oleh

Kesehatan Mental dan Perilaku Belajar Bertanggungjawab di Sekolah

Oleh :Nelson Sihaloho

 

 

AbstraK:

 

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pembelajaran daring sangat mengganggu psikologis para peserta didik. Daring digunakan pada saat pandemi memang sangat efektif karena platform yang diramcang sedemikian rupa. Kendati demikian pembelajaran daring kadangkala jadwal yang telah diatur sedemikian rupa oleh pihak sekolah kadangkala didahului begitu saja oleh guru lain. Akiatya jam guru saling bertabrakan dengan pelajaran lainnya bahkan guru juga lebih asyik berlama-lama zoom meeting. Penerapan daring tidak sepenuhnya dapat memberikan implikasi positif bahkan bisa berpengaruh negatif terhadap kepribadian dan psikologis siswa. Beberapa  diantaranya  yakni keefektifan belajar berkurang, kurangnya interaksi sosial dengan yang lainnya, kelambatan perkembangan, kecemasan tingg serta kekebalan tubuh melemah. Intinya kesehatan mental pada dasarnya akan mempengaruhi keterampilan belajar peserta didik. Perlu diketahui bahwa rentang konsentrasi, daya ingat, dan daya tangkap anak sangat dipengaruhi oleh kondisi emosionalnya. Semakin dominan emosi positif dalam diri anak, mereka akan semakin terampil dalam belajar. Selama belajar daring ataupun pendidikan jarak jauh (PJJ) guru memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memulihkan kesehatan mental anak. Untuk memulihkannya salah satu alternative yang bisa diterapkan adalah perilaku belajar bertanggung jawab di lingkungan sekolah

Kata kunci: kesehatan mental, tanggung jawab

 

Kesehatan Mental

 

Banyak kalangan para ahli memberikan pendapat tentang pengertian kesehatan mental. Diantaranya, Jaelani (2001) menyatakan bahwa ilmu kesehatan mental merupakan ilmu kesehatan jiwa yang memasalahkan kehidupan rohani yang sehat, dengan memandang pribadi manusia sebagai suatu totalitas psikofisik yang kompleks. Adapun Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental (mental hygene). Yakni  (a)  karena tidak mengalami gangguan mental (b) tidak jatuh sakit akibat stessor (c) sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya (d). tumbuh dan berkembang secara positif.  Orang yang dikatakan sehat mental karena tidak mengalami gangguan mental. Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang tahan terhadap sakit jiwa atau terbebas dari sakit dan gangguan jiwa. Sedangkan Vaillaint (dalam Notosoedirjo & Latipun, 2005), mengatakan bahwa kesehatan mental atau psikologis itu “as the presence of successfull adjustmet or the absence of psychopatology”.  Ahli lainnya bernama Frank, L. K. (dalam Notosudirjo & Latipun, 2005) merumuskan pengertian kesehatan mental secara lebih komprehensif dan melihat kesehatan mental secara ”positif”. Frank mengemukakan bahwa kesehatan mental adalah orang yang terus menerus tumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, menerima tanggung jawab, menemukan penyesuaian (tanpa membayar terlalu tinggi biayanya sendiri atau oleh masyarakat) dalam berpartisipasi dalam memelihara aturan sosial dan tindakan dalam budayanya. Pieper dan Uden (2006), menyatakan kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.  Sedangkan Semiun (2006) mengatakan bahwa ilmu kesehatan mental merupakan terjemahan dari istilah mental hygiene. Mental berasal dari kata latin mens, mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat, sedangkan hygiene berasal dari kata yunani hygiene yang berarti ilmu tentang kesehatan. Intinya ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang membicarakan kehidupan mental manusia dengan memandang manusia sebagai totalitas psikofisik yang kompleks. Darajat (dalam Bukhori, 2006) mengungkapkan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri individu yang terdiri dari kepribadian, kondisi fisik, perkembangan dan kematangan, kondisi psikologis, keberagamaan, sikap menghadapi problema hidup dan keseimbangan dalam berfikir. Dan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu yang terdiri dari : keadaan ekonomi, budaya dan kondisi lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan pendidikan. Semua orang kayaknya udah tau betapa pentingnya sikap peduli dan empati pada orang lain. Tapi, ternyata hanya sebagian yang paham bahwa peduli pada diri sendiri itu juga sama pentingnya. Banyak dari kita yang merasa bertanggung jawab atas kesulitan yang dialami orang lain, tapi lupa dengan diri sendiri.  Untuk memelihara kesehatan mental dan penyesuaian yang baik, perilaku manusai harus sesuai dengan sifat manusia sebagai pribadi yang bermoral, intelektual, religius, emosional dan sosial. Selain itu kesehatan dan penyesuaian mental memerlukan integrasi dan pengendalian diri, yang meliputi pengendalian pemikiran, imajinasi, hasrat, emosi dan perilaku.Bahkan kesehatan mental memerlukan konsep diri yang sehat  meliputi: penerimaan diri dan usaha yang realistik terhadap status atau harga dirinya sendiri. Stabilitas mental dan penyesuaian yang baik memerlukan pengembangan terus menerus dalam diri seseorang mengenai kebaikan moral yang tertinggi, yaitu: hukum, kebijaksanaan, ketabahan, keteguhan hati, penolakan diri, kerendahan hati, dan moral.  Menurut Yustinus, (2007) hal yang penting dipahami dalam meningkatkan kesehtan mental adalah sikap yang dimiliki individu dan kelompok masyarakat. Sikap sikap tersebut yakni (1). sikap meghargai diri sendiri, (2). sikap memahami dan menerima keterbatasn diri sendiri dan keterbatasan orang lain, (3) sikap memahami kenyataan bahwa semua tingkah laku ada penyebabnya, (4). sikap memahami dorongan untuk aktualisasi diri. Orang  ataupun peserta didik yang bermental sehat adalah mereka yang memiliki ketenangan batin dan kesegaran jasmani. Untuk memahami jiwa yang sehat, dapat diketahui dari beberapa karakteristik seseorang yang memiliki mental yang sehat.

Tanggung jawab

Bertanggung jawab adalah keadaan di mana wajib menanggung segala sesuatu sehingga kewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawaban dan menanggung akibatnya. Menurut Rochma,(2016:36) merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.  Sikap dan perilaku tanggung jawab sangat penting artinya terhadap perkembangan peserra didik untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik. Melalui pembiasaan dan latihan aspek moral maupun keagamaan yang berkembang sejak kecil maka akan terbangun perilaku dan tanggung jawab yang lebih baik. Bertanggung jawab merupakan suatu keadaan dimana semua tindakan atau perbuatan atau sikap merupakan penjelmaan dari nilai-nilai moral serta nilai-nilai moral serta nilai-nilai luhur kesusilaan dan atau keagamaan. Rasa bertanggung jawab merupakan ajaran yang tidak hanya perlu diperkenalkan dan diajarkan namun juga perlu ditanamkan kepada siswa baik disekolah maupun maupun di luar sekolah. Siswa yang terlatih atau dalam dirinya sudah tertanam nilai-nilai tanggung jawab kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan berbagai aktifitasnya. Kesungguhan dan tanggung jawab inilah yang akhirnya dapat menghantarkannya dalam mencapai keberhasilan seperti yang diinginkannya

Menurut Anton Adiwiyato (2001:89) dalam Astuti (2005:27)  adapun ciri-ciri siswa yang bertanggungjawab  antara lain (a) melakukan tugas rutin tanpa harus diberi tahu. (b) Dapat menjelaskan apa yang dilakukannya. (c) Tidak menyalahkan orang lain yang berlebihan. (d) mampu menentukan pilihan dari beberapa alternative. ( e ) bisa bermain atau bekerja sendiri dengan senang hati. (f) bisa membuat keputusan yang berbeda dari keputusan orang lain dalam kelompoknya. (g) Punya beberapa saran atau minat yang ditekuni. (h) menghormati dan menghargai aturan Aturan yang dibuat bukan untuk dilanggar, merupakan salah satu bentuk ataupun prinsip yang dimiliki siswa yang bertanggung jawab. (i) dapat berkonsentrasi pada tugas-tugas yang rumit (j) Mengerjakan apa yang dikatakannya akan dilakukan. (k)  Mengakui kesalahan tanpa mengajukan alasan yang dibuat-buat. Adapun perilaku sering diartikan sebagai sesuatu yang sangat ditegaskan dalam suatu pembelajaran. Sebagaimana umumnya bahwa perilaku merupakan hasil proses belajar mengajar yang terjadi akibat dari interaksi peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya. Benyamin Bloom mrembagi perilaku menjadi tiga yakni perilaku kognitif, perilaku afektif dan perilaku psikomotor.  Perilaku kognitif adalah perilaku anak yang memenggaruhi pada tingkat kecerdasan dan daya pikirnya. Adapun perilaku afektif adalah perilaku anak yang memenggaruhi tentang sikap dan manfaatannya untuk dirinya maupun orang lain. Perilaku psikomor merupakan perilaku anak yang memenggaruhi dalam perekembangan keterampilan yang dimilikinya. Perilaku tanggung jawab merupakan sesuatu yang dapat terjadi dalam setiap kehidupan manusia yang mampu mengubah-ubah sesuatu sikap atau sifat yang dimilikinya. Perilaku yang didasari tanggug jawab akan membuahkan hasil yang postif dan mempunyai nilai guna yang lebih banyak manfaatnya. Semakin tinggi rasa tanggung jawab yang dimiliki sesorng maka akan mempunyai nilai penting dalam kehidupan manusia baik untuk individu maupun kelompok.  Terdapat 3 dimensi penting dari perilaku tanggung jawab khusunya dikalangan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Yakni kesadaran, kesukaan atau kecintaan serta  keberanian. Semakin siswa bertanggung jawab maka nilai-nilai penting akan muncul pada diri siswa diantaranya menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru tepat pada waktunya. Memiliki keterampilan dalam menjalani kehidupannya, mematuhi aturan yang sudah ada dengan baik. Berani menangung segala permasalahan atas apa yang sudah dilakukannya. Menjunjung tinggi perbuatan yang terpuji serta memiliki sopan santun dalam pergaulan.  Siswa dalam menjalankan tugas-tugas perkembangannya dituntut memiliki tanggung jawab dianatranya tanggung jawab belajar.  Tanggung jawab belajar merupakan suatu sikap atau perilaku dalam melaksanakan segala perintah guru dalam melaksanakan tugas yang di berikan, mematuhi tata tertib serta disiplin dalam belajar. Belajar memiliki peran strategis dalam menentukan hasil akhir anak dalam mengemban tanggung jawabnya di dalam kelas sewaktu belajar. Dengan demikian tanggung jawab dalam belajar adalah suatu proses dimana seseorang berinteraksi langsung menggunakan semua alat inderanya terhadap obyek belajar dan lingkungan sekitar sekolah. Melalui yanggung jawab juga pada akhirnya akan menghasilkan perubahan tingkah laku. Diantaranya pengetahuan, cara berpikir, ketrampilan, sikap, nilai dan kesediaan menanggung segala akibat dari kegiatan belajarnya dengan penuh kesadaran, kerelaan, rasa memiliki, disiplin untuk menguasai materi ilmu pengetahuan.Dalam pendidikan karatkter tanggung jawab menjadi lebih utama agar siswa mampu tanggung jawab dalam segala aspek kehidupannya.  Melihat kondisi dan fakta riil maka guru harus mampu menumbuhkan karakter tanggung jawab pada diri siswa agar dapat dijadikan modal dalam menghadapi berbagai sittuasi kehidupan baik dimasa kini dan mendatang.  Upaya yang bisa dilakukan yakni dengan memberikan pemahaman terhadap anak tentang pentingnya tanggung jawab. Guru harus menjadi teladan yang baik untuk anak. Sebab apabila guru tidak mampu memberikan teladan terhadap anak maka pada akhirnya siswa semakin tahu dengan sifat, sikap maupum perilaku guru. Kelak itulah yang akan dicontoh oleh para anak didik karena gurunya juga telah berbuat demikian.  Selanjutnya melatih anak untuk selalu mentaati peraturan. Kemudia betapa pentingnya menjalin komunikasi yang efektif dengan peserta didik. Bahkan guru juga penting untuk memperhatikan kegiatan siswa diluar sekolah bekerja sama dengan orang tua. Dengan dem ikian maka dapat disimpulkan bahwa perilaku bertanggung jawab adalah suatu sikap yang dilakukan seseorang untuk melaksanakan hak dan kewajibannya dalam suatu kegiatan dan berusaha semaksimal mungkin untuk menanggung segala resiko yang diperbuatnya. Termasuk siswa agar melaksanakan kewajibannya yakni belajar dan mampu membentuk karakter dirinya sebagai siswa yang bertanggung jawab dalam semua aktifitas yang dilakukannya. Upaya yang dapat dilakukan oleh guru yakni pentingnya pemahaman tentang tanggung jawab. Selain itu harus menjadi teladan, disiplin, membangun komunikasi efektif dengan siswa serta bekerjasam dengan pihak orang tua. SIswa yang benar-benar bertanggung jawab dibuktikan dengan mengerjakan tugas tepat waktu, mentaati peraturan, mematuhi tata tertib sekolah serta konsentrasi penuh dalam belajar.

 

Korelasi

 

Kesehatan mental di sekolah menjadi isu baru. Di negara maju seperti Amerika Serikat diperkirakan pertahunnya 20 – 25% anak dan remaja mengalami masalah kesehatan mental, dan 40%  diantaranya memenuhi kriteria diagnostik untuk berbagai jenis gangguan mental (Kesler, 2012, Merikangas, 2010, Nastasi 2004). Belum termasuk anak dan remaja yang berisiko dan belum terdiagnosa namun kondisinya mempengaruhi keberfungsian dan well-being (kesejahteraan) sehari-hari (Nastasi, 2004). Penelitian epidemiologi di AS menunjukkan 1 dari 10 anak  menunjukkan symptom depresi sebelum usia 14 tahun, dan 20% anak usia 16-17 tahun mengalami gangguan cemas, mood, dan gangguan perilaku serta penggunaan zat-zat terlarang (adiktif) ( Keyes,2006).  Kesehatan mental menjadi kajian yang perlu diperhatikan keterkaitan dengan permasalahan yang dialami oleh anak-anak, remaja, orang dewasa dan lansia akhir-akhir ini. Kesehatan mental meliputi tiga komponen yaitu: pikiran, emosional dan spiritual (Hapsari, Sari, &Pandono, 2009). Anak-anak yang memiliki kesehatan mental yang baik dicirikan mampu membangun dan mengembangkan resiliensi (daya tahan) dalam menghadapi tekanan dalam hidup (Nur, 2013). Kemampuan resiliensi ini perlu dikembangkan melalui kehidupan keluarga dan lingkungan sekolah (Aprilia, 2013, I.Ifdil & Raufik, 2016). Sebagai suatu sistem sosial, kelompok-kelompok keluarga memenuhi kebutuhan para anggotanya dengan memberikan kenyamanan, keselamatan, kesejahteraan ekonomi, material, kesejahteraan psikologis, fisik, emosional, dan kebutuhan-kebutuhan spiritual (Geldard, 2011). Dikalangan anak-anak banyak ditemukan bahwa permainan digital atau online menimbulkan masalah kesehatan mental bagi anak-anak di zaman sekarang dan bahkan mengarah pada kondisi mental illness (Nur, 2013). Fenomena kesehatan mental yang terjadi dilingkungan sekolah berupa adanya kondisi stres akademik yang dialami siswa (Ifdil & Bariyyah, 2015). Hubungan sosial yang tidak baik di sekolah juga menyumbang ketidaksehatan mental bagi siswa (Masliyah, 2011). Hal tersebut didukung penelitian Baskoro bahwa adanya kondisi depresi yang dialami siswa di lingkungan sekolah akibat perilaku antisosial (Baskoro, 2010). Dengan demikian ada hubungan kesehatan mental dengan ketidakproduktifan dalam belajar akibat individu mengalami masalah psikologis di lingkungan pendidikan. Karena itu perlu dikembangan kesehatan mental di sekolah agar peserta didik aktif dan berprestasi dalam belajar, memiliki hubungan sosial yang baik, mampu untuk merencanakan arah karier, membuat keputusan arah karier yang bertanggung jawab. Semoga bermanfaat. (****).

 

Rujukan:

  1. Ahmad, I. (2018). Proses Pembelajaran Digital dalam Era Revolusi Industri 4 . 0 Era Disrupsi Teknologi. Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi, 1–13.
  2. Baskoro, M. D. P. (2010). Hubungan Antara Depresi dengan Perilaku Antisosial pada Remaja di Sekolah. Faculty of Medicine,
  3. Calhoun, J.F & Acocella, J.R. (1990), Psychology of Adjustmen and Human Relationship (3rd ed), Mc-Graw-Hill Publishing Co, NY.
  4. Hapsari, D., Sari, P., & Pradono, J. (2009). Pengaruh Lingkungan Sehat, dan Perilaku Hidup Sehat Terhadap Status Kesehatan. Buletin Penelitian Kesehatan.
  5. Schultz, D. (1991), Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat, Penerbit Kanisius.
  6. Semiun, Y., (2006), Kesehatan Mental jilid 1& 2, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed