Urgensi Keseimbangan Iklim Sekolah Adaptif

Oleh: Nelson Sihaloho

Guru SMPN 11 Kota Jambi

PD ABKIN Provinsi Jambi, Bidang Publikasi Ilmiah (Anggota) Periode 2022-2026.

 

ABSTRAK:

Banyak tulisan dan artikel yang membahasa tentang iklim sekolah. Bahkan iklim sekolah yang sehat dan kondusif sangat penting diterapkan aagar atmosfer dan marwah sekolah tetap terjaga dengan baik. Iklim sekolah menyangkut suasana psikologis dan sosial seperti halanya bagaimana guru menyambut siswa, bagaimana siswa memperlakukan temannya, bagaimana orang tua terlibat dalam kehidupan sekolah serta bagaimana komunitas sekolah menciptakan rasa aman dan kebersamaan. Di era dlobal dan digital sekarang ini keseimbangan iklim sekolah adaptif memiliki pengaruh besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif. Kepala sekolah sebagai leadership di sekolah dihadapkan pada berbagai sumber stres yang dapat mempengaruhi kinerja dan kesejahteraan mereka. Beberapa sumber stress yang umum teridentifikasi dapat kita lihat realitanya dilapangan. Mengutip penelitian Elomaa, 2023 dalam bukunya Educational Management Administration & Leadership mengungkapkan ada  4 sumber stres kepala sekolah. Yakni beban kerja tinggi (82,9%), konflik interpersonal (35,5%), kurangnya sumber daya (13,2%) serta tekanan internal (7,9%). Selain itu  sangat wajar workload tinggi menjadi sumber stres yang utama. Sebab fakta dan realita dilapangan  setidaknya ada 8 hal yang harus dikelola dan  menjadi tanggung kepala sekolah. Diantaranya Perencanaan dan Evaluasi, Kurikulum, Ketenagaan,  Fasilitas (sarana dan prasarana). Kesiswaan, hubungan Sekolah dan Masyarakat, Iklim sekolah serta keuangan. Praktik mencuiptakan iklim sekolah yang menyenangkan sangat urgensial dan memerlukan keseimbangan yang adaptif. Praktik-praktik baik dan best practice kepala sekolah dalam menciptakan iklim sekolah yang seimbang memerlukan penerapan adaptif dilapangan.

Kata kunci: urgensi, keseimbangan iklim sekolah, adaptif.

 

Iklim Sekolah Efektif

 

Banyak kalangan menatakan bahwa dalam sekolah efektif, perhatian khusus diberikan kepada penciptaan dan pemeliharaan iklim dan budaya yang kondusif untuk belajar. Iklim dan Budaya sekolah yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman dan tertib sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Iklim dan budaya sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa senang dan bersikap positif terhadap sekolahnya, agar guru merasa dihargai, serta agar orang tua dan masyarakat merasa diterima dan dilibatkan. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif, hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghormati. Selain itu, iklim budaya sekolah yang kondusif mendorong setiap warga sekolah untuk bertindak dan melakukan sesuatu yang terbaik yang mengarah pada prestasi siswa yang tinggi. Iklim dan budaya sekolah juga berkaitan dengan pemupukan harapan untuk berprestasi pada semua warga sekolah.

 

Untuk mewujudkan iklim sekolah yang positif dan menyenangkan bukanlah tanggung jawab satu pihak semata. Lingkungan belajar yang sehat terbentuk melalui kerja sama menyeluruh antara guru, siswa, orang tua, dan seluruh elemen sekolah. Tatkala semua pihak terlibat aktif dan saling mendukung, maka akan tercipta ekosistem pendidikan yang kondusif bagi pertumbuhan karakter dan prestasi peserta didik. Dalam konteks pendidikan modern, kolaborasi menjadi kunci dalam menciptakan suasana sekolah yang ramah, aman, dan mendorong semangat belajar. Iklim sekolah merupakan cerminan dari bagaimana hubungan serta interaksi terjalin antar warga sekolah. Sekolah yang memiliki atmosfer positif tidak hanya mendorong keberhasilan akademik, tetapi juga menunjang kesejahteraan emosional, sosial, dan psikologis siswa. Rasa nyaman, aman, dan dihargai mendorong partisipasi aktif dalam proses pembelajaran serta menekan munculnya perilaku negatif seperti perundungan atau konflik.

Emmons (Scherman, 2002) dalam pernyataannya sebagai berikut: School climate is the quality and frequency of interaction that take place between the educators and learners, between the learners themselves, between the educators, between the principal and the learners, between the staff at the school, and parents and finally the broader community. Bahwa iklim sekolah merupakan kualitas dan frekuensi interaksi di antara guru, di antara siswa, di antara pendidik, di antara kepala sekolah dengan pembelajar, di antara staf di sekolah, di antara orang tua dan komunitas yang lebih luas. Definisi iklim sekolah yang lebih spesifik dan konkret dikemukakan oleh Sweeney (Scherman, 2002) yang menyatakan: “…… climate within in a school can be seen as reflecting the “feel” or the “shared meanings” of the people who work and learn within the school.” Iklim dalam suatu sekolah dapat dipandang sebagai refleksi perasaan atau makna bersama dari orang-orang yang bekerja dan belajar di sekolah.

Merujuk pendapat Hoy (2002)  menyatakan “School climate is a general term that refers to the feel, atmosphere, tone, ideology, or milieu of a school. Just as individuals have personalities, so too do schools; a school climate may be thought of as the personality of a school”. Artinya pengertian iklim sekolah merupakan istilah umum yang mengacu pada perasaan, atmosfir, sifat, ideologi, atau lingkungan pergaulan sekolah. Seperti halnya individu yang memiliki kepribadian, sekolah juga demikian. Iklim sekolah dapat dipandang sebagai kepribadian suatu sekolah. Gul (2008) menyatakan bahwa iklim organisasi dapat dipandang sebagai faktor yang berada di pusat lingkaran yang meliputi budaya, ekologi, individu, organisasi, dan sistem sosial yang mengelilingi organisasi dan sebagai suatu insititusi yang dipengaruhi olehnya. Dengan demikian iklim sekolah dapat dipandang sebagai atmosfir sekolah, sikap dan interaksi kepala sekolah, pendidik dan peserta didik yang mempengaruhi persepsi, sikap perilaku terhadap orang lain dalam lingkungan sekolah. Atau bisa disimpulkan  bahwa iklim sekolah adalah karakteristik khas dalam bentuk perasaan, makna bersama, dan atmosfir yang dirasakan oleh kepala sekolah, guru, peserta didik, staf dan orang tua siswa yang berinteraksi satu sama lain.

 

Sinerginitas dan Kerjasama

 

Kerja sama antar guru adalah bentuk kolaborasi yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Hal ini mencakup koordinasi antara guru-guru untuk mencapai tujuan pendidikan bersama, berbagi sumber daya, informasi, dan strategi pengajaran yang efektif. Mengutip Komarudin (2023), kerja sama antar guru melibatkan koordinasi antara para pendidik di sekolah, yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kolaborasi ini menciptakan lingkungan yang mendukung bagi profesionalisme individu di dalam tim. Untuk meningkatkan kolaborasi antar guru, diperlukan strategi yang terencana dan terukur. Beberapa pendekatan yang bisa diterapkan di sekolah . Diantaranya seperti rapat koordinasi rutin.  Adapun menurut Orpa & Maria (2024) menekankan pentingnya rapat rutin untuk berbagi pengalaman dan ide. Dengan komunikasi terbuka, guru dapat saling memberikan masukan yang membangun guna meningkatkan kualitas pengajaran. Selanjutnya adalah Program Kerja Sama Terstruktur.  Program kerja sama yang jelas dan terukur menjadi alat penting dalam membangun kolaborasi antar guru. Menurut Delila (2024), program yang terstruktur mempermudah para pendidik dalam merencanakan strategi pembelajaran dan menyelesaikan masalah bersama.

Perbaikan iklim sekolah adalah salah satu cara untuk meningkatkan prestasi, keamananan dan kenyamanan sekolah, retensi guru, interaksi sosial yang sehat, dan keberhasilan siswa sehingga berdampak pada ke efektifan sekolah. Salah satu faktor yang mempengaruhi terciptanya iklim sekolah yang kondusif adalah kepemimpinan kepala sekolah. Usaha untuk mengelola sekolah agar menjadi efektif dan efisien tentunya membutuhkan seorang pemimpin yang efektif dan efisien pula agar lingkungan sekolah kondusif. Sekolah yang efektif membutuhkan seorang kepala sekolah yang memiliki jiwa membangun (the building principal) dan juga mampu melaksanakan fungsi kepemimpinannya sebagai pemimpin pengajaran. Para guru juga membutuhkan kepemimpinan yang mampu membantu memudahkan dan memperlancar tugas-tugas mereka. Hasil penelitian, sebagaimana dijelaskan Rollis dan Highsmith (2018), menunjukan bahwa para guru umumnya merasa ragu dan tidak yakin jika kepemimpinan datangnya dari luar sekolah. Selain itu, pengambilan keputusan (decision making) seringnya ditentukan dan diputuskan secara sepihak oleh kepala sekolah dan pengawas atau badan sekolah (school board) secara serampangan, tanpa prosedur dan proses yang didasari kebersamaan tanggung jawab dan kepentingan.

Sekolah yang kondusif dapat dilihat juga dari disiplin, perilaku positif, serta hasil lulusan atau hasil belajar (learning outcomes) para siswanya. Tentu hal ini bukan sepenuhnya sebagai hasil dari usaha yang dilakukan para siswa, tetapi lebih dari itu disiplin, perilaku positif dan prestasi yang ditunjukan para siswa sebagai bagian dari hasil upaya pelaksanaan kegiatan kependidikan yang dikelola secara kolektif oleh kepala sekolah, para guru, serta individu lainnya yang terkait.

Sekolah yang kondusif memerlukan partisipasi masyarakat seperti orang tua murid dan anggota masyarakat lainnya. Partisipasi masyarakat dapat berupa dukungan moral maupun materil yang akan sangat berpengaruh terhadap lancarnya pelaksanaan program sekolah dan manfaat eksistensi sekolah dengan lingkungannya. Partisipasi masyarakat yang tinggi akan mendukung kinerja para pengelola sekolah dan keberhasilan pelaksanaan program-program sekolah yang efektif dan efisien. Pengelolaan sekolah yang efektif dan efisien memerlukan pemimpin yang mampu melaksanakan kiat-kiat pengelolaan dan kepemimpinannya dengan baik. Pemimpin yang efektif antara lain mampu mengelola, memanfaatkan, dan medayagunakan semaksimal mungkin berbagai sumber daya yang ada seperti tenaga, dana, sarana-prasarana, dan lingkungan.  Iklim yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman, tertib, dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. Iklim adalah konsep sistem yang mencerminkan keseluruhan gaya hidup suatu organisasi. Apabila gaya hidup itu dapat ditingkatkan, kemungkinan besar tercapai peningkatan prestasi kerja.

Lingkungan sekolah yang kondusif yang perlu ditumbuhkan berupa suasana saling hormat antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan guru, dan dengan pihak lainnya. Selain itu, iklim sekolah yang kondusif mendorong setiap personil yang terlibat dalam organisasi sekolah untuk bertindak dan melakukan yang terbaik yang mengarah pada prestasi siswa yang tinggi.

Mengutip Moedjiarto (2002:36-37), adapun ciri sekolah yang memiliki iklim yang baik yakni  (1) adanya hubungan yang akrab, penuh pengertian, dan rasa kekeluargaan antar civitas sekolah. (2). Semua kegiatan sekolah diatur dengan tertib, dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab dan merata. (3). Di dalam kelas dapat dilihat adanya aktivitas belajar mengajar yang tinggi (4). Suasana kelas tertip, tenah, jauh dari kegaduhan dan kekacauan. (5). Meja kursi serta peralatan lainnya yang terdapat di kelas senantiasa ditata dengan rapi dan dijaga kebersihannya. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari warga sekolah dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (student-centered activity) adalah  contoh iklim sekolah yang dapat menumbuhkan semangat dan motivasi siswa sehingga berpengaruh pula pada tingkat keberhasilan siswa.( DepdiknasDikdasmen dalam Maidasuri (2006:6).

 

Budayakan Motivasi Berprestasi

 

Motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Motivasi seseorang tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai keberhasilan, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi merupakan daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja sesorang. Hasibuan, (2008:219) Menurut Mc. Donald dalam Djamarah (2008:148), mengatakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dari pengertian diatas  dapat kita bahwa motivasi mengandung tiga elemen penting / Yakni pertama bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada setiap indivindu manusia. Kedua, motivasi ditandai dengan munculnya, rasa/”feeling”, afeksi seseorang. Ketiga motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Dorongan untuk mencapai keberhasilan merupakan kebutuhan untuk berprestasi, sedangkan faktor pendorong untuk mencapai keberhasilan itu disebut motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi merupakan suatu keinginan untuk mengatasi atau mengalahkan suatu tantangan, untuk kemajuan dan pertumbuhan. Mengutip Mc.Clelland dalam The Encyclopedia Dictionary of Psychology yang disusun oleh Hare dan Lamb mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi merupakan motivasi yang berhubungan dengan pencapaian standar kepandaian atau standar keahlian. Heckhausen dalam Djaali (2006:103), mengemukakan bahwa: “ Motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri siswa yang selalu berusaha atau berjuang untuk meningkatkan atau memelihara kemampuannya setinggi mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan. Standar kenggulan ini terdiri atas tiga komponen yaitu, standar keunggulan tugas, standar keunggulan diri, dan standar keunggulan siswa lain”. Pengaruh motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar, bergantung pada kondisi dalam lingkungan dan kondisi indivindu. Lebih tegas Djaali (2008:110), menyatakan  bahwa siswa yang memiliki motivasi berprestasinya tinggi hanya akan mencapai prestasi akademis yang tinggi pula apabila (a) . Rasa takutnya akan kegagalan lebih rendah daripada keinginannya untuk berhasil. (b).Tugas-tugasnya didalam kelas cukup member tantangan, tidak tetlalu mudah tetapi juga tidak terlalu sukar, sehingga member kesempatan untuk berhasil. Seorang siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi akan memiliki keinginan untuk mengatasi berbagai kesulitan dalam belajar sebagai upaya meraih prestasi yang baik.  Mengutip Zakianto dan Ali Nafis (2001) menyatakan ciri-ciri orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi yakni pertama, selalu berusaha, tidak mudah menyerah dalam mencapai sukses maupun dalam berkompetisi. Kedua, menampilkan hasil yang lebih baik. Ketiga, dalam bekerja tidak dipengaruhi oleh reward. Keempat, cenderung mengambil resiko yang diperhitungkan. Kelima mencoba memperoleh umpan balik. Keenam, mencermati lingkungan dan mencari peluang yang ada. Ketujuh bergaul lebih untuk memperoleh pengalaman. Kedelapan senang akan situasi yang menantang dimana ia dapat memanfaatkan kemampuannya. Kesembilan, cenderung mencari cara-cara yang unik dalam menyelesaikan masalah. Kesepuluh, kreatif dan ke sebelas. seakan-akan dikejar-kejar waktu dalam bekerja dan belajar.

 

Keseimbangan Adaptif

 

Saat ini kurikulum adaptif hadir sebagai jawaban atas tantangan dunia Pendidikan yang semakin kompleks. Tidak hanya sekadar penyesuaian jadwal atau materi, melainkan perubahan fundamental dalam cara sekolah mendesain pembelajaran. Intinya, kurikulum adaptif menyesuaikan konten, metode, dan tempo belajar sesuai kebutuhan individu siswa.  Kurikulum adaptif adalah desain pembelajaran yang mampu menyesuaikan materi, metode, dan asesmen berdasarkan profil belajar siswa. Fokusnya ada pada personalized learning—pendekatan yang mengakui bahwa setiap siswa unik. Adapun prinsip-prinsip dasar kurikulum adaptif mencakup fleksibilitas materi, berpusat pada siswa, teknologi sebagai alat bantu serta penilaian berkelanjutan. Kurikulum adaptif tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Platform Learning Management System (LMS) seperti Moodle, Google Classroom, atau aplikasi lokal memungkinkan guru melacak progres siswa dan memberikan materi berbeda untuk tiap kelompok kemampuan. Sebut saja Teknologi AI bahkan sudah mulai digunakan untuk memberikan rekomendasi materi otomatis. Kurikulum adaptif berpotensi menjadi arah masa depan pendidikan Indonesia, terutama dengan dukungan Kurikulum Nasional yang dicanangkan pemerintah. Namun, untuk benar-benar berhasil, diperlukan sinergi antara guru, sekolah, orang tua maupun pemerintah. Karena itu Pendidikan kita juga membutuhkan keseimbangan adaptof dalam mengantisipasi semakin masifnya perkembangan ilmu dan teknologi. Pendidikan adaptif adalah suatu pendekatan yang memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing. Hal ini tentu sangat penting mengingat perkembangan teknologi yang semakin pesat dan persaingan global yang semakin ketat. Dalam era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang dinamis, sistem pendidikan menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan dan efektif. Pendidikan tidak lagi hanya berfungsi sebagai wahana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu membekali peserta didik dengan keterampilan abad ke-21, seperti pemikiran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital. Namun, banyak sistem pendidikan di berbagai negara masih menggunakan model pembelajaran konvensional yang kurang responsif terhadap perubahan sosial dan teknologi. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam cara manusia belajar dan berinteraksi dengan informasi. Internet, kecerdasan buatan, dan big data telah membuka peluang baru dalam pembelajaran, namun implementasi teknologi dalam pendidikan belum merata di banyak negara. Reformasi pendidikan global menjadi sebuah kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa sistem pendidikan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan teknologi. Keberlanjutan reformasi pendidikan akan menjadi aspek kunci dalam menghadapi perubahan global yang menggabungkan tiga aspek utama: inovasi teknologi dalam pembelajaran, fleksibilitas kebijakan Pendidikan serta penguatan peran guru dalam sistem pendidikan yang bertransformasi. Dengan demikian urgensi keseimbangan iklim sekolah adaptif lakukan berkelanjutan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semoga bermanfaat. (*****).

 

Rujukan:

 

1. Komarudin. (2023). Melampaui Ambisi Pribadi: Mengubah Kepemimpinan dalam Pendidikan dari Agenda yang Didorong oleh Ego. https://ejournal.stais-garut.ac.id/index.php/kaipi/article/view/4

2. Handoko, T. Hani. 2000. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia. Yogyakarta: BPFE.

3. Muhaimin, dkk. (2010). Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta: Kencana

4. Tabrani Rusyan dkk. (2000) Upaya Meningkatkan Budaya Kinerja Guru, Cianjur: CV. Dinamika Karya Cipta

5. Yanti, E., & Prasetia, Indra (2023). Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru di SMP Negeri 6 Tebing Tinggi. Jurnal Manajemen Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi, Vol 4 No 1, 8-15.

 

Komentar