Dedikasi, Kunci Pimpin Pemulihan, Bergerak untuk Merdeka Belajar.

Oleh : Nelson Sihaloho

*).Penulis:Guru SMPN 11 Kota Jambi.
Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

ABSTRAK:

Sebagaimana diketahui bahwa Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas diperingati setiap tangga 2 Mei. Peringatan Hardiknas tersebut bertepatan dengan tanggal lahir Bapak Pendidikan Indonesia yakni Ki Hajar Dewantara. Tahun ini Hardiknas jatuh pada hari Senin, 2 Mei 2022  mengangkat tema “Pimpin Pemulihan, Bergerak untuk Merdeka Belajar”.

Karena tanggal 2 Mei 2022 bertepatan dengan Idul Fitri 1443 Hijriah dan cuti bersama, maka Kemdikbudristek memutuskan mengundur pelaksanaan Upacara Bendera Peringatan Hardiknas. Aturan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 28254/MPK/ TU.02.03/2022 tertanggal 22 April 2022  tentang Pedoman Peringatan  Hardiknas pada tanggal 13 Mei 2022 pukul 8.00 WIB dengan cara tatap muka, terbatas, minimalis, dan menerapkan protokol kesehatan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 yang telah ditetapkan pemerintah tanpa mengurangi makna, semangat, dan kekhidmatan acara.
Sebagaimana data dan informasi dari berbagai sumber logo Hari Pendidikan Nasional 2022 dibentuk dari tiga elemen yakni bintang, keceriaan, dan pena. Berkenan dengan tema Hardiknas tersebut ditengah kondisi perkembangan global yang semakin dinamis bidang pendidikan dituntut untuk pimpin pemulihan, berkerak untuk merdeka belajar.

Ditengah kompleksitas perkembangan dunia yang semakin mengglobal, bidang pendidikan menuntut pendidik serta stakeholders untuk terus menerus mendedikasikan pengabdiannya untuk memajukan pendidikan kearah yang lebih baik.

Dedikasi berkelanjutan untuk mewujudkan Rencana Strategis Kemendikbud 2020 – 2024 tersisa dua tahun lagi. Akankah Renstra Kemendikbud, 2020 dengan strategi merdeka belajar dapat dicapai dengan 4 pilar kebijakan tersebut? Untuk mengubah pendidikan kearah yang lebih baik dibutuhkan sumberdaya manusia yang memiliki kreatifitas serta berdedikasi tinggi.

Kata kunci: dedikasi, pemulihan, merdeka belajar

Dedikasi dan Rasa Bangga

Strategi merdeka belajar sebagaimana dalam Rensta Kemendikbud, 2020, akan dicapai melalui 4 pilar kebijakan. Empat pilar kebijakan itu yakni (1) peningkatan kompetensi kepemimpinan, kolaborasi antar elemen masyarakat, dan budaya; (2) peningkatan infrastruktur serta pemanfaatan teknologi di seluruh satuan pendidikan; (3) perbaikan pada kebijakan, prosedur, dan pendanaan pendidikan; dan (4) penyempurnaan kurikulum, pedagogi, dan asesmen.
Karena itu kreatifitas menjadi pilar yang sangat penting dalam pemulihan pendidikan. Mengutip Dornyei, (2005) menyatakan kreatifitas diasosiasikan dengan originalitas, penemuan, berpikir divergen, dan kemmapuan memecahkan masalah. Merujuk pada makna logo Hardikas 2022 yang terdirin dari 3 elemen yakni bintang, keceriaan serta pena. Elemen bintang, menggambarkan semangat Hardiknas untuk melahirkan generasi Indonesia yang unggul, cerdas, dan berkarakter. Dimana dengan garis luwes menggambarkan semangat adaptif dan tangguh menghadapi perubahan zaman yang kian dinamis. Adapun elemen keceriaan menggambarkan suasana pendidikan Indonesia yang menggembirakan, gotong royong, serta partisipasi publik. Sedangkan elemen pena menggambarkan proses pendidikan sebagai proses penciptaan karya yang memerlukan perpaduan holistik antara kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual.

 

Begitu juga dengan dedikasi dalam KBBI dedikasi diartikan sebagai pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia. Atau pengabdian untuk melaksanakan cita-cita yang luhur diperlukan keyakinan dan–;. Guru tanpa dedikasi dan pengabdian yang sungguh-sungguh akan sulit memimpin pemulihan dan bergerak untuk merdeka belajar.

Dedikasi merupakan suatu tindakan pengorbanan dalam bentuk tenaga, pikiran, dan waktu, demi untuk mewujudkan keberhasilan suatu usaha dengan tujuan mulia. Kualitas komitmen seseorang dalam melakukan suatu tugas atau tujuan tertentu yang ingin dicapai juga sering diidentikkan dengan dengan dedikasi.

Perilaku dedikasi ini ditunjukkan dengan bentuk pengabdian untuk melaksanakan cita-cita luhur serta diperlukan adanya keyakinan yang sangat teguh dari para individu yang bersangkutan.
Dalam dunia kerja misalnya orang berdedikasi adalah seseorang yang menunjukkan sikap dan kinerja terhadap pekerjaannya atau perusahaan. Itulah sebabnya dedikasi sering digunakan untuk menggambarkan sikap dan pengorbanan seseorang terhadap sesuatu yang menjadi pekerjaan atau profesinya. Ciri-ciri seorang guru yang perilakunya berdedikasi diantaranya memiliki semangat tinggi, memiliki sikap melayani, memiliki jiwa menyenangkan serta memiliki komitmen tinggi dalam menjalankan tugas profesinya,

Naim, N, (2009:16), menyatakan tidak ada seorang guru pun yang mengharapkan anak didiknya menjadi sampah masyarakat. Untuk itu hanya guru dengan penuh dedikasi dan loyalitas usaha yang mampu membimbing dan membina anak didik agar di masa mendatang menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara Adapun, Kaswan (2015:170) menyatakan “dedikasi dipengaruhi oleh perasaan bermakna, semangat, inspirasi, bangga, dan tantangan di tempat bekerja”.
Perasaan bermakna merupakan kesempatan yang dirasakan seseorang dalam mengejar tujuan yang layak atau mulia. Aspek lain dari dedikasi adalah rasa bangga. Rasa bangga diasosiasikan dengan kesuksesan, prestasi, dan keanggotaan kelompok. Rasa bangga mendorong perilaku prososial seperti prestasi dan kesuksesan.

Selain itu rasa bangga berkaitan dengan berfungsi dan terpeliharanya harga diri.
Mengutip Munir, A, (2006:102-105) menjelaskan, bahwa sekurang-kurangnya ada tiga indikator dedikasi dan cinta seorang guru terhadap profesi dan anak-anak didiknya, yaitu: pasokan energi yang berlimpah, kesediaan berkorban, dan selalu ingin memberi yang terbaik.

Esensi Pemulihan Pembelajaran

Dua tahun Pandemi Covid-19 telah memberi banyak akibat terhadap perubahan termasuk pendidikan. Di masa pandemi Covid-19 banyak peserta didik mengalami ketertinggalan pembelajaran (learning loss)  dengan kadar yang berbeda-beda. Banyak studi nasional maupun internasional yang menyebutkan bahwa Indonesia juga telah lama mengalami krisis pembelajaran (learning crisis). Berpijak pada fakta yang terjadi Kemendikbudristek telah mencoba melakukan berbagai upaya pemulihan pembelajaran.

Salah satu adalah dengan mencanangkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Perubahan kurikulum merupakan salah satu perubahan sistemik yang dapat memperbaiki dan memulihkan pembelajaran. Kurikulum Merdeka baru akan dijadikan kurikulum nasional pada tahun 2024 mendatang.
Ada beberapa hal yang mendasari mengapa saat ini Kurikulum Merdeka masih dijadikan opsi. Pertama, Kemendikbudristek ingin menegaskan bahwa satuan pendidikan memiliki kewenangan serta tanggung jawab untuk melakukan pengembangan kurikulum yang sesuai dengan  kebutuhan dan konteks masing-masing sekolah.

Alasanlainnyamengapa Kurikulum Merdeka baru menjadi opsi adalah perlu dilakukan sosialisasi dan penyesuaian terlebih dahulu sebelum Kurikulum Merdeka menjadi kurikulum nasional.

Saat ini banyak negara berupaya mengejar ketertinggalan akibat Pandemic Covid-19 termasuk Indonesia. The SMERU Research Institute, (2020) menyatakan bahwa terjadi ketimpangan pembelajaran pada era pandemi muncul karena peserta didik tidak mempunyai akses terhadap: (1) perangkat digital; (2) guru adaptif dan berkemampuan IT yang mencukupi; (3) kondisi finansial; dan (3) orangtua yang aktif memberikan dukungan.

Riset tentang learning loss selama ini dilakukan terhadap ketertinggalan pembelajaran akibat liburan panjang musim panas, bencana, atau iklim yang ekstrem (Engzell, Frey, and Verghan, 2021; Jonson et al., 2014; Jandric & McLaren, 2021). Jonson et al. (2014) memberikan rekomendasi terhadap upaya pemulihan pembelajaran akibat learning loss diantaranya dengan penyesuaian terhadap kurikulum agar dapat mengembalikan pembelajaran secara normal. Adapun Alvarez (2010) melakukan kajian terhadap learning loss akibat bencana Katrina, mengungkapkan pentingnya pembuatan kebijakan agar kurikulum dapat beradaptasi dan fleksibel dengan mengubah isi pembelajaran dan waktu pembelajaran. Sedangkan, O’Conor dan Takashi (2014) menyatakan bahwa bahwa penggunaan kurikulum yang lebih fleksibel dengan menyesuaikan dengan kondisi kekinian peserta didik akan dapat membantu mengejar ketertinggalan.

Berkaca pada riset sebelumnya tentang learning loss dan kurikulum, Harmey dan Moss (2021) berpendapat bahwa kurikulum harus dibuat dengan se-fleksibel mungkin sehingga dapat mengakomodir kebutuhan satuan pendidikan dan peserta didik akibat penutupan sekolah. UNESCO (2020) merekomendasikan beberapa kebijakan untuk learning loss diantaranya dengan memberikan pengajaran yang lebih tertarget dan disesuaikan dengan kebutuhan seperti dengan memadatkan kurikulum, micro-teaching, pengajaran yang berbeda/disesuaikan dengan karakter satuan pendidikan termasuk juga sistem asesmen.

Karena itu esensi pemulihan pembelajaran sangat penting untuk mengejar ketertinggalan peserta didik dalam meningkatkan kompetnsinya. Berbagai upaya yang lebih strategis harus terus dilakukan untuk meningkatkan esensi pemulihan pembelajaran kearah yang lebih berkualitas.

Merdeka Belajar dan Generasi Milenial

Kata “merdeka” dalam KBBI mempunyai tiga arti, yakni: (1) Bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri; (2) Tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) Tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa (sumber: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2016).  Sedangkan “kata belajar” menurut Sanjaya (2010:112) adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Merdeka belajar bermakna memberikan kesempatan belajar dengan cara bebas dan nyaman kepada peserta didik untuk belajar dengan tenang, santai dan gembira tanpa stres dan tekanan dengan memperhatikan bakat alami yang mereka punyai, tanpa memaksa mereka mempelajari atau menguasai suatu bidang pengetahuan di luar hobi dan kemampuan mereka. Menurut HAMKA (dalam Setiawan, 2016), kata “merdeka” mempunyai tiga dimensi: (1) Merdeka kemauan bermakna berani menyuruh, menyarankan menganjurkan dan menciptakan perkara yang baik dan diterima baik oleh masyarakat; (2) Merdeka pikiran, atau bebas menyatakan pikiran, yaitu melarang, menahan, mengkritik, mengaposisi yang mungkar; (3) Kemerdekaan jiwa, bebas dari ketakutan. Herbert, (2019) menyatakan apabila kemerdekaan belajar terpenuhi maka akan tercipta “pembelajaran yang merdeka” dan sekolahnya disebut sekolah yang merdeka atau sekolah yang membebaskan. Karena itu perasaan nyaman ini harus diciptakan oleh seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat. Pemulihan pendiidkan bergerak dengan konsep merdeka belajar menuntut kreatifitas dan dedikasi guru untuk lebih meningkatkan performanya dalam mengimplementasikan kinerjanya. Guru yang senang mengajar peserta didiknya adalah guru yang senantiasa menerapkan konsep “learning is Fun”. Scott D Richman, menyatakan kesenangan (dalam fun teaching) itu bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan agar murid bisa menikmati pendidikan sehingga mendongkrak prestasi belajar mereka (Successful Teaching, 2013:83).

Sebagaimana kita kethaui bahw generasi milenial memiliki kemampuan beradaptasi dalam perubahan tatanan sosial, ekonomi, teknologi dan budaya yang selalu mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya zaman, menjadi tuntutan hidup manusia. Salah satu generasi yang paling banyak dibicarakan saat ini adalah generasi milenial yang dinilai sangat berpengaruh terhadap setiap negara terutama dalam bidang pendidikan, bisnis kreatif termasuk arah politik masa depan.

Generasi milenial dikenal dengan sebutan generasi Y yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000. Generasi yang muncul setelah generasi ini adalah generasi Z ( Faiza dkk, 2018:1). Generasi milenial yang lahir dan tumbuh ketika teknologi berevolusi dari yang semula berupa perangkat yang mahal, besar dan sulit digunakan menjadi perangkat rumahan yang murah dan mudah digunakan. Mengutip Khozin,(2018:39-40) menyatakan bahwa berkerja secara kolaboratif dalam sebuah tim adalah salah satu contoh dari sikap bekerja yang baik pada generasi ini
Generasi milenial memiliki pola pikir yang sangat khas dan dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan teknologi dan informasi pada zamannya.

Generasi milenial diyakini sebagai generasi yang mengedepankan berpikir kritis serta mengandalkan akal budi. Kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat mereka ditutut untuk lebih gesit dalam segala hal dibandingkan dengan pendahulunya. Berpegang teguh pada setiap norma yang sudah ada sangat diperlukan para generasi milenial untuk dapat membentengi diri mereka dari paparan konten negatif yang dapat merusak moral. Berdasarkan data BPS di Indonesia saat ini, tercatat 50% penduduk produktif berasal dari generasi milenial.

Berkisar mulai tahun 2020 hingga 2030 BPS memperkirakan 70% dari jumlah penduduk usia produktif Indoneisa akan didominasi generasi milenial. Perilaku generasi milenial yang tidak bisa terlepas dari teknologi, menjadikan generasi ini memiliki karakteristik yang unik dibanding generasi sebelumnya. Dalam dunia pendidikan, perubahan perubahan tersebut berimplikasi pada perilaku peserta didik. Generasi milenial perilaku belajarnya dipengaruhi oleh percepatatan teknologi informasi. Youtube, web blog, mobile mapping, dan smart phone menjadi kebutuhan penting para generasi ini. Hasil penelitian Cilliers (2017) menyatakan bahwa berbagai perilaku belajar generasi milenial berdasarkan observasi mereka adalah pelajar lebih merasa nyaman untuk berkomunikasi dengan pengajarnya melalui social media, pelajar lebih menyukai materi pembelajaran yang bersifat elektronik, serta pelajar/mahasiswa lebih mempercayai bahwa teknologi memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan pengajar mereka.

Dengan berbasis pada teknologi pembelajaran yang diberi nama flexible learning menawarkan sejumlah solusi terhadap para generasi milenial. Flexible learning tidak hanya berkaitan dengan tempat dan waktu namun juga berkaitan dengan berbagai hal lainnya. Yakni flexible dalam hal lokasi, berkaitan dengan program, flexibility dalam hal interaksi, flexible dalam hal komunikasi sertaflexibility dalam hal bahan belajar.

.
Dengan demikian dedikasi yang tinggi dari para pendidik merupakan kunci dari pemulihan pendidikan, bergerak seiring, selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Merdeka belajar hanya bisa diimplementasikan dengan merujukanpada pendapat Herbert (2019) yang menyatakan apabila kemerdekaan belajar terpenuhi maka akan tercipta “pembelajaran yang merdeka” dan sekolahnya disebut sekolah yang merdeka atau sekolah yang membebaskan. Semoga Bermanfaat. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H dan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2022. (*****).

Rujukan

Herbert, Frank. 2019. Merdeka Belajar. online. Tersedia: https://www.kom-pasiana.com/syekhmuhammad/5df20d25d541df6ca8471992/merdeka-belajar-atau-belajar-merdeka?page=all
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Group.
Setiawan, Bambang Galih. 2016. Kemerdekaan dalam Pandangan HAMKA. Online. Tersedia: hidayatullah.com/artikel/opini/read/2016/08/17/99506/ kemerdekaan-dalam-pandangan-hamka.html
Afriansyah. A. (2020). Transformasi pendidikan dan berbagai problemnya. https://kependudukan.lipi.go.id/id/ berita/53-mencatatcovid19/838-covid-19- transformasi-pendidikan-dan-berbagaiproblemnya
Barasa, A. R., Bima, L., Pramana, R. P., Revina, S., & Tresnatri, F. A. (2020). Belajar dari rumah: potret ketimpangan pembelajaran pada masa pandemi COVID-19. Catatan Penelitian SMERU No. 1/2020
The SMERU Research Institute-The RISE Programme in Indonesia (2020). Memulihkan penurunan kemampuan siswa saat sekolah di Indonesia dibuka kembali. https://rise.smeru.or.id/sites/ default/files/event/Florischa%20Ayu%20 Tresnatri_Memulihkan%20Penurunan%20 Kemampuan%20Siswa%20Saat%20 Sekolah%20di%20Indonesia%20 Dibuka%20Kembali.pdf
UNESCO. (2020). Recommendation on open educational resources (OER). Paris: UNESCO.  UNESCO & Commonwealth of Learning. (2019). Guidelines on the development of open educational resources policies. Paris: UNESCO
Zamjani, I., Pratiwi, I., Rakhmah, D. N., Azizah, S. N., Hijriani, I., & Hidayati, S. (2020). Laporan Survei Pelaksanaan Belajar Dari Rumah di Masa Pencegahan COVID-19. Jakarta: Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *