Kurikulum Prototipe dan Tantangan Pendidikan Megatrend 2045

Oleh:Nelson Sihaloho

Abstrak:

Kurikulum prototipe akan menjadi kurikulum nasional pada tahun 2024. Dengan kata lain, pergantian berikutnya baru akan terjadi setelah kurikulum yang sebelumnya (K-13) diterapkan 11 tahun dan melewati setidaknya empat menteri pendidikan (M. Nuh, Anies Baswedan, Muhadjir Effendy, dan Nadiem Makarim). Ini waktu yang cukup untuk menetapkan pergantian kurikulum,” papar Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo atau Nino melalui laman Instagram pribadinya, Rabu (5/1/2022), dan laman Liputan 6 News pukul 16:34 Wib. Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar. Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Selain itu, efek dari revolusi industri 4.0 di Indonesia berefek pada hilangnya 23 juta pekerjaan yang diganti dengan otomatisasi pada tahun 2030. Namun juga terbuka 27-46 juta pekerjaan baru.

Era global merupakan suatu era dengan tuntutan yang lebih rumit dan menantang. Suatu era dengan spesifikasi tertentu yang sangat besar pengaruhnya terhadap dunia pendidikan dan lapangan kerja. Perubahan-perubahan yang terjadi selain karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga diakibatkan oleh perkembangan yang luar biasa dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, psikologi, dan transformasi nilai-nilai budaya. Kemerosotan pendidikan kita sudah kita rasakan selama bertahun-tahun. Untuk kesekian kalinya kurikulum dituding sebagai penyebabnya. Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar maupun sarana. AKankah Kurikulum Prototipe mampu menghadapi tantangan pendidikan Megatrend 2045 tepatnya 100 tahun (seabad) Indonesia Merdeka?.

Kata kunci: kurikulum,prototype, megtraend

 

Isu-Isu Global

 

Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual (Depdiknas, 2008:1). Sebagaimana kita ketahui bahwa isu global, adalah setiap peristiwa atau wacana yang mampu menyita perhatian masyarakat global, bagaimana masyarakat merespon isu tersebut. Salah satunya ditentukan oleh kuatnya pengaruh yang ditimbulkan dari isu tersebut. Isu lingkungan hidup, pasar bebas, pergeseran ideologi, dan masalah hak asasi manusia faktanya tetap hangat dan cenderung “digoreng” agar tetap mendapat perhatian masyarakat global. Kalau negara tidak siap dengan isu tersebut, akan berdampak pada stabilitas politik dan keamanan. Isu-isu global nyatanya telah memberi pengaruh pada munculnya keputusan kelompok masyarakat tertentu untuk melakukan tindakan berani, misalnya keputusan bergabung dengan kelompok tertentu dengan alasan ideologi. Perubahan yang terjadi pada abad ke-21 menurut Trilling and Fadel (2009) adalah: (a) dunia yang kecil, karena dihubungkan oleh teknologi dan transportasi; (b) pertumbuhan yang cepat untuk layanan teknologi dan media informasi; (c) pertumbuhan ekonomi global yang mempengaruhi perubahan pekerjaan dan pendapatan; (d) menekankan pada pengelolaan sumberdaya: air, makanan dan energi; (e) kerjasama dalam penanganan pengelolaan lingkungan; (f) peningkatan keamananterhadap privasi, keamanan dan teroris; dan (g) kebutuhan ekonomi untuk berkompetisi pada persaingan global. Kemajuan teknologi telah mempersingkat siklus produksi dan peningkatan produktivitas secara dramatis. Dalam kemajuan dan kecepatan pertumbuhan ekonomi, komputer yang mengambil, menggantikan, atau melengkapi banyak pekerjaan yang dilakukan oleh manusia di berbagai bidang seperti informasi pengolahan dan tugas berdasarkan aturan, mengakibatkan meningkatnya permintaan untuk keterampilan tingkat tinggi (Levy dan Murnane, 2004) Di dunia yang cepat dan terus berubah saat ini, keterampilan abad ke-21 sangat penting.

Dalam menghadapi era global, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) tangguh yang memiliki sejumlah kompetensi dan keterampilan abad 21. Tujuannya agar dapat hidup survive atau bertahan di tengah perubahan yang begitu cepat dan tidak dapat diprediksi. Keterampilan pada abad 21 merupakan syarat penting yang harus dikuasai oleh setiap orang. Dengan begitu, mereka akan berhasil dalam menghadapi tantangan, permasalahan, kehidupan, dan karir pada era tersebut. Penyiapan SDM yang dapat menguasai kompetensi dan keterampilan abad 21 akan efektif apabila ditempuh melalui jalur pendidikan. Perubahan paradigma pendidikan tidak hanya SDM serta diperlukan berbagai terobosan dan strategi dalam meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan. Paradigma pendidikan harus disesuaikan dengan pengembangan kualitas SDM di era global. Hal tersebut hanya bisa dilaksanakan dengan melakukan perubahan fundamental sehingga proses pendidikan relevan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik. Sejalan dengan itu kondisi pendidikan di masa pandemi mengharuskan adanya penyesuaian strategi untuk mengatasi kehilangan pembelajaran (learning loss). Hasil evaluasi yang dilakukan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikburistek) tahun 2021 menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang menggunakan Kurikulum Darurat lebih maju empat sampai lima bulan belajar daripada yang menggunakan Kurikulum 2013 secara penuh. Berpijak pada kondisi tersebut maka Kemendikbudristek berencana akan memberikan opsi kebijakan kurikulum untuk pemulihan pembelajaran, salah satunya melalui Kurikulum Prototipe yang merupakan lanjutan dari Kurikulum Masa Khusus Pandemi Covid-19 atau Kurikulum Darurat.

BSKAP, et,al, Kurikulum Prototipe bertujuan untuk memberi ruang yang lebih luas bagi pengembangan karakter dan kompetensi dasar siswa, seperti literasi dan numerasi. BSKAP,et,al, membeberkan tiga karakteristik utama Kurikulum Prototipe yang dinilai dapat mendukung pemulihan pembelajaran. Pertama, pengembangan kemampuan non-teknis (soft skills) dan karakter mendapat porsi khusus melalui pembelajaran berbasis proyek. Kedua, Kurikulum Prototipe berfokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Ketiga, fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan local.

 

Harus Cermat dan Hati-Hati

 

Kurikulum Prototipe merupakan kurikulum pilihan yang dapat diterapkan mulai tahun ajaran 2022/2023 dan merupakan kurikulum yang melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya (kurikulum 2013). Sebelum kurikulum nasional dievaluasi tahun 2024, maka satuan pendidikan diberikan beberapa pilihan kurikulum untuk diterapkan di sekolah. Karakteristik Kurikulum Prototipe (2022) ini memiliki beberapa karakteristik antara lain: Pembelajarannya dirancang berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter (iman, taqwa, dan akhlak mulia; gotong royong; kebinekaan global; kemandirian; nalar kritis; kreativitas). Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal. Ada beberapa perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum 2022 (Prototipe) antara lain: Untuk level TK: Pendekatan pembelajaran yang awalnya berbasis tema pada Kurikulum 2013, berubah menjadi fokus literasi (buku yang digemari anak-anak) pada Kurikulum Prototipe.

Untuk level SD Pelajaran IPA dan IPS yang awalnya dipisah pada kurikulum 2013, dirubah untuk digabung menjadi IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) pada kurikulum Prototipe, sebagai fondasi sebelum anak belajar IPA dan IPS terpisah di jenjang SMP. Hal penting bagi sekolah adalah kejelasan apa yang harus dilakukan guru ketika memang terjadi perubahan dari kurikulum 2013 menjadi kurikulum 2022 (Prototipe) ini. Jika dilihat pemaparan Kemendikbud maka ada dua kewenangan dalam kurikulum ini yaitu kewenangan Pemerintah Pusat yaitu: Membuat struktur kurikulum. Merumuskan Profil Pelajar Pancasila. Merancang capaian pembelajaran. Menformulasikan prinsip pembelajaran dan asesmen. Sedangkan sekolah memiliki kewenangan untuk menyusun visi, misi, dan tujuan sekolah, kebijakan sekolah terkait kurikulum, pembelajaran, dan asesmen yang menfokuskan pada implementasi baik dalam budaya sekolah maupun kegitan belajar mengajar dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila. Tugas pengelola sekolah hanya satu yang diamanahkan oleh Kurikulum Prototipe ini yaitu melakukan analisa dan menyusun Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan dengan fokus pada menumbuhkan karakter pelajar Pancasila, yang dalam Kurikulum 2013 disebut menyusun KTSP (buku 1, 2 dan 3). Pembuatan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan ini meliputi Analisa konteks satuan Pendidikan. Merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah. Pengorganisasian pembelajaran.Rencana Pembelajaran dan Pendampingan evaluasi dan pengembangan professional. Kurikulum prototipe sebagai kurikulum yang mendorong pembelajaran sesuai kemampuan peserta didik dan memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar. Sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024 sebelum ada evaluasi kurikulum nasional. Memberi keleluasaan pada satuan untuk berinovsi mengembangkan sekolah sesuai bakat, minat dan kemampuan siswa. Tidak ada pemaksaan dan siswa merdeka belajar sesuai kondisinya belajar bersama guru yang profesional. Kesuksesan implementasi Kurikulum Prototipe ini ada dua hal yang perlu dipastikan keterlaksanaannya yaitu Apa yang harus dilakukan sekolah? Bagaimana sekolah mampu dengan baik membuat kurikulum operasional satuan pendidikan. Apa yang harus dikuasai guru? Guru harus mau berubah dengan paradigma baru dan menguasai minimal dua model pembelajaran yaitu Project Based Learning (PjBL) dan Teaching at the Right Level (TaRL).

Kendati demikin pelaksanaannya harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati agar tidak berbenturan dengan beban kerja guru yang wajib mengajar 24 jam tatap muka terutama guru bersertifikasi. Apabila memang bisa dilakukan dengan fleksibel prinsip kecermatan dan kehati-hatian harus diperhatikan sehingga dalam implementasinya bisa berjalan dengan baik. Sebagaimana tuntutan dunia terhadap sistem pendidikan dalam menyiapkan peserta didik pada kompetensi abad 21 agar bisa menghadapi tantangan yang lebih kompleks saat ini dan di masa yang akan datang. Kompetensi Abad 21 adalah pengetahuan, keterampilan, dan atribut lainnya yang dapat membantu peserta didik untuk mencapai potensi secara utuh (Ontarion, 2016).

Beberapa alasan penting untuk lebih memfokuskan peserta didik pada keterampilan abad 21 dalam sistem pendidikan adalah agar mampu mengikuti perubahan zaman, yang sering dikaitkan dengan hal-hal sebagai berikut: (1) perubahan tenaga kerja dari model industri produksi menjadi industry berbasis teknologi, dan saling terhubung dengan pertumbuhan ekonomi global, sehingga membutuhkan kompetensi yang cocok untuk pembangunan ekonomi dan sosial yang dinamis dan tidak dapat diprediksi, (2) bukti yang muncul tentang cara mengoptimalkan pembelajaran, termasuk penggunaan inovasi teknologi untuk memperdalam dan mengubah pembelajaran, (3) perubahan harapan dalam diri peserta didik yang menuntut sistem pendidikan yang lebih kompleks dengan teknologi dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pengetahuan dan era digital menuntut banyak orang untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi, kemampuan berpikir secara logis, dan memecahkan masalah yang tidak jelas dengan mengidentifikasi dan menjelaskan masalah, secara kritis menganalisis informasi yang tersedia atau menciptakan pengetahuan yang dibutuhkan, menyusun dan menguji berbagai hipotesis, merumuskan solusi kreatif, dan mengambil tindakan.

 

Pengembangan Metakognisi

 

Pentingnya metakognisi dibelajarkan pada peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya dalam mencari pengetahuan (deklaratif) dan menggunakan informasi dalam menyelesaikan masalah (procedural) dalam berbagai situasi dan kondisi permasalahan yang dihadapi (kondisional). Kemampuan tersebut melibatkan sejumlah keterampilan yang kompleks dalam menyelesaikan masalah yaitu peserta didik dapat membuat dan melaksankan rencana, manajemen informasi sesuai kondisi permasalahan, memonitor pelaksanaan rencana penyelesaian masalah, mengevaluasi kesesuaian langkah-langkah penyelesaian masalah dan ketepatan informasi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, dan memperbaiki strategi penyelesaian masalah jika ditemukan kekeliruan baik rencana, prosedur, informasi maupun strategi yang digunakan sebelumnya. Konsep yang terpenting dalam metakognisi adalah peserta didik dapat memperoleh pengetahuan (deklaratif, procedural, dan kondisioal) melalui sejumlah keterampilan tertentu dan ditunjukkan dengan aktivitas secara langsung serta keseluruhan proses tersebut dilakukan secara sadar (Muhali, 2017, 2018; Asy’ari, Ihsan, & Muhali, 2019). Metakognisi adalah sarana untuk berpikir lebih dalam, pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi. Ini juga menghasilkan efisiensi dalam berpikir dan belajar. Konseptualisasi pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi memperluas cakupan penerapan dan transfer ide dan pemahaman. Ada literatur yang berkembang tentang pentingnya metakognisi dalam pembelajaran (Bereiter, 2002; Bransford, 2000). Proses metakognisi sejalan dengan logika media baru. James Gee (2003) berpendapat bahwa game komputer menuntut pemikiran meta-level tentang domain semiotik–tidak cukup hanya memainkan game; untuk memainkannya dengan baik Anda harus mengembangkan pemahaman tentang prinsip-prinsip desain dan arsitektur yang mendasarinya. Media baru tidak bisa “dibaca”, halaman demi halaman; mereka membutuhkan pemahaman tentang skema navigasi dan arsitektur informasi. Munford dan Zembal-Saul (2002) meringkas manfaat metakognitif bagi siswa: peluang untuk mempelajari, tidak hanya konten tetapi juga tentang teori dan proses disiplin, termasuk pemahaman tentang peran representasi pengetahuan dokumenter dan interaksi sosial dalam proses konstruksi pengetahuan; keterlibatan dengan wacana yang membuat pemahaman dan pemikiran peserta didik terlihat, sehingga memberikan alat yang berharga untuk refleksi dan penilaian; dan dukungan untuk mengembangkan berbagai cara berpikir dan meningkatkan pemahaman tentang ide-ide disipliner. Metacognitive sangat erat dengan strategi dan hasil belajar siswa. Siswa yang memiliki kemampuan metakognisi yang lebih baik memiliki hasil belajar yang lebih baik. Metacognitive sangat penting diberikan pada peserta didik dalam mengatasi berbagai problematika hidup, menjadi solusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh seseorang, menjadi strategi seseorang dalam proses belajar, dan membantu seseorang dalam mengembangkan hasil belajar yang terdiri dari penguasaan konsep dan sikap terhadap pembelajarannya. Orang yang mampu mengoptimalkan kemampuan metacognitive akan mendapatkan hasil yang baik dari tujuan proses belajar. Dengan demikian sejalan dengan akan dilaksanakannya Kurikulum Prototipe pada tahun 2024 sesuai dnegan tantangan pendidikan Megtrend 2024 bangsa ini harus berbenah dan melakukan terobosan baru dibidang Kurikulum. Generasi bangsa harus melakukan berbagai peningkatan kualitas SDM agar seabad Indonesia Merdeka menjadi momentum untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indoensia bangsa yang berkualitas dan bermartabat. Pelaksanaan Kurikulum Prototipe diharapkan dilaksanakan dengan cermat dengan prinsip kehati-hatian sehingga tidak berbenturan dengan beban kerja guru yang wajib 24 jam. Suatu langkah maju haarus dimulai dengan hal-hal kecil bergerak kearah yang lebih baik, Semoga bermanfaat. (*****).

 

Rujukan:

 

1. Andriani, D. E. (2010). Mengembangkan profesionalitas guru abad 21 melalui program pembimbingan yang efektif. Jurnal Manajemen Pendidikan, 6(2), 78- 92.

2. ATC21S (2013) Assessment and Teaching of 21st Century Skills. Official website. Available online at: http://atc21s.org.

3. Binkley, M., Erstad, O., Herman, J., Raizen, S., Ripley, M. & Rumble, M. (2010). Defining 21st Century skills. Draft white paper. Part of a report to the Learning and Technology World Forum 2010, London.

4. Hargreaves, A. & Fullan, M. (2000). Mentoring in the new millennium. ProQuest Education Journals, 39(1), 50-56.

5. Kalantzis, M. & Cope, B. (2015). Learning and new media. In D. Scott & E. Hargreaves The SAGE Handbook of learning (pp. 373-387). 55 City Road, London: SAGE Publications Ltd doi: 10.4135/9781473915213.n35

6. Mukhadis, A. (2013). Sosok Manusia Indonesia Unggul dan Berkarakter dalam Bidang Teknologi Sebagai Tuntutan Hidup di Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan Karakter, 3(2), 115-136.

7. P21 (Partnership for 21st Century Skills). (2011). Framework for 21st century learning. Retrieved from: www.p21.org/our-work/p21-framework.

 

Komentar