Oleh: Nelson Sihaloho
Sebagaimana kita ketahui bahwa Kurikulum Prototipe diberikan sebagai opsi tambahan terhadap satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Berkaitan dengan hal itu pula maka kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran. Kurikulum yang masih prototipe tersebut sedang diterapkan dengan terbatas pada 2500 sekolah di seluruh Indonesia melalui Program Sekolah Penggerak.
Era sekarang yang identic dengan abad 21 maka peralihan dan penyesuaian terhadap kurikulum perlu dilakukan. Tuntutan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas merupakan tuntutan alamiah yang tidak bisa dielakkan. Negara maju (advanced countries) telah memiliki SDM unggul akan semakin jauh meninggalkan negara terbelakang (under developing counties). Karena itu Kurikulum Prototipe sebagai kelanjutan arah pengembangan kurikulum sebelumnya diharapkan lebih menekankan pada pengembangan kompetensi abad 21. Keterampilan yang dibutuhkan pada abad 21 meliputi kecakapan hidup berkarir (life and career skills), keterampilan belajar dan berinovasi (learning and innovation skills) dan keterampilan teknologi dan media informasi (information media and technology skills).
Guru sebagai fasilitator pendidikan sangat penting membekali peserta didik dengan kemampuan fundamental skills. Fundamental skills atau kemampuan dasar adalah kemampuan yang wajib dimiliki oleh setiap individu dan akan sangat berperan penting terhadap individu untuk bisa menjalani kehidupannya. Kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh setiap individu, yaitu literasi, numerasi dan sains.
Bahkan dua diantaranya, yaitu literasi dan numerasi menjadi hal yang diujikan dalam asesmen nasional. Tentu ini membuat keberadaan fundamental skills semakin penting untuk dikuasai.
Kata kunci: Peserta Didik, Fundamental Skills, Abad 21
Pergeseran Paradigma Global
Parag Kahnna (2018) sebagaimana tulisannya diterbitkan pada New York Times Magazine (21/1/2018) dengan jelas mengatakan bahwa dunia abad ke-21 akan dikuasai oleh “Big Three”, yakni Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China. Negara lain yakni emerging market disebutnya sebagai second world yang bernasib sebagai tempat persaingan dan pertarungan “Big Three”. Penelitian Sahin (2009), menyatakan bahwa saat memasuki abad ke-21 kita akan mengalami perubahan besar-besaran seiring dengan adanya pergeseran global paradigma. Perubahan tersebut misalnya cara hidup, pekerjaan, pola bermasyarakat serta bagaimana pandangan dan keteraturannya. Miliken, (2004), menyatakan bahwa banyaknya perubahan dalam bidang ekonomi, politik, informasi, komunikasi, dan teknologi juga tentu akan berpengaruh besar dalam pendidikan.
Di abad 21 guru memiliki peran besar dalam mengarahkan dan membimbing peserta didiknya. Termasuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik serta mampu menguasai beberapa keterampilan yang diharapkan dapat mempersiapkan diri mereka mengarungi kehidupannya kelak. Karena itu Kurikulum Prototipe diharapkan mampu mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas terhadap pengembangan karakter dan kompetensi dasar. Kurikulum prototipe (2022) sebagaimana Pemaparan Kemendikbud memiliki beberapa karakteristik utama. Yakni,(1), Pembelajarannya di rancang berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter (iman, taqwa, dan akhlak mulia; gotong royong; kebinekaan global; kemandirian; nalar kritis; kreativitas). (2). Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. (3). Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.
Pembelajaran berbasis projek penting untuk pengembangan karakter. Sebab akan memberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning). Mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu. Struktur belajar yang fleksibel, pembelajaran yang mendalam (diskusi, kerja kelompok, pembelajaran berbasis problem dan projek,) membutuhkan waktu. Materi yang terlalu padat akan mendorong guru untuk menggunakan ceramah satu arah atau metode lain yang efisien dalam mengejar ketuntasan penyampaian materi. Kurikulum prototipe berfokus pada materi esensial di tiap mata pelajaran, untuk memberi ruang/waktu bagi pengembangan kompetensi, terutama kompetensi mendasar seperti literasi dan numerasi dengan lebih mendalam.
Pergeseran paradigma global dalam pola berfikir yaitu dari pola berfikir yang bersifat komplementalistik dan fragmentalistik kepada pola berfikir yang bersifat holistik. Kehadiran teknologi, tugas seorang guru terasa lebih ringan, sebab bisa dijadikan media alat bantu dalam memperjelas dan mempermudah dalam kegiatan belajar mengajar.Misalnya untuk memperoleh sumber belajar, guru tinggal memberi arahan kepada peserta didik untuk mengakses materi di internet. Abad ke-21, sebagai abad yang dilandasi konsep universal gifttedness, adalah abad yang memiliki kemungkinan menciptakan peradaban yang di dalamnya dihuni oleh masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang memiliki kemampuan tidak terbatas (unlimited capacity). Paradigma baru pendidikan harus didasarkan atas asumsi bahwa manusia memiliki kemampuan tidak terbatas untuk belajar (limitless capacity to learn). Paradigma baru pendidikan harus diarahkan pada pengembangan kepribadian peserta didik. Dalam abad 21 akan lebih dikuasai oleh perkembangan ilmu dan teknologi yang makin canggih berpadu dengan ilmu sosial dan humaniora.
Ketrampilan Siswa di Abad 21
Peserta didik di abad 21 dituntut utuk memiiki ketrampilan sesuai dengan tuntutan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Peserta didik di abad 21 dituntut untuk memiliki 12 keterampilan dalam menghadapi era informasi. Mengutip pendapat Stauffer membagi 12 keterampilan itu dibagi menjadi 3 kategori. Learning Skills terdiri 4 keterampilan yaitu Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication. atau dikenal dengan Keterampilan 4C. Literacy Skills terdiri dari 3 keterampilan yaitu Information, Media, dan Teknologi. Disingkat dengan Keterampilan IMT. Life Skill’s terdiri dari 5 keterampilan yaitu Flexibility, Leadership, Initiative, Productivity dan Social skills’ dikenal dengan keterampilan FLIPS. Dengan rinci ke 12 keterampilan tersebut yakni . Critical thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Information literacy, Media literacy. Kemudian Technology literacy, Flexibility, Leadership, Initiative, Productivity serta Social skills. Sekait dengan itu karakteristik pembelajaran Abad 21 menggambarkan proses menuju tercapainya kompetensi-kompetensi inti. Diantaranya keterampilan berpikir kritis (critical thinking), penyelesaian masalah (problem solving), kreatifitas (creativity), komunikasi dan kerjasama (communication and teamwork). Kemampuan sains juga sangat penting sebagai media untuk mengembangkan sikap positif seperti rasa ingin tahu (curiosity), inisiatif (initiative), gigih (persistence), kemampuan beradaptasi (adaptability), kepemimpinan (leadership) dan kepedulian sosial dan budaya (social and cultural awareness). pengalaman saintifik siswa dan kesempatan untuk mengerti, memahami, serta memaknai. Berdasarkan laporan berjudul “Skills Matter” yang dirilis OECD pada tahun 2016, berdasarkan tes PIAAC, tingkat literasi orang dewasa Indonesia berada pada posisi terendah dari 40 negara yang mengikuti program ini. Dalam pendidikan, globalisasi memberi pengaruh kuat terhadap kebijakan, praktik, dan kelembagaan pendidikan. Pendidikan diarahkan untuk menyiapkan manusia dalam dunia kerja. Steger: Kebijakan nasional pendidikan dirancang untuk merespons tuntutan pasar bebas (neoliberal market) dan lembaga pendidikan mempunyai misi memberikan keterampilan-keterampilan baru (Steger: 2001; Sholte: 2000). Kegiatan pembelajaran hendaknya memberi peserta didik bekal yang diperlukan untuk hidup berdampingan dengan mereka yang berlatar belakang sosio-kultural, politik, ideologi dan agama yang beragam. Pada sisi lain, pembelajaran membantu mengukuhkan sense of identity dalam keragaman afi liasi pandangan, paham, atau ideologi (Burbules dan Torres: 2000). Menurut Douglas Bourn (2018), terdapat beberapa keterampilan global; pertama, mampu melihat hubungan antara apa yang ada dalam komunitas kecil dan masyarakat lebih luas dalam konsep global village. Dengan konsep itu pula, seseorang perlu memahami relasinya dengan orang lain, termasuk kesamaan dan perbedaan gaya hidup. Kedua, memahami apa yang dimaksud dengan hidup dan bekerja dalam masyarakat global dan memiliki pandangan global, yakni menghargai, mendengar, dan mengapresiasi perspektif orang lain. Ketiga, kemampuan memahami dampak dari kekuatan global terhadap kehidupan dirinya dan orang banyak, serta apa yang dimaksud merasa betah di dunia ini (sense of place). Keempat, memahami arti dan bagaimana sebaiknya ICT digunakan dalam pengertian melakukan self-reflexive dan kritis, mempertanyakan, melakukan seleksi, dan melihat lebih jauh di balik informasi yang disampaikan melalui berbagai media. Kelima, terbuka untuk terus-menerus melakukan swarefleksi, dialog secara kritis, mempertanyakan asumsi; self-doubt dan menanyakan cara pandang seseorang tentang dunia. Keenam, mampu bekerja dengan orang lain yang memiliki pandangan dan perspektif berbeda, siap mengubah pendapat dirinya sebagai bagian kerja sama dengan orang lain, mengusahakan kerja sama dan partisipatori dalam bekerja, (mengembangkan kemampuan untuk masuk dan terlibat secara imajinatif, kognitif, efektif, dan sikap dalam budaya orang lain). Ketujuh, percaya diri, yakin, dan siap mengusahakan dunia yang lebih nyaman dan lestari, yang merupakan kebutuhan untuk menghubungkan pengembangan skill partisipasi dalam masyarakat dengan membangun masyarakat yang lebih demokratis dan partisipatori.
Mengarungi Era Society 5.0
Era super smart society (society 5.0) diusulkan oleh pemerintah Jepang pada tahun 2019. Jepang melihat perubahan bahwa yang terjadi pada revolusi industri 4.0 yang dianggap akan menimbulkan degradasi manusia. Kemudian Jepang mengusulkan era society 5.0 dibuat sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Diperlukan tiga skill utama dalam menghadapi era society 5.0. Diantaranya (1)skill memecahkan masalah kompleks dan menjadi problem solver bagi diri sendiri serta orang banyak. (2) Skill untuk berpikir kritis dan berempati dalam kehidupan kemasyarakatan dan lingkungan sekitar. (3)Skill berkreativitas. Perkembangan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan manusia semakin pesat itu menyadarkan kita betapa Iptek akan terus berkembang dengan dinamis. Mulai dari digitalisasi hingga artificial intelligence atau kecerdasan buatan telah menguasai hampir semua kehidupan manusia. Era Society 5.0 menempatkan manusia sebagai komponen utamanya. Era Society 5.0 mempersyaratkan tiga kemampuan utama yang perlu dimiliki setiap individu, yaitu: creativity, critical thinking, communication and collaboration. Karena itu SDM Indonesia harus memiliki keterampilan dasar teknologi digital dan mindset atau pola pikir kreatif. Sebab prasyarat kompetensi di abad ke-21 berfokus pada kemampuan problem solving, kolaborasi, berpikir kritis, dan kemampuan kreatifitas. Pendidikan memegang peranan penting dalam menyongsong smart society 5.0. Kareba itu empat kompetensi wajib diberikan dalam pembelajaran, yaitu knowledge, skills, attitude dan value. Knowledge dan skill berhubungan erat dengan kompetensi siswa, sedangkan attitude dan value berkaitan dengan pembentukan karakter siswa. Termasuk metode pembelajaran dalam dunia pendidikan kedepan akan semakin ditantang untuk banyak berkreasi dan berkontribusi terhadap peningkatan ketrampilan peserta didik. Perubahan pola kurikulum termasuk Kurikulum Prototipe harus ditekankan pada minat dan skill. Kebebasan belajar merupakan kunci perubahan pendidikan dalam menghadapi era society 5.0. Kebebasan belajar para siswa diharapkan mampu merubah pendidikan kita ke masa depan yang lebih berkualitas.
Karena itu kebutuhan dalam mengelola kepribadian individu dan kemampuan mendidik yang baik merupakan bagian tidak terpisahkan dari tugas guru.
Karena itu kita harus bisa melakukan percepatan agar mampu memaksimalkan potensi peserta didik yang mereka miliki. Mereka yang mampu beradaptasilah kelak yang akan bisa bertahan dan survive di masa depan. Penting kita cermati bahwa teknologi dan pikiran manusia ibarat perlombaan saling susul-menyusul berebut untuk menjadi yang terdepan. Begitu pula dengan Society 5.0, Society 5.0 adalah suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based). Society 5.0 merupakan era semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri, internet bukan hanya digunakan untuk sekadar berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan. Forbes (2018) menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan satu dari tujuh kemampuan yang tidak akan tergantikan oleh Artificial Intelligence (AI) dan robot sejenisnya. Di era society 5.0 informasi akan menyebar dengan cepat sejalan dengan mobilisasi manusia dan pergerakan teknologi.
Begitu juga dengan pendidikan kita, kini telah masuk kedalam era society 5.0, dimana era ini menawarkan masyarakat yang berpusat pada keseimbangan. Masyarakat 5.0 bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang berpusat pada manusia di mana pembangunan ekonomi dan penyelesaian tantangan masyarakat tercapai. Konsep society 5.0 hadir untuk dapat menyelesaikan permasalahan masyakarat di seluruh dunia, dimana kapitalisme ekonomi, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi belum mampu untuk menciptakan masyarakat yang dapat bertumbuh dan berkembang dengan merdeka dan dapat menikmati hidup sepenuhnya. Karena itu konsep society 5.0 merupakan jawaban terhadap permasalahan tersebut dengan tujuan keadilan, kemerataan, kemakmuran bersama sehingga dapat menciptakan supersmart society. Tantangan Pendidikan di masa depan sangat komplek, diantaranya ; (1) implikasi revolusi Industri 4.0 ke 5.0; (2) masalah lingkungan hidup; (3) kemajuan teknologi informasi; (4) konvergensi ilmu dan teknologi; (5) ekonomi berbasis pengetahuan; (6) kebangkitan industri kreatif dan budaya; (7) pergeseran kekuatan ekonomi dunia; (8) pengaruh dan imbas teknosains; (9) mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan. Society 5.0 memiliki konsep teknologi big data yang dikumpulkan oleh Internet of things (IoT) (Hayashi) diubah oleh Artifical Inteligence (AI) (Rokhmah, 2019) (Özdemir, 2018) menjadi sesuatu yang dapat membantu masyarakat sehingga kehidupan menjadi lebih baik (Mathews, 2015). Society 5.0 akan berdampak pada semua aspek kehidupan. Society 5.0 menjadi konsep tatanan kehidupan yang baru untuk masyarakat. Melalui konsep society 5.0 kehidupan masyarakat diharapkan akan lebih nyaman dan berkelanjutan. Era masyarakat 5.0 guru dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas serta membekali peserta didik dengan fundamental skills Abad 21. Penerapan pancasila sebagai nilai fundamental bangsa harus tetap dijiwai serta melekat dalam menghadapi peradaban era society 5.0. Materi-materi pembelajaran /masalah harus diperbanyak diberikan dalam pembelajaran agar peserta didik terbiasa memecahkan masalah dalam kehidupan nyata. Semoga bermanfaat. (*****).
Rujukan:
1. Fukuyama, M. (2018). Society 5.0: Aiming for a New Human-Centered Society. Japan SPOTLIGHT, 47-50.
2. Hartana, I. (2016). Integritas dan komitmen dalam bekerja. Diakses dari: https://ot.id/tipsprofesional/ integritas-dankomitmen-dalam-bekerja
3. Naim, NG. & Sauqi, A. 2008. Pendidikan Multikultural, Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Arruz Media Group
4. Silfia, M. (2018) penguatan pendidikan karakter dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. In: TANTANGAN yang dihadapi dalam duni pendidikan dan social studies diera revolusi industri 4.0, Desember 2018, Digital Library UNIMED.
5. Treadwell, M. (2011). Whatever Happened? dalam Wang, G & Gut, G. Bringing schools into the 21st century. New York: Springer Sci.





















Komentar