Bungonews.net, Bungo-Misteri bentangan terpal biru sepanjang puluhan meter yang selama ini memicu tanda tanya masyarakat di kawasan Jembatan Kembar Sungai Buluh akhirnya terkuak. Di balik penutup yang diduga sengaja dipasang untuk menghalangi pandangan publik itu, aparat menemukan belasan rakit dompeng yang diduga digunakan untuk aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).


Dalam operasi gabungan yang digelar Jumat dini hari (31/7/2026) sekitar pukul 00.30 WIB, Bupati Bungo H. Dedy Putra, S.H., M.Kn. turun langsung memimpin penertiban bersama Dandim 0416/Bute Letkol Inf. Yudi Susilo Yudhant, didampingi Kasat Reskrim Polres Bungo AKP Ilham Tri Kurnia, S.Tr.K., S.I.K., serta Kasat Pol PP dan Damkar Daruqotni, S.IP.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, belasan rakit dompeng yang berada di lokasi tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar. Lokasi penertiban disebut berada di lahan milik seseorang bernama Talis Situmorang, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan resmi mengenai keterkaitan pemilik lahan dengan aktivitas yang diduga berlangsung di lokasi tersebut.
Keberadaan terpal biru yang membentang di tepi jalan aspal pun memunculkan pertanyaan publik. Warga menduga penutup tersebut dipasang agar aktivitas di belakangnya tidak mudah terlihat oleh pengguna jalan maupun masyarakat sekitar.
Salah seorang warga, Tohirun, mengaku lega atas langkah tegas yang dilakukan pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum.
“Kami berterima kasih kepada Bupati, Dandim dan Kapolres. Semoga aktivitas PETI, khususnya dompeng di Sungai Buluh dan kawasan sekitar Bandara Muara Bungo, benar-benar dituntaskan sampai habis,” ujarnya.
Hingga sekitar pukul 02.15 WIB, operasi gabungan masih berlangsung. Aparat masih melakukan penyisiran di lokasi untuk memastikan tidak ada lagi aktivitas PETI yang beroperasi.
Meski belasan rakit telah dimusnahkan, pekerjaan aparat belum selesai. Identitas pemilik rakit dompeng, pihak yang diduga mengendalikan aktivitas tersebut, serta barang bukti yang diamankan masih belum diumumkan secara resmi. Publik kini menanti tindak lanjut penegakan hukum agar operasi ini tidak berhenti pada pembakaran alat semata, melainkan berlanjut hingga mengungkap aktor di balik aktivitas PETI yang selama ini merusak lingkungan dan merugikan negara. (Tim)






























Komentar