oleh

Ingin Sukses ,Siswa Harus Tahu Modalitas dan Abilitasnya

 

Oleh: Nelson Sihaloho

ABSTRAK

Dalam kegiatan proses belajar mengajar dalam kelas umumnya setiap siswa akan menyerap materi maupun informasi yang diberikan oleh guru. Dalam menyerap materi pembelajaran maupun informasi tersebut cara siswa juga berbeda-beda. Perbedaan siswa dalam menyerap materi lazim disebut modalitas belajar atau gaya belajar. Modalitas belajar meruakan cara seseorang dalam menyerap informasi dengan indra yang dimilikinya. Modalitas belajar terdiri dari tiga macam yakni modalitas belajar visual, modalitas belajar audio serta modalitas belajar kinestik.

Begitu juga dengan potensi, setiap siswa memiliki perbedaan potensi terutama berkaitan dengan minat maupun abilitas ( ability). Abilitas seringkali diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan perbuatan ataupun aktivitas. Kemampuan merupakan kecakapan atau kecerdasan yang dimiliki individu. Kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah atau menciptakan produk yang berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya dan masyarakat. Banyak kalangan para ahli mendefinisikan abilitas sebagai kemampuan dalam melakukan tindakan tertentu, baik fisik maupun mental. Tindakan mental seperti berpikir menganalisis dan mensintesis maupun sejenisnya merupakan salah satu bentuk abilitas yang diprediksi bisa memberikan kesuksesan pada diri seseorang. Karena itu menguasai abilitas dengan baik memiliki relevansi terhadap kesuksesan seseorang.

Kata kunci:modalitas, abilitas

Modalitas belajar

Banyak kalangan para pakar dan ahli memberikan defenisi maupun pengertuan tentang modalitas belajar. Modalitas belajar atau gaya belajar merupakan cara seseorang dalam menyerap informasi melalui indra yang dimilikinya. Modalitas belajar terdiri dari 3 macam. Yakni modalitas belajar visual (belajar dengan melihat), modalitas belajar audio (belajar dengan mendengar), dan modalitas belajar kinestetik (belajar dengan gerakan-gerakan fisik). Modalitas belajar atau gaya belajar tersebut sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh guru. Dengan mengetahui dan memahami gaya belajar dapat menjadi sarana untuk mengetahui bagaimana cara mengajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Gaya belajar yang sesuai adalah kunci keberhasilan siswa dalam proses belajarnya. Modalitas belajar merupakan ungkapan dari rancangan sistem otak-pikiran. Modalitas belajar merupakan kemampuan dasar individu untuk memperoleh dan menciptakan pengalaman.

Modalitas belajar menunjuk pada indera mana yang paling efektif dalam proses belajar seseorang dalam memahami informasi yang diterima. Ada beberapa macam modalitas belajar diantaranya yaitu modalitas belajar visual, modalitas belajar audiotory, modalitas belajar read write, dan modalitas belajar kinestetice yang disingkat VARK.

Modalitas belajar VARK menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan dalam meningkatkan prestasi akademik peserta didik karena modalitas belajar VARK dapat menciptakan lingkungan belajar yan menarik dan merangsang indera dalam belajar (Othman & Amirudin, 2010)

Modalitas  belajar adalah cara orang menyerap informasi melalui indranya. Cara tercepat bagi otak untuk menyerap informasi, interaksi, komunikasi. Modalitas belajar ini digunakan untuk memanfaatkan gaya belajar siswa – siswa dalam penggunaan gaya belajar yang tepat memiliki dampak yang signifikan terhadap keberhasilan proses pembelajaran murid. Modalitas belajar adalah ungkapan dari rancangan sistem otak-pikiran.

Merupakan kemampuan dasar individu untuk memperoleh dan menciptakan pengalaman. Modalitas belajar adalah berbagai cara yang digunakan sistem otak-pikiran untuk mengakses pengalaman (masukan) dan mengungkap pengalaman (luaran). Seluruh modalitas belajar tekait dengan indra dan diubah menjadi sandi-sandi bagi pengalaman indrawi. Mengutip Gordon Dryden, (1999) menyatakan enam jalur utama menuju otak yakni apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita kecap, apa yang kita sentuh, apa yang kita baui (cium) dan apa yang kita lakukan.

Adapun Jannet Vos,(1999) menyatakan bahwa kita belajar, 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakana serta 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.

Abilitas atau Kemampuan

Kemampuan juga bisa disebut dengan kompetensi. Kata kompetensi berasal dari bahasa Inggris “competence” yang berarti ability, power, authotity, skill, knowledge, dan kecakapan, kemampuan serta wewenang. Kompetensi

merupakan perpaduan dari tiga domain pendidikan yang meliputi ranah pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang terbentuk dalam pola berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Chaplin (2013) ability (kemampuan, kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan) merupakan tenaga (daya kekuatan) untuk melakukan suatu perbuatan. Menurut Donald Sardiman (2013) kemampuan berasal dari kata mampu yang mempunyai arti dapat atau bisa.

Kemampuan juga disebut kompetensi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya pikiran dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Spencer and Spencer dalam Uno (2014) mendefinisikan kemampuan sebagai “Karakteristik yang menonjol dari seseorang individu yang berhubungan dengan kinerja efektif dan/superior dalam suatu pekerjaan atau situasi”. Adapun Robbins (2015) kemampuan bisa merupakan kesanggupan bawaan sejak lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktek. Hamalik (2016) kemampuan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut: a) Kemampuan intrinsik adalah kemampuan yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. b)

Kemampuan ekstrinsik adalah kemampuan yang hidup dalam diri dan berguna dalam situasi belajar yang fungsional. Mampu adalah cakap dalam menjalankan tugas, mampu dan cekatan. Kata kemampuan sama artinya dengan kecekatan.

Mampu atau kecekatan adalah kepandaian melakukan sesuatu pekerjaan dengan cepat dan benar. Seseorang yang dapat melakukan dengan cepat tetapi salah tidak dapat dikatakan mampu. Sedangkan Sudrajat (2017), ability adalah menghubungkan kemampuan dengan kata kecakapan. Setiap individu memiliki kecakapan yang berbeda-beda dalam melakukan suatu tindakan. Kecakapan ini mempengaruhi potensi yang ada dalam diri individu tersebut.

Proses pembelajaran yang mengharuskan siswa mengoptimalkan segala kecakapan yang dimiliki. Ruang lingkup kemampuan cukup luas, meliputi kegiatan berupa perbuatan, berfikir, berbicara, melihat, dan sebagainya.

Akan tetapi, dalam pengertian sempit biasanya kemampuan lebih ditunjukkan kepada kegiatan yang berupa perbuatan. Kemampuan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Michael Zwell (2000) dalam Wibowo (2012) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan. Diantaranya (1) keyakinan dan nilai-nilai keyakinan. (2)Keterampilan (3) Pengalaman dan (4) Karakteristik kepribadian; (5) Isu emosional dan (6) kemampuan intelektual. Keyakinan dan Nilai-nilai Keyakinan seseorang terhadap dirinya dan orang lain akan sangat mempengaruhi perilakunya sehari-hari. Apabila orang tersebut memiliki pikiran yang positif tentang dirinya maupun orang lain maka akan menjadi seseorang yang memiliki ciri orang yang berpikir kedepan. Keterampilan memainkan peran dikebanyakan kemampuan. Pengembangan keterampilan yang secara spesifik berkaitan dengan kompetensi dapat berdampak baik pada budaya organisasi dan kompetensi individu. Pengalaman , merupakan elemen kemampuan yang diperlukan dalam dunia kerja, tetapi untuk menjadi ahli tidak cukup hanya dengan pengalaman. Dalam kepribadian termasuk banyak faktor yang diantaranya untuk berubah, tetapi keperibadian bukannya sesuatu yang tidak dapat berubah. Kepribadian seseorang dapat berubah kapan saja apabila ia berinteraksi dengan kekuatan dan lingkungan sekitarnya. Isu Emosional, bahwa hHambatan emosional dapat membatasi penguasaan kemampuan.

Takut untuk membuat kesalahan, menjadi malu, merasa tidak disukai semuanya cenderung membatasi inisiatif dari seorang pegawai. Kemampuan tergantung pada pemikiran kognitif seperti pemikiran konseptual dan pemikiran analitis.

Banyak Faktor Pengaruhi Sukses Seseorang

Menurut penelitian Stanley ada 10 faktor utama penentu kesuksesan seseorang. Yakni : Kejujuran (Being Honest With All People), Disiplin Keras (Being Well-Disciplined), Mudah Bergaul (Getting Along With People), Dukungan Pendamping, Kerja Keras (Working Harder Than Most People), Kecintaan Terhadap Apa yang Dikerjakan (Loving My Career/Business),

Kepribadian Kompetitif (Having A Very Competitive Spirit/Personality), Hidup Teratur (Being Very Well-Organized) serta Kemampuan Menjual Ide (Having An Ability To Sell My Ideas/Products). Begitu juga dengan perilaku siswa dapat mendukung keberhasilan belajar dan kesuksesan mereka dengan menerapkan pola kebiasaan belajar yang baik. Selain itu keterlibatan mereka dengan kelompok belajar maupun dengan pihak sekolah. Interaksi dengan guru-guru, waktu yang dipergunakan untuk mengerjakan tugas serta motivasi belajar mereka.

Institusi pendidikan atau sekolah harus membantu keberhasilan siswa dengan menyediakan pengalaman kelas menarik yang pada akhirnya mendorong siswa untuk mencurahkan lebih banyak waktu dan usaha untuk proses belajarnya. Kemudian membantu siswa untuk membangun kebiasaan belajar yang baik.

Sangat penting bagi pihak sekolah untuk berinvestasi pada fasilitas pendukung akademis yang dirancang untuk siswa dan staf akademik agar dapat bekerja sama untuk menigkatkan iklim belajar baik di lingkungan sekolah maupun di luar kelas. Aspek-aspek motivasi belajar harus terus dikembangkan terhadap para siswa.

Menuurt Worell dan Stiwell (dalam Amanillah & Rosiana, 2017: 544) menyatakan bahwa terdapat enam aspek dalam motivasi belajar. Yakni aspek tanggung jawab, merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak di sengaja, juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Kemudian, tekun, merupakan

kemampuan seseorang untuk tetap bertahan ditengah tekanan dan kesulitan yang dialami. Sifat tekun ini diwujudkan dalam semangat yang berkesinambungan dan tidak kendur walau banyak rintangan menghadang. Selanjutnya usaha, merupakan kegiatan dengan mengarahkan tenaga, pikiran, atau kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai tujuan tertentu. Siswa dengan motivasi belajar tinggi, memiliki sejumlah usaha,

kerja keras, dan waktu untuk kegiatan belajar, seperti pergi ke perpustakaan. Umpan balik, merupakan tanggapan atau respon terhadap suatu upaya dalam melakukan kegiatan. Siswa dengan motivasi belajar yang tinggi, menyukai umpan balik atas pekerjaan yang dilakukan.

Waktu, seluruh rangkaian yang telah berlalu, sekarang, dan yang akan datang. Siswa dengan motivasi belajar yang tinggi, akan berusaha menyelesaikan setiap tugas dan waktu yang cepat dan seefisien mungkin. Terakhir adalah tujuan, merupakan penjabaran visi misi untuk hal yang akan dicapai atau dihasilkan oleh seseorang berupa target yang bersifat pencapaian keberhasialan kinerja seseorang tersebut. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, mampu menetapkan tujuan yang realistik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan juga mampu berkonsentrasi terhadap setiap langkah yang ditinju, sedangkan siswa dengan motivasi belajar yang rendah akan melakukan sebaliknya. Selain itu pihak sekolah harus membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dan tercapainya tujuan pembelajaran. Kondisi sekolah harus aman, nyaman, terhindar dari kebisingan dan lain sebagainya.

Hubungan sosial dilingkungan sekolah harus tercipta dengan baik. Baik itu lingkungan sosial belajar, hubungan siswa guru, hubungan dengan teman sekelas, dinamika kelompok, terhindar dari kekerasan. Iklim sekolah dan iklim belajar mempunyai implikasi pada kesejahteraan dan kepuasan siswa didalam sekolah.

Selain itu pemenuhan diri di sekolah, merujuk pada masing-masing individu menghargai sebagai bagian berharga dari mayarakat. Kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa merupakan lahan yang menarik bagi siswa. Selanjutnya adalah kesehatan, status siswa ini meliputi aspek fisik dan mental berupa simtom psikomatis, penyakit kronis, penyakit ringan (seperti flu), dan penghayatan akan keadaan diri. Karena itu kualitas kehidupan anak tergantung pada kualitas otaknya. Kecerdasan merupakan bakat tunggal yang dipergunakan dalam situasi menyelesaikan masalah apa pun.

Begitu juga dengan kecerdasan emosinil siswa penting dikembangkan di sekolah. IQ bukanlah satu–satunya faktor yang mempengaruhi hasil belajar seseorang, tetapi ada banyak faktor lain yang mempengaruhi kesuksesannya. Diantaranya faktor lingkungan, faktor biologis, dan faktor psikologis yang terdiri dari bakat, minat, dan kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Kecerdasan emosional dapat menuntun siswa dalam bertingkah laku dan meraih keberhasilan. Ada beberapa indicator kecerdasan emosionil yakni lesadaran diri, mengelola emosi, memanfaatkan emosi dengan produktif, mengenali emosi orang lain serta membina hubungan dengan orang lain.

Seseorang siswa jika ingin sukses di masa depan selain meningkatkan modalitas belajar dan abiklitasnya juga dituntut untuk meningkatkan kecerdasan emosionlinya. Beberapa hal yang berkaitan dengan kecerdasan emosionil dan penting dikembangkan adalah keyakinan, rasa ingin tahu, niat, mengendalikan diri, keterkaitan, kecakapan berkomunikasi serta kooperatif. Kemandirian belajar juga pentung diterapkan dilingkungan sekolah.

Kemandirian berkenaan dengan pribadi yang mandiri, kreatif dan mampu berdiri sendiri. Dalam konteks sistem pendidikan terbuka, makna kemandirian dapat dilihat dari sudut pandang konsep pembelajaran mandiri. Bentuk kemandirian dalam sistem pendidikan terbuka adalah kemandirian dalam hal belajar.

Kemandirian merupakan sikap yang penting dan harus dimiliki seseorang supaya mereka tidak selalu bergantung dengan orang lain. Kemandirian belajar sangat diperlukan siswa agar pencapaian hasil belajar dapat optimal. Tingkat kemandirian belajar siswa dapat ditentukan berdasarkan seberapa besar inisiatif dan tanggung jawab siswa untuk berperan aktif dalam hal perencanaan belajar, pelaksanaan/proses belajar maupun evaluasi belajar.

Semakin besar peran aktif siswa dalam berbagai kegiatan tersebut, mengindikasikan bahwa siswa tersebut memiliki tingkat kemandirian belajar yang tinggi. Indikator kemandirian belajar yakni tidak tergantung pada orang lain, percaya diri, disiplin, bertanggung jawab, berinisiatif sendiri serta kontrol diri.

Meningkatnya kemandirian belajar siswa dapat mendorong terwujudnya, kemauan, inisiatif, kreatifitas, kepercayaan diri, disiplin, dan tanggung jawab, pada diri siswa untuk belajar atas kemauannya sendiri.

Dalam menciptakan kemandirian belajar, perlu kerjasama yang sinergi antara, guru, orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar anak. Dengan demikian jika siswa ingin sukses dimasa depan harus meningkatkan serta mengasah lebih tajam modalitas dan abiltas belajarnya. Semoga bermanfaat. (*****).

Rujukan:

Ahmad, J. N. (2010). Penggunaan School Well Being Pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Bertaraf International Sebagai Barometer Evaluasi Sekolah. jurnal UI untuk Bangsa Seri sosial dan Humaniora, 105-106.
Badaruddin, a. (2015). Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Melalui Konseling Klasikal. Padang : CV Abe Kreatifindo.
Khatimah, H. (2015). Gambaran School Well Being Pada Peserta Didik Program Kelas Akselerasi Di SMA Negeri 8 Yogyakarta. Psikopedagogia, 24-25.
Rachmah, Eva Nur. Pengaruh School Well Being Terhadap Motivasi Belajar Siswa. Psikosains (Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi), [S.l.], v. 11, n. 2, p. 99-108, oct. 2018. ISSN 2615-1529.
Soehardi, 2003. Esensi Perilalu Organisasional. Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta.
Zubaedi. 2013. Desain Pendidikan Karakter konsepsi dan aplikasinya dalam lembaga pendidikan. Jakarta : Kencana

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.