatif, Edison berhasil menciptakan sumber cahaya yang praktis dan efisien, menggantikan lampu minyak yang digunakan sebelumnya. Penemuan ini mengubah cara kita hidup dan bekerja, membawa kemajuan yang signifikan dalam bidang pencahayaan. Saat ini lampu solar yang banyak diproduksi dengan mengandalkan sinar matahari juga bentuk kreatifitas yang lebih mampu melakukan lompatan dalam industry ramah lingkungan.
Demikian juga dengan penerapan inovasi. Inovasi,umumnya melibatkan penerapan ide-ide baru untuk menciptakan nilai yang nyata. Inovasi melibatkan pengembangan dan implementasi solusi yang kreatif untuk masalah yang ada. IHal tersebut melibatkan penggunaan kreativitas untuk menghasilkan perubahan yang bermanfaat dalam masyarakat. Salah satu contohnya adalah inovasi yang mengubah dunia adalah penemuan internet. Dengan menggabungkan ide-ide kreatif tentang komunikasi dan pertukaran informasi, internet telah mengubah cara kita berinteraksi, bekerja, dan belajar. Inovasi ini telah membuka pintu bagi kemajuan teknologi yang luar biasa dan telah mengubah dunia menjadi masyarakat yang terhubung secara global.
Dalam implementasinya kreatifitas dan inoveasi memerlukan sinergi yang harmonis dan seimbang. Sebab baik kreativitas dan inovasi saling terkait dan saling melengkapi. Kreativitas merupakan langkah pertama dalam proses inovasi. Tanpa kreativitas, tidak akan ada ide-ide baru yang dapat diimplementasikan. Inovasi membutuhkan kreativitas untuk menghasilkan solusi yang unik dan efektif. Itulah sebabnya sinergi antara kreativitas dan inovasi mampu menghasilkan perubahan yang luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam dunia Pendidikan ataupun bisnis, perusahaan yang mendorong kreativitas dan inovasi sering kali menjadi pemimpin dalam industri mereka. Mereka dapat mengembangkan produk dan layanan yang baru dan menarik, yang membedakan mereka dari pesaing mereka termasuk dalam industry layanan Pendidikan yang saat ini terus berkembang. Dalam pendidikan, kreativitas dan inovasi memainkan peran penting dalam mempersiapkan generasi mendatang. Dengan mendorong kreativitas, kita dapat membantu siswa untuk berpikir di luar kotak dan mengembangkan ide-ide baru. Kemudian, dengan mendorong inovasi, kita dapat membantu mereka menerapkan ide-ide ini untuk menciptakan perubahan yang positif dalam masyarakat.
Ditengah banyaknya isu global saat ini dan dimasa depan sektor Pendidikan memerlukan solusi agar sector Pendidikan lebih mampu memberikan kontribusi dalam memajukan sumber daya manusia (SDM). Model brainstorming hendaknya membuka jalan serta pengetahuan siswa dalam mengembangkan ide-ide kreatifnya. Ide dan gagasan kreatif siswa umumnya akan terwujud apabila difasilitasi dengan berbagai komp etisi seperti FL2SN, OSN serta berbagai bentuk kompetisi lainnya yang mengutamakan kreatifitas. Selain membuka membuka ruang kreatifitas terhadap siswa juga akan memmberikan berkontribusi dalam mewujudkan mimpinya sebagai modal untuk pengembangan diri siswa. Kita harus menyadari bahwa di era globalisasi yang cepat, orang cenderung berusaha untuk mendapatkan pengakuan dan validasi sebagai gambaran kesuksesan. Kita harus terus mendorong siswa agar siswa terus mengejar impian mereka. Teknologi yang terus berkembang semakin membuka peluang yang tidak terbatas terhadap para kreator untuk berinovasi dan mengeksplorasi ide-ide baru. Di era digital saat ini, berbagai alat dan aplikasi tersedia untuk membantu mempercepat dan menyempurnakan proses kreatif. Salah satu keuntungan besar dari teknologi adalah kemampuannya untuk memfasilitasi kolaborasi dan berbagi ide antar individu atau kelompok di berbagai belahan dunia. Teknologi juga semakin memberikan akses ke berbagai sumber daya yang dapat membantu seseorang untuk mengembangkan keterampilan kreatif mereka. Saat ini semakin banyak materi pembelajaran yang tersedia secara online, siapa pun dapat mulai belajar dan berkembang dalam bidang kreatif yang mereka minati tanpa harus pergi ke sekolah formal. Termasuk apiikasi-aplikasi pembelajaran kreatif. Dengan menggunakan aplikasi-aplikasi yang tersedia di platform internet siswa dan guru bisa mencoba berbagai teknik kreatif, menciptakan karya seni serta dapat dengan langsung melihat hasilnya. Kendati teknologi telah membuka banyak pintu untuk kreativitas, masih banyak tantangan yang kita hadapi dalam memanfaatkan berbagai platform maupun alat digital. Diantaranya keterbatasan waktu bahkan bisa kehilangan focus Tidak heran serta tidak menutup kemungkinan di era digital saat ini semakin banyak orang yang terjebak dalam siklus konsumerisme digital.
Hal lainnya adalah kelelahan kreatif yang lazim disebut “creative burnout”. Kelelahan kreatif adalah masalah yang sering dihadapi oleh kreator di dunia digital. Tuntutan untuk terus memproduksi konten baru, seringkali tanpa jeda, dapat menyebabkan penurunan kualitas ide dan hasil karya.
Berbagai solusi dan pemecahan asalah yang bisa dilakukan adalah “Berteman” dengan AI untuk Menggali Ide. Apakah mungkin hal itu dilaksanakan?. Umumnya dalam dunia ideasi, proses kreatif sering digambarkan seperti sebuah perjalanan. Dimulai dari mendefenisikan masalah. Selanjutnya menghasilkan ide sebanyak mungkin, sebelum akhirnya memilih dan mengimplementasikan gagasan terbaik untuk dilaksanakan. Itulah sebabnya : kolaborasi antara manusia dan AI menghasilkan kombinasi ide yang lebih unggul dibandingkan jika keduanya berjalan sendiri-sendiri. Dengan demikian sektor Pendidikan perlu membangun budaya yang memahami kapan menggunakan AI sebagai alat bantu, dan kapan mengandalkan kreativitas alami manusia. Menggunakan AI tanpa berpikir kritis justru bisa menumpulkan inovasi. Tetapi ketika manusia memimpin, dan AI memperkaya, hasilnya bisa melampaui batasan. Karena itu ide sebagai buah pikiran manusia yang muncul karena adanya suatu pengamatan yang secara rasional dianggap logis serta memiliki nilai manfaat baru. Termasuk produk Pendidikan. Kreatifitas adalah inisiatif terhadap penciptaan suatu produk atau proses yang bermanfaat, benar, tepat, dan bernilai. Innovative Teaching Strategies mendefinisikan kreatifitas adalah kesadaran seseorang untuk mendapatkan suatu perspektif baru dan sebagai hasilnya membawa sesuatu yang baru. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, variabel yang sudah ada sebelumnya. Merujuk pendapat Guilford menemukan bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif, yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), penguraian (eleboration), dan perumusan kembali (redefinition). Pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan serta mengelola kreativitas para siswanya. Kreativitas adalah kompetitif isu, bukan sekadar sesuatu yang baik. Kreativitas merupakan sumberdaya yang sangat bernilai tinggi dan untuk itu harus dipelihara dan dihidupkan, bukan disia-siakan, mempertimbangkan besamya biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan talenta daya cipta (creativetalent) dan infrastruktur pendukung pekerjaan yang kreatif.
Ditengah tingginya tingkat persaingan global serta semakin kuatnya tuntutan daya saing SDM Pendidikan harus mengembangkan keterampilan-keterampilan, sikap-sikap (attitudes) dan motivasi yang membuat para siswa semakin lebih kreatif. Kreatif dan produktif merupakan salah satu kunci untuk menjadi seorang yang sukses. Kesuksesan merupakan modal dasar yang sangat baik untuk menjadi lebih sukses lagi di masa depan yang mampu memberikan sebuah putaran baru (a new twist) dalam kehidupan mereka. Menggali ide-ide kreatif dan produktif dalam model brainstorming akan memberikan kontribusi yang signifikan apabila dikelola dengan baik. Ide-ide dan keatifitas akan mengalir dengan sendirinya bahkan bisa mengubah wajah dunia Pendidikan yang lebih produktif. Semoga bermanfaat. (*****).
Rujukan:
1. Aqib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual. Bandung: Yrama Widya.
2. Cropley, A. J. (2001). Creativity in Education & Learning. London: Great Britain By Clays Ltd.St Ives pis.
3. Depdiknas. (2002). Konsep Pendidikan Berorentasi Kecakapan Hidup. Jakarta: Depdiknas..
4. Dryden, G., dkk. (2000). Revolusl Cara Belajar. Bandung: Mizan Media Utama.
5. Roestiyah, N.K. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
6. Minter, David dan Reid, Michael. 2007. Lightning In A Bottle (Lightning Innovation Strategy). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
7. Munandar, U. (1999). Kreatlvltas dan Keberbakatan. Jakarta: Gramedia.
8. Sani, R. Abdullah. 2014. Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
9. Slamet. (2002). “Pendidikan Kecakapan Hidup: Konsep Dasar”, Jurnal Pendldlkan dan Kebudayaan, No. 037, Tahun ke-8, Juli 2002.





















Komentar