oleh

Gali Potensi Siswa dengan Revolusi Pembelajaran

Oleh:Nelson Sihaloho

 

 

AbstraK:

Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi ternasuk saat ini bersiap menghadapi kemajuan industri 4.0 dan era society 5.0.  Karena itu guru perlu mengidentifikasi karakteristik peserta didik sehingga transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) bisa berjalan dengan dinamis. Saat ini muncul berbagai metode pembelajaran salah satu  diantaranya adalah metode STEAM (Science, Technology, Engineering, Art & Mathematics).  Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran tidak hanya terbatas pada ruang kelas.  Penggalian terhadap potensi peserta didik mutlak dilakukan agar kemampuan mereka semakin terasah. Karena itu diperlukan revolusi pembelajaran termasuk strategy agar mampu meningkatkan keberhasilan maupun kompetensi peserta didik.  Peningkatan potensi maupun pengembangannya akan terbukti menjadi lebih baik tatkalan model pembelajaran yang diterapkan benar-benar berhasil. Merujuk pendapat Vanderkam (2013) menyatakan bahwa teknologi dapat menurunkan biaya operasional Pendidikan sekaligus meningkatkan hasil belajar siswa. Karena itu diharapkan teknologi akan membantu siswa untuk menggali sendiri, belajar sendiri, bahkan mengembangkan dirinya sendiri.

Kata kunci: potensi, revolusi pembelajaran

 

Perubahan Teknologi

 

Mengutip Hussin (2018) menggambarkan tentang dominasi teknologi dalam kehidupan manusia. Hussin,et,al, juga menegaskan bahwa dominasi teknologi informasi dapat mengancam dan mengambil alih peran manusia. Lingkup dominasi itu termasuk dalam bidang Pendidikan. Karena itu, dunia Pendidikan perlu mengantisipasi perubahan di bidangnya. Sebagaimana  Dave Ulrich (1998) menyatakan bahwa ada tren baru dalam dunia yang terus berubah yakni dominasi teknologi. Tren itu terdiri dari enam tren yakni globalisasi, kreatifitas, profitabilitas melalui pertumbuhan, teknologi, modal intelektual, dan perubahan.  Globalisasi mengacu pada upaya untuk menyelaraskan pemikiran global dan tindakan lokal. Kreatifitas mengacu pada upaya manusia untuk mengembangkan kehidupannya dengan menggunakan ide dan strategi baru. Pertumbuhan yang mendatangkan keuntungan merupakan kekhasan bisnis atau usaha dunia modern. Modal intelektual adalah upaya untuk menjual ide dan produk. Teknologi adalah upaya mencari dan memanfaatkan sarana yang memfasilitasi pertumbuhan. Ide, kreasi, pertumbuhan, dan perubahan baik lokal maupun global terjadi dengan sangat kuat karena teknologi.

Karena itu dalam membantu siswa untuk menggali potensinya penting dieprhatikan bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Setiap anak mempunyai kecerdasan jamak yang harus kita tangani dan memberikan porsi yang sesuai kebutuhannya. Setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, kemampuan lebih guru harus mampu dieksploor dengan optimal. Setiap peserta didik mengharapkan suasana belajar yang menyenangkan dan ada hasil yang diperolehnya setelah belajar. Sifat ingin tahu pada anak sangat besar dan mereka tidak mau diam dan i bukan usil.

Kadang siswa cepat bosan dan menginginkan tantangan serta perlu diperhatikan tingkat emosioal anak agar tidak muncul gejolak pada diri mereka. Guru juga dituntut untuk mengembangkan keterampilam dasar yang mereka miliki serta perlu difasilitasi pengembangan motoriknya. Penerapan pembelajaran bermakna dan nyata sangat dibutuhkan peserta didik. Berkolaborasi dengan lingkungan sekitar untuk pengembangan sumber belajar sangat urgen dilakukan termasuk membangun karakter peserta didik agar berkembang dengan positif, utuh dan berkelanjutan.

Begitu juga dengan perkembangan teknologi terus bergerak serta berkembang dengan dinamis. Kini teknologi hadir dengan sistem digital telah memicu pengembangan garis komunikasi baru. Diantaranya informasi teknik manipulasi, dan peralatan komunikasi yang sudah ada sebelumnya. Teknologi digital, merupakan teknologi yang tidak lagi menggunakan tenaga manusia, atau manual. Namun cenderung pada sistem pengoperasiannya yang otomatis dengan sistem komputerisasi atau format yang dapat dibaca oleh komputer. Teknologi digital pada dasarnya hanyalah sistem penghitung yang sangat cepat dan memproses semua bentuk-bentuk informasi menjadi nilai-nilai numeris. Teknologi digital memiliki karakteristik yang dapat dimanipulasi, bersifat jaringan atau internet. Era digital merupakan istilah yang digunakan dalam kemunculan teknologi digital, jaringan internet khususnya teknologi informasi komputer. Suatu era dimana teknologi digital muncul di berbagai aspek bidang kehidupan. Era digital adalah masa dimana semua manusia dapat saling berkomunikasi sedemikian dekat meskipun saling berjauhan. Digitalisasi sekolah misalnya memungkinkan setiap orang dapat berkomunikasi dan berinteraksi serta membangun jaringan dengan sekolah lain atau individu lain diseluruh dunia.

 

Menggali Potensi

 

Setiap manusia memiliki potensi masing-masing termasuk peserta didik. Potensi merupakan kemampuan yang belum tampak, belum mewujud, belum menjadi prestasi kapasitas atau kemampuan dan karakteristik atau sifat individu yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang memiliki kemungkinan dikembangkan dan atau menunjang pengembangan potensi lain.

Adapun jenis-jenis  potensi adalah potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral serta religious. Potensifisik  merupakan potensi yang berhubungan dengan kondisi fisik individu, meliputi proporsi pertumbuhan dan perkembangan fisik, perkembangan dan keterampilan psikomotorik, serta kesehatan fisik. Adapun potensi intelektual yakni prestasi akademik, kecerdasan umum, kemampuan khusus (bakat) dan kreatifitas. Sedangkan potensi kepribadian yakni kemampuan mengelola emosi, kemampuan mengembangkan dan menjaga motivasi belajar/berprestasi dan kepemimpinan. Kemudian kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi, responsibilitas, orientasi nilai, moral dan religi, kecenderungan kebutuhan, sikap serta kebiasaan. Karena itu untuk menggali serta mengetahui potensi siswa perlu dilakukan analisis potensi. Tujuan analisis potensi siswa secara khusus antara lain untuk keperluan seleksi, penempatan dan penjurusan, penyesuaian program, pengembangan program, diagnosis, penelitian serta untuk memotivasi dan meningkatkan minat siswa.

Dilingkungan sekolah misalnya, adapun fungsi dan manfaat analisis potensi yakni membuat kebijakan penetapan standar/ katagori sekolah. Membuat kebijakan penetapan keunggulan sekolah, membuat kebijakan pembinaan sumber daya pendidik di sekolah serta penyusunan renstra, program sekolah dan rencana kegiatan anggaran sekolah (RKAS). Kemudian penyusunan RPP oleh guru, penetapan strategi, metode, dan media pembelajaran. Penetapan strategi evaluasi keberhasilan pembelajaran maupun pengembangan program.

Pengembangan program-program layanan bimbingan dan program layanan bimbingan dan konseling, pengembangan program ekstrakurikuler, perumusan pengembangan bakat dan minat. Pengembangan jejaring dengan stake holder pendidikan guna mendukung kelancaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran dan pendidikan. Untuk mendapatkan data umumnya dilakukan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan teknik tes, potensi fisik, potensi akademik, kemampuan umum / intelegensi, kemampuan khusus / bakat, kepribadian, minat  serta tingkat perkembangan siswa.

 

Era Society 5.0

 

Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang terkena dampak pandemi, sehingga proses pembelajaran pendidikan di Indonesia yang semula konvensional (tatap muka di kelas) harus bertransformasi menjadi pembelajaran daring atau online. Pandemi seolah-olah merupakan proses percepatan transisi revolusi industri 4.0 menuju era society 5.0. peradaban baru berbasis inovasi teknologi yang diperkenalkan Jepang pada tahun 2019 silam. Era Society 5.0 merupakan proses kolaborasi antara manusia sebagai pusatnya (humancentered) dan teknologi sebagai dasarnya (technology based). Pendidikan era 5.0 adalah proses pendidikan yang menitik beratkan pada pembangunan manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal, pengetahuan dan etika dengan ditopang oleh perkembangan teknologi modern saat ini.Kehadiran era society 5.0 yang merupakan penyempurnaan era 4.0 adalah problem besar sekaligus kesempatan besar untuk mengubah potret pendidikan kita. Guru yang menjadi penggerak dalam pendidikan era society 5.0 harus mempunyai kompetensi memadai. Era Society 5.0 dalam dunia pendidikan menekankan pada pendidikan karakter, moral, dan keteladanan. Kendati model pembelajaran era society 5.0 bukan teacher sentries, namun fungsi guru tetap menjadi fungsi utama sebagai penggerak konsep kolaborasi. Setidaknya tiga hal yang harus dimanfaatkan oleh guru di era society 5.0. Diantaranya Internet of Things pada dunia pendidikan (IoT), Virtual/Augmented Reality dalam dunia pendidikan, Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang bisa digunakan untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh guru dan peserta didik. Selain itu, guru di masa depan harus memiliki kecakapan dan memiliki kemampuan leadership, digital literacy, communication, entrepreneurship, serta problem solving.  Era revolusi industri 5.0 telah mengubah cara berpikir tentang pendidikan. Perubahan bukan hanya cara mengajar, termasuk perubahan dalam perspektif konsep pendidikan itu sendiri. Revolusi industri 5.0 dalam dunia pendidikan menekankan pada pendidikan karakter, moral, dan keteladanan. Pembelajaran berpusat kepada siswa (student-centered learning), dengan kolaborasi pembelajaran (collaborative learning), serta terintegrasi dengan masyarakat adalah hal yang perlu dipertimbangkan oleh sekolah dan guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang mampu mengarahkan dan membentuk karakter peserta didik. Diantaranya (1) flipped classroom, (2) mengintegrasikan media sosial, (3) Khan Academy, (4) project-based learning, (5) moodle, dan (6) schoology. Termasuk metode yang berbasis teknologi lainnya dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran tersebut sehingga peserta didik dekat dengan teknologi dan dapat turut serta mempelajari dan mengimbangi revolusi industri 5.0 pada bidang teknologi.

Society 5.0 sesungguhnya dicetuskan sebagai faktor yang bisa memecahkan masalah sosial dengan bantuan teknologi. Di era society 5.0 masyarakat dihadapkan dengan teknologi yang memungkinkan pengaksesan pada ruang maya seperti terasa dalam ruang fisik. Dalam teknologi society 5.0 AI berbasis big data dan robot untuk melakukan atau mendukung pekerjaan manusia. Perbedaannya dengan revolusi industry 4.0 yang lebih menekankan pada aspek bisnis, namun dengan teknologi era society 5.0 tercipta sebuah nilai baru. Dengan terciptanya nilai baru itu pula akan menghilangkan kesenjangan sosial, usia, jenis kelamin, bahasa dan menyediakan produk serta layanan yang dirancang khusus untuk beragam kebutuhan individu dan kebutuhan banyak orang. Tren pendidikan di Indonesia saat ini yang digandrungi adalah online learning, terutama di masa pandemi yang tidak memungkinkan mempertemukan guru tatap muka dengan peserta didik.  Hal yang tak kalah penting dari sarana dan prasarana ialah SDM (sumber daya manusia) yang akan menggunakannya. Kualitas dari SDM di Indonesia perlu ditingkatkan. Era society 5.0 ini memerlukan orang-orang yang kreatif dan inovatif untuk beradaptasi. Karena itu pengembangan dan peningkatan SDM berperan berperan penting dalam meningkatkan kemampuan peserta didik di era digital. Aplikasi  model pembelajaran digital yang kini sudah banyak bertebaran di internet membuktikan bahwa adanya dinamisasi dalam perkembangan teknologi. Menyesuaikan integrasi pendidikan dan teknologi mutlak dilakukan terutama dalam menghadapi era global. Menghadapi society 5.0 diperlukan kreatifitas, pemikiran kritis serta pentingnya menjalin komunikasi serta kolaborasi yang baik. Kehadiran society 5.0 bertujuan untuk menutupi kekurangan yang muncul akibat revolusi 4.0. Dengan demikian maka munculnya era society 5.0 sebagai bentuk inovasi baru akan membuktikan jawaban terhadap masyarakat bahwa teknologi memiliki peranan yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia. Sistem yang terhubung di dunia maya merupakan hasil optimalisasi yang telah dikembangkan dari Artificial Intelligence (AI) dengan penggabungan teknologi Big Data dan bisa menjadi nilai feedback dalam bidang industri maupun society dari yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Teknologi di erta Society 5.0 akan menjadi sangat tidak terbatas, semua informasi bisa diakses hanya dengan melihat gawai melampaui ruang dan waktu. Karena itu di era society 5.0 kreatifitas peserta didik harus dioptimalkan. Kreatifitas meliputi kemampuan berpikir dan bersikap kreatif, proses kreatif, dan hasil kreatif termasuk kemampuan menciptakan sesuatu. Kemampuan mencipta meliputi merumuskan, merencanakan dan memproduksi (producing). Sebagaimana diketahui bahwa merumuskan melibatkan proses menggambarkan masalah dan memuat pilihan atau hipotesis yang memenuhi kreteria-kreteria tertentu. Memproduksi berkaitan erat dengan dimensi pengetahuan lain yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan. Mengutip Lorin Anderson dan David Krathwohl (2001:2), menyatakan bahwa tingkat kemampuan berpikir dimulai dari (1) mengingat; (2) memahami; (3) mengaplikasikan; (4) menganalisis; (5) mengevaluasi hingga (6) mencipta. Salah satu metode berpikir tingkat tinggi adalah HOTS.  Di banyak negara, HOTS sudah bukan barang baru lagi. Higher Order Kognitif Thinking Skill (HOTS) memang diupayakan untuk mengejar ketertinggalan pendidikan kita. Menurut Hasibuan (2000:124) bahwa “keahlian harus mendapat perhatian utama kualifikasi seleksi. Keahlian mencakup technical skill, human skill, conceptual skill, kecakapan untuk memanfaatkan kesempatan, serta kecermatan penggunaan peralatan yang dimiliki perusahaan dalam mencapai tujuan”. Karena itu menggali potensi peserta didik maka guru harus melakukan revolusi pembelajaran agar mereka kelak memiliki keahlian teknis menghadapi era Society 5.0. Keahlian tekhnis dalam pekerjaan sangat dibutuhkan. Yakni keahlian dalam pokok pekerjaannya serta kemampuan menerapkan tehnis dan prosedur mengenai bidang kegiatan tertentu. Termasuk memebrikan bekal keahlian interaksi. Keahlian interaksi atau hubungan antar manusia, merupakan keahlian untuk bekerjasama dengan orang lain, memahami pikiran dan perasaan orang lain, serta mampumerangsang dan mendorong orang lain, termasuk rekan kerja. Keahlian lainnya adalah keahlian konseptual, yaitu keahlian mental dalam memadukan seluruh kegiatan organisasi agar organisasi dapat mencapai tujuannya. Implementasi Revolusi pembelajaran dalam menghadapi era global utamanya era Society 5.0 akan membuktikan bahwapenggalian potensi peserta didik dapat dilakukan untuk kemajuan bangsa.  Semoga bermanfaat.(****)

Rujukan:

1.     A. A. Shahroom, N. Hussin, A. A. Shahroom, and N. Hussin, “Industrial Revolution 4 . 0 and Education,” vol. 8, no. 9, pp. 314–319, 2018, doi: 10.6007/IJARBSS/v8- i9/4593

2.     Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia.

3.     Naim, N. 2008. Menjadi Guru Inspiratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

4.     Rusman, dkk. 2011. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Rajawali Perss.

5.https://pendidikkreatif.wordpress.com/2017/01/07/7-karakteristik-guru-abad-21/

6.https://areknerut.wordpress.com/2012/12/20/guru-abad-21-2/

7. https://socs.binus.ac.id/2020/11/01/siapkah-indonesia-menyosong-society-5-0-dengan-seiring-perkembangan-big-data-yang-semakin-pesat/

 

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed