Oleh: Nelson Sihaloho
Abstrak:
Hasil belajar yang baik merupakan ciri utama indikator yang menandakan berhasilnya proses belajar siswa. Umumnya, hasil belajar yang baik dapat diketahui dengan memberikan evaluasi belajar atau tes kepada siswa. Tingkat penguasaan materi dalam konsep belajar tuntas umumya ditetapkan antara 75%-90%. Berdasarkan konsep belajar tuntas, maka pembelajaran dikatakan efektif adalah apabila peserta didik mampu meguasai 75% atau lebih dari materi yang diajarkan. Pembelajaran efektif ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif. Hal terpenting di dalam belajar bukanlah hasil, melainkan proses yang dijalani dalam mendapatkan hasil tersebut. Kemampuan dalam menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki dinamakan kesadaran metakognisi. Metakognisi menekankan kesadaran individu terhadap proses berpikirnya sendiri atau tentang proses dan prosedur berpikir individu sebagai pemikir dan pelaku sehingga individu sadar dalam memonitor dan mengontrol aktivitas mental atau proses mental. Karena itu metakognitif dan reflektif perlu dilakukan agar peserta didik mampu mengoptimalkan hasil belajarnya. Metakognisi merupakan sarana untuk berpikir lebih dalam, pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi serta menghasilkan efisiensi dalam berpikir dan belajar.
Kata kunci: metakognitif, reflektif, hasil belajar.
Metakognisi
Banyak kalangan para pakar dan ahli menyatakan pentingnya pengembangan metakognisi. Sebagaimana dikethaui bahwa Metacognition berasal dari dua kata yang dirangkai yakni “meta” dan “kognisi” (cognition). Meta berasal (Yunani) μετά, bahasa Inggris: after, beyond, with, adjacent), adalah suatu prefik yang digunakan dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan pada suatu abstraksi dari suatu konsep. Menurut Flavel (Jonassen, 2000) metakognitif yaitu kesadaran seseorang tentang bagaimana ia belajar, kemampuan untuk menilai kesukaran sesuatu masalah, kemampuan untuk mengamati tingkat pemahaman dirinya, kemampuan meng- gunakan berbagai informasi untuk mencapai tujuan, dan kemampuan menilai kemajuan belajar sendiri. Pada dasarnya, kegiatan-kegiatan Metakognitif meminta siswa untuk merefleksikan apa yang mereka ketahui, apa yang mereka pedulikan dan apa yang mereka bisa lakukan tidak hanya menolong siswa membangun kesadaran dirinya, melainkan juga memberi informasi yang bernilai bagi guru (Hammond, Austin, Cheung dan Martin, 2003). Karena itu maka sangat penting bagi kalangan guru memberi kesempatan sesering mungkin kepada siswanya untuk merefleksikan belajarnya agar mereka mengetahui apa yang mereka lakukan baik ketika mereka berhasil maupun ketika mereka gagal dalam belajar. Metakognisi yang dipopulerkan Flavell tahun 1979 dalam artikel klasiknya mengenai metakognisi, mengungkapkan bahwa metakognisi mencakup tiga macam pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang strategi, pengetahuan tentang tugas kognitif, dan pengetahuan diri. Pintrich (2002) menyajikan kembali kerangka kerja umum mengenai metakognisi ke dalam tiga kategori dengan memasukkan pengetahuan siswa tentang strategi umum untuk belajar dan berpikir (pengetahuan tentang strategi) dan pengetahuan mereka untuk tugas-tugas kognitif serta kapan dan mengapa menggunakan strategi yang berbeda (pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, terma- suk pengetahuan kontekstual dan kondisional yang tepat). Akhirnya, kita memasukan pengetahuan tentang diri (variabel individu) yang berkaitan dengan komponen kognitif dan motivasi kinerja (pengetahuan diri). Metakognisi adalah sarana untuk berpikir lebih dalam, pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi yang menghasilkan efisiensi dalam berpikir dan belajar. Chiu & Duit, (2011), menyatakan bahwa metakognisi adalah pemahaman dan kesadaran tentang proses kognitif dan mampu mengontrol proses tersebut. Cooper & Sandi-Urena (2009) dan Herscovitz, Kaberman, Saar (2012) membagi menjadi dua kategori metakognisi, yaitu (1) Knowledge of cognition (metacognitive knowledge), (2) Regulation of cognition (metacognitive skillfulness). Pengetahuan metakognisi terdiri dari pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional, sedangkan keterampilan metakognisi terdiri dari keterampilan perencanaan, pemantauan, dan evaluasi. Menurut Sevian & Talanquer (2014) bahwa pentingnya peranan metakognisi dalam meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Metakognisi siswa perlu dikembangkan untuk dapat meningkatkan kualitas belajar. Flavell (Mahdavi, 2014) berpendapat meskipun dengan sedikit bukti empiris, metakognisi memainkan peran penting dalam berbagai area pembelajaran seperti komunikasi lisan dalam informasi, persuasi lisan, pemahaman lisan, pemahaman bacaan, penulisan, perolehan bahasa, perhatian, memori, pemecahan masalah, kognisi sosial, dan berbagai jenis pengendalian diri dan self-instruction. Chamot, et al. (Mahdavi, 2014) menyatakan bahwa metakognisi merupakan ciri khas pembelajar yang sukses. Metakognisi dapat ditingkatkan melalui aktivitas latihan. gnisi dapat ditingkatkan melalui aktivitas latihan. Flavell,et,al, mengemukakan bahwa aktivitas latihan dapat diberikan oleh: (1) orang tua; yang secara langsung mengajarkan keterampilan metakognitif untuk membantu anaknya mengatur dan memonitor tindakannya, (2) guru di sekolah yang memodelkan (Wall & Hall, 2016), mengajarkan dan mendorong aktivitas metakognitif; guru dapat membantu siswa mengatur dan memantau kognisi diri sendiri, (3) membaca, (4) menulis, dan (5) mendengar secara kritis dan menyampaikan gagasan (berbicara) secara terampil (skilfull). Salah satu upaya yang dapat membantu siswa menumbuhkan kesadaran kognisinya adalah dengan memberikan arahan agar siswa bertanya kepada dirinya sendiri. Upaya ini dilakukan agar siswa dapat mengontrol dan memonitor pemahaman mereka mengenai apa yang sedang dipelajarinya. Siswa diajak bertanya pada diri sendiri apakah mereka mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka pikirkan. Penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan baik apabila siswa dapat melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran secara sadar (Syahmani & Amini, 2019; Syahmani, Suyono, & Supardi, 2020). Metakognisi merupakan “think about thinking” dan memainkan peran dalam berpikir konseptual (Chiu & Duit, 2011; Shea, 2019). Peran metakognisi dalam proses perubahan konseptual, termasuk dalam akuisisi konsep, revisi konsep, dan penggantian konsep (Smortchkova & Shea, 2020), memungkinkan retensi yang lebih lama, dan aplikasi materi yang lebih luas, dan merupakan prediktor signifikan dari keberhasilan akademis (Vrdoljak & Velki, 2012).
Pentingnya Melakukan Refleksi
Pendidikan abad 21 menuntut banyak ketrerampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik, dengan harapan agar kelak dapat bersaing di tingkat lokal maupun global. Kurikulum harus didesain dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip kehidupan di era global, sehingga peserta didik dapat belajar sendiri, berpikir global, berperan di masysrakat global, dan bisa menentukan pilihan hidupnya sesuai dengan kemajuan jaman (William Gaudelli: 2003: 7). Belajar reflektif dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif dan psikologi konstruktivisme. Pembelajaran reflektif didefinisikan sebagai proses belajar secara mendalam dan bermakna. Menurut Moon (2000), yang menunjukkan siklus penemuan dalam mencapai tujuan dalam menemukan solusi dari permasalahan yang diajukan. Moon,et,el, menyatakan bahwa proses belajar reflektif berarti proses mental yang akan memanipulasi pikiran guna mencari solusi dari permasalahan yang ada. Pembelajaran reflektif memudahkan dalam mengolah pikiran dan informasi baru untuk dimaknai dan dikaji secara mendalam dan penuh pertimbangan dan kehati-hatian sebelum memutuskan suatu langkah selanjutnya (Dewey, 1933; Xie, 2007). Pembelajaran reflektif memungkinkan pengembangan pribadi yang efektif, mengembangkan masa depan dan mengaplikasikan tindakan dengan suatu rumusan bahwa belajar dipengaruhi oleh adanya interaksi dengan kelompok lain melalui dialog, percakapan, komunikasi guna memberi pemahaman dan pengalaman baru (Moon 2004; Stroobants, Chambers, & Clarke, 2007). Menurut Bard (2014:1), pembelajaran reflektif yaitu menerapkan pemikiran sistematis dengan membuat pertanyaan, serta mengumpulkan data serta menganalisisnya. Adapun Lailiyah dkk (2013) menyatakan bahwa pembelajaran reflektif membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna, sebab pembelajaran ini membuat siswa mampu mengubungkan pembelajarannya dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran reflektif akan memberikan hasil yang baik ketika siswa berpikir tentang apa yang dilakukan sebelumnya, apa yang sedang dilakukan, dan sesudah pengalaman pembelajaran. Intinya bahwa setiap kegiatan proses belajar mengajar dibutuhkan refleksi sehingga peserta didik memiliki kemampuan untuk menganalisis pengalaman pribadi belajarnya. Refleksi membutuhkan serangkaian proses yang melibatkan pengalaman siswa dengan pemahaman lebih, proses yang teliti dan sistematis, membutuhkan interaksi sosial dan penilaian sikap serta intelegensi personal (Prasetyo, 2015). Refleksi membantu siswa merenungkan kembali apa yang telah mereka pelajari, sehingga tidak mudah melupakan pengalaman belajarnya. Hasil penelitian Fleming dan Martin (2007) menyatakan bahwa praktek refleksi adalah teknik paling efektif dalam pengenalan komponen pengalaman belajar. Khodijah (2011) yang menyatakan bahwa peran refleksi ada tiga, yaitu : 1. Membantu restruktur kognitif dalam melakukan transformasi belajar 2. Membantu representasi belajar dan umpan baliknya melibatkan manipulasi pemahaman 3. Membantu mengembangkan pemahaman dalam penggunaan pengalaman siswa sebagai bahan pelajaran tanpa meninggalkan konteks belajar itu sendiri. Dengan demikian refleksi sangat bermanfaat bagi siswa terutama dalam meningkatkan kemampuan berfikir, sebab apa yang telah siswa lakukan dalam pembelajaran dapat dengan jelas dipahami dan direnungkan. Kualitas hasil pendidikan bergantung pada kualitas kegiatan belajar mengajar. Keberhasilan pengembangan profesional kegiatan yang dilakukan oleh guru tidak diukur dengan jumlah atau volume kegiatan diikuti oleh guru, tetapi keberhasilannya adalah diukur berdasarkan kemajuan peserta didik dalam pembelajaran. Berkaitan dnegan tugas guru, maka guru dikatakan bijaksana apabila dalam mengatasi permasalahan pembelajaran selalu melakukan refleksi setelah melakukan pembelajaran di kelas. Refleksi diri sangat penting dilakukan oleh guru karena dengan melakukan refleksi, guru akan bisa melakukan perbaikan dalam pelaksanaan tugasnya. Guru yang melakukan refleksi adalah guru yang berpikir ulang tentang pembelajaran yang telah dilakukan. Charlotte Danielson dalam bukunya “Enhancing Professional Practice: a framework for teaching (2007:169)”, menyatakan agar produktif refleksi atas pembelajaran harus sistematis dan analitis. Seorang guru tidak cukup jika hanya mengenali bahwa pembelajaran tidak berhasil melainkan juga harus mampu menentukan alasan untuk hasil dimaksud. Kunci untuk menjadi guru yang berhasil adalah memperoleh keterampilan untuk terus meningkatkan praktik seseorang; dan alat penting untuk hal ini adalah refleksi. Seorang guru yang telah melakukan refleksi diri, jika ditanya apa yang akan dilakukan jika harus mengajarkan ulang materi yang sama kepada siswa yang sama di waktu mendatang, maka guru itu dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai apa yang akan dilakukan. Hasil alami dari refleksi atas praktik pembelajaran adalah guru dapat merasakan di area mana dari pembelajaran yang paling penting untuk diperkuat. Guru harus senantiasa memperbaiki diri dalam pembelajaran agar hasil belajar siswa dapat lebih meningkat.
Mengotimalkan hasil belajar
Banyak model metakognitif termasuk beberapa variasi yang dapat diimpelentasikan penerapannya dalam pembelajaran. Menurut Wilson dan Conyers (dalam Chairani, 2016:11) dalam Fitriani (2017:13) menyatakan bahwa penggunaan metakognisi dan strategi kognitif melibatkan dua tingkat pemikiran. Pada tingkat pertama didalamnya melibatkan penerapan strategi kognitif untuk memecahkan suatu masalah. Tingkat kedua melibatkan penggunaan metakognisi untuk memilih dan memantau keefektivan pendekatan yang digunakan pada tingkat pertama Dengan memanfaatkan kemampuan kognitifnya menurut Wilson dan Conyers dalam chairani (2016), peserta didik dapat: mempertahankan pandangan optimisme praktis tentang kinerja belajar mereka; menyusun tujuan belajar dan rencana untuk meraihnya; memfokuskan perhatian selektif mereka dan mengoptimalkan memori kerja; memantau kemajuan belajar mereka; dan menerapkan pengalaman belajar mereka pada mata pelajaran inti dan dalam kehidupan pribadi mereka. Untuk mendapatkan kesuksesan belajar yang luar biasa, guru harus melatih siswa untuk merancang apa yang hendak dipelajari, memantau kemajuan belajar siswa, dan menilai apa yang telah dipelajari. Ada 3 tahap metakognitif yang dapat dikembangkan untuk meraih kesuksesan belajar siswa, Diantaranya: (1), Tahap proses sadar belajar, meliputi proses untuk menetapkan tujuan belajar, mempertimbangkan sumber belajar yang akan dan dapat diakses (contoh: menggunakan buku teks, mencari buku sumber di perpustakaan, mengakses internet di lab. komputer, atau belajar di tempat sunyi), menentukan bagaimana kinerja terbaik siswa akan dievaluasi, mempertimbangkan tingkat motivasi belajar, menentukan tingkat kesulitan belajar siswa. (2). Tahap merencanakan belajar, meliputiproses memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas belajar, merencanakan waktu belajar dalam bentuk jadwal serta menentukan skala prioritas dalam belajar, mengorganisasikan materi pelajaran, mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk belajar dengan menggunakan berbagai strategi belajar. (3). Tahap monitoring dan refleksi belajar, meliputiproses merefleksikan proses belajar, memantau proses belajar melalui pertanyaan dan tes diri (self-testing), seperti mengajukan pertanyaan, apakah materi ini bermakna dan bermanfaat bagi saya? Bagaimana pengetahuan pada materi ini dapat saya kuasai?, mengapa saya mudah/sukar menguasai materi ini?), menjaga konsentrasi dan motivasi tinggi dalam belajar. Strategi metakognisi merupakan suatu usaha memaksimalkan kemampuan berpikir bernalar, dan berwawasan yang bermakna dengan memori yang kita miliki. Mengembangkan metakognitif pada dasarnya adalah meningkatkan proses berpikir seseorang untuk mengontrol apa yang dipikirkannya, apa yang dikerjakannya, berkenaan dengan tugas yang diberikan, apakah telah memenuhi tuntutan yang diminta dari tugas tersebut atau belum. Dalam pembelajaran Reflektif menurut Perkins (1992) merupakan level tertinggi dalam strategi metakognitif. Adapun langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan diantaranya sebagai berikut. (1). Pre-assessment (Self Assessment). Guru menulis beberapa pertanyaan terkait materi sebelumnya, minta siswa untuk menuliskan pada selembar kertas tanpa menulis nama. Pertanyaan terkait tentang topik, kendala, tantangan, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Minta siswa untuk mendiskusikan mengapa kendala muncul, pemecahan masalahnya, dan apa yang akan dilakukan jika berada pada situasi yang sama. (2). Jurnal Refleksi, Setiap akhir pembelajaran, siswa diminta menulis refleksi singkat dengan pertanyaan-pertanyaan panduan seperti apa yang sudah dipelajari, apa yang belum dimengerti, mengapa tidak dipahami, apa yang perlu dilakukan untuk selanjutnya, bagaimana perasaannya ketika memperlajari materi tersebut, dan seterusnya. (3). Model KWL, KWL singkatan dari (Know, Want to learn, Learned). Langkah-langkahnya adalah pada awal pembelajaran siswa diminta membuat tabel yang berisi 3 kolom yang berisi Apa yang diketahui (Know), Apa yang ingin dipelajari (Want), Apa yang telah dipelajari (Learned). Diawal pembelajaran siswa mengisi kolom Know dan Want. Selanjutnya, pada akhir pembelajaran, minta siswa untuk merefleksikan apa yang sudah dipelajari di kolom Apa yang sudah dipelajari (Learned). (4). Perangkat Organisasional, Perangkat organisasional bisa berupa check list, rubrik, atau peta konsep. Siswa diminta mengisi refleksi berupa check list, rubrik, atau peta konsep terkait refleksi pembelajaran. (5). Thinking Aloud, tekhnisnya yakni disela-sela pembelajaran, guru dapat secara periodik menanyakan kepada siswa tentang apa yang telah diketahui atau dipelajari, jika siswa kebingungan, tanyakan apa yang tidak dipahami dan mengapa. Minta mereka memecahkan masalahnya sendiri disesuaikan dengan pengalaman masing-masing. (6). Model Pembelajaran Eksplisit, model pembelajaran eksplisit dapat berupa langkah-langkah atau siklus pembelajaran (teaching and learning cycle) yang secara eksplisit diajarkan pada siswa. Banyak kalangan menyatakan bahwa pengalaman siswa adalah inti dari strategi metakognitif. Apabila prinsip-prinsip dan langkah-langkah pembelajaran metakognitif diterapkan dengan konsisten, kecenderungan siswa untuk mengoptimalkan hasil belajarnya dapat ditingkatkan. Metakognitif memiliki peranan strategis dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran reflektif serta dengan signifikan dapat mengoptimalkan hasil belajar peserta didik bila diimpelemntasikan dengan baik dan benar. Semoga bermanfaat. (*****).
Rujukan:
1. Azevedo, Roger. (2013). International Handbook of Meta-cognition and Learning Technologies (Springer). Amsterdam.
2. Chiu, M.-H., & Duit, R. (2011). Globalization: Science Education from an International Perspective. Journal of Research in Science Teaching, 48, 553–566. https://doi.org/10.1002/tea.20427
3. Cross, D.R., & Paris, S.G. (1988). Developmental and instructional analyses of children’s metacognition and reading comprehension. Journal of Educational Psychology, 80(2), 131-142.
4. Erskine, D. L. (2010). Effect of prompted reflection and metacognitive skill instruction on university freshmen’s use of metacognition. Brigham Young University, Hawaii.
5. Perkins, D. (1992). Smart School: Better Thinking and Learning for Every Child. New York: Free Press.
6. Zulfahnur, R., Winarti, A., & Syahmani. (2020). Model pembelajaran debat aktif berbasis ICT pada materi koloid dan keterampilan berpikir kritis siswa. Journal of Chemistry Education, 4(1), 7–15.


























Komentar