Sibernetik dan Tuntutan Pembelajaran Era Global.

OPINI DAN ARTIKEL1063 Dilihat

Oleh: Nelson Sihaloho

Abstrak:

Seiring dengan perkembangan zaman ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), cara dan gaya belajar peserta didik juga  mengalami perubahan. Perubahan itu semua bermuara pada kemajuan Iptek bagaimana peserta didik dalam belajar dituntut untuk mampu mengelola informasi. Suatu hal yang menjadi perhatian guru khususnya para pendidik adalah bagaimana peserta didik bisa mengorganisasi informasi dalam proses pembelajaran. Untuk bisa mengikuti laju perkembangan Iptek serta mempermudah orang belajar maka diperlukan proses pembelajaran.

Pembelajaran merupakan perubahan yang bertahan lama dalam perilaku, atau dalam kapasitas berprilaku dengan cara tertentu, yang dihasilkan dari praktik maupun bentuk-bentuk pengalaman lainnya. Dalam tuntutan masyarakat global teori-teori belajar yang dapat diakses dengan cepat dan tepat menggunakan teknologi menjadi tren. Informasi yang cepat dan tepat identik dengan teori belajar sibernatik kini mendominasi  dalam proses pencarian materi pembelajaran di internet.

Sebagaimana kita ketahui bahwa teori belajar sibernetik  berkembang seiring dengan perkembangan Iptek. Teori belajar sibernetik menyatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses informasi. Dalam teori belajar sibernetik, proses memegang peranan yang sangat penting, namun yang lebih penting lagi adalah sistem informasi yang diproses.

Kata kunci:sibernetik,global.

Sibernetik

Saat ini sistem komunikasi telah mampu menjangkau setiap sudut kehidupan manusia termasuk dalam proses belajar. Beberapa teori pembelajaran yang kita kenal saat ini lebih banyak berakar pada psikologi, pendidikan, dan bidang kajian lainnya.

Salah satu teori belajar yang berakar dari psikologi dan diaplikasikan dalam pendidikan adalah teori belajar sibernetik. Teori belajar sibernetik adalah salah satu teori belajar baru yang menitikberatkan pada pembelajaran sistem informasi.

Banyak para pakar ahli mendefinisikan pengertian dan hakikat sibernetika. Teori sibernetik adalah teori belajar yang mementingkan aspek pengeolahan informasi. Teori ini lebih berorientasi pada proses belajar dari pada hasil belajar. Bagamana informasi tersebut dipelajari akan menentukan proses belajar siswa.

Istilah sibernetika/sibernetik atau dalam bahasa Inggris disebut cybernetics berasal dari bahasa Yunani Kuno, kybernetes yang berarti pilot, jurumudi, kemudi atau gubernur, akar kata yang sama dengan pemerintah (Umpleby 2006; Uno, 2010). Istilah ini pertama kali digunakan dalam bahasa Inggis tahun 1945 oelh Nobert Wiener, seorang ilmuwan dari Massachussets Institute of Technology (MIT), dalam buku berjudul Cybernetics untuk menggambarkan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Nobert Wiener mendefinisikan cybernetics sebagai, “control and communication in animal and machine” (Umpleby, 2006; Malik, 2014). Sejumlah ahli lain juga memberikan defenisi tentang sibernetik. Adapun ahli Stafford Beer mendefinisikan sibernetik sebagai “science of effective organitization”. Sedangkan Gregory Bateson mengatakan bahwa sibernetik lebih merupakan bentuk dari pada substansi. Gordon Pask mendefinisikan sibernetik sebagai “the art of manipulating defensible metaphoros”. Para ahli organisasi menganggap bahwa teori sibernetik sebagai sebuah ilmu tentang pemrosesan informasi, pengambilan keputusan, pembelaaran, adaptasi, dan organisasi yang terjadi pada individu, kelomopok, organisasi, negara, atau mesin ([Umpleby 2006). Dengan demikian istilah sibernetik digunakan untuk menggambarkan cara bagaimana umpan balik (feedback) memungkinkan untuk berlangsungnya proses komunikasi.  Prinsip dasar teori sibernetik yaitu menghargai adanya “perbedaan”, bahwa suatu hal akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya, atau bahwa sesuatu akan berubah seiring perkembangan waktu.  Teori sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru.

Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi (Uno, 2010). Menurut teori belajar sibernetik belajar adalah mengolah informasi (pesan pembelajaran), proses belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi (Kosmiyah, 2002). Sepintas, teori sibernetik memiliki persamaan dengan teori kognitif yang mementingkan proses belajar dibandingkan hasil belajar. Proses belajar memang penting dalam teori sibernetik, namun lebih penting lagi adalah sistem informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa. Informasi inilah yang akan menentukan proses (Budiningsih, 2012). Apabila dikaji lebih lanjut, aliran sibernetik tampaknya melahirkan teori belajar berdasarkan analisis tugas sebab pengolahan informasi diperlukan dalam analisis suatu tugas.

Tanpa informasi yang jelas tugas tidak akan terselesaikan dengan baik (Suprihatiningrum, 2013). Sehubungan dengan proses tesebut umpan balik dan tindakan korektif merupakan salah satu prinsip pokok dalam teori sibernetik.  Nurwahid (2013) menyatakan bahwa 6 kelebihan strategi pembelajaran yang berpijak pada teori sibernetik. Yakni (1), cara berfikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol, (2). penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis, (3), kapabilitas belajar dapat disajikan dengan lebih lengkap, (4), adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai, (5), adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya, control belajar memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing individu, (6), balikan informatif memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang diharapkan.

Prinsip Sibernetika

Joy Murray (2006) menyatakan ada beberapa prinsip dari sibernetika. Yakni  (1). Kita semua adalah pengamat. (2). Sebagai pengamat kita selalu tertanam dalam sebuah sistem dan tidak dapat mengklaim pandangan dari luar.(3), Kita melakukan pengamatan melalui lensa sejarah kehidupan dan pengamatan kita tidak dapat dilakukan oleh yang lain karena kita hanya memiliki satu tubuh atau satu pikiran dan sejarah hidup yang ada adalah untuk diamati. (4). Sebagai pengamat, kita memperhatikan berbagai perbedaan dan membuat pembedaan terhadap sistem atau lingkungan, pengamat yang berbeda akan membuat perbedaan dalam pembedaan, memperhatikan bedanya perbedaan-perbedaan, merancang berbagai dunia dengan latar belakang gangguan yang menjadi informasi bagi kita.(5). Informasi tidak berada dalam pengamat atau sistem atau lingkungan, melainkan muncul dalam suatu proses hidup antara pengamat dan sistem atau pengamat.(6). Secara konstan, melalui komunikasi dan umpan balik, kita mengubah gambaran kita tentang dunia dan diubah olehnya, dengan atau tanpa adanya intensi untuk perubahan dan diubah. (7). Perubahan ini dinamakan dengan pembelajaran. (8). Belajar timbul dari kebutuhan untuk bertahan dalam hal sosial, ekonomi, budaya, atau fisik dan memungkinkan kita untuk terus hidup.(9). Belajar dipicu oleh lingkungan, yang sesuai dengan sejarah kehidupan kita akan diantisipasi, dan akan berbeda untuk setiap orang. (10). Kita semua adalah pengamat yang mengamati dalam sebuah sistem. Prinsip-prinsip tersebut menurut Murray merupakan jawaban atas berbagai pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan belajar, mengapa kita belajar, mengapa kita belajar sesuatu namun tidak belajar hal lain, atau bagaimana pembelajaran terjadi. Dengan demikian umumnya teori belajar sibernetik dapat diterapkan pada dua bidang, yaitu pengembangan perancangan instruksional dan pendidikan. Belajar yang terbaik adalah melalui pengalaman. Teori belajar sibernetik sangat sesuai sangat sesuai dengan kemajuan Iptek maupun tuntutan masyarakat global.

Berkaitan dengan hal tersebut maka di era Revolusi Industri 4.0 serta era  Society 5.0, maka Guru/pendidik dituntut untuk memiliki pengetahuan akan teknologi dalam menjalankan tugas-tugas profesionalismenya. Diantaranya model pembelajaran hybrid atau yang lebih dikenal sekarang blended learning merupakan suatu proses pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran e-learning.

Pembelajaran era revolusi 4.0 sekaligus mendukung teori belajar “Sibernetik” yang merupakan teori baru dari teori sebelumnya berhubungan dengan tuntutan masyarakat global akan pendidikan berkualitas berbasis teknologi informasi.

Cara belajar ideal sampai saat ini tidak satupun yang dapat digunakan untuk segala situasi, informasi didapatkan dengan mudah dan cepat mungkin akan diperoleh peserta didik melalui satu macam proses belajar, tetapi kesamaan dalam informasi mungkin akan diperoleh peserta didik lain dengan proses belajar yang berbeda.

Tuntutan Global

Tanpa disadari saat ini komunitas manusia telah hidup dalam dua dunia kehidupan masyarakat. Yakni masyarakat nyata dan masyarakat maya (cybercommunity). Masyarakat nyata adalah kehidupan masyarakat yang secara indrawi dapat dirasakan sebagai sebuah kehidupan nyata, dimana sebuah kehidupan nyata dimana hubungan-hubungan sosial sesama anggota masyarakat dibangun melalui penginderaan (dapat diraba, dilihat, dicium, didengar dan dirasakan, oleh panca indera).

Sedangkan masyarakat maya, adalah sebuah kehidupan masyarakat manusia yang tidak dapat secara langsung di indera melalui penginderaan manusia, namun dapat dirasakan dan disaksikan sebagai sebuah realitas. Piliang (2011) yang mengkritisi, di dalam era globalisasi dan abad virtual dewasa ini, banyak konsepkonsep sosial seperti integrasi, kesatuan, persatuan, nasionalisme dan solidaritas, tampak semakin kehilangan realitas sosialnya dan akhirnya menjadi mitos.

Berbagai realitas sosial yang berkembang dalam skala global-khususnya sebagai akibat kemajuan teknologi informasi-justru menggiring masyarakat global ke arah akhir sosial. Pembelajaran abad ke 21 diyakini mampu membuka lebih lebar kesempatan kerja dan memperluas lapangan kerja terhadap masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang memiliki SDM berkualitas. Karena itu pembelajaran abad 21 harus lebih berorientasikan pada kegiatan untuk melatih keterampilan peserta didik dengan mengarah pada proses pembelajaran. Pembelajaran abad 21 yang berfokus pada student center bertujuan untuk membekali peserta didik keterampilan berpikir kritis, memecahkan masalah, metakognisi, berkomunikasi, berkolaborasi, inovasi dan kreatif, serta literasi informasi. Selain itu peserta didik juga harus dibekali dengan kompetensi digital termasuk kalangan guru/pendidik. Kompetensi digital pendidik berkaitan  erat dengan kecakapan pendidik dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi berdasarkan kaidah pedagogik dengan menyadari implikasinya terhadap metodologi pendidikan.

Tetyana Blyznyuk, (2018),  membagi kompetensi digital pendidik kedalam beberapa bentuk, yaitu: information, communication, edicational content creation, security, educational problem solving.

Information, pendidik memiliki kemampuan literasi data (kemampuan mencari, memilih, memilah, mengevaluasi, mengelola informasi yang cocok untuk pembelajaran). Communication, yaitu keterampilan untuk berinteraksi, terlibat, berbagi, dan kerja sa-ma melalui teknologi digital. Educational content creation, yaitu kemampuan pendidik untuk dapat menciptakan konten pembelajaran digital (program aplikasi pembelajaran, presentasi interaktif, animasi pembelajaran, dan sebagainya). Security, pendidik mem-iliki kemampuan untuk menjamin perlindungan terhadap dampak produk teknologi bagi anak didik dalam proses pembelajaran. Educational problem solving, memecahkan masalah dan mengatasi persoalan teknis, dapat mengidentifikasi respond dan kebutuhan teknologi yang diperlukan dalam pembelajaran, mampu mengidentifikasi kelemahan-kelamahan tekonologi digital dalam pembelajaran, dan kreativitas dalam memanfaatkan produk teknologi dalam pembelajaran secara positif. Intinya penguasaan teknologi hampir pasti menjadi faktor yang semakin dibutuhkan dalam proses belajar mengajar.  Dengan berkembangnya teknologi bisa saja menjadi awal munculnya beragam ramalan hilangnya berbagai profesi. Ekspektasi yang tinggi selalu ditimpakan pada guru, terutama jika berkaitan dengan kebutuhan pendidikan anak bangsa yang berkualitas sehingga guru selalu menjadi rujukan/kompas baik itu moral  maupun intelektual.

Kompetensi digital lebih komperehensif apabila dibandingkan dengan sekadar keterampilan digital. Erstad, (2005), menegaskan bahwa kompetensi digital mencakup aspek teknis yang berkaitan dengan manajemen hardware dan software, serta kemampuan kognitif yang berkaitan dengan pengetahuan dan pendidikan. Merujuk pada Digcom 2.0, European Comission (2015), setidaknya terdapat lima kompetensi digital yang dapat diupayakan. Pertama, informasi dan literasi data. Kedua, komunikasi dan kolaborasi. Ketiga, kemampuan menciptakan konten digital, berkaitan dengan berbagai keterampilan pengembangan, integrasi, dan reelaborasi konten digital. Keempat, keamanan, termasuk kemampuan menjamin pelindungan terhadap gawai, data dan kerahasiaan, kesehatan, dan lingkungan/proses belajar. Kelima, kemampuan memecahkan dan mengatasi persoalan secara teknis, mampu mengidentifikasi kebutuhan dan respons teknologi yang diperlukan, kreativitas dalam penggunaan teknologi digital, serta mampu mengidentifikasi kekurangan teknologi digital.

Dunia pendidikan saat ini juga wajib mengikuti transformasi ke arah digital. Dalam praktiknya tidak semua materi dapat disampaikan secara digital tetapi paling tidak, digitalisasi akan mempermudah Guru dan peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran.

Transformasi digital tidak semata-mata menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran, akan tetapi lebih dari itu. Peserta didik harus mampu berpikir secara komputasi atau yang lebih dengan dengan Computational Thinking (CT). Jeannette, (2011) menyatakan bahwa Computational Thinking (CT) adalah proses berpikir yang diperlukan dalam memformulasikan masalah dan solusinya, sehingga solusi tersebut dapat menjadi agen pemroses informasi yang efektif dalam menyelesaikan masalah.   Kendati teknologi hanya alat bantu dalam melakukan sebuah proses pembelajaran, namun  dalam implementasinya adalah bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran mampu memberikan kontribusi.

Kontribusi tersebut yakni pada change behavior (perubahan perilaku) peserta didik sesuai potensi maupun talenta yang telah dimiliki peserta didik. Transformasi digital dunia pendidikan merupakan salah solusi  untuk menjawab tantangan dunia pendidikan kita. Generasi masa depan adalah generasi digital yang dituntut untuk lebih memiliki kemampuan transformasi digital yang lebih baik lagi ke era generasi selanjutnya.

Teknologi digital merupakan suatu proses revolusi yang harus dijalani. Teknologi digital bisa bekerja lebih cepat serta menjangkau wilayah yang lebih cepat. Dengan perkembangan Iptek dan   teknologi digital sumber belajar semakin banyak dan variatif, baik materinya, jenis maupun bentuknya. Dengan demikian guru profesional di era digital adalah guru yang dalam melaksanakan tugas-tugasnya akrab dengan teknologi digital. Penggunaan teknologi digital tidak hanya pada kegiatan belajar mengajar saja, melainkan juga dalam melaksanakan tugas-tugas lainnya.

Guru yang dibutuhkan di era digital adalah guru yang memiliki kemahiran dalam menilai penggunaan teknologi yang edukatif dan non edukatif. Guru hendaknya terus mengevaluasi kemampuan siswa yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global. Guru harus menjadi pembelajar seumur hidup dan harus bersedia untuk belajar. guru profesional di era digital pada dasarnya adalah guru yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.

Pada akhirnya keberadaan teknologi digital sebagian dapat menggantikan atau membantu peran guru terutama pada aspek pengajaran yang berfokus pada transfer of knowledge and tekhnology and skill. Semoga bermanfaat. (****).

Rujukan:

1.     Dwiyoga, W. D. (2018). Pembelajaran Berbasis Blended Learning. Depok: Rajawali Pers.

2.     Kanuka, H., & Rourke, L. (2013). Using blended learning strategies to address teaching development needs: How does Canada compare? The Canadian Journal of Higher Education, 43(3), 19–35. Retrieved from http://myaccess.library.utoronto.ca/login?url=http://search.

3.     Wardani, Toenlioe, W. (2018). Daya Tarik Pembelajaran Di Era 21 Dengan Blended Learning. Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Asia, 1, 13–18.

4.     Schunk, D. H. (2012). Learning Theories. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

5.     UPI, T. (2013). Kurikulum dan Pembelajaran . Depok: Rajawali Pers.

Komentar