oleh

Menakar Keunggulan” Program Merdeka Belajar

Oleh: Nelson Sihaloho

Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

 

Rasional:

 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Nadiem Anwar Makarim, pada Selasa 5 Januari 2021   menjelaskan, “strategi transformasi yang begitu besar dan kerja yang tak kenal henti mungkin disalahartikan sebagai tidak fokusnya upaya transformasi. Namun, jika dipahami lebih dalam, semua yang dikerjakan Kemendikbud menyasar pada pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia”. (sumber: Tribunnews.com Selasa, 5 Januari 2021, “Capaian Kemendikbud Tahun 2020 dan Sasaran Tahun 2021).

Transformasi digital saat ini maupun dimasa mendatang akan terus bergerak dengan dinamis seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Dimasa pandemic Covid-19 tranformasi digital sangat dibutuhkan untuk mendorong hadirnya kebijakan berbasis bukti. Kemdikbud Ristek Dikti saat ini juga terus berupaya untuk mengoptimalkan implementasi Program Merdeka Belajar maupun Program Sekolah Penggerak (PSP) yang merupakan katalis untuk mewujudkan visi reformasi pendidikan Indonesia. Program Kemendikbud ini akan berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik melalui enam Profil Pelajar Pancasila. Program ini dirancang sebagai upaya untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global.  Program Sekolah Penggerak tidak hanya ada di Indonesia, semua sekolah di dunia banyak yang sedang mengalami transformasi pada output pembelajaran yang lebih esensial dan fundamental. Akankah transformasi dalam sistem pendidikan sumberdaya manusia kita semakin meningkat.

Kata kunci: menakar,  unggulan, merdeka belajar

 

Strategi Kemdikbud

 

Berbagai strategi untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan terus dioptimalkan oleh Kemdikbud  Ristek Dikti. Ada empat strategi utama Kemendikbud yakni, pertama, pembangunan infrastruktur dan teknologi; kedua, penguatan kebijakan, prosedur, dan pendanaan; ketiga, penguatan kepemimpinan, masyarakat, dan kebudayaan; serta keempat, penguatan kurikulum, pedagogi, dan asesmen.

Untuk program Merdeka Belajar 2021 sebagaimana data berbagai sumber dari Kemdibud yakni berfokus pada delapan prioritas. Pertama, pembiayaan pendidikan diantaranya Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dengan target 1,095 juta mahasiswa, KIP Sekolah dengan target 17,9 juta siswa, layanan khusus pendidikan masyarakat dan kebencanaan dengan target 42.896 sekolah, tunjangan profesi guru dengan target 363 ribu guru, dan pembinaan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), dan bantuan pemerintah kepada 13 SILN dan 2.236 lembaga.

Kemudian program digitalisasi sekolah dan medium pembelajaran melalui empat sistem penguatan platform digital, delapan layanan terpadu Kemendikbud, kehumasan dan media, 345 model bahan ajar dan model media pendidikan digital, serta penyediaan sarana pendidikan bagi 16.844 sekolah. Selanjutnya adalah pembinaan peserta didik, prestasi, talenta, dan penguatan karakter. Prioritas ini akan diciptakan melalui tiga layanan pendampingan advokasi dan sosialisasi penguatan karakter, pembinaan peserta didik oleh 345 pemerintah daerah, serta peningkatan prestasi dan manajemen talenta kepada 13.505 pelajar. Pada 2021 Kemendikbud menargetkan akan melakukan pendidikan terhadap 19.624 orang guru penggerak, sertifikasi terhadap 10.000 guru dan tenaga kependidikan, rekrutmen guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) oleh 548 pemerintah daerah, serta penjaminan mutu, sekolah penggerak, dan organisasi penggerak kepada 20.438 orang guru.

Prioritas berikutnya, adalah dalam peningkatan kurikulum dan asesmen nasional Kemendikbud akan melakukan pelatihan kurikulum baru kepada 62.948 orang guru dan tenaga kependidikan, pendampingan dan sosialisasi implementasi kurikulum dan asesmen di 428.957 sekolah, mengembangkan 4.515 model kurikulum dan perbukuan, dan akreditasi dan standar nasional pendidikan di 94.912 lembaga. Keenam, dalam revitalisasi pendidikan vokasi, Kemendikud akan merevitalisasi 900 SMK yang berbasis industri 4.0, akan melakukan dukungan dan percepatan link and match dan kemitraan dengan 5.690 orang dan 250 dunia usaha dan dunia industri (DUDI), dukungan pencapaian indeks kinerja utama pada 47 Perguruan Tinggi Negeri Vokasi, akan melakukan pendidikan kecakapan kerja dan pendidikan kecakapan kewirausahaan kepada 66.676 orang, penguatan pendidikan tinggi vokasi pada 200 program studi, sertifikasi kompetensi kepada 300 orang dosen, penguatan pendidikan PNBP/BLU kepada 75 perguruan tinggi, dan penguatan sarana prasarana di delapan perguruan tinggi.  Prioritas ketujuh adalah Kampus Merdeka, Kemendikbud mendukung sepenuhnya pencapaian indeks kinerja utama (IKU) bagi 75 PTN (BOPTN), peningkatan kelembagaan pendidikan tinggi, competitive fund dan matching fun bagi Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta, peningkatan kualitas SDM, peningkatan kualitas pembelajaran dan kemahasiswaan sehingga tercipta 50 ribu mahasiswa berwirausaha 400 ribu mahasisa Kampus Merdeka, 660 program studi terkait inovasi pembelajaran digital, serta pengembangan kelembagaan perguruan tinggi. Kedelapan, dalam pemajuan kebudayaan dan bahasa, Kemendikbud akan memberikan apresiasi dan peningkatan SDM kepada 5.225 orang di 994 satuan pendidikan,mengadakan kegiatan dan program publik dengan sasaran 619.515 orang, 450 layanan, 352 kegiatan dan satu platform holistik, pengelolaan cagar budaya dan warisan budaya takbenda pada 72.305 unit, penguatan desa dan fasilitas bidang kebudayaan kepada 359 desa dan 260 kelompok masyarakat, serta layanan kepercayaan dan masyarakat adat kepada 1.031 orang di 25 wilayah adat.

Penguatan Program

Penguatan program merdeka belajar dan program sekolah penggerak dilakukan dengan melibatkan kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik, dan guru. Adapun bentuk penguatan meliputi pelatihan dan pendampingan intensif (coaching one to one) dengan pelatih ahli yang disediakan oleh Kemendikbud. Kemendikbud kini telah merancang pembelajaran berdasarkan prinsip yang terdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya. Termasuk perencanaan berbasis data, digitalisasi sekolah. Dengan konsep meredeka belajar diyakini akan merubah sistem pengajaran yang biasanya berpaku dalam kelas bahkan dapat memasukkan instrument lain di luar kelas sebagai bahan ajar. Melalui konsep Merdeka Belajar diharapkan kemampuan observasi siswa terhadap lingkungan sekitar dalam proses pembelajaran semakin kuat. Begitu juga dengan Guru Penggerak tempat pelatihannya dilakukan di sekolah. Program bentuk sekolah ini ditekankan pada pelatihan mentorship dan kepemimpinan agar guru yang mengikuti pelatihan, mampu membantu guru-guru lain di kemudian hari. Guru yang lulus dari program Guru Penggerak akan diarahkan pada tiga pilihan jenjang karir yaitu menjadi kepala sekolah, pengawas sekolah, dan instruktur pelatihan guru. Mereka diharapkan menjadi teladan bagi guru lain dan menjadi agen perubahan di dalam ekosistem pendidikan. Semoga dengan model rekruitmen seperti ini mengurangi bentuk penyimpangan termasuk mengurangi penyimpangan dalam bentuk kolusi baru. Selama ini diduga terjadi penyimpangan atas rekruitmen Kepala Sekolah, Pengawas maupun Instruktur Pelatihan Guru lebih kental dengan nuansa politik kekerabatan.  Dunia pendidikan harus dijadikan sebagai pusat keberhasilan suatu Negara dalam meningkatkan mutu dan kualitas SDM. Dengan kualitas pendidikan yang baik akan kualitas SDM suatu Negara alan semakin diakui kompetitif. Sekadar mengingatkan bahwa transformasi pendidikan  tidak hanya terjadi satu kali saja, akan tetapi telah mengalami beberapa kali perombakan sistem. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan 11 kali pergantian kurikulum pendidikan nasional dalam sejarah pendidikan Indonesia. Pergantian tersebut terjadi dalam rentang tahun 1947 sampai 2013. Kemendikbud telah mencetuskan Enam Profil Pancasila sebagai tujuan dari Merdeka Belajar. Enam aspek tersebut yakni 1) Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, 2) Kreatif, 3) Gotong Royong, 4) Berkebinekaan Global, 5) Bernalar Kritis, 6) Mandiri. Termasuk Guru Penggerak memiliki 6 peran yaitu: 1) Mendorong Peningkatan Prestasi Akademik Murid, 2) Mengajar dengan Kreatif, 3) Mengembangkan Diri Secara Aktif, 4) Mendorong Tumbuh Kembang Murid Secara Holistik, 5) Menjadi Pelatih (Coach/Mentor) Bagi Guru Lain untuk Pembelajaran yang Berpusat Pada Murid, 6) Menjadi Teladan dan Agen Transformasi Bagi Ekosistem Pendidikan.

Harus Bisa Melakukan

Sekadar mengingatkan bahwa tatkala kita merujuk kembali laporan PISA 2015 (program yang mengurutkan kualitas sistem pendidikan di 72 negara), Indonesia menduduki peringkat ke62. Dua tahun sebelumnya (PISA 2013), Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah atau peringkat 71 dari 73 negara. PISA membuat peringkat dengan cara menguji pelajar usia 15 tahun untuk mengetahui apakah mereka memiliki kemampuan dan pengetahuan (bidang ilmu pengetahuan alam, membaca, dan matematika) yang diperlukan agar bisa berpartisipasi penuh dalam masyarakat modern. PISA berlandaskan asumsi bahwa seseorang bisa sukses di ekonomi modern bukan karena apa yang mereka tahu, tetapi apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang mereka tahu. Dalam bahasa lain yang lebih universal, kita mengenal istilah “How to think, not what to think” untuk menggambarkan asumsi PISA tersebut. Karena itu, mutu pendidikan dapat diketahui pada kualitas keluarannya.  Adapun bentuk tranformasi pendidikan yang mengakomodasi kecakapan abad 21 adalah 9 pilar. Yakni 1) Knowledge & Character (mengarahkan pembentukan pola pikir dan karakter); 2).Self Mastery (Penguasaan kontrol diri);3).Intelectual Capacity (Kecakapan proses berpikir);4). Interpersonal and Communication Skill (Membangun kesadaran berinteraksi dan menyampaikan gagasan);5). Leadership (Membangun jiwa kepemimpinan);6). Foreign Language Proficiency (Peningkatan kemampuan berbahasa Inggris);7). Entrepreneurship and Social Entrepreneurship (Pengembangan jiwa kewirausahaan);8). History of World Civilization (Penguatan wawasan sejarah peradaban dunia);9). Nationalism and Democracy (Penanaman jiwa nasionalisme dan demokrasi). Sebagaimana dalam aturan yang ada, Kemendikbud mengisyaratkan bahwa Sekolah Penggerak bukanlah sekolah favorit atau unggulan melainkan sekolah yang berani mengubah proses pendidikan dan meningkatkan kapasitas SDM-nya.  Artinya sekolah yang berani bertransformasi menjadi sekolah bermutu. SDM sekolah, seperti kepala sekolah, guru, pengawas, dan penilik sekolah menjadi sasaran untuk ditingkatkan kompetensinya. SDM ini harus menjadi penggerak terhadap sekolahnya sehingga mutu sekolah semakin meningkat. Mengacu pada kondisi tersebut berarti sekolah harus bisa melakukan transformasi dalam meningkatkan mutu dan kualitas sekolahnya. Bisa mengadopsi program-program yang dirasakan bisa meningkatkan mutu dan kualitas SDM peserta didik. Permasalahan yang kita hadapi adalah bagaimana agar SDM-SDM yang dididik pada masa kini mampu menjadi SDM pengganti genreasi penerus yang lebih kompetitif serta lebih baik. Karena itu proses transformasi sekolah harus berjalan dengan benar dan tidak melenceng dari tujuan utamanya. Apabila ada sebuah sekolah yang proses transformasinya lamban  dan agak sulit dilakukan karena SDM-SDM yang terkait didalamnya “berada pada titik jenuh” bahkan “titik jenuhnnya” terkait langsung dengan sistem yang diciptakan pada lingkup sekolah. Transformasi sekolah dapat terjadi apabila sebuah sekolah mempunyai kepemimpinan yang transformatif. Kepala sekolah ditutut untuk terus menerus menginspirasi SDM yang dimilikinya  untuk meningkatkan profesionalisme guru, tenaga administrasi sekolah (TAS) termasuk peserta didik. Guru harus melakukan transformasi untuk menerapkan pembelajaran yang berkualitas. Staf  TAS juga demikian harus memberikan pelayanan terbaik sesuai job description masing-masing. Martin, (2019) mengingatkan bahwa ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan melakukan transformasi. Pertama, kita perlu memahami konteks sekolah, yang mencakup komposisi populasi sekolah (siswa, guru, administrator, dan komunitas yang mendukung sekolah), praktik dan pengelolaan pendidikan yang mengarah pada pembelajaran, dan konten untuk pembelajaran. Konteks sekolah juga dibentuk oleh berbagai aspek lain, seperti rutinitas dan tradisi yang ditetapkan sekolah, hubungan kolegial guru, ruang dan waktu guru untuk belajar maupun hal lainnya. Kedua, kita harus tahu benar peran penting staf administrasi sekolah. Selayaknya peran penting staf administrasi sekolah tidak bisa dilupakan. Staf administrasi sekolah mempunyai peran sentral dalam pelayanan prima administrasi sekolah. Pelayanan yang prima dapat berimbas dalam pengembangan lingkungan belajar dan budaya sekolah yang positif bersama guru dan siswa. Ketiga, pemerintah harus memberikan pengembangan kapasitas dan profesionalisme pendidik yang selaras dan kohesif untuk memenuhi kebutuhan siswa. Untuk memenuhinya, proses pengembangan kapasitas dan profesionalisme guru tersebut harus berkesinambungan antara kebutuhan siswa dan kebutuhan guru itu sendiri. Pengembangan yang dilakukan tidak harus dilakukan dengan intervensi yang seragam. Namun, kebutuhan pengembangan profesionalisme guru dapat dilakukan dengan melakukan diferensiasi berdasarkan kemampuan dan kapasitas guru yang ada. Martin et.al.  juga menegaskan program Sekolah Penggerak Kemendikbud seharusnya juga memprogramkan pada pengembangan staf administrasi sekolah. Peran sentral dari staf administrasi sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar dan budaya sekolah selayaknya dipertimbangkan untuk ditingkatkan kapasitas dan profesionalismenya. Layanan staf administrasi sekolah yang prima dan profesional akan mempercepat sekolah untuk memperbaiki mutu dan kualitas pendidikan di dalamnya. Dengan demikian PSP merupakan program yang dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem sehingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi PSP. Banyak keuntungan yang akan didapatkan oleh sekolah yang melaksanakan PSP diantaranya peningkatan mutu hasil belajar dalam kurun waktu 3 tahun. Peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru, percepatan digitalisasi sekolah. Kesempatan menjadi katalis perubahan bagi satuan pendidikan lain, percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila. Mendapatkan pendampingan intensif serta memperoleh tambahan anggaran untuk pembelian buku bagi pembelajaran dengan paradigma baru. Diprediksikan apabila program Kemdikbud dilaksanakan dengan baik, benar serta terukur selain memiliki keunggulan juga akan mampu meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan. Dukungan semua pihak  terutama para stakeholders sangat dibutuhkan untuk mengimplementasikan program Merdeka Belajar serta PSP kearah yang lebih baik. Semoga Bermanfaat. (*****).

 

Rujukan

  1. Barker, B. (2005). Transforming schools: illusion or reality? School Leadership and Management, 25 (2): 99-116.
  2. Danim, Sudarwan, (2009), Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional Kekepalasekolahan, Jakarta: Rineka Cipta
  3. Hasibuan, Melayu (2000), manajemen sumber daya manusia, Jakarta: PT Bumi Aksara
  4. Martin, L.E., Kragler, S., Quatroche, D., Bauserman, K. (2019). Transforming Schools: The Power of Teachers’ Input in Professional Development. Journal of Educational Research and Practice, 9 (1): 179–188. DOI:10.5590/JERAP.2019.09.1.13.
  5. Usman, Nasir, (2012) Manajemen Peningkatan Mutu Kinerja Guru, konsep, teori dan model, Bandung: Citapustaka media perintis
  6. Wahjosumidjo, (2007), Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya, Jakarta : Raja Grafindo Persada
  7. Wahyudi, (2009), Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajar, Bandung: Alfabeta
  8. https://www.tribunnews.com/pendidikan/2021/01/05/capaian-kemendikbud-tahun-2020-dan-sasaran-tahun-2021?page=all.
Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed