oleh

Meningkatkan Profesionalisme Kinerja Guru BK dalam MGBK Terstruktur

Oleh: Nelson Sihaloho

*).Penulis: Guru SMPN 11 Kota Jambi

ABSTRAK:

Selama ini kegiatan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) memiliki peranan penting dalam meningkatkan kapasitas, kompetensi, kecakapan dalam pengembangan profesionalitas guru Bimbingan Konseling (BK). Harus disadari bahwa kendati dengan jumlah Guru BK tidak sebesar jumlah guru mata pelajaran (MGMP) memiliki keragaman kapasitas, kompetensi maupun kecakapan. Umumnya problematika yang dialami oleh para guru BK terdiri dari 2 kelompok besar.

 

Yakni, problem yang berasal dari diri guru BK yang bersangkutan ( internal) dan problem berasal dari luar disebut problem eksternal. MGBK sebagai olrganisasi memeiliki karakteristik dan fungsi penting yang sama, yakni sebagai organisasi memiliki tujuan, harus terstruktur, memiliki aturan serta memiliki sanksi tegas.

 

Dalam menjalankan tugas organisasinya MGBK dituntut untuk mampu menjadi organisasi profesional, berkinerja, terukur serta mandiri. Namun kenyataan dan fakta dilapangan banyak problematika yang dialami guru BK dalam meningkatkan profesionalisme maupun kinerjanya. Kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya serta kemampuan untuk mencapai tujuan dan standar yang telah ditetapkan. Kinerja dianggap baik dan memuaskan apabila hasil yang dicapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Untuk itu pentingnya peningkatan profesionalisme dan kinerja guru BK salah satu solusi yang dilakukan adalah melalui kegiatan MGMK terstruktur yang dikelola dengan baik serta standar.
Kata kunci: profesionalisme, kinerja, guru BK, MGBK terstruktur

Profesionalisme dan kinerja guru BK

Guru BK dalam melaksanakan tugas profesionalnya adalah memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik. Guru BK berhak mendapatkan imbalan yang layak sebagai bukti dan penghargaan atas kerja profesionalnya. Guru BK yang telah memenuhi syarat yang ditetapkan diberikan tunjangan profesi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, disamping gaji yang menjadi haknya. Ketentuan pemberian tunjangan profesi ini berlaku untuk semua guru baik yang berstatus sebagai pegawai negeri (PNS) maupun non PNS. Keprofesionalan seorang Guru BK harus tetap terjaga, artinya kahlian yang telah dimiliki itu tidak boleh berkurang apalagi hingga menurun.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) khususnya dalam bidang BK semakin banyak melahirkan teori dan teknik baru dalam memberikan layanan BK terhadap peserta didik. Teori baru seperti dalam konseling yang tidak lagi mempersyaratkan adanya tatap muka langsung antara konselor dengan konseli karena adanya teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih berarti dimungkinkan adanya cyber counseling. Dalam paradigma modern, dimaknai bahwa layanan BK untuk memfasilitasi peserta didik mencapai t optimal yakni pencapaian tugas perkembangan sesuai dengan periode perkembangannya yang oleh Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) diistilahkan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik disingkat SKKPD (Depdiknas. 2008). Peningkatan profesionalisme Guru BK dilaksanakan dengan mengikuti dasar pikiran tertentu yang selanjutnya dijadikannya sebagai pedoman.

 

Prinsip ini penting untuk diperhatikan agar pengembangan yang dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas guru dapat mencapai target atau sasaran dan pada akhirnya bisa mencapai hasil yang maksimal, memiliki daya guna bagi peningkatan layanan BK kepada peserta didik. Sejumlah prinsip yang harus dipedomani dalam peningkatan ini meliputi: (1) berkeadilan, (2) terbuka, (3) ilmiah, (4) komprehensif (5) relevan, (6) memandirikan, (7) berkelanjutan, serta (8) efektif dan efisien (Danim dan Khairil. 2010; Widada. 2013). Berkeadilan, hendaknya pengembangan diberikan kepada siapapun tanpa ada diskriminasi. Setiap guru berhak memperoleh pengembangan untuk meningkatkan kepemilikan keahlian hingga ke level puncak sesuai dengan keinginan, motivasi, maupun kesempatan yang mereka miliki. Demikian halnya dengan kinerja yang lazin disebut dengan “performance”. Perforamce bisa disebut dengan prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil kerja, unjuk kerja, atau penampilan kerja (Priansa 2014: 46). Kane dalam Widoyoko (2013: 200), menyatakan kinerja bukan merupakan karakteristik seseorang, seperti bakat atau kemampuan, tetapi merupakan perwujudan dari bakat atau kemampuan itu sendiri. Supardi (2014: 45) menyatakan bahwa kinerja merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan, menyelesaikan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditetapkan. Suprihanto dalam Supardi (2014: 47) juga menuturkan “kinerja adalah hasil kerja seseorang dalam suatu periode tertentu dibandingkan dengan beberapa kemungkinan, misalnya standar target, sasaran, atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu”. Adapun Rachmawati dan Daryanto (2013: 16) berpendapat bahwa kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya serta kemampuan untuk mencapai tujuan dan standar yang telah ditetapkan. Fatah (dalam Rachmawati dan Daryanto, 2013:16) menegaskan bahwa “kinerja diartikan sebagai ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, dan motvasi dalam menghasilkan suatu pekerjaan”. Kinerja menggambarkan kesuksesan suatu organisasi, maka dipandang penting untuk mengukur karakteristik tenaga kerja. Kinerja dianggap baik dan memuaskan apabila hasil yang dicapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Pengelolaan MGBK Harus Profesional

Menurut Getzel-Guba dalam Cepi Triatna (2015: 28), organisasi memeiliki karakteristik dan fungsi penting yang sama, yaitu sebagai berikut: institutions have purpose (organisasi memiliki tujuan); institution are structural (organisasi memiliki/harus terstruktur); Institutions are normative (organisasi memiliki aturan); institutions are saction bearing (organisasi memiliki sanksi tegas). Adapun Wursanto (2005: 42), dalam arti dinamis organisasi dalam berarti memandang organisasi itu dari segi isinya, yaitu sekelompok orang yang melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi sebagai sitem kerjasama, adalah suatu sistem mengenai pekerjaan-pekerjaan yang dirumuskan dengan baik, dan masing-masing pekerjaan itu mengandung wewenang, tugas dan tanggungjawab tertentu yang memungkinkan orang-orang dari suatu organisasi dapat bekerjasama secara efektif dalam usaha mencapai tujuan bersama (Wursanto, 2005:45). MGBK merupakan wadah organisasi guru-guru BK yang ada di daerah untuk pengembangan profesi konselor. MGBK berfungsi untuk wadah musyawarh para guru BK dalam menyikapi setiap permasalahan yang terjadi. Wadah untuk saling berbagi pengetahuan serta pemecahan masalah yang ada menjadikan posisi MGBK sangat penting untuk penunjang tugas konselor sekolah.

MGBK sebagai wadah organisasi guru BK di daerah sejatinya harus memiliki peran dan tujuan. Menurut Syaefudin (2013: 85), secara umum fungsi dan peranan organisasi keprofesian itu meliputi: (1). melindungi kepentingan para anggota dan kemandirian dan kewibawaan kelembagaanya secara keseluruhanya (dengan membina dan menegakkan kode etik). Setiap organisasi memiliki kepentingan, baik itu kepentingan untuk individu maupun untuk kepentingan kelompok/organisasi itu sendiri. (2). Berupaya meningkatkan dan atau mengembangkan karir organisasi.

 

MGBK juga berperan dalam pengembangan karir anggotaya. Adanya wadah organisasi, anggota akan memiliki wawasan karir yang lebih luas serta memiliki hubungan yang lebih luas sehingga pemahaman untuk bidang karir anggotanya akan berkembang. MGBK harus mampu memberikan pengaruh terhadap rangkaian dalam perjalanan profesi yang digelutinya sebagai konselor. Adapun menurut Direktorat Pembina Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagakerjaan Perguruan Tinggi (2004:42), kode etik profesi adalah norma-norma itu berisi apa yang tidak boleh, apa yang seharusnya dilakukan, dan apa yang diharapkan dari tenaga profesi. Jika terjadi pelanggaran norma tersebut maka akan mendapatkan sanksi. (3) Berperan meningkatkan kemampuan MGBK sebagai suatu organisasi profesi mampu memberikan dampak terhadap peningkatan kemampuan yang dimiliki anggotanya dalam hal ini adalah konselor sebagai anggota MGBK. (4). Berperan meningkatkan kewenangan professional Adanya MGBK diharapkan mampu memberikan kewenangan bagi para anggotanya, dimana kewenangan tersebut diantaranya tertuang dalam kode etik profesi konselor yang bersumber dari kode etik ABKIN yaitu untuk dapat bekerja sebagai konselor, diperlukan pengakuan keahlian dan kewenangan oleh organisasi profesi atas dasar wewenang yang diberikan kepadanya oleh pemerintah yang meliputi kewenangan penyimpanan dan penggunaan informasi, kewenangan dalam hal melakukan testing, dan kewenangan dalam melakukan riset. (5). Meningkatkan martabat, dan kesejahteraan para anggotanya. MGBK sebagai wadah organisasi mampu meningkatkan martabat dan kesejehteraan anggota-anggotanya, sehingga eksistensi konselor benar-benar diakui keberadaanya secara profesional. Soejipto dan Raflis Kosasi (2011:36), organisasi MGBK bertujuan untuk meningkatkan mutu dan profesionalisasi dari guru dalam kelompok masing-masing. Karena itu program MGBK harus disusun serta direncanakan dengan baik sebelum pelaksanaan kegiatan MGBK dilaksanakan.

Beberapa Program Kerja MGBK yang bisa dilakukan untuk 3 tahun ke depan yakni Menyusun rencana program kegiatan MGBK tahun 2022-2025, Data Base jumlah guru BK (berlatar belakang BK maupun guru alih fungsi BK) di SMP Negeri atau Swasta. Pengembangan penggunaan instrument need assesmen untuk menyusun data kebutuhan siswa. Guru BK mampu menyusun rencana program pemberian layanan yang sistematis dan terstruktur.

 

Peningkatan kompetensi guru BK dalam pengelolaan pelayanan BK diantaranya Pengembangan ketrampilan konseling (bagi guru BK berlatar belakang BK). Pengembangan Kegiatan Pendukung (Bagi guru Alih Fungsi yang tetap memilih menjadi Guru BK). Pengembangan Peningkatan kemampuan Guru BK dalam SKK dan PTBK Pengembangan Kompetensi Kemandirian Siswa Melalui Pelayanan Konseling. Penelitian Tindakan dalam Bimbingan Konseling (PTBK). Publikasi Laporan Hasil Penelitian di Majalah bereputasi ber ISSN atau buku ber ISBN. Publikasi karya ilmiah di media cetak maupun media online. Peningkatan kompetensi guru BK tentang Assesmen dalam pelayanan BK, dan Mengkomunikasikan hasil psikotes. Pencegahan pelecehan seksual, penyuluhan penanggulangan Narkotika, Wisata Edukatif,

 

Penyusunan Portofolio serta kegiatan Outbond/Wisata Edukatif. Peningkatan Kompetensi Pengembangan pembuatan bahan Ajar/Modul Bimbingan Konseling. Pelayanan BK didalam Kelas/tatap muka dikelas. Pelayanan BK diluar kelas/ruangan BK dan materi lain yang mendukung peningkatan profesionalisme guru BK.

Terstruktur dan Inovatif

Komunitas MGMP merupakan suatu wadah perkumpulan guru mata pelajaran di suatu sanggar, kabupaten/kota dan berfungsi sebagai sarana untuk berkomunikasi, belajar, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman dalam upaya meningkatkan kinerja guru sebagai pelaku perubahan reorientasi pembelajaran di kelas (Winarno, 2013). Sedangkan Komunitas MGBK merupakan organisasi atau wadah kegiatan profesional para guru BK pada SMP/MTs sampai SMA/SMK/MA yang berada dalam satu wilayah kabupaten/kota (Sulistyowati, 2018). Sulistyowati,et,al, MGBK harus memiliki pedoman/standar pengembangan organisasi. Standar Pengembangan yang harus dipenuhi oleh MGBK meliputi standar organisasi, standar program, standar pengelolaan, standar sarana dan prasarana, standar sumber daya manusia (SDM), standar pembiayaan, dan juga standar penjaminan mutu. Standar program

 

Setiap komunitas MGBK menyusun program di awal kegiatan. Setiap program hendaknya mengacu pada 3 hal yakni penyusunan program MGBK. Program BK minimal berisi visi, misi, tujuan, dan matrik/kalender kegiatan. Program MGBK diketahui oleh Ketua MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) dan disyahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Program MGBK terdiri atas program rutin dan program pengembangan. Program rutin yang dicanangkan komunitas hendaknya mencakup kegiatan diskusi permasalahan pembelajaran atau BK, penyusunan program BK, analisis kurikulum terbaru. penyusunan instrumen evaluasi, pembahasan kesiapan menghadapi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Komunitas MGBK dapat memilih program pengembangan yang diiinginkan. Setidaknya 3 kegiatan yang perlu dilaksanakan. Pilihan kegiatan tersebut adalah tentang penelitian, penulisan Karya Tulis Ilmiah, kegiatan Semiloka dan diskusi panel, diklat berjenjang, penerbitan jurnal MGBK, pembuatan website MGBK, mengikuti Forum MGBK provinsi dan peningkatan kompetisi kinerja guru. Selain itu jenis pengembangan lain yang bisa dipilih seperti Peer Coaching, Lesson Study, Professional Learning Community, Global Gatew. Seiring dengan tuntutan dan paradigm layanan BK di masa depan maka BK yang inovatif dan adaptif harus terus dikembangkan. Pembaruan model kompetensi guru BK perlu dilakukan untuk menjawab tantangan terhadap kualitas pendidikan yang terus berkembang di tingkat regional maupun global. Perkembangan teknologi serta berbagai pendekatan-pendekatan BK terbaru perlu diperhatikan agar dapat menciptakan aturan yang sesuai dengan kebutuhan. Kemampuan beradaptasi guru BK harus menjadi indikator utama dalam menyikapi perubahan zaman yang terus dinamis. Pelatihan dan pengembangan karier guru BK harus disesuaikan dengan kebutuhan. Model-model konseling terbaru yang terus berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK guru BK dituntit memiliki penguasaan terhadap pengetahuan dan keterampilan konseling baik individual maupun kelompok.

 

Pelaksanaan layanan konseling berfokus solusi sangat diperlukan untuk meminimalisir munculnya berbagai persoalan ayai masalah yang dihadapi klien. Inovasi layanan BK harus terus dikembangkan dengan optimal. Upaya dan kebijakan yang menghapus jam guru BK untuk masuk dalam kelas akan semakin menambah problematika pelayanan BK. Di era perkembangan IPTEKS yang sangat cepat dan massif, guru BK perlu menyiapkan diri untuk menghadapi setiap perkembangan bidang BK. Tujuannya adalah agar layanan yang diberikan kepada siswa sesuai dengan tuntutan tugas perkembangan dirinya maupun dan lingkungan.

Berkembangannya tren-tren mpdel-model pengembangan BK juga perlu disiasati Inovasi BK yang cenderung megarah pada transformasi suatu ilmu pengetahuan menjadi produk yang baru harus terus dikembangkan. Inovasi BK meliputi proses teknis, fisik, dan pengetahuan bertujuan utama untuk mengembangkan produk-produk inovatif BK dengan menciptakan keterampilan baru.

 

Melalui kompetensi dan inovasi akan dapat mendorong keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk secara efektif mengentaskan masakah-masalah yang dihadapi siswa dalam tugas-tugas perkembangannya. Inovasi yang merupakan kegiatan penelitian, pengembangan, dan ataupun perekayasaan yang dilakukan dengan tujuan melakukan pengembangan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. Atau dengan cara baru untuk menerapkan IPTEK yang sudah ada ke dalam produk atau pun proses layanan pembelajaran BK. Semoga bermanfaat. (******).

Rujukan:

E Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Permendiknas Nomor 27 Tahun 2018 tentang Standar _Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor.
Rahardjo, M. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Gava Media
Sumarsono, R. B. 2012. Iklim Sekolah, Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja, dan Kinerja Guru. Jurnal Manajemen Pendidikan, 23(6): 532-539. Sumber Internet ESQ Leadership Center. 2014. Emotional Spiritual Quotient: Your Partner in Character Building, (Online), (http://www.esqway165.com/about-us/, diakses 3 Maret 2015).
Sulistyowati, M.D.R. 2018. Pengelolaan MGBK dalam Meningkatkan profesionalisme Guru Bimbingan dan Konseling SMA/MA. Jurnal Media Managemen Pendidikan Volume 1 No. 2 Oktober 2018.
Winarno, A & Prihartini, N. 2013. Peranan Musyawarah Guru Pembimbing (MGP) dalam Meningkatkan Jurnal Bikotetik (Bimbingan dan Konseling : Teori dan Praktik) Volume 04 Nomor 02 Tahun 2020, 50-54 54 Kompetensi Guru Pembimbing SMP Kabupaten Boyolali. Jurnal Penelitian Humaniora, Vol 14, No 1, Februari 2012, hal 71-84.

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.