oleh

Bonus Demografi dan Urgensi Pengembangan Produktifitas SDM Pendidikan

Oleh:Nelson Sihaloho

*)Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

 

Abstrak:

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan teknologi akan terus berkembang dengan dinamis seiring dengan tuntutan era global. Dengan perkembangannya yang semakin cepat itu pulalah yang mengubah bagaimana kita bekerja dan berinteraksi. Saat ini kita telah memasuki masa awal Revolusi Industri 4.0 dan pada tahun 2030, Indonesia juga masuk di era bonus demografi. Bonus demografii merupakan potensi yakni semakin besarnya proporsi penduduk usia produktif 15 tahun hingga 64 tahun.  Puncaknya  pada tahun 2030 jumlah penduduk usia produktif di Indonesia diproyeksikan mencapai 200 juta orang, atau sekitar 68% dari jumlah populasi penduduk.Suatu angka yang luar biasa dimana saat ini maupun di masa depan peluang untuk mendapat pekerjaan semakin sulit. Banyak kalangan menyatakan bahwa kualitas suatu bangsa dapat dinilai dari produktifitasnya. Produktifitas tenaga kerja juga berbanding signifikan dengan kemampuan menguasai teknologi. Termasuk produktifitas bangsa juga dapat dilihat dari kemampuannya menciptakan teknologi-tenologi baru  yang mampu menjawab berbagai kesulitan-kesulitan dalam upaya meningkatkan produktifitas keunggulan produk.

Masalahnya di masa depan apabila potensi pekerja yang berlimpah tidak dapat diserap dengan baik maka dapat diprediksikan akan berpotensi menjadi pengangguran intelek. Saat ini saja diperkirakan banyak lulusan perguruan tinggi yang menjadi pengangguran intelek. Akibat lowongan pekerjaan yang semakin sempit sementara lulusan setiap tahun terus bertambah maka diperkirakan akan memicu gejolak sosial. Perlu diwaspadai bahwa semakin banyak pengangguran angka kemiskinan juga akan meningkat dan bisa menimbulkan berbagai permasalahan sosial lainnya.

Kata kunci: bonus demografi, produktifitas dan sumberdaya manusia (SDM).

Bonus Demografi dan SDM

 

Tahun 2030 memang masih lama sekitar 9 tahun lagi Indonesia akan masuk pada dua masa yang sangat bertentangan. Satu sisi melahirkan banyak penduduk usia produktif dan sisi lain berpotensi menghilangkan banyak lapangan pekerjaan karena disrupsi penerapan mesin otomatis. Tantangan utama memang  berada pada kualitas tenaga kerja. Badan Pusat Statistik (BPS: 2018)mengungkapkan bahwa  penyerapan tenaga kerja hingga Februari 2018 masih didominasi oleh masyarakat berpendidikan rendah (SMP ke bawah),yakni 75,99 juta orang atau 59,80 persen dari total tenaga kerja. Penduduk bekerja berpendidikan menengah (SMA sederajat) sebanyak 35,87 juta orang atau 28,23 persen.  Pendidikan tinggi sebanyak 15,21 juta orang atau 11,97 persen mencakup 3,50 juta orang berpendidikan diploma dan 11,71 juta orang berpendidikan universitas.  Adapun data BPS (2019) menyebutkan bahwa jumlah usia produktif di Indonesia mencapai 67% dari total penduduk di Indonesia. Sekitar 45% dari 67% usia produktif tersebut berusia 15-34 tahun. Pada kondisi tersebut Indonesia berada pada kondisi bonus demografi karena jumlah usia produktif menanggung lebih sedikit penduduk tidak produktif. Akan tetapi terdapat pula tantangan setelah bonus demografi, yaitu masa aging societyAging society yaitu usia lansia akan meningkat. Data Asian Productivity Organization (APO), produktivitas pekerja Indonesia pada 2015 mencapai US$24.340, kalah apabila dibandingkan dengan Thailand (US$26.480), Malaysia (US$55.700), dan Singapura (US$127.810). Diantara negara-negara ASEAN, Indonesia hanya unggul dari Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, serta Laos. Melihat kondisi riil tersbut maka yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Peningkatan kualitas SDM  harus dibarengi dengan peningkatan keahlian atau skill agar mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja. Kelompok usia produktif apabila benar-benar memiliki skill serta produktif akan menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi Indoensia di masa depan. Data International Labour Organization (ILO:2018) menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 20 tahun akan ada sekitar 56% pekerjaan yang berpotensi hilang akibat adanya disrupsi teknologi. Disrupsi akan mengakibatkan beberapa pekerjaan hilang, namun disisi lain akan ada pekerjaan-pekerjaan yang bertahan dan bahkan berkembang di era Revolusi Industri 4.0. Pekerjaan baru tersebut membutuhkan keahlian khusus yang menunjang. Data dari World Economic Forum terdapat 10 keahlian yang paling dicari di tahun 2020 memang terbukti. Diantaranya: Complex Problem Solving; Critical Thinking; Creativity; People Management;Coordinating with others; Emotial Intelligence; Judgement and decision-making; Service Orientation; Negotiation; dan Cognitive Flexibility. Keahliantersebut memang sulit digantikan oleh teknologi. Diprediksi juga di masa depan akan semakin banyak pekerjaan baru yang muncul dengan dasar keahlian-keahlian tersebut.Itulah sebabnya jumlah maupun kualitas SDM akan menentukan daya saing sebuah negara dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Pendidikan dan Produktifitas SDM

 

Revolusi keempat ditandai dengan penggunaan Internet of Things (IoT) yang menghubungkan mesin dengan sistem teknologi informasi.  World Economic Forum, dalam Report Future of Jobs tahun 2018, menyebutkan bahwa pada tahun 2022 sekitar 54% tenaga kerja membutuhkan reskilling dan upskilling.  Pendidikan memiliki tugas dan tanggungjawab untu meningkatkan kualitas SDM termasuk menjadikan peserta didik memiliki produktifitas sesuai dengan potensi yang dimilikinya.  Penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja serta tuntutan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mutlak dilakukan. Minimal dimasa mendatang sektor pendidikan mampu memprediksi dengan tepat daya  serap lulusan dengan lowongan pekerjaan. Praktik pendidikan yang selama ini salah harus diperbaiki. Lulusan yang sudah melebihi kapasitas atau overload harus distop untuk sementara waktu oprtasional penyelenggaraannya. Dengan kondisi tersebut maka tidak ada jalan lain bahwa Pemerintah harus menggenjot pertumbuhan lapangan kerja dalam menghadapi era industry 4.0. Produktifitas SDM merupakan sikap mental (attitude of mind) yang mempunyai semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan. Sedarmayanti (2001), menyatakan bahwa produktivitas mengandung pengertian sikap mental yang mempunyai pandangan: ‘mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Adapun Ahmad Tohar (2002), pernyataan mengenai produktifitas SDM adalah produktivitas tenaga kerja mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu. Berkaitan dengan hal tersebut maka implementasi revolusi industri 4.0 akan membuka kesempatan terhadap SDM untuk memiliki keahlian yang sesuai dengan perkembangan teknologi terkini. Untuk itu, diperlukan pelaksanaan program peningkatan keterampilan para tenaga produktif sebagai upaya untuk peningkatan kualitas SDM. Revitalisasi kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada bidang ScienceTechnologyEngineeringArts dan Mathematics (STEAM) pada level  unit pendidikan vokasi seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Politeknik. Di Indonesia masih banyak terjadi ketidaksesuaian antara pendidikan, kesesuaian pendidikan dengan bidang pekerjaan yang ditekuni sehingga di era disrupsi teknologi saat ini diperlukan SDM yang memiliki kemampuan inovasi, kreatifitas dan kewirausahaan sebagai syarat untuk memenangkan persaingan ke depan. SDM yang efisien dan produktif hanya mampu untuk survive dan agar bisa menang dalam persaingan di lingkup global maka dibutuhkan tambahan inovasi, kreatifitas dan jiwa entrepreneurship yang di bentuk sejak usia dini. Revolusi industri 4.0 diharapkan memberi manfaat untuk kepentingan manusia, lingkungan, dan mampu mendorong pengembangan kapasitas manusia, sehingga menjadi semakin terdidik dan terampil. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pemebelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan  pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Produktivitas kerja SDM pendidikan mencakup sikap mental dan perilaku tenaga pendidikan dan kependidikan yang selalu mempunyai pandangan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan hari ini harus lebih berkualitas, efektif, dan efisien daripada pelaksanaan pekerjaan pada masa lalu, dan pekerjaan pada saat yang akan datang lebih berkualitas daripada saat ini. Produktifitas memiliki dua dimensi, dimensi pertama adalah efektifitas yang mengarah kepada pencapaian unjuk kerja yang maksimal yakni pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu. Kedua, efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan. Dengan konsep sederhana prinsip efisiensi pada dasarnya menghindari segala bentuk pemborosan.

 

Tingkatkan Produktivitas Kerja Guru

 

Produktifitas kerja guru diartikan sebagai potensi atau daya yang dihasilkan oleh individu (guru) yang digunakan secara maksimal, untuk mencapai keluaran (output) yang lebih, kreatif, generatif, dan menghasil­kan keuntungan atau kebermanfaatan. Pengukuran dilakukan melalui subvaria­bel-subvariabel: (1) perencanaan dan pe­laksanaan pembelajaran, dengan indikator­-indikator rancangan pengajaran, program semester dan program tahunan; (2) pres­tasi akademik, dengan indikator karya akademik dan karya monumental; (3) kar­ya pengembangan profesi, yang mencakup indikator penulisan artikel, pembuatan dan penggunaan media, dan alat pembe­lajaran; dan (4) keikutsertaan dalam forum ilmiah, dengan indikator workshop, pe­latihan, pemakalah, dan peserta seminar. Merujuk pada hal tersebut maka  sebagai indikator  produktifitas  dapat disimpulkan bahwa tugas guru bukan saja mengajar semata, tetapi dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis evaluasi, dan pengayaan. Produktivitas kerja guru tertuang dalam tugas pokok dan fungsi guru ada­lah membantu dan bertanggungjawab ke­pada kepala sekolah dalam kegiatan be­lajar mengajar. Diantaranya, membuat kelengkapan mengajar dengan baik dan lengkap, melaksanakan kegiatan pem­belajaran, melaksanakan kegiatan pe­nilaian proses belajar, ulangan harian, ulangan umum dan ujian akhir. Me­laksanakan analisis hasil ulangan harian, menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan, mengisi daftar nilai anak didik. Selanjutnya  melaksanakan kegiatan membimbing (pengimbasan pengetahuan), kepada guru lain dalam proses pembelajaran; membuat alat pelajaran/alat peraga, menumbuh­kembangkan sikap menghargai karya seni. Mengikuti kegiatan pengem­bangan dan pemasyarakatan kurikulum; melaksanakan tugas tertentu di sekolah; mengadakan pengembang­an program pembelajaran. Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar anak didik; mengisi dan meneliti daftar hadir sebelum memulai pelajaran; mengatur kebersihan ruang kelas dan sekitarnya; dan  mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk ke­naikan pangkatnya.  Selain nitu seorang guru dapat mencapai tingkat produktifitas yang tinggi apabila didukung oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik internal yang datang dari guru itu sendiri maupun dari luar diri. Ciri-ciri individu yang produktif diantaranya tindakannya konstruktif, percaya diri, mempunyai rasa tanggung jawab. Memiliki rasa cinta terhadap pekerjaannya, mempunyai pandangan ke depan, mampu menyelesaikan persoalan. Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah, mempunyai kontribusi positif terhadap lingkungan serta mempunyai kekuatan untuk mewujudkan potensinya.

Pendidikan yang berkualitas dan mumpuni yang sesuai dengan permintaan pasar industrialisasi saat ini memang terus mencuat dan mengemuka. Betapa tidak bahwa kecenderungan berbagai lembaga industry di masa depan memang mempersyaratkan SDM-SDM yang mumpuni. Kemampuan SDM yang tinggi kelak akan dihargai sesuai dengan profesionalismenya.

Begitu juga dengan guru yang diserahi tugas utama sebagai pendidik harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalismenya. Tuntutan profesionalisme gru berkelanjutan merupakan syarat utama agar guru tetap mampu menjaga marwah profesionalismenya. Marwah profesionalisme harus tetap dijaga mengingat tuntutan perkembangan Iptek selalu mengacu pada perkembangan zaman. Tugas-tugas profesionalisme guru harus tetap dilakukan serta dikembangkan. Publikasi ilmiah (PI) melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang berhubungan dengan tugas-tugas profesionalisme guru harus dipenuhi. Begitu juga dengan yang berhubungan dengan sertifikasi guru kendati sudah mengantongi predikat sebagai guru professional tugas-tugas pengembangan keprofesiian berkelanjutan (PKB) harus dilakukan. Sebab guru professional itu memiliki predikat yang memang melalui proses yang berjenjang. DIharapkan  dalam menjalankan tugas-tugas dimasa depan guru-guru terus belajar dan wajib memahami atiran-aturan yang berhubungan dengan etika kepegawaian maupun etika profesionalisme. Seiring dengan Asesmen Nasional (AN) yang dilaksanakan oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi diharapkan benar-benar akan meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan.  Sekolah Penggerak dengan Program Guru Penggerak harus ebnar-benar bergerak dalam menjalankan tugasnya. Di masa Covid-19 kegiatan guru penggerak bentuk kegiatannya banyak dalam bentuk Webiner maupun bentuk kegiatan berbasis daring lainnya. Program merdeka belajar harus menginspirasi para pendidik maupu peserta didik untuk melakukan berbagai aktifitas yang mendukung peningkatan mutu serta kualitas pemdidikan. Bonus demografi harus dijadikan sebagai modal utama untuk mengembangkan produktiftas SDM pendidikan. Meningkatkan produktifitas SDM tidak segampang kegiatan Webiner namun membutuhkan suatu proses berjenjang. Guru-guru dengan label lulusan predikat “Universitas Favorit” harus membuktikan dirinya sebagai pendidikan yang memiliki kemampuan lebih apabila dibandingkan dengan lulusan “Universitas Biasa”. Apalagi dengan predikat lulusan “Universitas Luar Negeri” yang dibiayai dari beasiswa Negara harus memmberikan kontribusi yang sepadan dengan beasiswa yang diterimanya. Kita berharap semoga tenaga-tenaga pendidik yang mendapatkan tugas belajar dengan beasiswa penuh dari Negara baik dalam negeri maupun luar negeri agar tidak “berambisi” dan  selalu mengejar “jabatan”. Predikat pendidik sebagai lulusan dari luar negeri harus  benar-benar membuktikan dirinya sebagai pendidikan yang professional. SDM berkualitas hanya bisa ditempa  dengan pendidikan betrkualitas. Bonus demografi adalah tantangan sekaligus menjadi peluang bagi kita untuk membuktikan diri sebagai bangsa berkualitas.  Semoga bermanfaat. (*****).

 

Rujukan:

 

  1. Hasibuan,  Organisasi Dan Motivasi: Dasar Peningkatan Produktivitas, Jakarta: Bumi Aksara, 1996
  2. Koch, Marianne, Rita Dorothea Gunther McGrath, “Improving Labor Productivity: Human Resource Management Policies Do Matter”, Strategic Management Journal, Mei, 1996.
  3. Notoatmodjo, Soekidjo. Pengemvbangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1998
  4. Robert L, Mathis, dan Jackson John H., Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Salemba Empat, 2001.
  5. Sedarmayanti, Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: Mandar Maju
  6. Siagian, Sondang P. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, Jakarta: Rineka Cipta, 2009, Cet. Ke-2.
  7. Simamora, Henri Manajemen Sumber Daya Manusia,Yogyakarta: STAI EKPN, 2004.
Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed