Oleh: Nelson Sihaloho
Banyak kalangan menyatakan bahwa generasi yang terbiasa dekat dengan teknologi khususnya generasi milenial memiliki kelebihan. Beberapa diaantaranya, kemampuan menguasai teknologi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Penguasaan Iptek, diyakini mampu membuat para generasi milenial memiliki kompetensi untuk siap menghadapi revolusi industri 4.0. Menjadikan SDM yang hebat, mumpuni, kompetitif yang memiliki produktivitas tinggi, efisien dan efektif ditentukan oleh kualitas pendidikan. Bangsa kita telah memiliki bonus demografi apakah dengan bonus demografi yang kita telah miliki mampu menjadikan Negara Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Kondisi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang selalu menjadi hal yang sulit diprediksi dan diproyeksikan. Tantangan dunia global dengan segala kompleksitasnya sering menimbulkan goncangan maupun krisis yang sulit diperkirakan kapan berakhir. Selain berpotensi memicu resesi dibutuhkan kualitas SDM yang andal serta memiliki berbagai alternatif untuk menghadapinya. Sebab semua Negara memiliki keinginan yang sama untuk lebih maju dan unggul dari Negara-negara lainnya.
Globalisasi SDM
Pembangunan SDM untuk masa depan khususnya para generasi milenial yang diharapkan mampu menjadi salah satu pilar dalam mendorong keberhasilan Indonesia untuk bersaing secara global harus mulai sejak dini. Sebab semakin canggih teknologi maka sektor industri juga menyesuaikan terhadap perkembangan teknologi industri. Pada akhirnya akan mempercepat produksi dan tenaga kerja yang dibutuhkan juga semakin minim. Sektor inidustri selalu berorientasi pada produktivitas yang tinggi, efesien serta efektif. Karena itu dibutuhkan inovasi, kreatifitas serta kecepatan untuk mengejar ketertinggalan bangsa ini dengan Negara-negara lain. SDM dengan penguasaan Iptek yang unggul merupakan kunci utama untuk memenangi persaingan global.
Karena itu dibutuhkan fondasi dasar serta basis yang kokoh penerapan globalisasi SDM dalam pendidikan termasuk dalam pelatihan-pelatihan berbasis kompetensi global. Perlu dikethai bahwa profesionalisme tidak ada kaitan dengan profesi yang dijalankan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang tetapi lebih merefleksikan bagaimana orang itu menjalankan profesinya tersebut. SDM yang professional memiliki elemen kompetensi yang menduduki urutan pertama adalah “attitude” disusul “skills” dan “knowledge”. Untuk menjadikan seseorang mendapatkan predikat profesional terkait dengan attitude adalah etika, mentalitas, integritas serta pola pikir.
Mengutip pendapat David Maister dari Business Harvard University menyatakan bahwa kunci profesionalisme adalah 3 C. Unsur Care, diartikan betul-betul melayani pihak yang harus kita berikan pelayanan misalnya pasien, klien, tamu, dan lain sebagainya. Kemudian Concerned, yakni memiliki keterkaitan emosi atau perasaan khawatir terhadap “klien” yang meminta bantuan kepadanya untuk mencarikan solusi untuk masalah yang mereka hadapi walapun tidak perlu diucapkan tetapi ditunjukkan dengan keseriusan dan kesungguhan dalam bekerja. Committed dalam bahasa Indonesia diartikan “komit” artinya, begitu menyatakan siap membantu maka harus secara sungguh-sungguh dikerjakan. Globalisasi dibidang SDM saat ini memang sangat urgensial untuk ditingkatkan bahkan dilakukan regenerasi serta mengedepankan para generasi muda dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknolog. Globalisasi SDM mengisyaratkan bahwa persaingan yang semakin kompetitif dan ketat akan menjadikan diri kita untuk melakukan evaluasi secara komprehensif dan menyeluruh tentang kemampuan SDM yang kita meiliki, merancanakan kegiatan pengembangan SDM hingga peningkatan kemampuan teknis SDM lainnya.
Pekerjaan Masa Depan
Di masa depan sejumlah bidang pekerjaan yang ada saat ini akan hilang bahkan memunculkan pekerjaan baru yang bisa memberikan peluang lebih besar terhadap para generasi milenial. Konsekuensi dari perkembangan teknologi adalah perubahan pola kerja dari sistim trandisinoil ke sistim modern dengan pola elektrikasi yang semakin canggih. Pola-pola pekerjaan di masa depan akan diwarnai dengan era digitalisasi dimana sistem pemesanan barang melalui jaringan internet elektronik yang bisa diakses dari berbagai penjuru dunia. Jaringan internet yang luas akan semakin memberikan peluang terhadap pola pekerjaan dimasa depan. Betapa tidak dengan dengan teknologi informasi menjadi terbuka dan bahkan seolah-olah telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat saat ini sehingga masyarakat yang belum memiliki kemampuan teknologi informasi dinilai belum mengikuti perkembangan globalisasi. Mengutip pendapat Hans J. Morgenthau mengatakan bahwa untuk menjadi sebuah negara yang kuat maka ada beberapa hal-hal yang harus menjadi perhatian yang disebutnya sebagai unsur-unsur kekuatan nasional. Kekuatan nasional adalah kesatuan yang terdiri dari keseluruhan atau gabungan beberapa aspek atau unsur yang terdapat pada suatu negara dan dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan luar negeri.
Era Global saat ini menjadi syarat utama dengan berbagai persaingan yang begitu ketat dari berbagai bidang didalamnya. Persaingan itu tidak lepas dari semua unsur kebutuhan ummat manusia yang selalu berkembang setiap detiknya. Disini sangatlah jelas harus adanya upaya reformasi untuk sebuah perubahan yang dapat menjawab semua tantangan perkembangan era global. SDM merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Dalam kaitan tersebut setidaknya ada dua hal penting menyangkut kondisi SDM Indonesia yakni ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja serta tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah.
Pengangguran merupakan masalah bangsa yang tidak pernah selesai. Ada tiga hambatan yang menjadi alasan kenapa orang tidak bekerja, yaitu hambatan kultural, kurikulum pendidikan dan pasar tanaga kerja. Hambatan kultural menyangkut budaya dan etos kerja, masalah kurikulum pendidikan adalah belum adanya standar baku kurikulum pengajaran di sekolah yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar tenaga kerja lebih disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Masalah daya saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan tantangan berat sebab kemampuan dan keunggulan daya saing yang tinggi akan menjadikan bangsa Indonesia memiliki SDM bermutu tinggi dan siap bersaing di dunia internasional.
Rendahnya SDM Indonesia diakibatkan kurangnya penguasaan IPTEK, karena sikap mental dan penguasaan IPTEK yang dapat menjadi subyek atau pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi.
Sementara itu pengaruh IPTEK terhadap peningkatan SDM Indonesia khususnya dalam persaingan global dewasa ini meliputi berbagai aspek dan merubah segenap tatanan masyarakat. Bahwa kemajuan IPTEK dalam era globalisasi akan semakin berkembang degan pesatnya
Generasi Milenial Berkualitas
Globalisasi merupakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya merupakan suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain dan akhirnya sampai pada titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama seluruh nbangsa-bangsa di dunia. Globalisasi membawa konsekuensi terhadap pendidikan di Indonesia yang ditandai dengan ambivalensi. Krisis pendidikan kita saat ini banyak disorot oleh masyarakat. Di Amerika Serikat misalnya untuk menunjukkan sekolah yang bermutu, tidak digunakan istilah unggulan (excellent) melainkan effective, develop, accelerate dan essential. Konsep yang benar, sekolah unggulan dapat dimaknai sebagai sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kualitas kepandaian dan kreativitas anak didik sekaligus menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk mendorong prestasi anak didik secara optimal. Intinya bukan hanya prestasi akademis saja yang ditonjolkan, melainkan sekaligus potensi psikis, etik, moral, religi, emosi, spirit, kreativitas dan intelegensianya.
Pengaruh globalisasi, kemajuan teknologi dan informasi serta perubahan nilai-nilai sosial harus diperhitungkan dalam penyelenggaran pendidikan termasuk tanggung jawab dunia pendidikan untuk mencapai tujuan pokok melncerdaskan manusia yang berkualitas Pendidikan sebagai tonggak utama dalam pertumbuhan dan pembangunan dalam konsepsi knowledge economy dihadapkan pada pergeseran besar dari orientasi kerja otot (muscles work) ke kerja mental (mental works). Kau milenial sebagai generasi terdepan di masa mendatang harus mampu menunjukkan kualitasnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia membawa akibat terhadap dunia pendidikan. Teknologi berkembang begitu pesat, pemerintah kerepotan dan akhirnya mengubah kurikulum pendidikan dan disesuaikan dengan tuntutan era globalisasi.
Mengutip pendapat Susan Albers Mohrman, School Based Management: Organizing for High Performance, San Francisco, 1994: 81 menyatakan bahwa di negara-negara maju, untuk menunjukkan sekolah yang baik tidak menggunakan kata unggul (excellent) melainkan effective, develop, accelerate, dan essential. Hasil penelitian C.E. Beeby (1981) juga menunjukkan bahwa ada dua pemandangan yang kontras pada kondisi pendidikan kita saat ini. Satu sisi masyarakat ingin berlomba mencari pendidikan bermutu pada sisi lain mereka frustrasi karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Karena itu sekolah atau pendidikam harus mampu mentransformasikan pengetahuan (tranfer of knowledge) dengan mengembangkan learning how to learn (Murphi,1992) atau belajar bagaimana belajar. Intinya belajar itu tidak hanya berupa transformasi pengetahuan tetapi jauh lebih penting adalah mempersiapkan siswa belajar lebih jauh dari sumber-sumber yang mereka temukan dari pengalaman sendiri, pengalaman orang lain maupun dari lingkungan dimana peserta didik tumbuh guna mengembangkan potensi dan perkembangan dirinya.
Mengutip Richard Crawford,( 2001) bahwa abad ke 21 merupakan suatu Era of Human Capital, yaitu era, dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi telekomunikasi berkembang sangat pesat dan human capital merupakan pusat perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri (industrial society) dan kemudian menuju masyarakat ilmu (knowledge society). Intinya generasi milenial dan tantangan pekerjaan di masa depan menuntut penyesuaian sejalan dengan dinamikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu generasi milenial wajib bersungguh-sungguh untuk meningkatkan mutu dan kualitas SDM nya sehingga mampu bersaing dengan kompetitif tehadap tenaga kerja Negara ainnya di dunia.
(dihimpun dan disarikan dari berbagai sumberPenulis Guru SMPNegeri 11 Kota Jambi).


























Komentar