oleh

Implementasi Pembelajaran Reflektif di Masa Pandemi Covid 19

Oleh: Nelson Sihaloho
*) Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi,
E-mail: sihaloho11@yahoo.com,nelsonsihaloho06@gmail.com

 

 

Rasional:

Kemajuan teknologi Informasi komunikasi (TIK) dan masa Covid 19 saat ini pembelajaran jarak jauh (PJJ) salah satu solusi yang paling tepat diterapkan. Penerapan sistem e-learning dalam mendukung sistem pembelajaran jarak jauh (distance learning) hasilnya dirasakan kurang begitu memuaskan semua pihak. Dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) pendidikan di masa mendatang diprediksikan akan lebih bersifat terbuka. Selain beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivtias kerja, saat itu juga (just on time), kolaboratif juga kompetitif. Kendati demikian sistem pembelajaran perlu dilakukan penilaian dan evaluasi yang obyektif. Salah satu dari berbagai model yang dapat diterapkan adalah sistem pembelajaran reflektif. Sebagaimana diketahui sistem pembelajaran reflektif (reflective learning) adalah sistem pembelajaran dimana guru memberikan kesempatan terhadap peserta didik untuk melakukan analisis atau pengalaman individual yang dialami dan memfasilitasi pembelajaran dari pengalamannya. Sistem pembelajaran reflektif dalan suatu kelas umumnya dapat diterapkan dengan belajar jurnal, belajar mitra (kelompok), belajar kontrak, dan jadwal penilaian diri. Pembelajaran reflektif melihat bahwa proses adalah produk dari berpikir dan berpikir adalah produk dari sebuah proses. Kenyataan dilapangan kegiatan pembelajaran belum sepenuhnya memberikan kesempatan pada peserta didik untuk berpikir dengan cara reflektif terhadap fenomena dari setiap bidang yang dikaji, mencari akar hubungan untuk memproyeksikan masa depan yang nyata dan rasional.
Kata kunci: implementasi, pembelajaran reflektif, Covid-19

Pembelajaran Reflektif

Saat ini semakin banyak teori-teori dan model-model belajar yang dikembangkan oleh para pakar dan ilmuwan pendidikan. Seperti halnya belajar reflektif dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif dan psikologi konstruktivisme. Konsep berpikir pembelajaran reflektif menunjukkan siklus penemuan dalam mencapai tujuan dalam menemukan solusi dari permasalahan yang diajukan. Proses belajar reflektif merefleksikan proses mental belajar yang akan memanipulasi pikiran guna mencari solusi dari permasalahan muncul, sehingga memudahkan dalam mengolah pikiran dan informasi baru untuk dikaji dengan cara mendalam melalui pertimbangan analitis, dan evaluatif sebelum sesuatu diputuskan secara yakin. Menurut Moon (2004), Stroobants, Chambers, & Clarke,(2007) menyatakan, Pembelajaran reflektif memungkinkan pengembangan pribadi yang efektif, mengembangkan masa depan dan mengaplikasikan tindakan dengan suatu rumusan bahwa belajar dipengaruhi oleh adanya interaksi dengan kelompok lain melalui dialog, percakapan, komunikasi guna memberi pemahaman dan pengalaman baru. Sedangkan Graham, (2010), pembelajaran reflektif didefinisiakan sebagai pembelajaran yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk berpikir secara reflektif terhadap fenomena dari setiap bidang yang dikaji, mencari akar hubungan untuk memproyeksikan masa depan yang nyata dan rasional. Sparrow, Tim and Jo Maddock (2008) dalam artikel nya reflective lerning menyatakan: The practice of reflective learning is part of a continuous process of learning and developing: I become aware of my next experience, reflect upon it and evaluate it in relation to my other experiences and reinforce or revise my self knowledge. Given (Dharma, 2007:301) menjelaskan sistem pembelajaran reflektif merupakan sistem paling canggih, meskipun sistem ini paling ahir berkembang. Pembelajaran reflektif berurusan dengan fungsi otak dan tubuh seperti pemikiran tingkat tinggi dan pemecahan masalah. Menurut Perkins (Dharma,et.al) menyatakan sistem reflektif memungkinkan kita menjadi apapun yang kita mampu jika kecerdasan reflektif dipupuk dan dikembangkan dengan serius. Pada intinya dapat dimaknai bahwa praktik pembelajaran reflektif adalah bagian dari proses pembelajaran dan perkembangan. Dengan demikian jelas bahwa sistem pembelajaran reflektif (reflective learning) adalah sistem pembelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan analisis atau pengalaman individual yang dialami dan memfasilitasi pembelajaran dari pengalaman tersebut. Pembelajaran reflektif akan mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif dan reflektif. Mempertanyakan sikap dan mendorong kemandirian peserta didik. Kecermatan berpikir dan pemikiran reflektif perlu dipupuk, sebab keduanya merupakan kecerdasan yang bisa dipelajari. Given (Dharma,et.al) menyatakan bahwa ”sistem pembelajaran reflektif berfungsi terbaik ketika diajarkan strategi reflektif ”.
Hindari Lubang Kognisi
Menurut Perkins (Dharma, et.al) menyatakan bahwa upaya meningkatkan pemikiran dan pembelajaran reflektif adalah dengan menghindari lubang-lubang kognisi. Adapun lubang kognisi tersebut yakni: 1) Luangkan waktu secukupnya untuk memecahkan masalah, kumpulkan bukti yang lengkap, hindari penilaian tergesa-gesa.2).Kembangkan keterbukaan pikiran agar dapat melihat ke luar dari posisi keyakinan diri yang menumbuhkan egoisme.3). Pertimbangkan setiap tujuan dan pandangan altrernatif secara obyektif.4). Buat beberapa interpretasi dan sudut pandang sebelum mengambil keputusan 5). Hentikan prilaku-prilaku otomatis dan pikirkan kembali tindakan yang sudah menjadi kebiasaan.6). Ingat, setiap orang melihat hal yang sama melalui lensa pengalamannya sendiri.7). Tarik kesimpulan dari bacaan.8).Kembangkan argumen tertulis yang meyakinkan dan tersusun dengan baik.9). 10). Cobalah membuat parafrase dari berbagai konsep kunci sains dan matematika.11). Carilah dan berpikirlah dalam bentuk pola.12). Kenali upaya untuk merasionalkan pikiran dan perilaku.13). Pertimbangkan pandangan alternatif dari pemikiran yang sempit.14). Perjelas pemikiran yang ruwet, tidak tepat dan tidak jelas.15). Kenali pemikiran yang bertele-tele dan tidak perlu.16).Pertahankan sikap positif terhadaf pemikiran, pemantauan, dan pengelolaan diri, penggunaan strategi dalam pengambilan keputusan dan penjajakan berbagai kemungkinan. Asapun menurut Tebow (2008) langkah proses pembelajaran reflektif adalah sebagai berikut: Langkah 1: Sebuah rasa ketidaknyamanan batin. Selama tahap pertama ini, peserta didik merasa sebuah kesadaran bahwa sesuatu yang tidak cocok ada di dalam diri mereka. Langkah 2: Identifikas dan klarifikasi dari perhatian. Identifikasi masalah sepenuhnya berbasis diri. Individu menjadi menyadari masalah ini dan hal tersebut menyebabkan perubahan cara pandang seseorang berdasarkan  pengalaman diri sendiri. Langkah 3: Keterbukaan terhadap informasi baru. Keterbukaan terhadap informasi baru dari sumber internal dan eksternal, dengan kemampuan untuk mengamati dan mengambil dari berbagai perspektif. Kegiatan ini termasuk berbicara secara terbuka dengan orang lain, melihat keputusan yang mungkin dari semua pihak, membaca literatur terkait dan tidak terkait dengan masalah yang di hadapi dan bertanya pertanyaan sulit pada diri sendiri. Langkah 4: Resolusi, tahap ini adalah tahap bantuan dalam proses pembelajaran reflektif. Resolusi bukanlah jawaban ahir tetapi merupakan tempat dimana individu merasa konten tentang masalah ini. Langkah 5: Menetapkan kesinambungan diri dengan masa sekarang, dan masa depan. Peserta didik menghadapi tantangan yang berkaitan tentang perubahan diri, dari diri masa lalu ke area lain dari kehidupan sekarang dan untuk perilaku masa depan. Dengan demikian perasaan diskontinuitas dalam diri hadir. Langkah 6: pengambilan keputusan. Memutuskan apakah akan bertindak berdasarkan hasil dari proses reflektif. Ini adalah langkah pengambilan keputusan dari proses pembelajaran reflektif. Adapun proses penggunaan sistem pembelajaran reflektif dalam sebuah kelas dapat dilakukan dengan cara belajar jurnal, belajar mitra (kelompok atau kerjasama), belajar kontrak dan jadwal penilaian diri.
Lebih Fokus

Umumnya dalam pembelajaran reflektif peserta didik memiliki sikap keterbukaan diri yang baik untuk menerima berbagai saran perbaikan. Selain itu mereka mengakui hal-hal yang menjadi kekurangan untuk perbaikan di masa mendatang. Sikap kritis akan terbangun dengan sendirinya melalui pembelajaran reflektif apabila benar-benar diterapkan sungguh-sungguh oleh guru. Sikap kritis tersebut adalah yakni kemampuan siswa melakukan: interpretasi (interpretation), analisis (analysis), evaluasi (evaluation), kesimpulan (inference), menjelaskan (explanation), dan regulasi diri (self-regulation) (sumber: Duldt, 1997). Mel;aui belajar reflektif memungkinkan peserta didik dapat lebih fokus memperhatikan, berfikir, mempunyai ide sendiri, memperhatikan, mencari solusi, menafsirkan, menilai serta membuat refleksi diri terhadap apa yang ada di sekitarnya. dengan keterampilan berfikir yang dimilikinya. Hal tersebut dikuatkan dengan pendapat Morrow (2009) yang menyatakan bahwa pembelajaran reflektif merupakan model belajar yang mengutamakan proses berpikir atas dasar refleksi diri, pengalaman masa lalu, dan harapan masa depan. Sejalan dengan hal itu, Getz et al (2008) mengungkapkan bawa, model belajar reflektif mengandalkan fantasi akademis terhadap hal yang diamati dan diukur, sehingga melahirkan sensitivitas terhadap fenomena yang terjadi di sekitar lingkungan belajar. Hal ini sangat sesuai dengan sikap tanggap terhadap gejala dan bahaya akan terjadinya tawuran. Dengan menerapkan pola belajar reflektif ada lima ciri yang menunjukkan hierarki proses berpikir yaitu: (1) Reporting (Pelaporan), (2) Responding (Menanggapi), (3) Relating (Terkait), (4) Reasoning (Penalaran), dan (5) Reconstructing (Rekonstruksi) (sumber: Bain et al, 2002). Dengan demikian jelas bahwa pembelajaran reflektif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan melibatkan pengalaman dirinya sebagai bahan pembelajaran membantu dalam membentuk sebuah pengetahuan dan merangsang peserta didik untuk berpikir kreatif berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki untuk menyelesaikan permasalahan nyata dalam kehidupan. Di masa Covid-19 saat ini sikap reflektif siswa perlu ditunjukkan dengan melakukan refleksi terhadap hasil-hasil pembelajaran yang telah mereka lakukan. Guru ketika melaksanakan proses pembelajaran, senantiasa dituntut untuk melakukan refleksi. Pembelajaran reflektif menuntut guru untuk memiliki sikap keterbukaan diri yang baik. Mampu menerima berbagai saran perbaikan, mengakui hal-hal yang menjadi kekurangan yang ada pada dirinya untuk perbaikan di masa mendatang. Guru yang tidak melakukan berpikir reflektif, maka pembelajaran yang disampaikannya bisa jadi tidak bermakna. Guru perlu melakukan refleksi, pengalaman berharga apa yang bisa mereka ambil setelah melakukan aktifitas pembelajaran. Penilaian diri perlu dilakukan sehingga bermanfaat untuk melihat apa yang terjadi dengan pembelajaran yang telah disampaikan dari perspektif peserta didik. Guru berperan sangat penting dalam konteks assessment for learning yakni memberikan umpan balik terhadap kelemahan-kelemahan belajar yang dialami peserta didiknya. Ada banyak cara dan alat yang bisa digunakan guru untuk melakukan refleksi mengajarnya. Diantaranya, melalui pemaknaan terhadap hasil belajar peserta didik, wawancara, observasi kelas, menulis jurnal pembelajaran, focus group discussion termasuk rekaman pembelajaran di kelas. Guru dituntut selalu melatih dirinya sendiri dan peserta didik agar menjadi pemikir reflektif. Perlu dicermati bahwa proses pembelajaran yang baik selalu berlangsung dua arah yang melibatkan guru dan peserta didik. Kendati saat ini intinya berfokus pada siswa guru dituntut untuk berupaya menampilkan performa terbaiknya untuk peserta didik. Guru yidak boleh terjebak dengan rutinitas tanpa memiliki keinginan untuk berkembang. Dalam praktiknya, guru sering kali focus menghabiskan perhatiannya terhadap ketuntasan tertentu. Apakah metode pengajaran yang dipakai guru dapat membantu siswa memahami apa yang diajarkan. Refleksi adalah salah satu cara yang dapat membantu guru mengembangkan cara mengajar sehingga pembelajaran yang berlangsung dapat bermanfaat untuk peserta didik. Perlu dibiasakan untuk selalu meminta umpan balik (kritik, masukan/saran dan perbaikan/koreksi) dari peserta didik terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Menjadi reflektif sangat penting, sebab dengan berefleksi, guru dapat menemukan fakt-fakta mengenai kekuatan dan kelemahannya dalam menerapkan suatu pembelajaran serta menjadikannya sebagai bahan untuk memperbaiki kualitasnya. Refleksi bertujuan untuk menemukan fakta untuk suatu tujuan tertentu. Berpikir reflektif berarti mengubah suatu subyek dalam pemikiran ataupun memberikan pertimbangan serius dan berkelanjutan. Pada akhitnya, berpikir reflektif memberikan ruang terhadap guru memeriksa setiap asumsi dengan cara kritis mengenai tujuan dan metode, masalah dan solusi yang dapat diterima. Mengutip Stevents, (2013) menyatakan bahwa Guru yang reflektif dapat memahami hal-hal yang mempengaruhi caranya mengajar, contohnya memahami penerapan teori belajar, konteks pengajaran, pengetahuan, sikap dan nilai. Sebaliknya guru yang tidak reflektif hanya melakukan tindakan rutin.Mereka menerima setiap kenyataan yang terjadi di sekolah tanpa mengkritisinya, menyelesaikan masalah yang ditentukan oleh orang lain, dan tidak ada fokus pada tujuan mengenai apa yang mereka kerjakan.

Refleksi Masa Covid-19

Wabah Covid-19 pada akhirnya menuntut kita untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada termasuk perubahan yang mendadak dan radikal. Selalu saja ada sisi positif dan reflektif yang dapat ditemukan oleh setiap guru dalam menghadapi kondisi sulit dan wabah yang sedang terjadi. Hal tersebut bukan hanya soal kemampuan para guru yang dituntut untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran daring. Namun perlu juga diikuti dengan refleksi terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dicoba untuk disinergikan ke dalam pembelajaran daring. Praktik integritas mungkin sulit dilakukan dalam kondisi darurat, usaha-usaha untuk tampil prima dalam kondisi darurat, maupun strategi-strategi yang disusun berdasarkan keilmuan masing-masing guru dalam menjalankan pembelajaran daring. Konsep Disruptive Innovation sebagaimana disampaikan Clayton Christensen (1997) telah mengingatkan kita jauh-jauh hari akan datangnya masa perubahan yang radikal Mereka yang tidak siap akan kelabakan, panik, gagap, berbuat ceroboh, dan merasa cukup dengan memberikan rasa nyaman dan penghiburan. Dimasa wabah Covid-19 pembelajaran daringpun diterapkan. Platform e-learning pun dipersiapkan agar materi pembelajaran bisa disampaikan terhadap siswa. Pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) yang diterapkan maka terjadi peningkatan dan adaptasi terjadap kondisi yang berkembang. Kesiapan teknologi pembelajaran hanyalah sebuah awal dan bukan merupakan kondisi yang statis. Guru dan peserta didik harus melalui kondisi yang sulit, pertanggungjawaban tentang tugas dan tanggungjawab kepada stakeholder tetap harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Perubahan radikal ke arah yang lebih baik hanya bisa dilakukan apabila kita mau melakukannya. Masa depan pendidikan ada di tangan kita semua yang harus siap berubah. Keberhasilan pembelajaran dirumah salah satu kunci utama adalah dukungan infrastruktur teknologi yang representatif baik itu laptop, gawai dan jaringan internet yang memadai. Guru merasa terkejut tatkala harus mengubah sistem, silabus dan proses belajar dengan cara cepat dan tepat. Siswa juga mengeluhkan banyaknya tumpukan tugas selama belajar di rumah. Tidak ketinggalan para orang tua siswa juga merasakan beratnya mendampingi anaknya ketika dilakukan proses pembelajaran termasuk tugas-tugas. Selain itu harus memikirkan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing-masing di tengah krisis wabah pandemi covid-19. Hal demikian menuntut guru harus siap dan bisa mengajar jarak jauh dengan menggunakan teknologi. Penggunaan teknologimya juga tidak boleh sembarangan. Pola pembelajaran interaktif di rumah harus menjadi bagian komprehensif dari semua pembelajaran. Guru dan orang tua siswa harus punya perlengkapan pembelajaran online. Dapat direfeleksikan bahwa Pandemi Covid 19 memberikan pembelajaran penting terhadap pendidik, orangtua dan peserta didik serta masyarakat. Belajar tetap survive dan bertahan serta berkreasi untuk sebuah proses pembelajaran yang komprehensif dan bermanfaat sebagai bekal riil kehidupan generasii penerus bangsa. Masa pandemi Covid-19 menjadi pelajaran berharga untuk bisa menempa diri menjadi pribadi disiplin, mandiri, bertanggung jawab, terampil dalam hidup serta disiplin menjaga kebersihan dan kesehatan. Sektor pendidikan harus berani melangkah untuk menjadikan pembelajaran interaktif dirumah menjadi sebuah kesempatan mentransformasikan nilai-nilai pendidikan menjadi lebih baik. Pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk kita melakukan lompatan lebih baik dalam melakukan transformasi pembelajaran online untuk siswa, guru dan orang tua. Dalam memasuki era new normal kita harus siap menjadi lebih baik untuk membangun kreatifitas, mengasah skill siswa, dan peningkatan kualitas diri dengan melakukan perubahan sistem, cara pandang dan pola interaksi kita dengan teknologi. Implementasi Pembelajaran Reflektif di Masa Pandemi Covid 19 pada akhirnya menyadarkan kita untuk selalu reflektif. Sebab model pembelajaran yang sempurna dan lebih unggul dari metode lainya relative. Semoga Bermanfaat.

Rujukan:
Amacom. Kranz, M. (2016). Building the Internet of Things: Implement New Business Models, Disrupt Competitors, Transform Your Industry. Hoboken, New Jersey:
Sanjaya, R. (2019, May 18). Menemukan Keseimbangan di Era Disruptif. Tribun Jateng, p.2.Retrievedfromhttp://jateng.tribunnews.com/2019/05/18/opini-ridwan-sanjayamenemu kan-keseimbangan-di-era-disruptif
Dharma, Lala Herawati. 2007. Brain Based Teaching: Merancang Kegiatan Belajar Mengajar Yang Melibatkan Otak, Emosional, Sosial, Kognitif, Kinestetik dan Reflektif.  Bandung: Kaifa.
Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/149099/mengajar-reflektif

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed