oleh

PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI MASA PANDEMI

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional
Pada masa pandemic Covid-19 saat ini, umumnya kegiatan pendidikan khususnya pembelajaran dilakukan melalui daring (online). Interaksi pembelajaran daring umumnya focus pada jaringan sehingga membuat peserta didik harus menggunakan internet maupun gawai.

Interaksi antar sesame peserta didik merupakan pemandangan dan aktifitas yang langka kita temukan. Sebab aturan protocol kesehatan yang mempersyaratkan menjaga jarak wajib ditaati sebagai konsekuensi dari upaya penularan viru Corona.

Kehidupan nyata, dengan minimnya interaksi antara sesame peserta didik maupun guru membuat Pendidikan karakter sulit diimplementasikan. Pada hakikatnya teori tanpa praktik tidak sempurna, demikian juga dengan karakter tanpa diimplementasikan akan hanya menjadi sebuah kiasan dalam pikiran.

Aktifitas di lingkungan sekolah saat ini di masa pandemic nyaris 60 persen kehilangan  aktifitasnya. Yang dating hanya Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Administrasi Sekolah (TAS) maupun karyawan/ti sekolah. Selebihnya para siswa yang memang sudah terjadwal mengumpulkan tugas-tugasnya ke sekolah. Hal itupun dilakukan bergiliran atau sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Dalam berbagai kegiatan banyak juga dilakukan aktifitas seminar-seminar via online yakni webinar, zoom dan lain sebagainya. Kondisi riil demikianlah yang harus kita hadapi Bersama dalam mengimplementasikan Pendidikan karakter terhadap peserta didik.

Keteladanan dan Internet

Saat ini banyak video atau talkshow yang bisa diunduh via online ataupun internet. Seiring perkembangan zaman ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) nilai-nilai karakter tersebut memang bisa dipahami oleh peserta didik.

Nilai-nilai, tradisi, norma-norma yang berlaku di masyarakat  pada hakikatnya bisa menjadi modalitas untuk penguatan pendidikan karakter. Selain itu membuka wawasan peserta didik tentang bagaimana nilai-nilai karakter yang ada di masyarakat bisa dipelajari. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi modal kekuatan peserta didik dalam menegmbangkan karakternya dengan positif. Berkaitan dengan penguatan pendidikan karakter di masa pandemic umumnya ditekankan pada pola hidup sehat dan bersih (PHBS).

Strategi kebijakan ini tertuang dalam habituasi yaitu diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadi karakter serta menjadi budaya. Strategi ini dapat diterapkan mulai dari rumah, kelas, sekolah, dan masyarakat. Nilai karakter yang dapat diciptakan saat pembelajaran di rumah adalah nilai kemandirian, gotong royong maupun kreatifitas.

Apabila seorang peserta didik sudah terbiasa menjalankan pola hidup sehat dan bersih (PHBS) kelak akan menunjukkan keteladanan di tengah-tengah masyarakat.

Semua sektor pendidikan harus keluar dari zona nyaman untuk berinovasi menciptakan kreatifitas, melakukan adaptasi menggunakan teknologi dalam mendukung pembelajaran karakter.Peran orang tua di rumah adalah membimbing keteraturan dan kedisiplinan ketika proses belajar, memotivasi anak dalam belajar serta harus menjadi fasilitator yang baik terhadap anak dalam belajar.

Adanya kesenjangan dari karakter, dapat dilihat ketika banyak warga-net meluapkan segala isi pikiran mereka ke media social. Banyak platform-platform dengan fitur identitas yang tidak diketahui (fitur anonym) semakin menimbulkan pertanyaan berbagai kalangan. Sesungguhnya seperti apa norma maupun nilai yang telah kita sepakati di dalam dunia digital. Pembentukan karakter masa pandemi harus lebih banyak diimplementasikan bagaimana seharusnya kita bersikap menghadapi masa new normal sekarang ini. Bahaya jejak digital, etika ketika mengomentari suatu kejadian (tutur kata), hingga memilah-milah konten yang ada harus lebih cermat.

Nilai-nilai karakter yang akan ditanamkan hendaknya menjadi bahan penguatan informasi dan komunikasi efektif  antara orang tua dan anak. Bahwa belajar dari wabah pandemi, guru orang tua, masyarakat harus bersinergi bergotong royong membangun pendidikan yang lebih baik.

Penguatan Mental

Banyak kalangan menyatakan bahwa system Pendidikan kitta  tidak sesuai lagi di masa pandemic Covid-19 maupun era industry 4.0.  Persoalan kurikulum yang saat ini sering mengemuka dan mencuat sebagai isu-isu paling tren dalam Pendidikan bukanlah hal yang paling mendesak dilaksanakan. Katerbatasan fasilitas adalah factor utama yang harus diatasi dalam pembelajaran daring. Anggaran ratusan trilyun setiap tahun yang dianggarkan seharusnya setahap demi setahap sudah bisa mengatasi kendala keterbatasan fasilitas internet. Permasalahan paling urgensial mengapa justeru semakin banyak bermunculan bimbingan belajar online?

Termasuk media guru online juga tumbuh bagai jamur di musim hujan dengan tawaran-tawaran sangat menjanjikan.
Pembelajaran daring juga tidak bisa dilakukan merata, sebab masih banyak siswa yang tak memiliki akses terhadap teknologi, atau tak mampu membayar biaya belajar daring. Adanya isu dan rumor baru bahwa siswa akan disubsidi kuota internet oleh Kementrian memang patut diapresiasi sepanjang benar-benar untuk mendidik dan pengembangan karakter peserta didik.

Banyak kalangan juga menyatakan bahwa penguatan mental peserta didik lebih penting diutamakan. Sebab menyangkut tentang kemampuan psikologis mereka dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa pandemic.

Berkaitan dengan hal tersebut maka pembelajaran harus dirancang agar membawa peserta didik mengenal nilai kognitif, penghayatan nilai afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata.Pendidik seringkali diidentikkan sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengalaman sosial yang lebih luas dalam membentuk karakter siswa. Karakter siswa tidak terbentuk secara otomatis namun harus dikembangkan melalui pengajaran. Ahli-ahli pendidikan umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter melalui jalur pendidikan. Karena itu pendidikan wajib membangun rasa optimism dikalangan peserta didik ahar mental dan pikiran mereka tumbuh dengan hal-hal yang positif. Perpaduan antara penguasaan Iptek dengan budi pekerti diyakini mampu meningkatkan pondasi dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM).

Proses belajar bukan hanya teori namun juga praktek secara terus menerus melibatkan seluruh aspek kehidupan. Keluarga di masa pandemic harus siap menjadi “guru” untuk anak-anaknya meski biaya pengadaan pulsa kuota dengan tarif berbeda-beda dari pihak provider. Yang terpenting dari proses belajar saat ini  bukan soal ketuntasan belajar melainkan peserta didik bahagia dalam menjalani proses belajarnya di rumah.

Perubahan Cepat

Era Revolusi Industri 4.0 merupakan era yang menuntut perubahan secara cepat. Tantangan besar dunia pendidikan dalam menyiapkan SDM berkualitas. Era Revolusi Industri 4.0 telah banyak mengubah berbagai lini kehidupan. Dalam industry misalnya terdapat 4 prinsip dalam rancangannya yakni
(1) interoperabilitas (kesesuian)
(2) transparansi informasi
(3) bantuan teknis
(4) keputusan mandiri.  Interoperabilitas merupakan kemampuan untuk saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain antara manusia, mesin, perangkat dan sensor melalui media internet (IoT). Sedangkan transparansi informasi adalah kemampuan sistem informasi dalam membangun dunia virtual. Penciptaan dunia fisik virtual ini dilakukan dengan memperkaya model pabrik menggunakan data digital.

Bantuan teknis yaitu kemampuan untuk membantu manusia dalam mengumpulkan data dan memvisualisasikannya. Adapun keputusan mandiri berkaitan dengan kemampuan cyber fisik dalam pengambilan keputusan dan melakukan tugas secara mandiri(Tresya, 2019). Mengutip pendapat Pratama, (2019), menyatakan bahwa era Revolusi Industri 4.0 merupakan era disruption sehingga penanaman karakter dan transfer of value kepada peserta didik perlu dilakukan.

Guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sebagaimana kita ketahui bahwa teknologi memiliki karakter dan budayanya sendiri.

Begitu juga dengan teknologi digital, meskipun merupakan buatan manusia, namun imemiliki logikanya sendiri. Manusia yang menggunakannya harus mengikuti logikanya tersebut.

Logika teknologi digital diantaranya adalah pertama, sistemik, yang dirancang dalam sebuah sistem yang canggih. Yakni suatu keadaan di mana antara satu bagian dengan bagian lainnya saling berkaitan dan berurutan.
Ke dua adalah netral, teknologi digital atau teknologi apapun bersifat netral. Teknologinya tidak baik atau tidak buruk oleh dirinya sendiri, melainkan sangat tergantung pada manusia yang merancang dan menggunakannya. Apabila orang yang merancangnya memasukan sistem, program atau menu yang tidak baik, kotor, seperti gambar, video, film, tindakan kekerasan, maka teknologi tersebut menjadi kotor, dan orang yang menggunakannya akan terkena pengaruh buruk.
Ke tiga, terbatas, Meskipun teknologi digital semakin canggih dan telah dapat melayani kebutuhan manusia terutama dalam membangun komunikasi dan melakukan tukar menukar informasi, namun ia tetap saja terbatas.
Teknologi sehebat apapun tidak akan dimintakan pertanggung jawaban namun yang dimintakan tanggung jawab adalah orang yang menggunakannya.Mengutip Sudarno Sudirdjo dan Eveline Siregar dalam  Mozaik Teknologi Pendidikan (2004:9-12), misalnya menyebutkan 8 fungsi dari teknologi pembelajaran termasuk digital yaitu:
(1)memberikan pengetahuan tentang tujuan belajar; (2)memotivasi siswa; (3)menyajikan informasi; (4)merangsang diskusi, (5)mengarahkan kegiatan siswa; (6) melaksanakan latihan dan ulangan, (7) menguatkan belajar, dan (8)memberikan pengalaman simulasi. Fenomena zaman sekarang yang mengalami perubahan bukan hanya berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, ada perubahan dan pergeseran dalam aspek nilai moral yang terjadi pada masyarakat.  Era globalisasi dan kehidupan modern yang mengakibatkan pergeseran nilai sosial yang akan berdampak pada diri anak-anak.

Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk di contoh. Kebijakan Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025 (2010) disebutkan, bahwa karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas, baik yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa & bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang.

Sebenarnya ada banyak teori tentang pembentukan karakter yang bisa dipelajari, salah satunya adalah teori kode warna manusia yang dicetuskan oleh Taylor Hartman yang membagi manusia berdasarkan motif dasarnya. Namun Stephen Covey melalui bukunya “Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif” menyimpulkan bahwa sebenarnya ada tiga teori utama yang mendasarinya, yaitu Determinisme Genetis, Determinisme Psikis, Determinisme Lingkungan. Mengutip Miya Nur Andina dalam Chacha.blog: 2013 menyatakan bahwa pendidikan yang diajarkan oleh guru di sekolah merupakan proses untuk membentuk karakter anak yang kurang baik menjadi yang lebih baik. Sehingga diusia sekolah anak harus selalu dikontrol dan diawasi dengan baik.  Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikirankarena pikiran, yang di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya (Rhonda Byrne, 2007:17).

Karakter berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi orang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Pendidikan adalah membangun karakter, yang secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau yang buruk. Dalam membentuk karakter pada anak dibutuhkan suatu proses, tidak dengan cara yang instan.

Proses tersebut yaitu, pengenalan, pemahaman, penerapan, pengulangan, pembudayaan, dan internalisasi menjadi karakter.

(Penulis:Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi).

Rujukan:
1. Dinata, Pri Ariadi Cahya; Rahzianta; Zainuddin, Muhammad. “Self Regulated Learningsebagai Strategi Membangun Kemandirian Peserta Didik Dalam Menjawab Tantangan Abad 21”, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2016.
2. Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter “Menjawab Tantangan Krisis             Multidimensional”.     Jakarta: Bumi Aksara.
3. https://mediaindonesia.com/read/detail/298260-belajar-di-masa-pandemi,

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed