oleh

Adu Spirit Pendidikan dan IPTEK

Oleh:Nelson Sihaloho

*)Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

Abstrak:

 

Saat ini pendidikan di masa pandemic covid-19 seakan tidak bisa menunjukkan power dan kekuatannya. Bahkan selalu tertinggal apabila adu spirit dengan kemajuan teknologi. Sesungguhnya  semua ilmu pengetahuan dapat dipelajari dengan pendidikan baik itu ilmu pengetahuan alam, sosial, teknologi bahkan teknologi terapan. Mencermati kondisi Ilmu pengetahuan  dan teknologi (Iptek)  yang terus berkembang dengan dinamis sesungguhnya keberhasilan suatu Negara pasti akan selalu diukur dengan seberapa maju tingkat pendidikannya.

Tatkala kita berbicara masalah sumberdaya manusia (SDM)  maka dunia pendidikan dinilai belum mampu menjembatani kebutuhan dunia kerja  dengan komprehensif. Hal ini diduga yang menjadi penyebab  munculnya pengangguran intelektual. Pendidikan seringkali diidentikkan dengan lembaga pencetak SDM berkualitas baik itu spritual, inteligensi, skill bahkan sebagai lembaga proses mencetak generasi penerus bangsa. Harapan orang banyak setelah anak didik menyelesaikan pendidikan mereka telah memiliki keterampilan, keahlian, wawasan pada satu bidang tertentu sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya. Orang cenderung melanjutkan pendidikan pendidikan ke jenjang lebih tinggi agar kelak mereka mendapatkan pekerjaan yang layak. Mencermati tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentu sector pendidikan juga harus mampu adu spirit dengan kemajuan Iptek. Bahkan di masa depan kemajuan-kemajuan Iptek sumbernya berada dalam lingkup pendidikan.

Pendidikan, Riset dan Pengembangan

Hakekat dan tujuan dari pembangunan IPTEK adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa (UU No 18/ 2002). Sebagaimana dalam buku II BAB IV tentang IPTEK Lampiran Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 secara tegas menyatakan bahwa isu strategi pembangunan Iptek 2015-2019 adalah peningkatan kapasitas iptek berupa: (1) kemampuan memberikan sumbangan nyata bagi daya saing sektor produksi, (2) keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya alam, dan (3) penyiapan masyarakat Indonesia menyongsong kehidupan global yang maju dan modern, serta ketersediaan faktor-faktor yang diperlukan (SDM, sarana prasarana, kelembagaan iptek, jaringan, dan pembiayaan).

Sedangkan penyelenggaraan riset difokuskan pada bidang-bidang yang diamanatkan dalam RPJPN 2005-2025 yaitu: (1) pangan dan pertanian; (2) energi, energi baru dan terbarukan; (3) kesehatan dan obat; (4) transportasi; (5) telekomunikasi, informasi dan komunikasi (TIK); (6) teknologi pertahanan dan keamanan; dan (7) material maju.  Mencermati hal tersebut diatas maka penyelenggaraan pendidikan harus selaras dengan kebutuhan dunia kerja, industry maupun tuntutan perkembangan IPTEK. Kendati tugas utama dunia pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik, dunia pendidikan bukanlah mesin cetak yang siap memasok para lulusannya sesuai dengan keinginan pasar tenaga kerja. Tetapi dituntut untuk menyiapkan relevansi SDM yang diperlukan oleh masyarakat di Abad 21 maupun di Era Society 5.0. Implikaisnya adalah dunia pendidikan harus merespon dengan cepat perubahan maupun tuntutan perkembangan IPTEK maupun dunia kerja. Dimasa Virus corona deases (Covid) 19 pendidikan juga harus melakukan adaptasi mulai membiasakan diri menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, disiplin dan benar-benar patuh pada moral etik sebagai gaya hidup baru untuk memutus pandemi Covid 19. Agar bisa produktif ditengah pandemi Covid 19, kita membutuhkan bantuan inovasi teknologi baik  teknologi informasi dan komunikasi, media bisnis hingga pada aspek aktivitas budaya, wisata termasuk ibadah keagamaan. Banyak kalangan menyatakan bahwa di masa depan kunci kemajuan dan keberhasilan kita melewati masa krisis ini terletak pada inovasi, kemampuan kita menguasai IPTEK baik itu teknologi informasi, mesin, teknologi rekayasa hingga teknologi tepat guna lainnya. Selain itu kemajuan IPTEK akan mendorong perkembangan hidup anak kearah yang lebih baik. Sebagaimana prioritas Riset Nasional 2020-2024, Kebijakan untuk mendorong pengembangan pemanfaatan produksi dalam negeri, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang diselenggarakan di Surabaya 25 September 2019. Adapun Fokus penetapan Riset  PRN 2020-2024  (PermenR 2019) yakni,  pangan, energy, kesehatan  dan obat, transportasi, produk rekayasa keteknikan, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, sosial humaniora, seni budaya, pendidikan, bidang riset lainnya (multidisiplin dan lintas sektor). Sedangkan bidang Riset  RIRN 2017-2045  (Perpres 38/2018) yaitu  sector pangan,  energy, kesehatan, transportasi, produk rekayasa keteknikan, hankam, kemaritiman, sosial humaniora, seni budaya serta pendidikan.Kemajuan informasi baru dan teknologi hendaknya meningkatkan penilaian umum yang membuka jalan untuk pengetahuan di dunia tentang masa yang akan datang.

Sebagaimana visi  pembangunan nasional  yakni Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Adapu misi  adalah; pertama, wewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Kedua, mewujudkan bangsa yang berdaya-saing. Ketiga, mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum.Keempat mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu. Kelima, mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan serta keenam, ewujudkan Indonesia asri dan lestari.

Adapun 9 (Sembilan) Agenda Prioritas Pembangunan (Nawa Cita) yakni pertama, menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Kedua membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya; Ketiga, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan; Keempat memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya. Kelima meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Keenammeningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional. Ketujuh mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestic. Kedelapan, melakukan revolusi karakter bangsa. Sembilan, memperteguh ke-bhinneka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

 

Paradigma Baru

 

Sebagaimana kita ketahui selama ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementrian Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi selalu terpisah. Dengan digabungnya Kemendikbud dan Kemenristek merupakan konsekuensi dari pengukuhan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lembaga ini dikepalai oleh Laksana Tri Handoko yang sebelumnya Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). BIRN ditargetkan akan menjadi penghasil riset dan inovasi serta dituntut untuk mampu menjadi inovator dan enabler terhadap berbagai kalangan di luar BRIN.  Kita berharap semoga saja arah riset semakin relevan dengan perkembangan zaman. Merujuk pada arah kebijakan dan strategi nasional pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) 2020-2024 akan berfokus pada peningkatan akselerasi ekosistem riset dan inovasi. Dalam menyongsong paradigma baru tersebut sector pendidikan harus mampu melakukan pembaharuan dan reformasi dibidang pendidikan yang lebih baik. Kendala maupun hambatan yang selama ini dihadapi oleh pendidikan setidaknya dengan melakukan riset-riset dibidang pendidikan masalah bisa diatasi. Apakah telah benar selama ini telah dilakukan riset tentang guru dan tenaga kependidikan sehingga  persoalan guru tidak kunjung selesai.  Dimana sesungguhnya letak akar masalahnya sehingga masalah guru terus berlarut-larrut. Di masa pandemic Covid-19 masalah yang diahadapi oleh sector pendidikan diprediksikan bakal bertambat ruwet. Keruwetan itu terjadi apabila  kita tidak mampu mengatasi masalah Covid-19 selama beberapa bulan ke depan.  Bukan hanya semakin banyak anak didik yang bakal drop uot juga akan menimbulkan masalah baru.  Karena itu sangat penting diselaraskan arah dan kebijakan riset diberbagai lembaga penelitian dan pengembangan yang berada di bawah pemerintah/pemerintah daerah, perguruan tinggi maupun badan usaha.  Perlu didorong serta meningkatkan insentif ataupun bantuan dana untuk kegiatan riset dari lembaga pendukung.

Muhadjir Effendy (2019) menyatakan bahwa  permasalhan pendidikan Indonesia yakni akses layanan pendidikan belum merata dan belum memihak pada penduduk miskin. Sekitar 2,8 juta (22,7%) anak usia 16-18 tahun tidak sekolah , sebanyak 394 kecamatan tidak memiliki SMP/MTs Negeri, sebanyak 86,9 % Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang Sekolah Menengah, sebanyak 1.375 kecamatan tidak memiiliki sekolah menengah negeri, sekitar 40% anak usia 16-18 tahun dari kelompok 20% termiskin tidak sekolah, sebanyak 8.167 (29,2%) SMA/SMK adalah sekolah kecil (< 100 siswa) dan berkualitas rendah. (sumber:Kemdikbud,2019). Muhadjir,et,al menyatakan anak harus dibekali dengan kecakapan abad 21 yakni literacy, karakter dan kompetensi yaitu pendidikan 4.0 yang merupakan perpaduan antara manusia dan teknologi. Adaoun ketrampilan abad 21 yakni fondasi literasi yakni literasi, mumerik, literasi sains, literasi teknologi, literasi finansial serta literasi budaya. Sedangkan ketampilan adalah pemikiran pemikiran kritis, kreatifitas, komunikasi serta kolaborasi. Adapun kualitas  karate yakni inkuiri, inisiatif, kegigihan, adaptabilitas, kepemimpinan serta kesadaran budaya dan sosial

 

Banyak tantangan yang menghadang dalam proses pembangunan terutama di masa Covid-19. Dalam kaitan inilah produktivitas suatu bangsa benr-benar diuji termasuk kemampuan IIPTEKnya. Karena itu bangsa ini harus berupaya agar bisa mandiri dalam menghasilkan riset dan inovasi terutama dalam menghadapi wabah atau pandemic. Kuncinya adalah teknologi dibidang kesehatan obat-obatan atau farmasi harus terus dikembangkan. Pakar-pakar yang ahli dibidangnya harus berkolaborasi untuk terus menerus melakukan riset-riset penelitiannya. Riset terapan dan riset-riset modern maupun riset kajian rekayasa.

 

Penanganan Pandemi dengan IPTEK

 

Kehadiran riset dan teknologi dalam menangani Covid-19 akan menjadi faktor penentu keberhasilan dan peningkatan daya saing berbagai produk. Mengingat penduduk Indonesia mencapai 270 juta orang dan virus Covid-19 tidak dapat sirna dalam waktu singkat maka peranan IPTEK dalam menangani pandemic Covid-19 sangat dibutuhkan. Pemulihan ekonomi Indonesia di masa sekarang ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kesehatan masyarakatnya.Hingga saat ini Indonesia masih berupaya keras keluar dari pandemi COVID-19. Upaya tersebut membutuhkan partisipasi dan dukungan sinergis dari seluruh pihak, termasuk industri farmasi. Dalam penanganan pandemi, vaksinasi harus dilakukan secepat mungkin dengan cara luas sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Sehingga berhasil mencapai target herd imunity. Perkembangan pandemi Covid-19 dalam skala global masih penuh dengan dinamika. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak hanya bertumpu pada faktor produksi konvensional seperti penambahan kapital dan tenaga kerja, melainkan juga dipengaruhi oleh kemajuan IPTEK. Keterkaitan antara pembangunan Iptek dengan pembangunan ekonomi terjadi tatkala teknologi yang dihasilkan dapat mendukung dalam kegiatan ekonomi. Berbagai produk rekayasa teknologi tepat guna harus dioptimalkan dalam menangani wabah pandemic yang ada. Termasuk ke masa depan arah pengembangan teknologi farmasi maupun obat-obatan harus lebih dikembangkan untuk mengantisipasi munculnya berbagai wabah lainnya. Kita juga harus melakukan proses alih teknologi, difusi serta mendorong hasil riset inovatif para ilmuwan-ilmuwan Indonesia. Dengan dukungan dan pemanfaatan IPTEK di masa Covid-19 dapat membuat masyarakat beraktifitas dengan optimal dari rumah. Sangat sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi dimasa depan. Meski dengan menggunakan peralatan secanggih apapun kita tidak bisa memprediksinya dengan tepat. Begitulah kondisi yang sesungguhnya kadangkala selalu terjadi adu spirit antara Pendidikan dengan IPTEK. Termasuk teknologi Kesehatan secanggih apapun yang diciptakan saat ini tidak mampu meramalkan jenis-jenis penyakit apa yang muncul di masa depan termasuk obat ataupun resepnya. Cepatnya laju perubahan di masa kini dan dimasa depan menyadarkan kita untuk terus waspada dalam menghadapi berbagai kemajuan IPTEK. Jenis-jenis virus baru bisa saja muncul di masa depan dengan membutuhkan waktu yang lebih lama mengalahkannya.  Mencermati hal demikian kita harus mampu menciptakan beragam teknologi dalam mengantispasi munculnya jenis-jenis virus baru.  Memang pada akhirnya kita dituntut untuk berubah. Termasuk dalam bidang Pendidikan, sector Pendidikan harus berubah menciptakan bagaimana agar Pendidikan benar-benar mampu menjawab tantangan di masa depan. Termasuk dalam perubahan sistem, Pendidikan harus melakukan terobosan-terobosan baru dalam melakukan perubahan sistem. Sistem Pendidikan kita dimana yang salah, dimana kurang cocok serta dimana akar permasalahan yang sesungguhnya. Apakah masih relevan mengusung sistem Pendidikan kita saat ini dengan tuntutan perubahan yang ada. Sebagaimana banyak kalangan menyatakan bahwa tidak ada yang paling sulit, selain mempredisksi masa depan. Kita bisa menganalisa banyak data, tren dan membuat skenario. Tapi masa depan tidak linear. Merujuk pada perkembangan IPTEK yang sudah begitu besar dan memunculkan sejumlah inovasi baru. Inovasi seharusnya mampu menciptakan efisiensi dan efektifitas, juga memberi nilai tambah produk. Menurut Global lnnovation Index (GII) 2018, alokasi anggaran Indonesia terhadap penelitian dan pengembangan teknologi mencapai Rp 27 triliun. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan Filipina sekitar Rp 12 triliun dan Vietnam Rp 24 triliun. Suatu angka yang sangat luar biasa dialokasikan untuk anggaran penelitian dan pengembangan teknologi. Sebagaimana disampaikan Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada tanggal 4 Agustus 2020 bahwa mungkin tidak ada solusi ajaib atau instan untuk menangani COVID-19. Dan, jalan untuk bisa kembali ke kondisi normal seperti dahulu kala nampaknya masih panjang. (sumber:liputan6.com). Tedros Adhanom (2020) menyatakan pencarian vaksin untuk penyakit ini bakal jadi bersejarah karena upaya untuk menghadirkannya memiliki kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Jika mengacu pada uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kondisi riil benar terjadi adu spirit antara Pendidikan dengan IPTEK dalam menghadapi perkembangan global. Sesungguhnya fakultas-fakultas di Perguruan Tinggi (PT) harus memberikan ruang penelitian dan pengembangan terhadap IPTEK. Baik itu dibidang kedokteran, farmasi, bioteknologi dan lain sebagainya. Mengirimkan ilmuwan ke luar negeri minimal mereka harus memberikan kontribusi sepadan dengan biaya yang dikeluarkan oleh negara. Karena itu dibutuhkan komitmen bahwa kemajuan suatu bangsa diukur dari majunya Pendidikan suatu negara dan teknologi yang dihasilkan merupakan produk dari Pendidikan berkualitas, Semoga bermanfaat. (****)

 

Rujukan:

  1. Ariyanti,Hari,Menelusuri Asal Muasal Munculnya Virus Corona Covid-19, https://www.liputan6.com/news/read/4244241/menelusuri-asal-muasalnunculnya -virus-corona-covid-19, diakses pada 04 Mei 2020, pkl. 08.00 WIB.
  2. Yasmin, Puti, Asal-usul Virus Corona Berasal, dari mana Sebenarnya?, https://news.detik.com/berita/d-4966701/asal-usul-virus-corona-berasaldari-mana-sebenarnya, diakses pada 03 Mei 2020, pkl. 15.00 WIB
  3. Sutomo dan Sugito M.Pd. 2005. Kapita Selekta dan Problematika Teknologi Pendidikan. Surabaya: UNIPA
  4. Heinich, R., Molenda, M., Russell, J. D., Smaldino, S. E. 2002. Instructional Media and Technologies for Learning. New Jersey: Pearson Education.
  5. Selwyn, Neil. 2011. Education and Technology Key Issues and Debates. India: Replika Press Pvt Ltd. Toffler, A.1992. The Future Shock. Terjemahan Hermawan Sulistyo. Jakarta:
  6. https://www.liputan6.com
Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed