Bungonews.net – Proyek cetak sawah Kabupaten Bungo tahun ini seharusnya menjadi kebanggaan.
Target awal 915 hektare, kontrak turun menjadi 261 hektare, dan masyarakat berharap setidaknya area yang dikontrakkan benar-benar selesai.
Tetapi fakta di lapangan justru menghadirkan pemandangan pahit:Lubuk Kayu Aro gagal,
Rantau Pandan mangkrak,
dan alat berat sudah keluar meski pekerjaan belum rampung.
Semua fakta ini tidak datang dari rumor, tetapi dari kondisi lapangan yang bisa dilihat siapa saja.
1. Target besar, capaian kecil dan itu bukan masalah teknis
Bagaimana mungkin proyek sebesar ini gagal bukan hanya di satu titik, tetapi di dua lokasi sekaligus?
Ini menunjukkan ada yang lebih bermasalah daripada sekadar cuaca buruk atau tanah tidak cocok:
perencanaan sejak awal tidak matang
2. Survei bernilai Rp 649.453/ha dipertanyakan hasilnya
Angka survei hampir Rp 650 ribu per hektare seharusnya menghasilkan data yang presisi dan siap kerja.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya:
Lahan yang direkomendasikan tidak siap.Lokasi gagal dicetak.Banyak titik tak layak.
Jika survei saja tidak melahirkan rekomendasi yang akurat, bagaimana mungkin pekerjaan fisik bisa berhasil?
Ini fakta yang tidak bisa dibantah:survei mahal tidak menghasilkan akurasi lapangan.
3. Dua kontraktor bekerja, tapi progres justru penuh tanda tanya
Pengguna anggaran memilih dua penyedia Itu sah-sah saja asal dikelola dengan benar.
Masalahnya, yang terjadi justru tidak ada progres terbuka,tidak ada laporan publik,tidak ada transparansi,
papan informasi minim,masyarakat hanya menonton lahan yang mangkrak.
Kontraktor bekerja dalam senyap, dan ketika pekerjaan berhenti, diam juga yang mereka pilih.Ini fakta bukan opini liar.
4. Alat berat keluar sebelum pekerjaan tuntas pertanyaan publik makin besar
Di banyak proyek negara, alat berat keluar adalah tanda pekerjaan selesai.
Tapi di Bungo, alat berat keluar ketika lahan belum jadi apa-apa.
Ini fakta lapangan yang paling menggigit:keluar dulu, selesai belakangan atau bahkan tidak selesai sama sekali.
5. Pengawasan hanya kuat di dokumen, lemah di tanah lapang.Pengawasan seharusnya menjadi benteng terakhir.Tapi bukti di dua lokasi menunjukkan hal berbeda:
Lubuk Kayu Aro gagal 109 ha dikerjakan 20 Ha Rantau Pandan 113 Ha dikerjakan 10 Ha terhenti, hal ini dikarenakan tidak ada langkah koreksi cepat,Tidak tampak evaluasi terbuka.
Jika dua titik sekaligus bermasalah, maka publik berhak bertanya:
di mana fungsi pengawasan?
Kesimpulan :
Proyek cetak sawah di Bungo tidak gagal karena hujan, tanah, atau cuaca.
Ia gagal karena:
1. Perencanaan tidak matang sejak awal.
2. Survei mahal tidak menghasilkan akurasi.
3. Dua kontraktor tidak menunjukkan progres transparan.
4. Alat berat keluar sebelum pekerjaan selesai.
5. Pengawasan tidak mampu mengantisipasi kegagalan.
Ini bukan tuduhan.
Ini rangkaian fakta lapangan yang saling menguatkan.Dan fakta selalu punya suara lebih keras untuk diungkap
Jika pemerintah tidak segera:
membuka seluruh data, mengevaluasi kontrak,memeriksa kembali hasil survei,dan menghentikan pola kerja tertutup,maka proyek cetak sawah Bungo akan dikenang bukan sebagai pembangunan pertanian tetapi sebagai contoh telanjang bagaimana dana publik bisa habis tanpa menghasilkan satu hektare pun yang benar-benar jadi
( redaksi Bungonews )





















Komentar