oleh

Pendidikan Berkualitas Solusi Mengatasi Ketidakseimbangan Lapangan Kerja

Oleh: Nelson Sihaloho

*) Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi

Rasional:

 

Pendidikan berkualitas dan bermutu memang menjadi harapan semua pihak termasuk suatu bangsa selalu berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya (SDM). Kualitas suatu bangsa memiliki relevansi dengan SDM yang dimilikinya. Permasalahan urgensial saat ini maupun di era global  khususnya abad 21 semakin bertambahnya jumlah pengangguran yang perlu mendapatkan perhatian serius. Pengangguran merupakan suatu istilah yang diberikan terhadap seseorang yang tidak memiliki pekerjaan atau tidak bekerja. Pengangguran terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara tenaga kerja dengan lapangan pekerjaan. Bahkan lapangan pekerjaan yang tercipta cenderung sedikit sehingga menyebabkan banyak tenaga kerja tidak mendapatkan pekerjaan. Produktivitas suatu negara sangat dipengaruhi oleh pendapatan masyarakat, sehingga pengangguran seringkali menjadi masalah yang sangat serius terhadap suatu negara. Karena  itu apabila dibiarkan maka pengangguran akan menyebabkan banyak masalah yang timbul seperti kemiskinan, masalah  sosial serta masalah lainnya.

Pendidikan berkualitas merupakan solusi untuk mengatasi ketidakseimbangan tenaga kerja dengan lapangan pekerjaan. Bahkan saat ini salah satu solusi yang ditawarkan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi telah mengembangkan Program Kewirausahaan Merdeka Belajar dimana Program Kewirausahaan Kampus Merdeka tersebut merupakan bagian dari program Kemdikbud untuk memperkuat ekonomi nasional dan mendukung percepatan ekonomi digital menuju revolusi industri 4.0. Pemetaan mutu pendidikan  terhadap keseimbangan tenaga kerja dengan serapan tenaga kerja dilapangan penting segera dilakukan dengan mencari alternative maupun solusinya.

 

Pendidikan Berkualitas

 

Mengutip, Suyanto & Abbas, (2001) menyatakan bahwa sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas perlu dipersiapkan matang-matang untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Ciri-ciri SDM yang berkualitas tersebut adalah (a) memiliki kemampuan dalam menguasai keahlian dalam suatu bidang yang berkaitan dengan iptek, (b) mampu bekerja secara profesional dengan orientasi mutu dan keunggulan, dan (c) dapat menghasilkan karya-karya unggul yang mampu bersaing secara global sebagai hasil dari keahlian dan profesionalitasnya. Pendidikan tidak hanya berperan menciptakan generasi muda sebagai agent of change yang membawa perubahan, namun generasi muda harus bisa menjadi agent of producer yang mampu menciptakan perubahan yang nyata. Pendidikan harus bisa menjadi patron bukan hanya dalam hal pendidikan formal dan mampu mengubah pola pikir anak bangsa untuk lebih kreatif serta daya inovatif generasi muda. Saat ini pendidikan menjadi tumpuan pemerintah sebagai upaya untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan dalam era Sustainable Development Goals (SDGs) hingga 2030  sebagaimana  arahan dari Forum PBB yang telah disepakati pada tanggal 2 Agustus 2015 yang lalu. Peningkatan pendidikan terhadap masyarakat Indonesia akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya sebagaimana tertuang dalam 17 poin SDGs, terutama untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia Indonesia. Dengan demikian diharapkan peran pendidikan mampu meningkatkan daya saing Indonesia dalam mendukung SDGs 2030. Salah satu poin penting yakni pada tahun 2030, secara signifikan meningkatkan pasokan guru yang berkualitas, termasuk melalui kerjasama internasional dalam pelatihan guru di negara berkembang, terutama negara kurang berkembang, dan negara berkembang kepulauan kecil.  Pendidikan yang berkualitas merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengubah suatu peradaban dan menentukan masa depan sebuah bangsa. Pendidikan berkualitas diperoleh tatkala kegiatan belajar dan mengajar saling berhubungan. Pengajaran harus mempengaruhi pembelajaran, dan pembelajaran harus mempengaruhi pengajaran. Prinsip-prinsip penting dalam pendidikan anak yang perlu menjadi perhatian dalam proses belajar-mengajar, yaitu prior knowledge, pemrosesan, pengaitan, metakognisi, penerjemahan, serta sintesis. Untuk meningkatkan kualitas SDM cara terbaik dan ekstra yang harus menjadi perhatian khusus adalah meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri. Pendidikan merupakan ilmu yang dipelajari sebagai bekal untuk mengembangkan diri dan melangsungkan kehidupan. Seharusnya output pendidikan dapat dibuktikan bahwa semakin baik pendidikan seseorang, maka SDM-nya  juga semakin berkualitas.  Begitu juga dengan guru, bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang memiliki pengetahuan yang baik atau mendalam tentang kurikulum pendidikan dan mampu mengembangkannya dengan baik serta sesuai dengan aturan pendidikan yang berlaku. Pendidikan berkualitas merupakan solusi untuk memperbaiki daya saing suatu bangsa.  Perlu digarisbawahi bahwa  periode SDGs Tahun 2016-2030 merupakan program yang kegiatannya meneruskan agenda-agenda sekaligus menindaklanjutin program yang belum selesai. Menjamin kualitas pendidikan inklusif dan adil dan mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup bagi semua.  Tahun 2030, memastikan bahwa semua peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan, termasuk antara lain, melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup yang berkelanjutan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, promosi budaya damai dan non-kekerasan, kewarganegaraan global dan apresiasi keanekaragaman budaya dan kontribusi budaya untuk membangun pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang anak, penyandang cacat dan sensitif gender dan memberikan aman , tanpa kekerasan, inklusif dan efektif lingkungan belajar untuk semua.

 

Tenaga Kerja

Krisis dan kesulitan global yang terjadi pada saat ini  mapun yang kita hadapi di masa pandemic Covid-19 memberikan banyak pelajaran berharga. Dengan kreatifitas bersama dan kolaborasi bangsa kita diyakini  akan mampu keluar dari krisis dengan kemampuan adaptasi dan  inovasi yang lebih tinggi.  Termasuk harus beradaptasi dan meningkatkan ukuran  pembangunan Pendidikan yang sesuai untuk sistem pendidikan kita di masa depan. Tantangan di masa depan yang akan kita hadapi semakin kompleks, terutama bagaimana mewujudkan  pendidikan sebagai salah satu pintu masuk untuk mempersiapkan revolusi Industri 4.0.  Dalam SDGs juga tercantum bahwa Pendidikan harus menjalankan fungsi seleksi, latihan dan pengembangan tenaga kerja.  Dalam rangka menyiapkan tenaga kerja untuk suatu jabatan tertentu, maka dalam kegiatannya akan terjadi tiga kegiatan yaitu kegiatan, latihan untuk suatu jabatan dan pengembangan tenaga kerja tertentu. Proses seleksi ini terjadi di segala bidang baik ketika masuk sekolah maupun ketika ingin masuk pada jabatan tertentu. Untuk masuk sekolah tertentu harus mengikuti ujian tertentu, untuk masuk suatu jabatan tertentu harus mengikuti testing kecakapan tertentu. Melalui hal ini, perkembangan pendidikan dapat diketahui serta terukur. Begitu juga dengan pengangguran merupakan salah satu masalah penting yang harus segera didapatkan solusinya agar tingkat pengangguran dapat berkurang. Pengangguran adalah istilah untuk seseorang yang tidak bekerja ataupun saat ini sedang mencari pekerjaan. Seseorang dikatakan seorang pengangguran jika memiliki salah satu ciri-ciri yakni sedang tidak bekerja, sedang dalam keadaan mempersiapkan usaha baru. Tidak memiliki pekerjaan karena orang tersebut merasa tidak akan mungkin untuk mendapatkan pekerjaan serta seseorang yang baru mendapatkan pekerjaan akan tetapi belum mulai bekerja. Adapun jenis pengangguran yakni jenis pengangguran berdasarkan jam kerja terbagi menjadi pengangguran jam terbuka, pengangguran terselubung, dan setengah pengangguran. Kemudian jenis pengangguran berdasarkan faktor penyebabnya seperti pengangguran friksional, siklial, struktural dan teknologi. Selama ini beberapa upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi masalah pengangguran yakni menciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Meningkatkan kualitas tenaga kerja, mengadakan proyek magang terhadap para calon tenaga kerja. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja, pengembangan sektor informal, pengembangan program transmigrasi serta meningkatkan investasi. Kendati demikian hingga saat ini pengangguran masih menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia. Sangat disayangkan sebagian besar dari jumlah pengangguran di Indonesia adalah lulusan sarjana. Kondisi tersebut sangat dikhawatirkan mengingat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan akan semakan sulit dan ketat dengan datangnya Revolusi Industri 4.0. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2017, jumlah pengangguran terbuka mencapai 5,50 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta penduduk yang diantaranya merupakan pengangguran terdidik dengan persentase sekitar 12,6 persen untuk tingkat lulusan universitas. Beberapa kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran saat diantaranya yakni Pengembangan Informasi Pasar Kerja (Labor Market Information), Reformasi Pelatihan Kerja (Training Reforms).

 

Strategi Menghadapi Masa Depan

Pengangguran atau tunakarya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Sukirno (2004:327) menyatakan pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah “pengangguran terselubung” di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang. Karena itu, lembaga pen­didikan khususnya sekolah dan kampus harus berupaya dalam menciptakan generasi dan lu­lusan yang terdidik, kreatif, progresif, dan mandiri. Ke depan pendidikan berbasis soft skill harus mendapatkan porsi untuk ditingkatkan. Bahkan diperlukan upaya-upaya preventif untuk mengurangi polusi informasi. Polusi informasi, polusi yang sangat berbahaya memang sedang dan sudah membajiri area di sekitar kita. Polusi informasi merupakan propagasi/penyebaran informasi yang salah atau pemanfaatan informasi yang digunakan untuk mengendalikan hidup manusia tanpa atau dengan disadari yang disalahgunakan. Adapun faktor penyebab dari polusi informasi yakni faktor ekonomi, kurangnya edukasi, adanya sumber masalah. Di era modern seperti ini, penyebaran informasi semakin luas, maka penyebaran dari polusi informasi juga semakin cepat dan meluas. Sumber masalah bisa dari media massa, internet, media sosial, dan lain-lain. Termasuk informasi-informasi pekerjaan yang dibutuhkan juga banyak yang diduga HOAX. Dimana  HOAX merupakan padanan kata dari polusi informasi. Untuk mengenali HOAX, kita dapat mempelajari tentang manajemen informasi seutuhnya.. Karena itu pendidikan  harus dapat menghantarkan bangsa ini, mewujudkan cita-citanya, menyelesaikan tantangan masa depan manusia bersama teknologi serta mampu memproyeksikan jenis pekerjaan baru yang muncul di masa depan. Bahwa dengan kehadiran industri 4.0 serta perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat menghadirkan peluang sekaligus tantangan terhadap perusahaan maupun pekerja. Hasil riset bertajuk “Future of Jobs Report 2020” yang dirilis World Economic Forum mengungkapkan, pergeseran dan perubahan yang terjadi antara manusia, mesin, dan algoritme membuat 85 juta pekerjaan di dunia akan hilang dalam waktu lima tahun ke depan.  Sementara itu, sebanyak 97 juta pekerjaan baru yang lebih adaptif dengan fenomena tersebut diprediksi akan tumbuh. Bahkan akan ada beberapa jenis disrupsi yang akan mempengaruhi kemunculan profesi baru di masa depan. Pertama, penerapan teknologi dan digitalisasi di hampir seluruh aspek kehidupan manusia yang menyebabkan terjadinya banjir data. Kemudian, terjadinya perubahan sifat karier dan keterampilan (skill). Hard skill yang dimiliki seorang pekerja saat ini belum tentu masih relevan dalam waktu 2,5-5 tahun ke depan apabila tidak terus ditingkatkan.  Angkatan kerja juga akan sangat beragam di masa depan, mulai dari pekerja berusia muda hingga tua. Mereka pun tidak hanya bersaing dengan sesama pekerja, tapi juga bersaing dengan robot-robot pintar. Selain itu muncul perkembangan teknologi dalam bentuk industri digital, automasi, robotisasi, serta resesi global merupakan kombinasi dahsyat yang akan mengubah lanskap pekerjaan di masa depan. Mempersiapkan SDM yang mampu beradaptasi dan memiliki motivasi belajar sepanjang hayat (long life learning) menjadi sangat penting. Dunia pendidikan harus bisa adaptif dan fleksibel sehingga para siswa juga bisa beradaptasi untuk menghadapi perubahan-perubahan di masa depan. Masa depan Indonesia terletak pada kemampuan para pemimpin yang mampu mempersiapkan SDM yang maju dan unggul dari bangsa lainnya. Proses pendidikan yang dilakukan  harus mampu membuat manusia Indonesia lebih produktif dan berdaya saing. Berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan terus dilakukan  salah satu diantaranya dengan mendorong akses edukasi secara digital. Data dari Bank Dunia pada 2020 menunjukkan, Human Capital Index (HCI) Indonesia berada di angka 0,53. Sedangkan untuk Singapura yang memiliki skor 0,88, Vietnam 0,69 poin, Malaysia 0,61, Brunei Darussalam 0,63, dan Thailand 0,61. Mewujudkan SDM yang unggul, tentu tak hanya berfokus pada pengembangan yang sifatnya digital semata. Tapi, juga pembangunan infrastruktur di dunia nyata. Karena itu, pengembangan SDM  harus terus dilakukan dengan berkelanjutan, dengan suatu usaha terencana sebagai upaya untuk meningkatkan SDM kompetensi bangsa. Untuk mengantisipasi kondisi dimasa depan kita harus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan implikasi yang dapat mengganggu akibat teknologi baru di dunia kerja masa depan termasuk dalam memenuhi permintaan pasar kerja. Karena itu pendidikan berkualitas menjadi solusi dalam mengatasi ketidakseimbangan tenaga kerja maupun lapangan kerja. Pendidikan Abad 21 harus mampu memberikan solusi terbaik dalam mengatasi berbagai permasalahan tenaga kerja baik itu ketrampilan, skill mapun SDM komoetitif lainnya. Dimasa depan akan terjadi perubahan struktur tenaga kerja bahkan aka nada pekerjaan yang hilang. Karena itu ketrampilan dan skill harus terus diasah serta mampu beradaptasi terhadap perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) agar setiap orang mampu mendapatkan pekerjaan dengan layak. Sebagaimana visi Pembangunan Indonesia 2045 dan tantangannya yakni  menjadi negara pendapatan tinggi dan ekonomi terbesar dunia. Ekonomi modern dengan tingkat kesejahteraan berkualitas., PDB per kapita: USD 23.199. Dengan memanfaatkan revolusi industri 4.0 sesuai dengan karakteristik masing-masing industri untuk peningkatan eWisiensi. Produktivitas tenaga kerja ditingkatkan dan kemajuan teknologi dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Perubahan struktur ekonomi dan kemajuan teknologi berpengaruh pada struktur tenaga kerja. Implikasinya adalah menuntut kualitas SDM, produktivitas dan penguasaan Iptek tinggi.  Semoga bermanfaat. (****).

 

Rujukan

1.     Becker, BE, Huselid, ME & Ulrich, D. 2001. HR Scorecard: Menghubungkan orang, strategi, dan kinerja. Boston: Harvard Business School Press.

2.     Dessler, G. 2003 Manajemen Sumber Daya Manusia. Jilid 2. Edisi Kesembilan. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia.

3.     UNICEF, 2007. Plus 5-Review of the 2002 Special Session on Children and World Fit for Children Plan of Action, Indonesia. Jakarta, UNICEF

4.     www.bps.go.id diakses tanggal: 18 Februari 2018

5.http://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/30/080200126/balai-latihan-kerja-sarana-mencetak-tenaga-terampil-berkualitas- diakses tanggal: 19 Februari 20

6.http://finansial.bisnis.com/read/20170825/9/684272/menuju-indonesia-2045-inilah- tiga-tahap-reformasi-tenaga-kerja-indonesia diakses tanggal: 19 Februari 2020

7..http://inaycahayakarunia.blogspot.co.id/2012/12/policy-brief.html “Pengangguran Terdidik Menjamur, Salah Siapa?” Diakses tanggal 20 Februari 2018

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed