Perkembangan Iptek dan Harmonisasi Kurikulum

332

Oleh: Nelson Sihaloho
Rasional:

Sistem pendidikan seringkali diidentikkan dengan strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar.

Metode atau strategi digunakan untuk mencapai tujuan agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi yang dimilikinya. Perkembangan pendidikan tidak terlepas dari adanya perubahan maupun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sektor industri yang bergerak dinamis akhirnya memunculkan revolusi industri yang secara tidak langsung turut merubah tatanan pendidikan. Imbas revolusi industri 4.0 terhadap pendidikan di Indonesia era modern saat ini, informasi dan teknologi mempengaruhi aktivitas pendidikan dengan masif.
Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat terhadap kalangan guru Indonesia.

Sistem pendidikan membutuhkan gerakan kebaruan untuk merespon era industri 4.0.  Dalam kaitan ini pemerintah mencanangkan gerakan literasi baru sebagai penguat bahkan menggeser gerakan literasi lama. Gerakan literasi baru itu adalah
1) literasi digital,
2) literasi teknologi
3) literasi manusia (sumber: Aoun, 2018). Saat ini misalnya “Big data” merupakan salah satu niche yang paling banyak diminati dalam pengembangan dan pelengkap perangkat lunak oleh perusahaan.

Popularitas big data adalah fenomena sosial-teknologi yang dipicu oleh pertumbuhan volume informasi yang cepat dan konstan.

Begitu juga dengan kurikulum perlu diharmonisasikan sesuai dengan perkembangan Iptek. Sebab kurikulum yang fleksibel berpotensi mampu memberikan solusi ditengan gencarnya perkembangan Iptek.

Harmonisasi Adaptif

Inovasi teknologi di bidang pendidikan untuk mendukung pembelajaran abad 21 agar bisa bersaing di era global kuncinya terletak pada harmonisasi. Banyak kalangan pendidik saat ini terlihat “kasak-kusuk” ditengah wabah pandemic Covid-19 dengan pembelajaran daring. Padahal dalam menghadapi revolusi industri 4.0, diperlukan banyak persiapan.

Salah satu diantaranya  adalah  perbaikan sumberdaya manusia (SDM). Saat ini pengembangan ketrampilan teknologi informasi komunikasi (TIK) untuk mengakselerasi proses pembelajaran diberbagai wilayah di Indonesia terus dilakukan.  Dunia teknologi yang mengalami perubahan sangat pesat dan cepat

. Solusi big data memainkan peran yang besar dalam otomatisasi maupun pengembangan teknologi AI (Artificial Intelligence). Bahkan Google dan perusahaan tingkat atas lainnya sudah menggunakan machine learning process untuk mendapatkan ketepatan yang lebih akurat dalam memberikan layanan. Tatkala teknologi di seluruh dunia menjadi lebih sinkron dan dapat dioperasikan, big data akan menjadi inti yang menghubungkan segala sesuatunya.

Dengan kemampuan untuk mengumpulkan data internasional dalam volume besar secara efisien, konon kita bisa lebih memahami serta mengelola berbagai fenomena.

Mengutip Aoun,(2017), literasi digital diarahkan pada tujuan peningkatan kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi di dunia digital (Big Data).

Literasi teknologi bertujuan untuk memberikan pemahaman pada cara kerja mesin dan aplikasi teknologi. Sedangkan literasi manusia diarahkan pada peningkatan kemampuan berkomunikasi dan penguasaan ilmu desain.

  Adaptasi gerakan literasi baru dapat diintegrasi dengan melakukan penyesuaian kurikulum maupun sistem pembelajaran sebagai respon terhadap era industri 4.0.
Pendidikan di era revolusi industri 4.0 kuncinya terletak pada perubahan dari cara belajar, pola berpikir, serta cara bertindak para peserta didik dalam mengembangkan inovasi kreatifitasnya. Pendidikan 4.0 merupakan fenomena yang muncul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0. Di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baru yang dapat dimanfaatkan terhadap perbaikan kehidupan manusia modern. Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, diperlukan system harmonisasi pendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif.

Pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bergerak semakin cepat dan mengalami kemajuan pesat dalam setiap bidang kehidupan manusia. Penggabungan AI dengan kecerdasan alami manusia membuat potensi individu bisa menjadi lebih maksimal dan memungkinkan pencapaian yang lebih besar. Karena itu produktifitas, kreatifitas, dan inovasi para siswa era milineal harus terus dikemnbangkan.

Kurikulum sebagai Pedoman

Kurikulum dalam proses pembelajaran merupakan pengarah dan petunjuk terhadap para pendidik. Setiap pendidik mempunyai kewajiban untuk memahami dan menguasai kurikulum, serta mengembangkannya. Sebab kurikulum merupakan suatu sistem yang paling penting dalam konteks pendidikan. Dengan memahami, menguasai kurikulum, para guru dapat memilih, menentukan arah dan tujuan pembelajaran.

Termasuk metode pembelajaran, teknik pembelajaran, media pembelajaran ataupun alat evaluasi pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Terkait peraturan resmi yang mengharuskan para guru bekerja dari rumah (Work from Home) di tengah kondisi wabah pandemic Covid-19 pola pendidikan berubah drastis ke sistem pembelajaran online atau disebut sistem daring (dalam jaringan). Guru dan siswa seketika dituntut harus mampu merespons cepat dan beradaptasi dengan sistem pembelajaran virtual ini. Bukan tanpa kendala, justru adanya perubahan ini membawa beberapa masalah di kalangan peserta didik  bahkan kalangan  guru.

Kurikulum pendidikan lama masih belum sepenuhnya merespons geliat teknologi, meskipun telah banyak sekolah menerapkan metode pembelajaran berbasis teknologi. Salah satunya mengolaborasikan sistem tatap muka dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang difasilitasi oleh teknologi dan jaringan internet (blended learning).
Banyaknya keluhan terkait  keterbatasan jaringan, keluhan orang tua, kouta peserta didik dan guru yang membengkak akibat belajar online.  Pada era revolusi industri 4.0, seluruh aktivitas manusia sudah terkoneksi dengan internet (internet of things).

Guru dan siswa dituntut harus mampu beradaptasi terhadap sistem baru yang sepenuhnya memerlukan koneksi internet dan dilakukan secara virtual. Pendidikan 4.0 adalah respons dari revolusi industri ke empat yang menyeleraskan manusia dan teknologi untuk menciptakan peluang baru secara kreatif dan inovatif dalam membangun peradaban dunia. Era sekarang ini, sistem pendidikan membutuhkan ekosistem yang baru untuk mewujudkan perbaikan masyarakat maupun  menunjang kebutuhan-kebutuhan seperti SDM berkualitas dan unggul. Mengutip Peter Fisk (2019) mengatakan ada sembilan tren atau kecenderungan terkait dengan pendidikan 4.0 (Peter Fisk dalam Delepiter Lase, 2019 : 29- 30). Pertama, belajar pada waktu dan tempat yang berbeda. Ke dua, pembelajaran individual. Ke tiga, siswa memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana mereka belajar. Ke empat, pembelajaran berbasis proyek. Ke lima, pengalaman lapangan. Ke enam, interpretasi data. Ke tujuh, penilaian beragam, ke delapan, keterlibatan siswa serta ke sembilan adalah mentoring.

Lembaga pendidikan dalam menghadapi era industry 4.0 harus mengutamakan literasi baru. Dengan penguatan literasi baru, guru menjadi kunci perubahan serta didukung oleh revitalisasi kurikulum berbasis literasi dan penguatan peran guru maupun memiliki kompetensi digital. Tugas guru di masa depan memiliki peran strategis untuk membangun generasi berkompetensi, berkarakter, memiliki kemampuan literasi baru serta keterampilan berpikir tingkat tinggi. Memperkuat keterampilan literasi abad 21, era dimana hidup manusia berorientasi pada teknologi termasuk penguasaan teknologi, dunia maya, big data, dan lain-lain.

Penguatan literasi baru pada guru sebagai kunci perubahan, termasuk revitalisasi kurikulum berbasis literasi dan penguatan peran guru yang memiliki kompetensi digital.

Penguatan Soft Skills

Soft Skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (termasuk dengan dirinya sendiri). Soft skills merupakan kemampuan komunikasi; kejujuran dan kerja sama; motivasi; kemampuan beradaptasi; serta kompetensi interpersonal lainnya dengan orientasi nilai yang menjunjung kinerja yang efektif. Atribut soft skills lainnya meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter, dan sikap. Atribut soft skills tersebut dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh kebiasaan thinking skills, berkata, bertindak, dan bersikap. Atribut tersebut apabila diurut berdasarkan prioritas kepentingan di dunia kerja, yakni
(1) Inisiatif; (2) Integritas; (3) Berpikir kritis; (4) Kemauan belajar; (5) Komitmen; (6) Motivasi; (7) Bersemangat; (8) Dapat diandalkan; (9) Komunikasi lisan; (10) Kreatif; (11) Kemampuan analitis; (12) Dapat mengatasi stres; (13) Manajemen diri; (14) Kemampuan menyelesaikan masalah; (15) Dapat meringkas; (16) Kooperatif (17) Fleksibel; (18) Bekerja dalam tim; (19) Mandiri; (20) Mendengarkan; (21) Tangguh; (22) Beragumentasi logis; (23) Manajemen waktu.

Peningkatan kapasitas SDM dalam menghadapi revolusi industri 4.0. harus dilakukan melalui akselerasi sesuai tuntutan zaman secara cepat. Revolusi dengan basis adalah SDM, maka kurikulum harus diubah dengan cepat, adaptif agar harmonis sesuai tuntutan zaman.
  Saat ini kualifikasi kerja nasional Indonesia (KKNI) selalu mengutamakan standard an kualitas. Hal demikian menjadi kerangka acuan yang dipergunakan oleh industry. Kebutuhan SDM di sector industri dipenuhi dan dihasilkan oleh pendidikan. Harmonisasi antara industri dengan pendidikan yang dihasilkan  harus kompeten dan siap berdaya saing.

Dikatakan kompeten apabila teruji hasilnya dalam skill, knowledge dan attitude. Karena itu kita harus  positive thinking dalam menyikapi kondisi riil sector pendidikan kita saat ini. Teknologi yang telah menjadi bagian integral dalam kehidupan manusia kini di masa depan akan terus diproduksi. Gagasan baru merespons tuntutan zaman seakan tidak pernah berhenti. Kemajuan teknologi bukanlah suatu hambatan dalam proses belajar mengajar. Justeru teknologi justru membuka peluang terhadap guru untuk lebih giat memajukan pendidikan dengan menghasilkan SDM berkualitas.

Tidak salah memang tatkala teknologi di seluruh dunia menjadi lebih sinkron dan dapat dioperasikan, big data akan menjadi inti yang menghubungkan segala sesuatunya. Big data dalam pendidikan adalah memantau dan melacak kinerja siswa dan memetakan minat siswa dalam berbagai mata pelajaran.

Perkembangan Iptek harus dicermati sebagai upaya untuk menharmonisasikan kurikulum pendidikan. Kemajuan Iptek tanpa melakukan harmonisasi kurikulum suatu bangsa akan tertinggal jauh dibandingkann dengan bangsa lainnya. Karena itu harmonisasi kurikulum harus disinkronkan dengan kemajuan Iptek. Semoga.

(Penulis: Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi).

Rujukan
1. Ariyanti, H. 2018. Hadapi Revolusi Industri 4.0, Mendikbud akan Rancang Ulang Kurikulum dalam https://www.merdeka.com/peristiwa/hadapi-revolusiindustri-40-mendikbud-akan-rancang-ulang-kurikulum.html Diakses 5 Maret 2019.

2. Lase, Delipiter. 2019. Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Sudermann.

3. WE Online. 2019. Agar Tak Ketinggalan Zaman Kurikulum Industri 4.0 Wajib Diterapkan dalam https://www.wartaekonomi.co.id/read/agar-takketinggalan-zaman-kurikulum-industri-40-wajib-diterapkan.html Diakses 6 Maret 2019

Facebook Comments