ABSTRAK
Di era digital saat ini pengembangan profesionalisme guru harus sinergis dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Sinerginitas fleksibiltas adaptif guru juga dituntut berkelanjutan demi tercapinya peningkatan kualitas pendidikan. Dinamika tugas guru yang adaptif dituntut untuk terus memperbaharui pengetahuan, keterampilan serta kompetensi Banyak kajian yang membuktikan bahwa pendidikan abad ke21, guru dituntut untuk beradaptasi dengan dinamika kelas yang beragam melalui strategi pembelajaran yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Dalam mensinergikan tugas profesionalisme guru yang fleksbel, adaptif dan berkelanjutan ditengah semakin kompleksnya perubahan maka guru harus lebih menggiatkan kompetensi profesinalismenya.
Kompetensi profesionalisme merupakan strategi yang tidak terpisahkan dari kompetensi lainnya terus akan diuji seiring dengan waktu maupun perubahan kurikulum. Merujuk pada penelitian Handayani (2024) mengungkapkan bahwa menilai, kemampuan adaptasi dapat membantu seseorang menerima berbagai perubahan di era teknologi ini. Diantaranya menghadapi perubahan teknologi atau kebijakan perusahaan dengan lebih mudah. Meningkatkan keterampilan baru sesuai kebutuhan pasar kerja. Beradaptasi dengan tim yang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda.
Di era globalisasi serta kemajuan teknologiyang semakin massif pendidikan kita berada pada posisi sangat krusial. Tantangan yang semakin kompleks dimasa depan dengan ketidakpastian harus menjadi sinerginitas fleksibilitias adaptif guru berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi profesionalismenya.
Kata kunci: sineginitas, fleksibilitas, adaptif, berkelanjutan.
Sinerginitas Tugas Guru
Sinergitas berasal dari kata ”sinergi” yang berarti kerja sama san menghasilkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar penjumlahan peran masing-masing. Dalam konteks KBM, sinergitas antara guru dan siswa berarti adanya hubungan harmonis, komunikasi terbuka, dan kolaborasi aktif dalam proses pembelajaran. Sinergi yang dimaksud adalah suatu kegiatan atau kerjasama. Kapasitas untuk menciptakan hal-hal baru yang tampak luar biasa adalah dasar dari sinergi. Selain itu sinergi dapat menghasilkan hasil yang lebih baik. Banyak kalangan para ahli mendefinisikan sinergi sebagai kerjasama campuran, majemuk, atau dalam membuat hal layak dan lebih baik. Sinergi digunakan sebagai operasi bersama dan kombinasi untuk menghasilkan output yang lebih unggul. Sinergi juga didefinisikan sebagai kerjasama atau kolaborasi dengan orang lain, memecahkan masalah dengan cara efektif, berkerja sama dengan orang lain untuk mengambil keputusan ketika ada perbedaan pendapat dan membangun kekuatan berdasarkan perbedaan. Hal demikian tertanam secara konstan dan ketika kelompok menjadikan sinergi sebagai kebiasaan, hasil kerjasama akan melampui hasil kerja mandiri. Sinergi adalah membangun dan memastikan hubungan kerjasama yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas. Tujuan sinergi adalah mempengaruhi perilaku orang secara individu maupun kelompok untuk saling berhubungan, melalui dialog dengan semua golongan, dimana presepsi, sikap dan opininya penting terhadap suatu kesuksesan. Sinergi juga kegiatan saling mengisi dan melengkapi perbedaan untuk mencapai hasil lebih baik daripada jumlah bagian per bagian. Adapun konsep bersinergi diantaranya adalah pertama, berorientasi pada hasil dan positif. Kedua, perspektif beragam mengganti atau melengkapi paradigma. Ketiga, saling bekerjasama dan bertujuan sama serta adanya kesepakatan. Keempat. sangat efektif diusahakan dan merupakan suatu proses.
Dengan demikian maka melalui sinergi, kerjasama dari paradigma (pola pikir) yang berbeda akan mewujudkan hasil lebih besar dan efektif sehubungan proses yang dijalani menunjukkan tujuan yang sama dan kesepakatan demi hasil positif. Bersinergi berarti saling menghargai perbedaan ide, pendapat dan bersedia saling berbagi baik itu guru maupun siswa. Bersinergi tidak mementingkan diri sendiri, namun berpikir menang dan tidak ada pihak yang dirugikan. Bersinergi bertujuan untuk memadukan bagian-bagian terpisah.
Adapun unsur-unsur sinerginitas dalam kegiatan belajar mengajar adanya Komunikasi Dua Arah, Guru mendengar aspirasi siswa., Siswa aktif bertanya dan berdiskusi. Kepercayaan dan Empati, Guru memahami latar belakang dan kondisi siswa. Siswa menghargai otoritas dan kepedulian guru.
Kolaborasi dan Keterlibatan, Siswa dilibatkan dalam proses pembelajaran (metode diskusi, proyek, dan lain-lain. Guru menjadi fasilitator, bukan hanya pemberi materi. Tujuan Bersama, Pembelajaran bukan hanya untuk nilai, tapi untuk pengembangan karakter dan kompetensi.
Fleksibilitas Adaptif Guru
Saat ini banyak model-model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran peningkatan kompetensi anak didik. Diberbagai sumber internet juga banyak ditemukan model-model pembelajaran yang bisa diakses kapan saja dimana saja bila kita memerlukannya. Tergantung model bagaimana yang cocok menurut guru sesuai dengan kondisi sekolah maupun tuntutan pembelajarannya. Pembelajaran kompetensi bidang akademik dengan pembelajaran kompetensi dibidang vokasional tentu harus dibedakan. Sebab belum tentu suatu pembelajaran kompetensi akademik cocok dengan pembelajaran kompetensi vokasional.
Selain itu banyak tuntutan baru di dunia pendidikan sebagai dampak dari interaksi atas perubahan-perubahan di bidang lainnya yang harus disikapi secara adaptif khususnya para kalangan guru. Beragam tantangan serta peluang pun akan datang silih berganti. Kendati demikian, tugas guru tetaplah sama.”The road ahead is uncertain, but the end is clear,” sebagaimana diungkapkan Otto Hightower, tokoh fiksi dalam serial House of the Dragon. Guru tetap harus memastikan “…berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” sebagaimana diamanatkan undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Di era digital saat ini guru bagi peserta didik bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, tempat bertanya segala hal, atau menjadi mentor berlatih segala hal seperti dulu, karena akses terhadap berbagai informasi terbuka lebar. Beragam konten pembelajaran yang dikemas dengan berbagai format digital seperti buku digital, audio digital, dan video dapat dengan mudah diakses hanya dengan sentuhan jari. Peserta didik di era digital memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendahulunya. Situasi dan kondisi zaman yang dilaluinya menuntut peserta didik untuk terbiasa bersentuhan langsung dengan berbagai fasilitas digital seperti gawai, beragam aplikasi percakapan, media sosial, dan fitur-fitur digital lainnya. Fakta membuktikan bahwa lkarakteristik dan kecenderungan peserta didik sebagai generasi digital tersebut tentu harus menjadi perhatian khusus bagi guru karena akan berdampak pada bagaimana memfasilitasi peserta didik secara tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Melihat kondisi itu guru harus mampu bersikap adaptif karena prioritas utamanya adalah memastikan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan (goal desired). Memahami karakteristik peserta didik dan meningkatkan kecakapan digital (digital skills) akan menjadi hal penting bagi guru di era digital dewasa ini. Melihat situasi dan kondisi zaman yang terus menerus berubah itu menuntut guru untuk mampu adaptif. Kendati akses dan fasilitas digital memberikan peluang bagi peserta didik untuk menguasai berbagai macam pengetahuan dan keterampilan secara mandiri dan menjadi warga negara yang kompeten, namun untuk bisa meraih cita-cita kolektif yang menghendaki terwujudnya peserta didik menjadi warga negara yang tidak hanya kompeten, namun juga beriman sekaligus berkarakter itu, peran guru dan kemampuan adaptif merupakan kunci utamanya. Saat ini banyak perusahaan-perusahaan maupun lembaga Pendidikan melakukan rekruitmen pegawai maupun guru dengn system Learning Agility. Learning agility adalah salah satu kemampuan yang sangat dibutuhkan di dalam dunia kerja pada era transformasi digital saat ini. Learning agility sering diidentikkan merupakan keinginan seseorang untuk belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan dari pengalaman. Learning agility juga diartikan kemampuan seseorang untuk belajar dan beradaptasi dengan cepat, ketika menghadapi situasi atau tantangan baru. Konsep ini menekankan pada kemampuan individu untuk menguasai pengetahuan baru, memperoleh wawasan, dan menerapkannya dalam konteks yang relevan. Seseorang dengan learning agility cenderung memiliki kemauan yang kuat untuk terus belajar dan berkembang, serta mampu menghadapi perubahan dengan tangkas.
Terdapat 5 jenis learning agility, di antaranya pertama People Agility adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dalam berinteraksi dengan orang lain. Jenis learning agility ini melibatkan pengenalan diri, keahlian belajar dari pengalaman, serta kemampuan untuk beradaptasi dalam situasi yang menekan. Orang yang memiliki people agility dapat dengan mudah berinteraksi dan menciptakan hubungan yang baik. Kedua, result agility melibatkan kemampuan seseorang untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam kondisi sulit. Biasanya, orang dengan kemampuan ini dapat menginspirasi orang lain dan membangun kepercayaan melalui kehadiran mereka. Selain itu, result agility juga mencerminkan kemampuan seseorang untuk bekerja dengan fokus pada hasil dan mengatasi tantangan.
Ketiga, Mental Agility adalah melibatkan kemampuan seseorang dalam berpikir secara fleksibel dan kreatif. Seseorang dengan mental agility mampu melihat masalah dari sudut pandang yang baru, nyaman dalam menghadapi kompleksitas dan ambiguitas, serta bisa menjelaskan pemikirannya kepada orang lain. Kemampuan ini sangat penting dalam menghadapi perubahan cepat dan kompleksitas tugas yang beragam.
Keempat. Change Agility adalah menunjukkan keingintahuan yang tinggi terhadap perubahan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat. Seseorang dengan change agility akan mencari peluang untuk meningkatkan keterampilan diri, mengembangkan ide-ide baru, dan siap untuk mengubah cara kerja yang lama. Kemampuan ini penting dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan yang terjadi di lingkungan kerja. Terakhir yang kelima adalah Self-Awareness adalah kemampuan untuk memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Dengan memiliki self-awareness yang tinggi, seseorang dapat mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan fokus pada pengembangan diri.
Berkelanjutan di Era Digital
Transformasi digital dalam dunia pendidikan menuntut guru untuk terus mengembangkan kompetensi profesionalnya agar dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran abad ke-21. Era digital merupakan periode di mana teknologi informasi dan komunikasi secara fundamental mengubah cara individu belajar, berinteraksi, dan memperoleh informasi. Era digital merupakan suatu fase perkembangan zaman yang ditandai dengan dominasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam berbagai aspek kehidupan. Pada konteks pendidikan, era ini secara fundamental telah mengubah cara individu dalam belajar, berinteraksi, dan memperoleh informasi. Proses pembelajaran yang sebelumnya bersifat konvensional dan terbatas oleh ruang dan waktu, kini berkembang menjadi lebih fleksibel, terbuka, dan berbasis digital. Akses terhadap sumber belajar menjadi semakin luas melalui internet, sementara komunikasi antara guru dan siswa dapat dilakukan secara daring dengan berbagai platform. Transformasi ini mendorong munculnya berbagai model pembelajaran baru yang lebih kolaboratif, mandiri, dan personal. Sebagaimana dikemukakan oleh Tony Bates (2015), era digital mengharuskan dunia pendidikan untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik yang telah terbiasa hidup dalam lingkungan digital. Adaptasi terhadap teknologi menjadi sebuah keharusan, tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi para pendidik dan pengelola pendidikan agar mampu menjawab tantangan zaman. Teknologi menjadi alat yang sangat membantu dalam memenuhi banyak kebutuhan manusia dan mempermudah berbagai pekerjaan serta tugas sehari-hari. Era digital membawa banyak perubahan positif yang bisa dimanfaatkan, namun juga menghadirkan tantangan baru. Tantangan ini mencakup berbagai aspek seperti politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, keamanan, dan teknologi informasi itu sendiri
Era digital muncul bersamaan dengan kemajuan teknologi informasi, terutama internet. Media baru di era digital memiliki sifat manipulatif dan berbasis jaringan. Banyak media massa beralih ke internet karena terjadi perubahan dalam cara penyampaian informasi. Kemampuan media digital memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi lebih cepat, sehingga banyak media massa beralih ke platform digital. Kemajuan teknologi digital saat ini membawa perubahan besar dengan berbagai inovasi yang mempermudah akses informasi dan memungkinkan masyarakat untuk menikmati fasilitas teknologi digital secara lebih bebas. Namun, era digital juga mengurangi privasi. Data pribadi yang disimpan di komputer memudahkan pelacakan kebiasaan dan hobi pengguna internet. Era digital bukan tentang kesiapan atau pilihan, melainkan sebuah konsekuensi. Teknologi terus berkembang seperti arus laut dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, kita harus mampu menguasai dan mengendalikan teknologi dengan baik agar dapat memanfaatkannya sebaik mungkin.
Demikian juga dengan profesionalisme guru harus beradaptasi dengan teknologi. Di era digital guru harus menguasai teknologi digital untuk administrasi, evaluasi, dan pembelajaran, yang membantu memberikan pengetahuan, memotivasi anak, dan menyediakan pengalaman simulasi. Kompetensi yang dibutuhkan meliputi diantaranya, penggunaan teknologi digital diperuntukkan pada komunikasi, administrasi, dan evaluasi anak, serta menguasai teknologi informasi dan aplikasi komputer. Kemudian penilaian komprehensif, yang mencakup aspek unik setiap anak, tidak hanya kognitif, serta kompetensi abad 21 seperti karakter, keterampilan, dan literasi. Peran Guru sebagai model positif, motivator, dan bersikap inklusif serta positif. Selanjutnya adalah kompetensi digital yakni desain media pembelajaran, penggunaan media sosial, dan mesin pencari untuk materi pembelajaran. Dengan demikian guru di era digital harus mengintegrasikan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional dengan teknologi digital. Kendatipun teknologi mendukung proses pengajaran, peran guru dalam membentuk karakter dan nilai luhur tetap esensial. Transformasi ini memerlukan penggantian alat pengajaran tradisional dengan media digital. Namun, tetap membangun kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan kerja sama pada siswa.
Pengembangan profesionalisme guru dapat dilakukan melalui berbagai kebijakan dan pelatihan yang meliputi pelatihan media pembelajaran digital, peningkatan keterampilan melalui forum-forum guru, dan partisipasi dalam workshop, seminar, serta sertifikasi. Peningkatan kompetensi ini penting untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru di era digital menghadapi tantangan dan peluang. Tantangan harus dilihat sebagai pendorong untuk mengembangkan kompetensi profesional, sedangkan peluang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Strategi pengembangan profesionalisme guru dapat dilakukan melalaui pelatihan, workshop, seminar, dan sertifikasi terkait media dan sumber pembelajaran digital. Kebijakan ini penting bagi sekolah, guru, dan pemerintah untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang di era digital.
Pengembangan kompetensi guru di era digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan suatu keharusan untuk menjaga relevansi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan generasi yang terus berkembang. Filosofi yang melekat pada profesi guru adalah mendidik dengan penuh pengabdian, bukan sekadar menyampaikan pengetahuan. Pengembangan kompetensi digital guru yang berkelanjutan akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas Pendidikan. Untuk mengoptimalkan penerapan teknologi dalam pembelajaran, guru perlu membangun mindset yang terbuka terhadap inovasi. Meningkatkan kompetensi guru di era digital tidak bisa dilakukan dengan cara instan, melainkan harus dilaksanakan dan merupakan sebuah investasi jangka panjang yang memerlukan komitmen dari semua pihak. Pengembangan kompetensi guru yang dilakukan dengan konsisten akan semakin siap menghadapi tantangan global. Guru yang kompeten dan berdaya saing, tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas akademis melainkan juga membentuk generasi yang siap menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Dengan demikian sinerginitas fleksibilitas adapatif guru berkelanjutan dalam menjalankan tuas profesionalismenya akanmemberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas Pendidikan. Semoga bermafaat. (****).
Referensi;
Aksenta, A., Irmawati, I., Ridwan, A., Hayati, N., Sepriano, S., Herlinah, H., … & Ginting, T. W. (2023). LITERASI DIGITAL: Pengetahuan & Transformasi Terkini Teknologi Digital Era Industri 4.0 dan Sociaty 5.0. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Al Hudaya, R., Zakiah, A., & Fahira, N. A. (2024). TANTANGAN PROFESIONAL GURU DI ERA DIGITAL. Cemara Education and Science, 2(3).
Ardiansyah, D., & Trihantoyo, S. (2023). Peningkatan Kompetensi Digital Guru Dalam Mewujudkan Inovasi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0. Educational Management Departement. Link: https://ejournal. unesa. ac. id/index. php/inspirasi-manajemen-pendidikan/article/view/50558.
Jalaluddin, J. (2024). STRATEGI GURU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL SISWA.Analysis,2(1), 171-178.
Lestari, D. I., & Kurnia, H. (2023). Implementasi model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kompetensi profesional guru di era digital. JPG: Jurnal Pendidikan Guru, 4(3), 205-222.Listiyoningsih, S., Hidayati, D., & Winarti, Y. (2022). Strategi Guru Menghadapi Transformasi Digital. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 7(2b), 655–662.
Zebua, F. R. S. (2023). Analisis tantangan dan peluang guru di era digital. Jurnal Informatika dan Teknologi Pendidikan, 3(1), 21-28.


























Komentar