oleh

Ekspektasi Guru, Perubahan Mindset dan Pengembangan Potensi Siswa

Oleh:Nelson Sihaloho
Guru SMPN 11 Kota Jambi

Abstrak:

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) berkembang terus dengan dinamis. Untuk mensinkronkan perkembangan Iptek yang dinamis itu maka kurikulum pendidikan pun harus dimodernisasi serta disinkronkan. Kurikulum berisi tentang kondisi atau suatu rencana maupun program yang dirancang dengan sistematis atas dasar norma-norma yang berlaku. Selanjutnya dijadikan pendoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran oleh tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Menghadapi era globalisasi, era industry 4.0 serta era society 5.0 tentunya guru akan dihadapkan pada kompleksitas berbagai permasalahan dalam menjalankan tugas profesionalismenya. Salah satu upaya yakni dengan menumbuhkan ekspektasi terhadap siswa agar bisa mengoptimalkan harapannya dalam menghadapi era globalisasi. Menumbuhkan ekspektasi berarti memacu siswa untuk selalu konsisten dengan tugas-tugas belajar yang sedang dihadapinya. Guru wajib terus memotivasi, mendorong serta mengoptimalisasi kondisi atmosfer belajar yang menyenangkan dan strategi pantang menyerah terhadap peserta didik.
Pembelajaran menyenangkan merupakan atmosfer yang harus dikembangkan oleh guru professional. Sebab selain merupakan syarat keberhasilan dalam proses pembelajaran juga akan terbangunnya suasana yang hidup dan tidak membosankan pada  siswa dalam setiap pengalaman belajar (learning experience) nya. Seiring perkembangan teori belajar, pandangan tentang IQ juga bergeser. Para ahli pendidikan mulai menemukan hal-hal lain sebagai faktor determinan keberhasilan anak belajar. Salah satu faktor penentu keberhasilan belajar siswa adalah tinggi rendahnya ekspektasi guru terhadap peserta didik. Menghadapi era globalisasi dimasa mendatang maka guru perlu melakukan perubahan Mindset tentang pembelajaran. Mindset siswa tidak akan berkembang apabila guru tidak memberi informasi baru dan mencerahkan. Selain itu guru harus senantiasa learn-unlearn-relearn sebagai upaya konkrit dalam mengembangkan mindset peserta didik.
Kata kunci: ekspektasi, guru, peserta didik

Ekspektasi Guru

Tugas utama guru dalam pembelajaran adalah mengantarkan peserta didik pada prestasi terbaiknya sesuai dengan potensinya. RL. Kahn dan NC Morce (1951: 264) secara singkat mengemukakan pendapatan mereka tentang expectation, yakni Expectation which is the probability that the act will obtain the goal. Arthur levingson dalam buku Vilfredo Pareto (1953: 178) menyatakan : The individual is influenced in his action by two major sources of role expectation the formal demands made by the company as spalled out in the job, and the informal expectation forces make behavioral demans on the individual attemps to structure the social situation and the devine his place in it. Mengutip pendapat Victor Vroom, Cut Zurnali (2004) mengemukakan bahwa ekspektasi adalah adanya kekuatan dari kecenderungan untuk bekerja secara benar tergantung pada kekuatan dari pengharapan bahwa kerja akan diikuti dengan pemberian jaminan, fasilitas dan lingkungan atau outcome yang menarik.Selanjutnya Ninda (2009) mengatakan bahwa ekspektasi guru merupakan kekuatan dari suatu kecenderungan guru untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung dari kekuatan suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh siswa sehingga menghasilkan suatu keluaran tertentu dan pada daya tarik keluaran tertentu bagi seorang siswa. Ekspektasi guru merupakan faktor penting bagi siswa dalam menghadapi segala tugasnya dengan baik (resiliensi) sehingga dapat dikatakan resiliensi seorang siswa tinggi karena harapan dari seorang guru dan realistis merupakan motivator yang efektif bagi siswa. Hasibuan (2011) menjelaskan ekspektasi guru adalah kesempatan yang diberikan oleh guru terjadi karena perilaku, harapan merupakan probabilitas yang mempunyai nilai berkisar antara nilai nol yang berarti tidak ada kemungkinan, hingga nilai satu yang berarti kepastian. Nilai adalah dari akibat tertentu berupa motivasi yang diberikan guru pada siswa. Siswa perlu tahu dengan tepat apa yang diharapkan akan mereka lakukan, bagaimana mereka akan di evaluasi, dan apa saja nantinya konsekuensi keberhasilan yang akan didapatnya (Slavin, 2009). Sejumlah studi tentang harapan menunjukkan bahwa harapan yang tinggi berhubungan positif dengan motivasi dan prestasi yang tinggi sehingga dapat membantu siswa menjadi resilien (Hoy & Miskel, dalam Desmita, 2016). Guru yang memiiki harapan tinggi, dapat mengatur dan mengendalikan tingkah laku serta memberikan tantangan yang lebih berat untuk mengguji resiliensi siswa apakah mereka percaya bahwa mereka dapat menghadapinya (Delpit, dalam Desmita, 2016). Keyakinan siswa bahwa dirinya mampu dan siswa menghargai tinggi keberhasilan akademis, kalau digabung bersama-sama lebih berperan penting dari pada kemampuan siswa yang sesungguhnya dalam memprediksi pencapaian dirinya. Sebagaimana pandangan dikotomi tentang peran IQ banyak dipengaruhi oleh keyakinan bahwa intelegensia atau kecerdasaan seseorang bersifat tetap (fixed). Namun di sisi lain banyak ahli melihat kecerdasan sifatnya dinamis dan berubah (malleable). Seiring perkembangan teori belajar, maka pandangan tentang IQ juga bergeser. Para ahli pendidikan mulai menemukan hal-hal lain sebagai faktor determinan keberhasilan anak belajar. Salah satu faktor penentu keberhasilan belajar siswa yakni tinggi-rendahnya ekspektasi guru terhadap anak. Merujuk pendapat Marzano, R. J (2007) dalam hasil risetnya yang ditulis dalam buku The Art and Science of Teaching: A Comprehensive Framework for Effective Instruction menyebutkan bahwa keyakinan seorang guru tentang keberhasilan belajar siswanya di sekolah mempengaruhi relasi dan aktifitas guru tersebut kepada siswanya, yang pada gilirannya juga mempengaruhi prestasi belajar siswa (student achievement) tersebut. Dalam pandangan Marzano juga menyatakan bahwa, apabila si guru percaya bahwa siswanya dapat berhasil (high expectation) maka guru itu akan berperilaku sedemikian rupa untuk membantu keberhasilan siswanya. Apabila guru meyakini (believe) bahwa siswa tersebut tidak akan berhasil (low expectation) maka cara berpikir dan cara berperilaku guru itu juga cenderung menuntunnya untuk tidak mau mendukung atau sekurang-kurangnya tidak memfasilitasi anak tersebut untuk berhasil. Dengan memperoleh prestasi tinggi diharapkan siswa dapat menjaga nama baik sekolah, serta dapat bersaing dengan sekolah lainnya. Untuk bersaing dengan sekolah lainnya dibutuhkan siswa yang mandiri dan dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah yang dibuatnya belajar. Kemandirian dan penyesuaian diri erat kaitannya dengan kondisi masa remaja ataupun siswa yang baru memasuki jenjang sekolah yang ditempuhnya. Riset tentang harapan guru terhadap siswa pada umumnya menemukan bahwa siswa berperilaku sesuai dengan (atau di bawah) harapan yang dimiliki guru terhadap siswa.

Mindset
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan mindset maka perlu diselidiki arti yang sesungguhnya. Mindset terdiri dari kata mind dan set dimana mind diartikan sebagai sumber pikiran dan memori yang menghasilkan perasaan, pikiran, ide dan penyimpan pengetahuan. Adapun kata set mempunyai arti mendahulukan peningkatan kemampuan dalam suatu kegiatan. Menurut Mulyadi (2007:14) mindset adalah sikap mental mapan yang dibentuk melalui pendidikan, pengalaman dan prasangka. Adapun Gunawan (2007:14) mindset adalah beliefs that affect somebody’s attitude; a set of beliefs a way of thinking that determine sombebody’s behavior and outlook. Kepercayaan-kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang; sekumpulan kepercayaan atau suatu cara berpikir yang menentukan perilaku dan pandangan, sikap dan masa depan seseorang. Adapun Adi W Gunawan dalam Rachmat Soegiharto (2013) mengartikan Mindset adalah sekumpulan kepercayaan (belief) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang, yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya. Menurut Carol Dweck (2006: 20-21) terdapat dua macam mindset: (1) mindset berkembang (growth mindset) yaitu mindset yang mendasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas dasar seseorang dapat diolah, berubah dan berkembang melalui perlakuan, pengalaman dan upaya-upaya tertentu. (2) mindset tetap (fixed mindset) didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas-kualitas seseorang sudah ditetapkan. Ciri-ciri dari orang yang mempunyai mindset tetap yakni mempunyai keyakinan bahwa intelegensi, bakat, sifat adalah sebagai fungsi hereditas/keturunan. Menghindari suatu tantangan, mudah menyerah, beranggapan usaha tidak ada manfaatnya. Mengesampingkan kritik serta merasa terancam dengan suksesnya orang lain. Adapun ciri-ciri dari orang dengan mindset berkembang (growth mindset) yakni mempunyai keyakinan bahwa intelegensi, bakat dan sifat bukan merupakan fungsi, hereditas/keturunan. Menerima tantangan dan serius menjalankannya, tetap memandang ke depan dari kegagalan. Mempunyai pandangan posittif terhadap usaha, belajar dari kritik serta menemukan pelajaran dan memperoleh inspirasi dari kesuksesan orang lain. Sejalan dengan hal tersebut maka konstruksi mindset peserta didik akan tumbuh apabila pembelajaran mengedepankan konsep konstruktivisme. Sebagaimana kita ketahui bahwa konstruktivisme memiliki prinsip-prinsip bahwa pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial. Kemudian pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktiffan siswa sendiri menalarkannya. Siswa aktif mengkonstruksi terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep. Guru hanya sekadar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi berjalan mulus serta berkesinambungan.

Mindset Menjadi Potensi

Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan teknologi telah mengubah dunia, termasuk dalam pendidikan, teknologi terus berkembang serta perlu dipersiapkan lulusan yang kompeten. Belajar bukanlah proses untuk menjadikan siswa sebagai ahli pada mata pelajaran tertentu. Siswa lebih membutuhkan pengalaman dalam belajar, bukan pengetahuan. Karena itu, kompetensi guru menjadi syarat utama tercapainya kualitas belajar yang baik. Guru yang kompeten akan meniadakan problematika belajar akibat kurikulum. Kompetensi guru harus berpijak pada kemampuan dalam mengajarkan materi pelajaran dengan menarik, inovatif, dan kreatif yang mampu membangkitkan gairah siswa dalam belajar. Hingga saat ini sudah terlalu banyak diskusi tentang teori-teori untuk memajukan pendidikan. Terlalu banyak berdebat tentang pelaksanaan kurikulum hingga bentuk program pendidikan lainnya. Karena itu perubahan mindset harus dilakukan untuk meningkatkan potensi peserta didik. Mindset adalah pola pikir yang bisa menentukan kesuksesan seseorang. Memahami mindset adalah salah satu cara dasar mengenali diri sendiri. Mindset adalah pemikiran yang bisa memengaruhi apa yang akan dicapai. Mindset merupakan penentu apakah seseorang bisa atau tidak menghadapi sesuatu. Pola pikir demikian akan memengaruhi cara berpikir, merasa, dan berperilaku dalam situasi apa pun. Salah satu peran penting mindset adalah seseorang individu menentukan pengambilan keputusan. Penelitian Carol Dweck, memberikan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa kunci cara berpikir, merasa, dan berperilaku bukan tentang kemampuan, tetapi keyakinan orang tentang kemampuan mereka. Keyakinan mempengaruhi perilaku, kinerja, dan apakah mereka akan mencapai yang terbaik. Mengacu pada hal tersebut bahwa setiap anak memiliki bakat dan potensi masing-masing yang tidak akan sama satu sama lain. Sekolah harus mampu mengoptimalkan bakat dan potensi peserta didik. Diantaranya merancang berbagai aktifitas yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik meraih potensi terbaiknya. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdinas) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan. Untuk membuktikan bahwa siswa telah menguasai materi yang diajarkan oleh guru, maka guru kemudian mengadakan tes atau ulangan. Hasil dari pekerjaan siswa itulah yang dijadikan pedoman untuk menetapkan apakah siswa telah menguasai materi pelajaran atau belum. Guru diharapkan dapat memahami konsep perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik, tahapan, prinsip-prinsip dan implementasinya terhadap pendidikan. Guru juga diharapkan dapat memahami konsep potensi peserta didik dan pengembangannya serta menentukan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik itu sendiri. Tugas utama guru dalam pembelajaran adalah mengantarkan peserta didik pada prestasi terbaiknya sesuai dengan potensinya. Jadi hal pertama yang perlu dipahami adalah bagaimana karakteristik peserta didik asuhannya dan cara mengembangkan potensinya. Informasi mengenai karakteristik peserta didik dalam berbagai aspek menjadi satu acuan dalam menentukan kedalaman dan keluasan materi sehingga sesuai dengan perkembangan peserta didik. Tujuan pembelajaran hakekatnya adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan potensinya dengan optimal. Dengan memahami potensi peserta didik, guru dapat memberi gambaran yang tepat tentang kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan peserta didiknya. Perlu diketahui bahwa setiap peserta didik dianugerahi potensi (potential ability) atau kapasitas (capacity). Menurut Syaodih (2007:159) kecakapan potensial merupakan kecakapan-kecakapan yang masih tersembunyi, masih kuncup belum terwujudkan, dan merupakan kecakapan yang dibawa dari kelahiran. Potensi merupakan kecakapan yang masih tersembunyi atau yang masih terkandung dalam diri peserta didik, maka guru sebaiknya memiliki kemauan dan kemampuan mengidentifikasi potensi yang dimiliki peserta didik yang menjadi siswa asuhnya, kemudian membantu mengembangkan potensi peserta didik dengan optimal. Umumnya potensi terdiri dari dua bagian yakni potensi fisik dan potensi psikologi. Potensi psikologis berkaitan dengan kecerdasan atau inteligensi (intelligence), bakat (aptitude), dan kreativitas. Kecerdasan diantaranya adalah kecerdasan umum (kemampuan intelektual) dan kecerdasan majemuk. Potensi fisik berkaitan dengan kondisi dan kesehatan tubuh, ketahanan dan kekuatan tubuh, serta kecakapan motorik.
Chayyi Fanani (2003) menyatakan pengembangan potensi diri adalah pengembangan segala potensi yang ada pada diri sendiri, dalam usaha meningkatkan potensi berfikir dan berprakarsa serta meningkatkan kapasitas intelektual yang diperoleh dengan jalan melakukan berbagai aktivitas. Adapun Marmawi (2009), pengembangan diri adalah suatu proses meningkatkan kemampuan atau potensi, dan kepribadian, serta sosial-emosional seseorang agar terus tumbuh dan berkembang. Di era globalisasi, era industry 4.0 dan era Sosciety 5.0 kemampuan TIK guru menjadi persyaratan utama dalam pembelajaran abad ke-21 yang menjadikan literasi digital dan informasi sebagai fondasi dasar pembelajaran. Karena itu ekspektasi guru juga memiliki relevansi yang signifikan terhadap perubahan mindset khususnya dalam pengembangan potensi siswa. Ekspektasi guru merupakan faktor penting bagi siswa dalam menghadapi semua tugas-tugasnya dengan baik sehingga guru mampu menjadi motivator yang efektif untuk siswa. Dengan perubahan mindset guru mampu menentukan level keberhasilan siswa termasuk dalam mengoptimalkan potensi siswa. Karena itu seorang guru penting memiliki ekspektasi, karena ekspektasi guru juga akan memberikan harapan dalam menjalankan tugas-tugas profesionalismenya dalam mengoptimalkan potensi siswa menjadi generasi masa depan yang kompetitif. Semoga Bermanfaat.(***).

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed