Bungonews.net, Bungo – Gelagat skandal besar dalam proyek cetak sawah 2025 semakin tak terbantahkan. Apa yang seharusnya menjadi program strategis pertanian justru berubah menjadi kuburan anggaran.
Dari target 915 hektare, hanya 261 hektare yang dikontrakkan di Kabupaten Bungo. Ironisnya, dari 261 hektare itu, yang benar-benar dikerjakan tidak sampai 40 hektare. Sisanya ditinggal, mangkrak, dan membusuk tanpa arah.
Di Lubuk Kayu Aro, target 109 Ha, pekerjaan cuma 20 Ha — setelah itu kontraktor hilang.
Di Rantau Pandan, target 113 Ha, yang dikerjakan hanya 10 Ha, lalu alat berat kabur meninggalkan lokasi.
“Semua alat berat sudah keluar bang. Tinggal tapak rantainya aja,” ujar sumber Bungonews, penuh kesal.
Sumber itu juga menyebut penyebabnya: kontraktor diduga tak mampu membayar alat berat
Informasi lain menyebut pekerjaan didalangi oleh seseorang bernama Agung, kontraktor asal Kerinci, yang menggunakan nama CV. Abbiyu Bangun Konstruksi. Sementara kualitas pekerjaan?
Lemah, minim, dan memalukan.
Lebih tajam lagi, dana disebut sudah cair 30 persen oleh Dinas Pertanian Provinsi Jambi, tapi hasil lapangan menyedihkan.
“Dana 30 persen sudah cair, pekerjaan mangkrak. Ini bukan kekacauan biasa bang, ini sudah level perkara hukum,” ungkap sumber.
Pihak terkait, Sirojuddin, ketika dimintai klarifikasi, justru memilih diam membisu.
Rio Lubuk Kayu Aro: Proyek Mati, Alat Berat Hilang
Datuk Rio Lubuk Kayu Aro, Robiul Awal, ikut memperkuat informasi mangkraknya proyek.
“Alat berat sudah keluar bang. Dak ado lagi yang bekerja,” tegasnya.
Ia juga mengungkap warga yang membantu survei hanya dibayar Rp 150 ribu/hari, jumlah yang sangat tidak sesuai dengan besarnya anggaran survei yang dicanangkan pemerintah.
Dana SID Disorot: Besar di Atas Kertas, Hampir Tak Terlihat di Lapangan
Data yang dirangkum Bungonews:Total dana SID: Rp 594.750.000 dengan anggaran
Rp 649.453/ Ha
Luas yang dikontrakkan: 261 Ha.Yang dikerjakan: hanya puluhan Ha, selebihnya nihil
Pertanyaan besar pun mencuat: Survei 915 hektare dilakukan, tapi realisasi proyek hanya 261 hektare dan itu pun mangkrak. Kemana logikanya?
Biaya Cetak Sawah Rp 25–32 Juta/Ha Tapi Pekerjaannya Tak Bernyawa
Kadis TPHP Bungo, Hasbi, membenarkan biaya cetak sawah di kisaran Rp 25–32 juta/Ha.Namun nilai sebesar itu tak tercermin di lapangan. Yang terlihat justru tanah yang tak tergarap, parit yang tak lengkap, dan ladang yang gagal dibuka.
APH Harus Masuk Ini Bukan Lagi Gagal Proyek, Ini Alarm Merah
Dengan Pekerjaan mangkrak
Alat berat hengkang.Dana 30% sudah cair.Nama perusahaan dipinjam
Data SID tak sinkron
Lapangan menunjukkan nihil progres.maka kasus ini tidak bisa lagi dianggap kesalahan teknis. Publik menilai ini sudah mengarah pada dugaan penyimpangan serius yang wajib diusut.
APH diminta:Menyelidiki penggunaan dana SID
Memeriksa pencairan 30 persen anggaran proyek
Menelusuri dugaan penyalahgunaan perusahaan
Mengusut pelaksana, pengawas, hingga dinas terkait.Menghitung potensi kerugian negara
Rakyat menunggu kepastian hukum.
Jangan biarkan uang publik terkubur bersama sawah yang tak pernah jadi.
(BN – war)


























Komentar