HGN 2020 dan Pendidikan Abad 21

183

Oleh :Nelson Sihaloho

Rasional
Setiap tanggal 25 November setiap tahun rutin dilakukan peringatan HUT PGRI juga sebagai Hari Guru Nasional. Untuk tahun ini sebagaimana dilansir pada dokumen digital Pedoman Upacara Bendera Hari Guru Nasional (HGN) 2020, Kemendikbud mengusung tema “Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar”. Hal tersebut sesuai dengan keputusan pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 yang menetapkan setiap tanggal 25 November selain sebagai HUT PGRI juga sebagai Hari Guru Nasional. Selanjutnya dalam manuskrip pidatonya tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim menekankan pada momentum peningkatan mutu, kualitas, kesejahteraan, perlindungan bagi guru dan tenaga kependidikan secara komprehensif, dan meningkatkan profesionalisme guru-guru di Indonesia untuk mendidik putra putri menjadi pelajar Pancasila sejati. Mencermati hal tersebut betapa berat tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini sebagai upaya untuk lebih mengejar ketertinggalan kita dengan Negara lain. Pendidikan berkualitas memang menjadi dambaan semua bangsa tidak terkecuali bangsa Indonesia. Bahkan setiap bangsa selalu ingin menjadi terdepan dan lebih unggul mutu dan kualitas pendidikannya dari Negara lain. Profesionalisme guru tetap akan menjadi topik yang tidak ada habis-habisnya untuk dibahas, dikaji serta diperbincangkan. Akankah Peringatan HUT PGRI ke 75 dan HGN 2020 mampu melakukan transformasi komprehensif terhadap jalan peningkatan mutu pendidikan 25 tahun ke depan?
Abad Persaingan Sesungguhnya

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang luar biasa disegala bidang, membuat dunia ini semakin sempit. Kecanggihan teknologi serta beragam informasi yang bisa diakses begitu cepat dari berbagai sudut dunia secara instant siapapun dan dari manapun. Konsekuensi lagis bahwa pada abad ke-21 permasalahan yang dihadapi manusia semakin kompleks dan dan ruwet. Berbagai masalah muncul diantaranya krisis ekonomi global, pemanasan global, terorisme, rasisme, drug abuse, trafficking. Selain itu rendahnya kesadaran multikultural, kesenjangan mutu pendidikan antar kawasan serta berbagai bentuk kesenjangan social lainnya.
Setiap masalah membutuhkan pemecahan yang harus dilakukan masyarakat dengan bersama sama (collaboration). Kompleksitas permasalahan pada abad ini juga terletak pada tidak berdayanya manusia mencari sumber dan penyebab permasalahannya secara tepat dan cepat. Era ini yang disebut dengan abad persaingan yang sesungguhnya. Tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita yakni bagaimana Negara-negara maju (advanced countries) telah memiliki sumberdaya manusia (SDM) yang semakin unggul dan semakin jauh meninggalkan negara negara berkembang lainnya. Llima kecakapan yang harus dimiliki oleh setiap individu agar tetap survive dan diperhitungkan dalam kancah kehidupan pada abad ke-21 ini. Lima kecakapan itu yakni work ethic, collaboration, good communication, social responsibility serta critical thinking and problemsolving.
Work ethic merupakann sebuah sistem prinsip-prinsip moral (a system of moral principles) dalam kinerja atau aturan-aturan perilaku (rules of conduct) dalam kinerja. Work ethic di dunia kerja (work place ) yakni kecakapan dalam menunaikan tugas dan ketaatan pada aturan-aturan yang telah ditetapkan serta kecakapan menjaga etika dalam hubungan antar personal. Adapun collaboration adalah kecakapan membangun jaringan kerjasama dengan orang lain. Sedangkan good communication adalah kecakapan berkomunikasi secara efektif dan efisien dengan orang lain baik secara individu atau kelompok. Social responsibility adalah kecakapan untuk ikut memiliki tanggungjawab sosial. Critical thinking and problem solving adalah kecakapan berfikir kritis dan kecakapan memecahkan permasalahan. Untuk mengatasi berbagai kendala yang merintangi akses pendidikan era globalisasi pendidikan kita harus menggunakan strategi kurikulum terpadu yakni dengan mengintegrasikan skill, thema, concept, dan topik. Konteks itu banyak digunakan oleh Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Contohnya adalah STEM dan HOTS dimana saat itu AS menggagas pendidikan dengan mengembangkan model pembelajaran STEM (science, technology, engineering, and math). Hal itu dilatarbelakangi telah terjadi kemerosotan pada sebagian besar anak-anak di AS. Perlu dicermati bahwa teknologi sangat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan termasuk membentuk karakter peradaban yang lebih maju. Begitu juga dengan higher older thinking skills (HOTS), bagaimana strategi dan penerapan model tersebut agar mampu mengoptimalisasikan peran guru. Bagaimana guru mampu menjawab perubahan tantangan serta menerapkan aplikasinya dalam pendidikan nyata.

Wajib Meningkatkan Kompetensi

Era globalisasi menuntut setiap individu dari berbagai kalnagan masyarakat untuk meningkatkan kompetensi sesuai dengan profesinya. Peningkatan kompetensi, bukan saja akibat dari faktor kerasnya kompetisi yang terjadi di antara sesama profesi, termasuk agar mampu menjawab kebutuhan zaman. Saat ini mempertahankan mindset zona nyaman (comfort zone) sudah tidak relevan lagi. Zona nyaman merupakan bagian dari masalah psikologi dasar manusia. Mengutip pakar Behavioural Psychology Alasdair A. K. White dalam bukunya ‘From Comfort Zone to Performance Management’ mengatakan bahwa, Zona Nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Dalam keadaan ini, orang tersebut jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stress. Takut mencoba sesuatu yang baru adalah definisi paling sederhana dari kalimat “terjebak di zona nyaman”. Semua harus berani meninggalkan zona nyaman untuk keluar menantang perubahan yang terjadi. Keberanian untuk keluar dari zona zaman jelas bukan persoalan mudah, mengingat pada umumnya orang cenderung nyaman dengan zona yang sudah sekian lama dijalani. Hanya orang yang berani menantang risiko dan ingin maju yang berani melepaskan zona nyamannya.
Pendidikan pada abad ke-21 harus dapat mempersiapkan dan menjamin peserta didik agar memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan dan memanfaatkan teknologi dan media informasi, dapat bekerja dan bertahan dengan menggunakan kecakapan hidup (life skill). US-based Partnership for 21st Century Skills (P21) mengidentifikasi kompetensi abad ke-21 tersebut adalah “The 4Cs: communication, collaboration, critical thinking, and creativity”. Kecakapan abad ke-21 harus dikembangkan melalui kecakapan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving skill). Kecakapan berkomunikasi (communication skills), kecakapan kreativitas dan inovasi (creativity and innovation), dan kecakapan kolaborasi (collaboration). Apabila pendidik tidak memiliki keinginan untuk meng up-grade diri dengan keluar dari zona nyaman, maka akan terisolasi dari interaksi sosialnya. Pendidik yang berani keluar dari zona nyaman dengan terus meningkatkan kapasitas diri pada akhirnya akan mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang memberikan kecakapan abad ke-21. Kebijakan baru berupa merdeka belajar dengan menghapus ujian nasional (UN) diganti dengan asesmen nasional yang terdiri dari AKM (Asesmen Kompetensi Minimum), Suter (Survei Karakter) dan Sulijar (Survei Lingkungan Belajar) yang diterapkan tahun 2021 menjadi indikator adanya perubahan pada sistem evaluasi dalam pendidikan. Pemerintah melakukan penilaian terhadap kualitas layanan pendidikan pada satuan pendidikan bertujuan untuk perbaikan, peningkatan kualitas belajar peserta didik secara berkelanjutan. Perubahan pada sistem evaluasi pendidikan oleh pemerintah harus didukung dengan evaluasi yang dilakukan pendidik, yang harus sesuai tuntutan UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam UU Sisdiknas (pasal 58) ditegaskan bahwa evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik harus juga mampu memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Memaknai Peran Strategis Guru

Pada Hari Guru Nasional Tahun 2020 ini diharapkan para guru untuk secara mendalam memaknai peran strategis sebagai pengembang sumberdaya manusia (SDM). Selain itu diharapkan untuk mampu memotivasi guru meningkatkatkan peran strategisnya dalam membangun sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan wilayahnya. Guru harus menjadi pendidik berdedikasi yang profesional dan bermartabat dalam membangun karakter bangsa menuju pendidikan abad ke-21. Guru pada abad 21 benar-benar merupakan guru yang professional sehingga mampu menghadapi tantangan yang muncul dan terjadi pada abad 21. Guru harus merubah mindsetnya, dimana mindset yang dimiliki oleh seorang guru harus berkembang serta beradaptasi dengan lingkungan abad-21. Guru juga dituntut untuk menjadi seorang yang visioner, memiliki tujuan dan arah yang jelas dalam mendidik peserta didiknya. Guru juga harus bisa berkolaborasi atau bekerja sama dengan para peserta didiknya untuk belajar dan mengerjakan sesuatu. Peranan guru sangat penting dan merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pembangunan pendidikan. Sejalan dengan era globalisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat cepat dan makin canggih, dengan peran yang makin luas maka diperlukan guru yang memiliki karakter. Kompetensi abad ke-21 merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki siswa agar mampu berkiprah dalam kehidupan nyata pada abad ke-21. Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Abad ke-21 juga dikenal dengan masa pengetahuan (knowledge age), dalam era ini, semua alternative upaya pemenuhan kebutuhan hidup dalam berbagai konteks lebih berbasis pengetahuan. Mengutip Mukhadis,(2013:115) menyatakan bahwa upaya pemenuhan kebutuhan bidang pendidikan berbasis pengetahuan (knowledge based education), pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economic). Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based social empowering), dan pengembangan dalam bidang industri pun berbasis pengetahuan (knowledge based industry). Abad 21 juga ditandai dengan banyaknya (1) informasi yang tersedia dimana saja dan dapat diakses kapan saja; (2) komputasi yang semakin cepat; (3) otomasi yang menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin; dan (4) komunikasi yang dapat dilakukan dari mana saja dan kemana saja (Litbang Kemdikbud, 2013). Untuk menghadapi pembelajaran di abad 21, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (Frydenberg & Andone, 2011). Bahkan sejumlah penelitian tentang pemanfaatan teknologi informasi yang mendukung pembelajaran abad 21 telah dilakukan di berbagai Negara. Pergeseran masyarakat dari struktur tradisional ke struktur industri akan membawa implikasi terhadap terjadinya transisi ketenagakerjaan atau kualifikasi tenaga kerja. Pengaruh lain dari perkembangan teknologi tinggi adalah perubahan komposisi angkatan kerja menurut jenis jabatan dan tingkatan keahlian yang dimiliki oleh angkatan kerja. Berkembangnya pendayagunaan teknologi baru dalam dunia produksi membutuhkan pekerja yang memiliki kemampuan lebih tinggi dalam kemampuan intelektual. Disisi lain sumbangan para teknisi akan semakin meningkat dan perlahan menggantikan para pekerja yang tidak terampil yang jumlahnya terus menurun. Pertumbuhan kebutuhan akan tenaga-tenaga teknisi akan menunjukkan semakin berkembangnya kebutuhan akan pekerja yang lebih tinggi pendidikannya. Hal ini terjadi terutama pada masyarakat yang mulai beranjak dari era industri yang sangat membutuhkan lebih banyak tenaga-tenaga teknisi yang terdidik. Pengembangan SDM di tempat kerja seperti pelatihan dalam jabatan akan memainkan peran yang sangat penting dalam menyiapkan para teknisi yang terampil agar menjadi tenaga professional sebagai penggerak industri. Dengan kondisi tersebut maka pendidikan wajib memberikan kompetensi dan keterampilan yang memungkinkan orang untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan hidup sukses. Kompetensi dan keterampilan berubah dari waktu ke waktu. Kompetensi dan keterampilan abad 21 muncul karena revolusi informasi dan teknologi, akibatnya orang menjadi saling terhubung dari sebelumnya dan menawarkan kesempatan untuk pertumbuhan bisnis dan ekonomi, kemampuan mengakses informasi, berkomunikasi, berbahasa menggunakan dan menciptakan teknologi baru sangat penting untuk produktivitas tenaga kerja (sumber: Wang and World Bank, 2012). Saat ini dan dimasa depan relevansi kompetensi peserta didik akan dihubungkan antara potensi lapangan kerja yang ada dan kemampuan lulusan untuk memenuhi persyaratan pekerjaan. Mengacu hal tersebut maka berdasarkan perubahan paradigma pembelajaran abad ke-21 pentingnya dilaksanakan identifikasi kebutuhan kompetensi yang diperlukan dunia usaha/dunia industri. Itulah sebabnya mutu pendidikan dapat diketahui pada kualitas keluarannya. Masyarakat tidak akan melihat proses bagaimana belajar. Umumnya masyarakat kita hanya melihat hasil akhir dari sekian lama peserta didik menempuh pendidikan. Penutup Sebagaimana perkembangan dunia digital saat ini, ciri lain dari kehidupan abad ke-21 adalah proses mobilitas dan konektivitas orang, barang, dan jasa, serta informasi antar negara dan antar wilayah semakin tinggi. Tantangan pendidikan abad 21 terletak pada kecakapan individu dalam menghadapi perubahan dan perkembangan zaman. Tuntutan kompetensi abad 21 mencakup: berpikir kritis dan pemecahan masalah, inovasi dan kreativitas, komunikasi, kerja sama, dan pemahaman tentang teknologi. Laporan Worl Economic Forum memperkirakan bahwa sekitar 5 juta pekerjaan akan hilang karena otomatisasi penggunaan mesin dan robot pada tahun 2020 dan angka ini akan terus bertambah. Beberapa kemampuan dan juga beberapa profesi yang ada hari ini, bahkan hampir tidak pernah ada 10 tahun yang lalu. Terutama beberapa profesi yang terkait dengan dunia digital. Harus dicermati bahwa globalisasi pasar mempercepat difusi teknologi dan percepatan inovasi. Pada akhirnya setiap jenis pekerjaan, keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan mengalami perubahan termasuk dalam pendidikan. Perlu kita maknai kembali momentum tentang HGN Tahun 2020 serta relevansinya terhadap pendidikan Abad 21. Selamat Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT PGRI) ke 75 dan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2020. Semoga Bermanfaat. (Penulis: Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi).

Rujukan:
1. Goleman, Daniel. 1999. Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
2. Mukhadis, Amat. 2013. Sosok Manusia Indonesia Unggul dan Berkarakter dalam Bidang Teknologi Sebagai Tuntutan Hidup di Era Globalisasi. (online),(http://journal.uny.ac.id/index.php/jpka/article/view/1434),diakses tanggal 11 Mei 2016
3. Suryadi, Ace. 2002. Pendidikan, Investasi SDM, dan Pembangunan. Jakarta: Balai Pusataka
4. Trilling, Bernie and Fadel, Charles. 2009. 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times, John Wiley & Sons, 978-0-47-055362-6.

Facebook Comments