Oleh: Nelson Sihaloho
Penulis:Guru SMPN 11 Kota Jambi
Abstrak:
Tepat pada tanggal 17 Agustus 2022, Indonesia genap 77 tahun merdeka. Tema Tema Besar Peringatan 77 Tahun Republik Indonesia “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara Nomor B-620/M/S/TU.00.04/07/2022 yang dikeluarkan pada tanggal 12 Juli 2022. Lalu bagaimana dengan pendidikan kita ditengah bergulirnya Sekolah Penggerak (SP), Guru Penggerak (GP), Kurikulum Merdeka, Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) pendidikan karakter masih tetap memiliki relevansi dalam menghadapi kenstelasi global. Pendidikan karakter sangat penting ditanamkan pada diri siswa agar mampu menghadapi serta memecahkan berbagai masalah yang muncul di masa depan. Pendidikan karakter (character education) sangat erat kaitannya dengan pendidikan moral. Tujuan utamanya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan dirinya kearah hidup yang lebih baik.
Menyemai karakter tangguh pada siswa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu tidak terlepas sistem politik dari pengalaman masa lalu dalam pendidikan kita. Gema tentang pendidikan karakter penting terus digaungkan dalam menghadapi konstelasi dunia global. Konstelasi dunia global yang berkembang dinamis memerlukan penyemaian pendidikan karakter yang sinergis dilapangan. Dengan adanya sinerginitas antar stakeholders diprediksikan penyemaian pendidikan karakter tangguh terhadap peserta didik melalui lingkungan pendidikan dengan signifikan dapa dicapai.
Kata kunci: menyemai karakter, sinergis, konstelasi global.
Menyemai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan karakter (character education) sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri kearah hidup yang lebih baik.
Sebagaimana kita ketahui bahwa penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dengan melakukan revolusi karakter bangsa. Selanjutnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016. Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan. Tidak hanya olah pikir (literasi), PPK mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etik dan spiritual) olah rasa (estetik), dan juga olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini semestinya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak.
Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK; yakni religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi. Sekadar mengingatkan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2017 menyatakan bahwa kunci kesuksesan pendidikan karakter terletak pada peran guru. Sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara, “ing ngarso sung tuladho, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”, maka seorang guru idealnya memiliki kedekatan dengan anak didiknya. Karena itu dibutuhkan kesadaran kolektif membentuk karakter bangsa, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga sistem bernegara. Sistem media sosial harus mampu memberi contoh karakter positif apabila ingin memberi penguatan karakter positif. Dalam konteks pendidikan di sekolah apa yang harus dilakukan sebagai upaya untuk penguatan pendidikan karakter peserta didik?. Kepala sekolah sebagai top leader yang professional harus benar-benar menjadi contoh terhadap warga sekolah. Diantaranya cekatan mengambil keputusan, terbuka, akuntabel, menjadi teladan, care permasalahan, tidak diskriminatif, inovatif, cerdas, kreatif, demokratis, dan tidak menutup pintu komunikasi meski dengan peserta didik dan orang tua. Semua perilakunya harus menjelma dalam program kerja maupun tindakan. Bukan malah sebaliknya membuat “bergerombol masalah” dilingkungan kerjanya. Membuat “gap” hingga melakukan “praktik-praktik” kurang baik dilingkungan sekolah hingga membentuk jenis praktik “KKN” baru. Begitu juga dengan guru, sebagai sosok sentral digugu dan ditiru berperan penting pembentukan karakter, karena itu hendaknya mampu menjadi teladan bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.
Globalisasi dan Pergeseran Nilai
Perkembangan zaman dari masa ke masa mempengaruhi pola pikir generasi muda. Hal itu terjadi pada era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini. Globalisasi memunculkan pergeseran nilai, nilai lama semakin meredup dan digeser dengan nilai-nilai baru yang belum tentu tepat dengan nilai-nilai kehidupan di masyarakat. Globalisasi, selain berdampak pada pergeseran nilai, juga berdampak pada paradigma pendidikan sebuah bangsa. Salah satunya adalah pergeseran dari paradigma pendidikan ke arah paradigma pengajaran. Makna pendidikan yang sejatinya syarat dengan nilai-nilai moral bergeser pada pengajaran sebagai transfer of knowledge ansich. Bahkan, belakangan muncul paradigma “serba instan” dalam praktik pendidikan kita. Karena itu perlu disadari bahwa pendidikan sesungguhnya bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan sekaligus juga transfer nilai (transfer of value). Fakta dilapangan yang sering kita lihat bahwa teknologi yang semakin canggih membuat anak-anak kecanduan dalam dunia gadget. Anak biasanya menirukan kegiatan orang tuanya, karena itu para orang tua sudah seharusnya melakukan kegiatan yang mampu memberikan arti etika baik pada si anak.
Sebagaimana kita ketahui bahwa globalisasi merupakan sebuah proses masuknya ilmu pengetahuan dan kebudayaan ke lingkup dunia. Proses globalisasi didukung oleh kemajuan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi. Setiap globalisasi akan berpengaruh pada masyarakat dalam menyikapi perkembangan budaya lokal yang ada,
Dalam perkembangannya globalisasi dapat menimbulkan berbagai masalah dalam bidang sosial dan kebudayaan misalnya hilangnya budaya asli suatu wilayah atau suatu negara, hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong. Globalisasi telah banyak merubah pola pikir dan pandangan generasi muda. Globalisai adalah proses integrasi internasional yang terjadi adanya pertukaran pandangan dunia, pemikiran, produk, dan berbagai aspek kebudayaan lain. Dalam buku A Future Perfect: The Challenge and Promise of Globalizsation (2003) karya Random House, globalisai memberikan pengaruh perilaku masyarakat dalam aspek kehidupan.
Sinerginitas Konstelasi Global
Profesionalisme sesungguhnya akan mampu dan turut serta dalam membentuk sikap dan perilaku serta kepribadian yang tangguh. Adapun kepribadian yang tangguh merupakan prasyarat dalam membentuk profesionalisme. Sinergitas pada umumnya akan melahirkan semangat motivasi serta mampu meraih prestasi. Pendidikan akan dapat ditingkatkan kualitasnya apabila ditransformasikan ke dalam bentuk institusi formal seperti sekolah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki sistem, struktur, prosedur, nilai, tata pamong, dan budaya organisasi. Begitu juga dengan Kurikulum Merdeka harus mampu disinergitaskan oleh satuan lingkup sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Penyusunan kurikulum sekolah harus mengacu dan berdasarkan kepada pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah. Keberhasilan pencapaian visi misi sekolah dapat dilihat dari tamatan peserta didik (output) yang dihasilkan. Fenomena yang terlihat sekarang adalah semakin banyak sekolah yang telah berani menyatakan ukuran ketercapaian visi, misi, dan tujuannya dalam sebuah standar kelulusan (quality assurance). Sinerginitas dan kolaborasi yang baik antar pemangku kepentingan, khususnya pemerintah daerah perlu mendorong para guru untuk terus belajar dan berbagi melalui Platform Merdeka Mengajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa Kurikulum Merdeka diimplementasikan untuk memulihkan pembelajaran melalui pembelajaran bermakna, menyenangkan, dan relevan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan tahap perkembangan peserta didik. Apabila ditelisik lebih mendalam maka output dan outcome dari implementasi Kurikulum Merdeka akan menjadi indikator kinerja dinas pendidikan masing-masing daerah. Mindset tentang bimbingan teknis (bimtek) harus diubah bahkan tidak perlu lagi guru-guru menjadi instruktur. Cukup pada komunitas rumpun guru atau rayon masing-masing. Freedom of Learning harus memberikan otonomi yang luas terhadap para guru melalui inovasi-inovasi pembelajaran berkelanjutan. Konsep self-regulated learning (mengatur diri sendiri belajar mandiri) perlu terus menerus diimplementasikan serta memberi ruang terhadap peserta didik belajar sesuai kecepatannya sendiri. Kaitannya dalamhal ini bahwa guru berperan sebagai fasilitator dan bukan sumber utama ilmu pengetahuan. Guru harus tetap konsisten mengelola ruang kelas dengan baik sehingga anak-anak bisa berkembang sesuai potensi masing-masing. Membiasakan peserta didik mencari pengetahuan dengan menggunakan pemikiran mereka sendiri merupakan inti fleksibilitas dalam belajar. Implementasi Merdeka Belajar, sinergitas Guru Penggerak dan Sekolah Penggerak memerlukan dukungan besar agar menjadi sebuah gerakan besar untuk perubahan mutu pendidikan di Indonesia. Sinerginitas dalam menghadapi konstelasi global selain membutuhkan kerjasama dan kolaborasi juga membutuhkan perencanaan pendidikan yang mumpuni. Ketidakpastian global yang senantiasa bergerak dinamis serta berubah-ubah akan menjadi momentum bagaimana kita melakukan terobosan yang fleksibel dalam meningkatkan mutu pendidikan. Sstem penilaian pendidikan yang selama ini dilakukan dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) kini diganti dengan Asesmen Nasional (AN), Kurikulum Merdeka (KM), Rapor Pendidikan (RP). Selain itu, bantuan pembiayaan pendidikan seperti dana BOS juga turut menjadi perhatian. Dilingkup sekolah Guru seharusnya yang paling mengerti dengan kebutuhan maupun potensi anak didiknya. Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) harus dikedepankan. Setiap tahun sekolah harus melakukan refleksi atas hasil kerja maupun kinerjanya. Apabila memang benar Merdeka Belajar bertujuan mengembalikan otoritas pengelolaan pendidikan kepada sekolah dan pemerintah daerah dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pendidikan harus didukung. Capaian hasil Survei PISA (2018) menytakan bahwa Indonesia menduduki posisi 10 terbawah dari 79 negara yang berpartisipasi serta kerangka pembelajaran agar dapat maju dan sejahtera pada 2030 (sumber: OECD Learning Compass 2030). Kebijakan Merdeka Belajar juga telah diusung pada Presidensi G20 “Recover Together, Recover Stronger” (Sherpa Track) yang salah satu agenda pembahasannya mengusung bidang Pendidikan. Empat agenda prioritas tersebut dikemas ke dalam Kebijakan Merdeka Belajar. Kebijakan ini pun dilengkapi dengan episode-episode Merdeka Belajar (sudah 21 Episode -Juli 2022) yang masih terus dilakukan penyempurnaan agar menjadi lebih baik, lebih merata, dan tidak konservatif. Semua bangsa penting hidup dengan baik tidak terkecuali bangsa Indonesia di era digital. Karena itu peserta didik kita dituntut menguasai berbagai literasi atau kecakapan baru dan tidak terbatas pada kecakapan bisa menggunakan computer. Begitu juga dengan sinerginitas, karakter tangguh peserta didik harus terus menerus diasah untuk siap menghadapi era masa depan. Kondisi dunia yang telah masuk pada era society 5.0 menambah panjang tantangan generasi muda yang semakin berat dalam menghadapi persaingan untuk mendapatkan pekerjaan. Semua telah berubah, kompetensi yang dibutuhkan pada dunia kerja telah bergeser. Kompetensi yang lebih dibutuhkan saat ini adalah kompetensi yang berkaitan dengan fleksibilitas dalam berfikir, kelincahan, pemecahan masalah, dan masih banyak lagi kompetensi yang berkaitan dengan era society 5.0. Termasuk cara kerja pun ikut berubah seiring dengan perkembangan era digitalisasi.
Tantangan lainnya bahwa tingginya permintaan tenaga kerja tidak akan terpenuhi apabila kualitas dari SDM Indonesia k belum sesuai dengan standar kerja yang di diinginkan sebuah perusahaan dan industri (Meena & Carter, 2018). Salah satu hal yang bisa membuat para lulusan untuk dapat direkrut sebuah perusahaan menjadi seorang karyawan adalah memiliki kesiapan kerja (Caballero & Walker, 2010; Jackson, 2019). Kesiapan kerja dapat digunakan sebagai informasi dalam memprediksi seseorang mengenai potensinya untuk melihat kinerja dan karirnya pada masa depan (Caballero & Walker, 2010). Merujuk pendapat Palan, (2007) menyatakan bahwa kompetensi merupakan hal yang mendasari karakteristik berperilaku dan berpikir sebagai indikator yang digeneralisasi pada cakupan yang luas dalam situasi dan periode yang waktu yang lama. Sebagaimana Palan,et,al menggambarkan dalam bentuk Iceberg Model of Competency (Sumber: Spencer, L & Spencer, S, 1993) yakni pertama, Knowledge atau yang biasa disebut dengan pengetahuan adalah kompetensi yang yang berkaitan pengetahuan terhadap suatu hal. Kedua, Skill (keterampilan) merupakan sebuah ketrampilan yang dimiliki individu yang berkaitan dengan kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan. Ketiga, Self-concept dan value, tipe kompetensi ini berkaitan dengan nilai dan gambaran diri berkaitan dengan konsepnya. Banyak sekali generasi Indonesia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sangat baik, namun mereka sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Keempat Traits, merupakan sebuah tipe kompetensi mengenai bagaimana individu merespon sebuah kondisi yang terjadi secara konsisten. Individu yang cenderung memandang kondisi dengan paradigma yang negatif akan sulit untuk bisa berkembang dan siap dalam bekerja. Kelima motive, motive merupakan emosi, kebutuhan, dan keinginan yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dorongan yang sangat kuat dalam diri individu sangat dibutuhkan untuk bisa menyelesaikan pekerjaan yang memiliki banyak hambatan. Karena itu kunci utama dalam mengarahkan anak pada pendidikan dalam membentuk mentalnya terletak pada peran orangtuanya. Menyemai dan menanamkan akhlak yang baik pada anak tergantung pada pendidikan akhlak yang diberikan oleh orangtuanya. Pengalaman mendidik sebagai pewarisan secara mendidik yang diwariskan tidak selamanya mengandung kebenaran bahkan tidak jarang yang mengandung kekeliruan. Karena itu sangat penting menyemai karakter tangguh pada peserta didik melalui implementasi yang sineginigtas untuk mempersiapkan mereka dalam konstelasi global. Selamat HUT RI ke 77 “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”.Semoga bermanfaat. (*****).
Rujukan:
Donny, B. (2017). Kerangka Literasi Digital Indonesia. Retrieved from https://literasidigital.id/books/kerangka-literasi-digitalindonesia/
Peraturan Presiden RI No 39 Tahun 2019 Tentang Satu Data Indonesia (2019)
Utomo, C. E. W., & Hariadi, M. (2016). Strategi Pembangunan Smart City dan Tantangannya bagi Masyarakat Kota. Jurnal Strategi Dan Bisnis Vol.4, 4(2), 159–176.
Yusuf, Dari Bonus Demografi, Digital Talent Scholarship, Hingga Palapa Ring. https://www.kominfo.go.id
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/12/merdeka-belajar-dinilai-membawa-semangat-fleksibilitas-tinggi
https://sin.do/u/android\
https://sin.do/u/ios


























Komentar