oleh

Meningkatkan Sikap Mental Siswa Berkompetisi Dengan Pembelajaran Partisipatif

Oleh:Nelson Sihaloho

Abstrak:
Saat ini semakin banyak strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Dikalangan peserta didik, pendidikan pada hakekatnya merupakan proses pengakumulasian pengetahuan dan ketrampilan yang kelak bermanfaat dalam kehidupannya. Para siswa juga cenderung memasuki kerangka kegiatan belajar yang berpusat pada mata pelajaran ataupun bidang studi.
Untuk mewujudkan pendidikan nasional salah satu yang perlu dikembangkan adalah sikap mental dalam menghadapi kompetisi terutama dalam menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dalam menghadapi kompetisi maupun lomba-lomba diperlukan suatu pembinaan yang berkelanjutan terus menerus. Pihak sekolah dituntut untuk melakukan pembinaan untuk mempersiapkan siswa/inya baik menghadapi kompetisi tingkat kota/kabupaten, provinsi, nasional bahkan internasional. Sebuah upaya yang sulit serta membutuhkan kinerja yang sungguh-sungguh dalam mewujudkannya. Pembinaan yang berhasil adalah usaha nyata, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan dengan cara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Karena itu salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan sikap mental siswa dalam menghadapi kompetisi adalah dengan pembelajaran partisipatif.
Kata kunci: sikap mental, kompetisi dan pembelajaran partisipatif

Pembinaan Sikap dan Mental

Pembinaan berasal dari kata bina, yang mendapat imbuhan pe-an, sehingga menjadi kata pembinaan. Pembinaan merupakan usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Pembinaan merupakan proses, cara membina dan penyempurnaan atau usaha tindakan dan kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Pembinaan pada dasarnya merupakan aktivitas atau kegiatan yang dilakukan dengan cara sadar, berencana, terarah, dan teratur serta bertanggung jawab dalam rangka penumbuhan, peningkatan dan mengembangkan kemampuan serta sumber-sumber yang tersedia untuk mencapai tujuan. Pembinaan adalah upaya pendidikan formal maupun non formal yang dilakukan dengan sadar, berencana, terarah, teratur. Dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, dan mengembangkan suatu dasar-dasar kepribadiannya seimbang, utuh dan selaras, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat. Kecenderungan/keinginan serta kemampuan-kemampuannya sebagai bekal, untuk selanjutnya atas perkasa sendiri menambah, meningkatkan dan mengembangkan dirinya, sesamanya maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu dan kemampuan manusiawi yang optimal dan pribadi yang mandiri. Mengutip Mangunhardjana untuk melakukan pembinaan ada beberapa pendekatan yang harus diperhatikan oleh seorang Pembina. Antara lain, pendekatan informative (informative approach), yaitu cara menjalankan program dengan menyampaikan informasi kepada peserta didik. Peserta didik dalam pendekatan ini dianggap belum tahu dan tidak punya pengalaman. Pendekatan partisipatif (participative approach), dimana dalam pendekatan ini peserta didik dimanfaatkan sehingga lebih ke situasi belajar bersama. Pendekatan eksperiansial (experienciel approach), dalam pendekatan ini menempatkan bahwa peserta didik langsung terlibat di dalam pembinaan, ini disebut sebagai belajar yang sejati, karena pengalaman pribadi dan langsung terlibat dalam situasi tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembinaan adalah suatu proses belajar dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang bertujuan untuk lebih meningkatkan kemampuan seseorang atau kelompok. Pembinaan tidak hanya dilakukan dalam keluarga dan dalam lingkungan sekolah saja, namun diluar keduanya juga dapat dilakukan pembinaan. Pembinaan dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler yang ada di sekolah maupun lingkungan sekitar. Sikap dalam bahasa Inggris disebut attitude, sedangkan istilah attitude berasal dari bahasa Latin yaitu aptus yang berarti keadaan siap secara mental, yang bersifat melakukan kegiatan. Arifin, (2015:124) menmyatakan bahwa sikap adalah kesiapan yang senantiasa cenderung berperilaku atau bereaksi dengan cara tertentu jika dihadapkan dengan suatu masalah atau objek. Howard dan Kendler sebagaimana dikutip Arifin,et.al mendefinisikan sikap merupakan kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, positif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial, seperti institusi, pribadi, situasi, ide, konsep, dan sebagainya. Adapun Imas Kurniasih dan Berlin Sani (2014: 65) menyatakan sikap adalah sebuah ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Dengan demikian sikap adalah pendirian yang tertanam kuat dalam diri seseorang yang memunculkan reaksi berupa tindakan atau perbuatan. Sikap merupakan faktor yang ada pada diri manusia yang dapat mendorong atau menimbukan perilaku tertentu. Sekalipun demikian, sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong lain yang ada dalam diri manusia. Menurut Bimo Walgito dalam Arifin (2015: 126) ada beberapa ciri-ciri sikap, sebagai berikut: 1) Selalu menggambarkan antara subjek dan objek. Objek dapat berupa benda, orang, ideologi, nilai-nilai sosial, lembaga masyarakat, dan sebagainya. 2) Tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman dan latihan. 3) Karena dapat dipelajari, sikap dapat berubah-ubah (meskipun untuk mengubahnya relatif sulit). 4) Tidak akan hilang meskipun kebutuhannya sudah terpenuhi. 5) Tidak hanya satu macam, tetapi sangat beragam sesuai dengan objek yang menjadi perhatian subjek. 6) Ada faktor motivasi dan perasaan yang membedakannya dengan perasaan (Arifin, 2015:126). Adapun fungsi sikap menurut Abu Ahmadi dalam Bambang Syamsul Arifin (2015:\126) digadi menjadi empat, antara lain: 1) Penyesuaian diri 2) Pengatur tingkah laku 3) Alat pengatur pengalaman 4) Pernyataan kepribadian.
Pembinaan mental dari sisi etimologis, kata pembinaan memiliki arti: 1) proses, cara, perbuatan membina; 2) pembaruan, penyempurnaan; 3) usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Jadi, pembinaan merupakan suatu perbuatan membina untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Mental yaitu yang berhubungan dengan pikiran, akal, ingatan atau proses berasosiasi dengan pikiran, akal dan ingatan. Mengutip Zakiah Daradjat berpendapat bahwa kesehatan mental adalah usaha atau kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna pada batin seseorang. Jadi pembinaan mental adalah usaha yang dilakukan seorang pembimbing dalam memberikan bimbingan kepada klien mengenai kondisi batin dan jiwa seseorang agar menjadi pribadi yang memiliki kesehatan mental dan bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Pembinaan mental adalah suatu tindakan, proses, hasil, atau pernyataan menjadi lebih baik. Pembinaan menunjukkan adanya kemajuan, peningkatan, perubahan, evolusi atau berbagai kemungkinan, berkembang, atau peningkatan atas sesuatu. Pembinaan mengandung dua hal, yaitu pertama, bahwa pembinaan itu sendiri bisa berupa tindakan, proses, atau pernyataan dari suatu tujuan, kedua, pembinaan bisa menunjukkan kepada perbaikan atas sesuatu. Pembinaan mental adalah semua upaya yang dilakukan dengan sadar, berencana, teratur, terarah dan tujuannya jelas, pembinaan mental tersebut dilakukan dengan memberikan pengarahan, bimbingan, dan pengawasan (control). Pembinaan mental adalah usaha untuk memperbaiki dan memperbaharui suatu tindakan atau tingkah laku seseorang melalui bimbingan mental/jiwanya sehingga memiliki kepribadian yang sehat, akhlak yang terpuji dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupannya.
Dalam kompetisi baik jenjang SD, SMP sikap mental yang kuat dan siap berkompetisi sangat dibutuhkan agar siswa memiliki kepercayaan diri penuh. Berbagai bidang kompetisi baik level maupun jenjang kota/kabupaten, provinsim nasional hingga intermasional rutin setiap tahun dilakukan. Di masa pandemic Covid-19 kompetisi memang agak meurun volume maupun kegiatannya. Kompetisi Olympiade Sains Nasional (OSN) misalnya membutuhkan figure-figur guru yang andal. Selain andal juga mengerti dan menguasai tentang seluk beluk luar dalam OSN. Tidak heran meski gurunya bergelar akademik S2 (Magister) sangat sulit meloloskan siswanya ke jenjang nasional. Butuh beljar bertahun-tahun agar bisa meloloskan siswanya ke jenjang nasional. Begitu juga dengan lomba ataupun kompetisi olympiade penelitian siswa Indonesia (KOPSI) meloloskan siswa ke jenjang nasional membutuhkan suatu perjuangan yang berat. Selain harus gigih ulet rela berkorban meluangkan waktu membina siswa juga harus siap dengan berbagai strategi yang siap diterapkan dilapangan.

Pembelajaran Partisipatif

Agar bisa berhasil dalam membina siswa strategi mengajar tidak hanya bertumpu pada usaha menyampaikan ilmu pengetahuan semata. Harus ada usaha untuk menciptakan sistem lingkungan dimana siswa lebih diberikan ruang untuk mengembangkan rasa keingintahuan, menyampaikan gagasan-gagasannya, serta bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Strategi pembelajaran tersebut dikenal dengan paradigma pembelajaran konstruktivisme.Pengembangan pembelajaran yang lebih memperhatikan aspek siswa diantaranya adalah pembelajaran partisipatif. Pembelajaran partisipatif merupakan upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang diwujudkan dalam tiga tahapan kegiatan pembelajaran yaitu perencanaan program (program planning),pelaksanaan program (program implementation) dan penilaian program (program evaluation) atau kegiatan pembelajaran. Strategi pembelajaran partisipatif apabila mengacu pada konsep strategi partisipatif yang dikemukakan Sudjana (2000 dan 2001), yakni upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Uno (2007) dalam Bambang Warsita (2008: 268) strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang guru untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar. Adapun Dimyati dan Mudjiono (2009:172) strategi pembelajaran terbagi ke dalam 2 bagian yaitu teacher centered dan student centered. Strategi mengajar teacher centered juga dinamakan dengan model ekpositori yang merupakan kegiatan mengajar terpusat pada pendidik. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Menurut Damyati dan Mudjiono,et.al, dalam strategi pembelajaran teacher centered “model ekspositori” peranan pendidik yang penting adalah sebagai berikut: 1) Penyusun program pembelajaran. 2) Pemberi informasi yang benar. 3) Pemberi fasilitas belajar yang baik. 4) Pembimbing siswa dalam pemerolehan informasi yang benar. 5) Penilai pemerolehan informasi. Menurut Dimyati dan Mudjiono,et,al dalam strategi pembelajaran teacher centered “model ekspositori” peranan warga belajar yang penting adalah pencari informasi yang benar, pemakai media yang benar dan menyelesaikan tugas sehubungan dengan penilaian guru. Adapun strategi mengajar student centered juga dinamakan dengan model inkuiri yang merupakan pengajaran yang mengharuskan warga belajar mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. Tujuan dari student centered atau model inkuiri adalah mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah dengan cara ilmiah. Dimyati dan Mudjiono,et,al, dalam strategi pembelajaran student centered atau model inkuiri ada beberapa peranan pendidik yang penting. Diantaranya 1) Menciptakan suasana bebas berfikir sehingga siswa berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah; 2) Fasilitator dalam penelitian; 3) Rekan diskusi dalam klarifikasi dan pencarian alternatif pemecahan masalah; dan 4) Pembimbing penelitian, pendorong keberanian berfikir alternatif dalam pemecahan masalah. Sedangkan dalam strategi pembelajaran student centered atau model inkuiri peranan pendidik yang penting adalah 1) Mengambil prakarsa dalam pencarian masalah dan pemecahan masalah. 2) Pelaku aktif dalam belajar melakukan penelitian. 3) Penjelajah tentang masalah dan metode pemecahan. 4) Penemu pemecahan masalah. Sudjana (2000:172-174) memberikan rambu-rambu sebagai karakteristik dari strategi pembelajaran partisipatif, yakni (1) berdasarkan kebutuhan belajar (learning need based), (2) berorientasiukan pada tujuan pembelajaran (learning goals and objectives oriented), (3) berpusat pada peserta didik (participant centered), dan (4) berangkat dari pengalaman belajar (experiential learning). Model pengembangan strategi partisipatif sebagaimana ditawarkan Crone dan Hunter (1980) terwujud dalam empat langkah kegiatan. Langkah pertama adalah mempersiapkan kelompok belajar. Kedua ialah mengidentifikasi kebutuhan belajar dan menganalisis tujuan pelatihan/pembelajaran. Ketiga ialah menyusun dan mengembangkan bahan belajar serta memilih metode dan teknik pembelajaran. Keempat yaitu menilai pelaksanaan dan hasil pelatihan/pembelajaran.Sudjana (2001:65) mengajukan 6 tahapan yang dapat ditempuh dalam kegiatan partisipatif. Keenan kegiatan itu meliputi tahapan-tahapan: (1) pembinaan keakraban; (2) identifikasi kebutuhan, sumber, dan kemungkinan hambatan; (3) perumusan tujuan belajar; (4) penyusunan program kegiatan belajar; (5) pelaksanaan kegiatan pembelajaran; dan (6) penilaian proses dan hasil. Metode pembelajaran partisipatif sangat tepat dilakukan terhadap peserta didik terutama dalam pembinaan sikap dan mental dalam berkompetisi. P:embelajaran partisipasi memiliki manfaat untuk mendorong siswa menjadi lebih baik. Dalam kompetisi karya ilmiah misalnya ditunjukkan dengan lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar. Dapat digunakan kemampuan berfikir kreatif dari para anggotanya, dapat mengendalikan nilai-nilai martabat manusia, motivasi serta membangun kepentingan bersama. Lebih mendorong orang untuk bertanggung jawab, lebih memungkinkan untuk mengikuti perubahanperubahan. Apabila dilihat dari sisi manfaat partisipasi bahwa partisipasi dapat memberikan siswa untuk memudahkan dalam pemberian keputusan dan menambah daya pikir ide kreatifnya untuk menyelesaikan suatu masalah. Partisipasi juga akan mendorong siswa untuk aktif dan bertanggung jawab atas tugasnya sebagai siswa dan berubah menjadi siswa yang mampu berpartisipasi untuk merubah cara pembelajarannya dengan mendorong motivasi menjadi lebih baik. Upaya meningkatkan kemampuan sikap dan mental siswa dalam berkompetisi harus terus digelorakan dengan pembelajaran partisipatif. Upaya memperbaiki dan meningkatkan sikap dan mental peserta didik dalam pendidikan harus berkelanjutan Strategi lainnya adalah dengan melanjutkan reformasi pendidikan yakni restrukturisasi pendidikan, dalam upaya memperbaiki pola hubungan sekolah dengan lingkungannya dengan pemerintah, pola pengembangan perencanaan serta pola mengembangkan manajerialnya, pemberdayaan guru dan restrukturisasi model-model pembelajaran. Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran partisipatif apabila diterapkan dengan benar memiliki relevansi, pengaruh korelasi terhadap peningkatan sikap dan mental siswa dalam berkompetisi. Semoga bermanfaat. (****)

Rujukan:

Crone & Hunter. (1980). From the Field: A Tested Experience for the Trainers. New York: Worl Education.
Hamalik, O. (2010). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Maksudin. 2016. Metode Pengembang¬an berpikir integrative pendekatan dialektik. Yogyakar¬ta: Pustaka pelajar.
Rusman. (2011). Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Raja Grapindo Persada.
Sudjana, D. 2005. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah Production.
Wina, M. (2009). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.

penulis  : Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi
Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed