BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik Akibat Salah Kelola

Oleh : Siti Muthaharah, S.Pd.

Kesulitan bertambah, kesempitan melanda. Begitulah gambaran akan kondisi hari ini. BBM, yang menjadi salah satu kebutuhan dasar hidup rakyat tengah menjadi pembahasan hangat akibat kelangkaan dan harga mahalnya.

Presiden Joko Widodo mengumumkan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada september, beberapa bulan yang lalu. “Harga beberapa jenis BBM yang selama ini mendapat subsidi akan mengalami penyesuaian,” katanya di Istana Negara, Sabtu (03/09/2022).
Dengan pengumuman resmi tersebut maka Pemerintah Resmi Menaikkan Harga BBM dan Menghilangkan BBM bersubsidi jenis Pertalite, Solar dan Pertamax dengan harga fantastis tinggi . Pertalite naik dari Rp.7.650/Liternya kini menjadi Rp.10.000/Liter. Disusul , Harga Solar Subsidi Naik menjadi Rp.6.800/Liter dari Rp. 5.150 /Liter. Sementara itu harga Pertamax Non Subsidi Juga naik dari Rp.12.500/Liter kini menjadi Rp.14.500/Liternya.

Mengikuti kenaikan harga BBM tersebut, ekonom melihat potensi kenaikan inflasi tahun ini yang bakal melebihi ambang batas pemerintah dan Bank Indonesia (BI), yakni 4%. Kenaikan inflasi ini menjadi fokus besar pemerintah karena dikhawatirkan akan mengikis daya beli masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pada September 2022 sebesar 1,17% secara bulanan atau month over month (mom) atau secara tahunan mencapai 5,95% secara tahunan atau year on year (yoy). Inflasi ini disulut kenaikan harga BBM di bulan September 2022. Parahnya lagi, dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diprediksi masih akan berlanjut sampai akhir tahun 2022.

Tidak hanya itu, kenaikan harga barang tentunya akan semakin menekan rakyat kecil. Seperti yang nyata terlihat dan dirasakan akhir-akhir ini. Pemerintah pun menyiapkan bantalan sosial sebesar Rp27,17 triliun untuk melindungi kelompak masyarakat miskin. Begitu ujar pemerintah. Namun demikian, kekhawatiran inflasi dalam negeri tetaplah menjadi perkara yang mengkhawatirkan, bahkan dimungkinkan akan lebih buruk dari inflasi yang saat ini tengah terjadi di negara-negara maju. Yang tentu saja jika inflasi terjadi dapat dipastikan menambah deret panjang sulitnya kehidupan, maka siapakah yang paling dirugikan? Rakyatlah yang paling dirugikan.

Jika pemerintah mau membuka mata sesungguhnya pemerintah telah semakin mempersulit kehidupan rakyat yang sudah serba sulit. Dengan naiknya harga BBM jelas saja menambah deret panjang naiknya berbagai macam kebutuhan hidup terutama kebutuhan pangan di negeri ini. Sungguh keegoisan yag akan semakin mencekik rakyat jika negara ini tidak kemudian mencari formulasi baru dalam membantu meringankan tercapainya daya beli masyarakat.

Tata kelola yang salah
Harga minyak dunia saat ini sangat dipengaruhi oleh pasar. Tak pandang walaupun Indonesia juga kaya akan minyak namun tak dapat menentukan harga sendiri terhadap minyak ataupun harga kebutuhan pokok yang lain. Jika menggunakan analisa lebih tajam, kita bisa melihat bahwa gambling terjadi akibat harga minyak dunia ditentukan oleh judi, spekulasi. Seperti yang dikatakan Agung, pakar ekonom “Pasar komoditas berjangka menyebabkan 80% kenaikan harga minyak dunia. Apa mau menyalahkan dan mengorbankan rakyat Indonesia? Salahkan AS dan mereka yang menggunakan sistem kapitalisme,” kritiknya. Memang, sekarang sedang terjadi perang Ukraina-Rusia. “Namun, mengapa harganya naik tinggi? Ini ulah spekulan,” cetusnya.

Oleh karena itu, menurutnya, ini momentum semua kalangan sadar ruwetnya tata kelola energi akibat sistem kapitalisme. Ini akibat salah kelola. “Liberalisasi migas menyebabkan 44% sektor hulu migas kita dikuasai asing. Sementara itu di bagian hilirnya, harga didorong mengikuti harga keekonomian, menurut bahasa mereka. Namun, sebenarnya ini harga liberal. Harga dagang, bukan harga pelayanan,” jelasnya.

Yang Harus Dilakukan
Harus ada pergerakan oleh negara dalam menghentikan kesulitan ini. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan. “Pertama, stop liberalisasi sektor hulu migas. Migas harus dikembalikan menjadi benar-benar milik umum, muslim maupun non-muslim, dalam konteks Islam ini sudah sangat jelas.

Dalam Perspektif Islam Rasulullah Saw. Bersabda: “kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu, padang rumput, Air dan Api”.(H.R Abu Dawud dan Ahmad).

Maka dari sabda tersebut bahwasanya minyak bumi di seluruh negeri muslim itu milik rakyat, yang dikelola oleh negara, yang kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan rakyat tanpa tebang pilih. Namun lagi lagi di dalam sistem kapitalis, sumber daya minyak dan pengelolaannya berada ditangan korporat dengan asas keuntungan perusahaan, bukan keuntungan rakyat. Praktrek inilah yang menyebabkan harga BBM ditentukan oleh harga internasional. Ditambah lagi dengan Hutang negara yang semakin membengkak, Bunga Riba yang Luar biasa Besar, Maka harga BBM dalam Negeri Naik meskipun harga minyak internasional sedang Turun. Praktek Pengelolaan BBM ini tentu menyeleweng dari syariat, maka sikap muslimin terhadap hal ini tentu bukan pasrah dan diam saja, melainkan menunjukkan kepada umat tentang kedzaliman pengelolaan BBM versi Kapitalis.

Kedua, meningkatkan produksi dalam negeri. “SKK Migas menyebutkan Indonesia memiliki 128 cekungan hidrokarbon yang baru diproduksi, 28 cekungan yang masih tersisa belum berproduksi. Menambah dan meningkatkan kualitas kilang minyak dapat saja dilakukan. Missal dengan pengalihan dana. Stop IKN, stop pembangunan jalan tol, stop proyek kereta cepat. Stop semua program yang tidak berdampak langsung pada rakyat.
Kemudian, Agung, pakar ekonom juga mengatakan, Indonesia memiliki bahan untuk energi baru terbarukan. “Ada air, matahari, energi nuklir, bahan lithium baterai. Semua ini berpeluang untuk dikelola. Jangan sampai diserahkan kepada asing kalau mau mandiri,” tukasnya.

Ketiga, stop terlibat dalam pasar komoditas berjangka. Inilah spekulasi, judi yang haram hukumnya.

Maka Sebagai Ummat yang cerdas Sudah seharusnya kita tidak tinggal diam dengan permasalahan yang ada dinegeri ini, Berani Mengkritik kebijakan Zalim yang dikeluarkan Pemerintah yang menyeleweng dari syariat sang Pencipta, dan mengatakan Bahwa adanya permasalahan ini tak lain dan tak bukan karena gagalnya negara dalam periayahan.

Umat juga harus keluar dari zona nyaman dan sadar bahwasanya negeri kita saat ini sedang tidak baik baik saja. Maka tak ada Solusi Tuntas yang hakiki selain Islam sebagai solusi Paripurna atas problematika ummat yang terjadi. Karena Islam punya pengaturan komprehensif terhadap negara terutama tata kelola ekonomi termasuk BBM didalamnya.

Komentar