Bungonews.net, Bungo -Idul Fitri sejatinya adalah momen kembali ke fitrah—kembali pada kesucian, kejujuran, dan kesederhanaan. Namun di tengah gema takbir yang seharusnya menenangkan jiwa, justru kita kerap disuguhi pemandangan kontras: pesta berlebihan, pamer kekayaan, hingga perayaan yang lebih mirip ajang unjuk status daripada refleksi spiritual.
Ironisnya, mereka yang memiliki kuasa, kekayaan, dan pengaruh yang seharusnya menjadi teladan justru sering tampil paling mencolok dalam kemewahan.
Rumah-rumah terbuka bak istana, hidangan berlimpah hingga terbuang, pakaian serba baru yang berganti setiap jam. Semua tampak megah, tapi terasa jauh dari makna puasa yang baru saja dijalani.
Bukankah selama Ramadhan kita diajarkan menahan diri? Menahan lapar dan haus, bukan sekadar ritual, tetapi untuk merasakan apa yang setiap hari dialami oleh mereka yang hidup dalam kekurangan. Namun pertanyaannya, apakah pelajaran itu benar-benar membekas? Atau hanya berhenti saat takbir mulai dikumandangkan?
Lebih menyedihkan lagi, di balik gemerlap perayaan itu, masih banyak rakyat kecil yang bahkan untuk makan di hari raya pun harus berjuang. Mereka tidak butuh pesta, tidak menuntut kemewahan—cukup bisa tersenyum bersama keluarga tanpa beban.
Di sinilah kesederhanaan menjadi lebih bermakna daripada segala bentuk kemegahan.
Perayaan Idul Fitri dengan kesederhanaan justru menjadi “sindiran elegan” bagi mereka yang berlebihan. Sebuah pesan bahwa esensi kemenangan bukan pada apa yang ditampilkan, tetapi pada apa yang dirasakan dan dibagikan. Bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari seberapa mewah ia merayakan, tetapi dari seberapa besar ia peduli.
Penguasa seharusnya menunjukkan empati, bukan euforia berlebihan. Pengusaha semestinya berbagi, bukan sekadar memamerkan hasil. Dan mereka yang berkecukupan, sudah sepatutnya mengingat kembali akar dari puasa itu sendiri: menahan, merasakan, dan peduli.
Idul Fitri bukan panggung. Ia adalah cermin. Dan di hari yang suci ini, setiap orang diuji—apakah benar telah kembali ke fitrah, atau justru kembali pada kebiasaan lama yang penuh berlebih-lebihan.
Kesederhanaan mungkin tidak menarik perhatian. Tapi justru di sanalah letak kemuliaan yang sesungguhnya.( Redaksi )





















Komentar