Menyiapkan Generasi Masa Depan

271

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional

Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal serta diakui oleh masyarakat.

Karena itu manusia dituntut untuk mampu mengantisipasi, merumuskan nilai-nilai dan menetapkan prioritas-prioritas dalam suasana yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari (Joesoef, 2001:198-199). Lebih lanjut Joesoef,et.al, menyatakan dalam konteks etika masa depan tersebut, karenanya visi pendidikan seharusnya lahir dari kesadaran bahwa kita sebaiknya jangan menanti apapun dari masa depan, karena sesungguhnya masa depan itulah mengharap-harapkan dari kita, kita sendirilah yang seharusnya menyiapkannya.

Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2020 yang mengambil tema “Peningkatan Sumber Daya Manusia untuk Pertumbuhan Berkualitas”, ditetapkan ada 5 prioritas nasional. Ke lima prioritas tersebut adalah :
(1) pembangunan manusia dan pengentasan kemiskinan;
(2) infrastruktur dan pemerataan wilayah
(3) nilai tambah sektor riil, industrialisasi dan kesempatan kerja
(4) ketahanan pangan, air, energi, dan lingkungan hidup; serta
(5) stabilitas pertahanan dan keamanan.

Mengacu pada hal tersebut maka pendidikan minimal harus mampu menyiapkan anak didiknya menghadapi tiga hal. Pertama, menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum ada. Ke dua, menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum muncul, dan ke tiga, menyiapkan anak untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan.

Mencermati Perubahan

Permasalahan globalisasi menjadi sangat penting untuk disoroti, sebab merupakan trend abad ke-21 yang sangat kuat pengaruhnya terhadap sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Permasalahan globalisasi dalam bidang pendidikan terutama menyangkut output pendidikan. Era globalisasi saat ini telah terjadi pergeseran paradigma tentang keunggulan suatu

Negara. Dari keunggulan komparatif (comperative adventage) kepada keunggulan kompetitif (competitive advantage). Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, sedangkan keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas (Kuntowijoyo, 2001: 122).

Keunggulan kompetitif ini merupakan permasalahan internal yang paling urgensial dalam pendidikan kita. Sejalan dengan itu Daoed Joesoef (2001:210-225) menyatakan permasalahan internal pendidikan meliputi permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan strategi pembelajaran, peran guru, dan kurikulum. Mencermati hal ini sudah barang tentu kita berpikir tentang profesionalisme guru. Suyanto (2006:28) menjelaskan bahwa guru yang profesional harus memiliki kualifikasi dan ciri-ciri tertentu. Kualifikasi dan ciri-ciri dimaksud yakni,

pertama, harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat.
Ke dua, harus berdasarkan atas kompetensi individual.
Ke tiga, memiliki sistem seleksi dan sertifikasi.
Ke empat, ada kerja sama dan kompetisi yang sehat antar sejawat.
Ke lima, adanya kesadaran profesional yang tinggi.
Ke enam, memiliki prinsip-prinsip etik (kode etik).
Ke tujuh, memiliki sistem seleksi profesi. Ke delapan, adanya militansi individual, dan ke sembilan,  memiliki organisasi profesi.

Suyanto,et.al, menyatakan bahwa era globalisasi dewasa ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap pola pembelajaran yang mampu memberdayakan para peserta didik. Sekadar gambaran, bahwa  pada tahun 2015 tercatat Indonesia memiliki 55 juta tenaga kerja terampil (ADB, 2015). Sedangkan berdasarkan perkiraan pada Masterplan Percepatan dan Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia (MP3EI), dari jumlah tersebut masih akan dibutuhkan 113 juta tenaga kerja terampil hingga tahun 2030 dengan penambahan rata-rata 3,2 juta per tahunnya.

Hal ini merupakan tantangan bagi sektor pendidikan dan pelatihan. Tantangan tersebut berusaha dijawab oleh sektor pendidikan dengan menghadirkan sebuah konsep pendidikan dimana unsur praktek dalam proses pembelajaran dilakukan lebih banyak dibandingkan unsur teori. Itulah sebabnya saat ini pemerintah lebih giat lagi memfokuskan perhatiannya pada pendidikan. Pendidikan yang lebih mengutamakan penerapan keilmuan dibanding sisi akademis dikenal dengan pendidikan vokasi.
Pendidikan vokasi berkembang sangat cepat pada satu dekade terakhir ini, terbukti dengan terjadinya peningkatan jumlah peserta didik baru di bidang vokasi sebesar 158% dari tahun 2001 sampai 2010 (ADB, 2010). Hal ini terjadi karena pemerintah fokus pada pertumbuhan komponen sektor pendidikan ini sebagai sebuah strategi kunci untuk pertumbuhan perekonomian.

Gelombang Digitalisasi

Era 4.0 ditandai dengan digitalisasi pada berbagai bidang sehingga yang pada awalnya manusia sebagai pusat perekonomian, kini telah mulai banyak digantikan oleh teknologi digital (Suwardana, 2017). Sedangkan Rizal (dalam Suwardana, 2017) mengungkapkan bahwa era revolusi industri 4.0 adalah satu tahapan masa yang hadir dengan membawa gelombang yang disebut disrupsi yaitu suatu kondisi dimana perubahan yang terjadi di dunia industri berlangsung sangat cepat, mendasar, dan bahkan terkesan mengaduk-aduk pola lama untuk menghasilkan tatanan baru.

  Digitalisasi dalam dunia pendidikan dapat kita lihat melalui adanya konsep digital learning, online courses, e-book, dan sistem informasi akademik terpadu. Pada pendidikan tinggi, digital learning merupakan wujud disrupsi pendidikan yang memiliki kemampuan untuk mengubah secara mendasar bagaimana proses pembelajaran (Allen dan Seaman, 2013 dalam Chitkushev, 2014). Sumberdaya manusia (SDM)  dapat dikatakan unggul apabila memiliki kelebihan dari yang lainnya dan dengan kelebihannya tersebut, dapat memberi manfaat terhadap orang lain terutama masyarakat di sekitarnya. Salah satu sisi keunggulan SDM dapat kita lihat dalam interaksinya dengan lingkungan baik dengan sesama makhluk hidup maupun dengan teknologi yang ada.  Merujuk pada penelitian di Edinburgh Napier University yang dilakukan oleh Chowdhry, dkk pada tahun 2014, menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran secara virtual hanya berhasil meningkatkan prestasi akademik pada 1 modul dari antara 3 modul yang diteliti.

Penelitian ini kemudian mengungkap bahwa yang dibutuhkan selain perbaikan berkelanjutan pada teknologi pembelajaran, adalah perlunya peningkatan kemampuan dari staf akademik dalam menyampaikan layanan terkait pembelajaran berbasis teknologi. Mengutip Lee, (2013) menjelaskan, industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat factor. Pertama, peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas. Ke dua, munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis. Ke tiga, terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dank e empat,  perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing. Lifter dan Tschiener (2013) mengungkapkan bahwa, prinsip dasar industri 4.0 adalah penggabungan mesin, alur kerja, dan sistem, dengan menerapkan jaringan cerdas di sepanjang rantai dan proses produksi untuk mengendalikan satu sama lain secara mandiri. Industri 4.0 merupakan industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber.

Saat ini, revolusi industri ke empat (4.0) mengubah ekonomi, pekerjaan, dan bahkan masyarakat itu sendiri. Perusahaan digital dapat berkomunikasi, menganalisis, dan menggunakan data untuk mendorong tindakan cerdas di dunia fisik. Sebuah survei perusahaan perekrutan internasional, Robert Walters, bertajuk Salary Survey 2018 menyebutkan, fokus pada transformasi bisnis ke platform digital telah memicu permintaan profesional SDM yang memiliki kompetensi yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Kondisi demikian pada akhirnya bahwa informasi dan teknologi mempengaruhi aktifitas sekolah dengan sangat masif.

Informasi dan pengetahuan baru menyebar dengan mudah dan aksesibel bagi siapa saja yang membutuhkannya. Pendidikan mengalami disrupsi yang sangat hebat. Peran guru yang selama ini sebagai satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser. Peran dan kehadiran guru di ruang kelas akan semakin menantang dan membutuhkan kreatifitas yang sangat tinggi.

Siapkan Generasi Masa Depan

Era revolusi industri 4.0 menjadi tantangan yang sangat berat bagi guru Indonesia. Pola dan cara mendidik harus diubah agar peserta didik mampu mengungguli kecerdasan mesin. Abad ke-21 yang ditandai dengan era revolusi industry 4.0 sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi.

Kehidupan manusia pada mengalami perubahan fundamental serta berbeda dengan tata kehidupan sebelumnya. Tuntutan serba baru tersebut memerlukan suatu terobosan dalam berfikir, penyusunan konsep maupun tindakan-tindakan.

Wajib dicermati bahwa dunia pendidikan pada era revolusi industry berada di masa pengetahuan (knowledge age) dengan percepatan peningkatan pengetahuan yang luar biasa. Data-data yang berhubungan dengan berbagai informasi dapat dilihat pada sebuah “Big Data”.  Big data sering diidentikkan dengan volume data yang besar. Big Data, merupakan teknologi canggih yang memiliki kapasitas lebih besar dan kumpulan data yang lebih kompleks.

Kumpulan data ini memiliki cakupan yang sangat luas sehingga perangkat lunak pengolah data tradisional tidak akan mampu mengelolanya. Kapasitas data yang sangat besar ini dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalaah lain seperti  bisnis yang mungkin tidak bisa kita tangani sebelumnya. Dunia teknologi mengalami perubahan yang sangat pesat dan cepat, dan solusi big data memainkan peran yang besar dalam otomatisasi dan pengembangan teknologi AI (Artificial Intelligence). World Economic Forum memprediksi empat isu yang akan memengaruhi pekerjaan pada masa depan.
Pertama, kecerdasan buatan dan robot akan menciptakan lebih banyak pekerjaan, bukan pengangguran massal. Ke dua, setiap kota akan saling berkompetisi memperebutkan SDM dengan talenta terbaik.
Ke tiga, sebagian besar tenaga kerja negara maju akan menjadi pekerja bebas (freelance) sebelum 2027.
Ke empat, sistem pendidikan berubah dari pendekatan parsial menjadi holistik. Diprediksi sekolah-sekolah akan mulai mengadopsi kurikulum berbasis tugas (project-based curriculum) sebagai jembatan untuk meruntuhkan sekat-sekat yang selama ini menjadi penghalang generasi berpikir kreatif. Karena itu penerapan teknologi pendidikan terhadap peserta didik sangat penting untuk diterapkan dengan selektif. Teknologi pendidikan adalah studi dan etika praktik dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan atau memanfaatkan dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Mengutip Robert Reiser (professor di bidang Instructional system and learning technologies), menunjukkan terdapat 10 trend yang akan mempengaruhi bidang teknologi pendidikan dan sekaligus menjadi tantangan bagi para teknolog pendidikan. Pertama,  tuntutan untuk terjadinya peningkatan kinerja (Performance Improvement) yang terus menerus dalam dunia kerja.
Ke dua, berkembangnya aliran psikologi konstruktivistik (Constructivism) dalam dunia pendidikan.
Ke tiga, berkembangnya konsep manajemen pengetahuan (knowledge management).
Ke empat, berkembangnya suatu sistem yang menyediakan para pekerja berbagai akses pada informasi dan alat yang mendukung kinerja pada saat dibutuhkan (Performance Support) (diadaptasi dari Nyugen, dalam Reiser & Dempsey, 2012). Ke lima, berkembangnya model pembelajaran yang berbasis internet (Online Learning).
Ke enam, berkembangnya konsep “belajar informal” (Informal Learning). Ke tujuh, berkembangnya beragam jenis media sosial (Social Media).
Ke delapan, berkembangnya ragam dan format software permainan yang bermuatan pendidikan (Educational Games).
Ke sembilan, belajar sain serta ke sepuluh, berkembangnya konsep dan teknologi yang memungkinkan pembelajaran dilakukan secara mobile (Mobile Learning). Mengacu pada hal tersebut maka sector pendidikan harus menyiapkan generasi masa depan sesuai dengan era industry 4.0 dan era society 5.0. Kebutuhan generasi penerus harus kita persiapkan sesuai era dan zamannya termasuk penerapam strategi pembelajaran yang tepat. Banyak pilihan yang bias kita lakukan, apakah blended learning, online, face to face  atau berbagai model pembelajaran lainnya

.Mengelola sistem informasi pendidikan terbaru dan termutakhir dengan melakukan evaluasi dan analisis masalah proses dan hasil pembelajaran wajib kita lakukan demi menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik.

( Penulis adalah: Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi)

Rujukan:
1. Ahmad, Intan. (2018). Proses Pembelajaran Digital dalam Era Revolusi Industri 4.0. Medan : Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti.
2. Amir, T.M, 2009. Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pembelajar di Era Pengetahuan. 
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
3. Daryanto, Karim. 2017. Pembelajaran Abad 21. Yogyakarta: Gava Medi
4. Joesoef, Daoed, 2001. “Pembaharuan Pendidikan dan Pikiran”, dalam Sularto    ( ed ). Masyarakat Warga dan Pergulatan Demokrasi: Antara Cita dan Fakta. Jakarta: Kompas.
5. King, F.J., Goodson, L., & Rohani. 2006. Higher Order Thinking Skills. Center 
for Advancement of Learning and Assessment
6. Siti Zubaidah. 2016. Keterampilan Abad Ke-21: Keterampilan Yang Diajarkan 
Melalui Pembelajaran

Facebook Comments