Guru dan Distraksi Digital

OPINI DAN ARTIKEL2124 Dilihat

Oleh: Nelson Sihaloho

 

ABSTRAK

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di era digital saat ini banyak mempengaruhi kehidupan umat manusia. Selain memberikan banyak manfaat positif dalam memudahkan pekerjaan juga memberikan dampak konsekuensi dari sisi negative. Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan saat ini salah satu diantaranya adalah berkembangnya sistem belajar jarak jauh (online/internet). Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan utamanya dalam kegiatan proses belajar mengajar kini semakin banyak tanda-tanda terjadinya distraksi digital. Kemajuan teknologi dengan media sosial juga semakin mempengaruhi pola hidup manusia. Arus informasi yang datang tanpa terbendung, kebutuhan tentang pekerjaan, kebutuhan bersosialisasi dengan cara daring maupun konten media sosial yang sangat menarik merupakan pemicu terjadinya distraksi digital. Karena itu sangat penting ditekankan terhadap anak maupun murid agar mereka dapat menggunakan teknologi menjadi sarana belajar tanpa terdistraksi. Guru sebagai garda terdepan dalam mengemban misi mencerdaskan kehidupan bangsa sebisa mungkin agar mampu meminimalisir terjadinya bahaya distraksi digital.

Kata kunci: guru, distraksi digital.

 

Distraksi Digital

 

Banyak kalangan menyatakan bahwa apabila kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan gawai, smartphone dan internet tidak dikontrol akan memicu terjadinya didtraksi digital. Sejumlah riset menguatkan tentang dampak dari distraksi digital. Menurut riset yang dilakukan Universitas Illinois pada tahun 2020, ketika anak tidak fokus atau mengalami distraksi saat belajar, konsentrasi akan menurun. Selain itu, jika memindahkan program pembelajaran melalui media sosial akan berpotensi membuat anak menunda waktu belajar.

Sebuah artikel dari The Guardian pada tahun 2018 menyatakan berdasarkan hasil penelitian, orang cenderung memeriksa ponsel setiap 12 menit dan bahkan paling sering saat bangun tidur. Kebiasaan ini nantinya akan berbahaya untuk kesehatan mental jangka panjang. Kita harus belajar untuk berhenti sejenak dan memikirkan mengenai fenomena ini. Sebagaimana diketahui bahwa distraksi digital merupakan studi yang sudah menjadi pembahasan sejak tahun 2005.

Distraksi digital secara sederhana dapat diartikan sebagai gangguan karena perangkat media elektronik dan media yang memecah konsentrasi dari pekerjaan utama yang sedang dilakukan. Banyak orang menggunakan istilah ini dan mengaitkannya dengan produktivitas, terutama dalam dunia kerja. Umumnya distraksi  diartikan teralihkannya perhatian seseorang dari pekerjaan yang sedang dilakukan karena beberapa sebab. Terdistraksi berasal dari kata dasar distraksi, menurut KBBI berarti hal atau tindakan yang mengalihkan perhatian. Kondisi ini menyebabkan teralihnya perhatian seseorang terhadap aktivitas atau kegiatan yang sedang dilakukan. Di era digital sebagaimana saat ini kecanggihan teknologi sering kali menjadi penyebab utama terjadinya distraksi. Biasanya seseorang sangat mudah terdistraksi oleh notifikasi handphone yang selanjutnya mengarah pada berbagai aktivitas di media sosial. Jenis distraksi secara umum ada dua macam, yaitu gangguan sensorik yang berasal dari luar dan gangguan emosi yang berasal dari dalam.

Gangguan yang berasal dari luar misalnya notifikasi handphone, pergerakan di sekitar kita, suara orang yang sedang mengobrol, orang mengobrol dengan keras atau berteriak termasuk rengekan anak-anak kecil.  Adapun gangguan dari dalam seperti munculnya rasa bosan, jenih dan kurang bersemangat, teringat akan suatu kejadian, terlalu lelah bahkan masih banyak lagi bentuk-bentuk keluhan lainnya.

Penyebab utama distraksi adalah banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan sekaligus.  Kondisi ini menuntut seseorang untuk multitasking yang bisa mengakibatkan kinerja otak menurun apabila dilakukan dengan terus menerus. Seiring dengan tuntutan proses pembelajaranpun berubah dengan menerapkan metode hybrid learning serta disesuaikan dengan kondisi saat ini. Kondisi demikian menuntut guru untuk beradaptasi agar cakap digital. Untuk menjadi cakap digital dengan kondisi guru dari berbagai generasi bukanlah hal yang mudah. Kendala dan distraksi masih terjadi dalam proses pembelajaran di lapangan. Menurut studi yang dilakukan oleh Lenovo Indonesia tahun 2021, sebanyak 30% guru merasa kesulitan untuk menyesuaikan dengan platform pembelajaran.

Selain itu guru juga menghadapi tantangan yang beragam seperti disrupsi. Disrupsi yang diartikan sebagai suatu zona waktu dimana terdapat perkembangan teknologi secara fundamental dan besar besaran yang nantinya akan mengakibatkan adanya perubahan pola pikir manusia. Pada saatnya akan merubah sistem, tatanan maupun pemahaman menjadi berbeda sama sekali. Dengan perkembangan teknologi besar besaran, dimana  sumber daya manusia yang menggunakan sistem lama  tidak akan mampu bersaing dengan dunia yang sudah mengadopsi sistem yang baru.

Tantangan disrupsi teknologi terhadap dunia  pendidikan, peserta didik dituntut untuk mengikuti perkembangan era globalisasi teknologi dan informasi. Sumber daya manusia (SDM) sebagai hasil pendidikan harus mampu menyaring informasi secara  faktual, aktual, akuntabel dan mampu dipertanggungjawabkan.  Disrupsi teknologi akan memberikan perubahan pada teknologi lama yang sebelumnya lebih banyak menggunakan fisik menjadi lebih sering memanfaatkan teknologi digital, dan menghasilkan sejumlah hal yang benar-benar baru, yang lebih bermanfaat dan lebih efisien, dalam jangka waktu yang cepat. Kecerdasan digital sangat dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat lebih berkembang.

Sejalan dengan itu guru harus bisa memposisikan perannya untuk melindungi dan mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang melek digital, mampu memilah dan memilih informasi, menjadi influencer dan pusat inspirasi masyarakat luas. Adapun peran guru yang dapat dikembangkan dalam menghadapi era distrupsi digital yakni memberikan hak berpendapat peserta didik selama ia belajar.  Memberikan coaching pada peserta didik selama memanfaatkan waktu belajar di sekolah. Menjadi teladan dengan menjadi long life learner yang dapat dijadikan panutan oleh peserta didik. Guru tidak mendominasi, namun memberikan ruang yang luas bagi siswa mengeksplorasikan diri. Guru menyediakan waktu untuk menjadi teman yang baik bagi peserta didik untuk mencurahkan segala hambatan yang dihadapi oleh peserta didik.

Distraksi Informasi

Distraksi informasi dapat menyebabkan gangguan kesadaran. Seperti yang kita liohat sekarang ini para generasi-generasi milenial sering kali disebut sebagai generasi yang hiperaktif dan sulit tenang. Di lingkungan sekitar maupun dilingkungan sekolah sering kita lihat siswa atau peserta didik menggunakan smartphone. Smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Smartphone memberikan akses mudah ke berbagai sumber daya pendidikan, seperti e-book, jurnal online, video pembelajaran maupun aplikasi pendidikan. Dengan smartphone, siswa dan guru dapat mengakses informasi yang relevan dengan cepat dan efisien (Anisa, 2022). Salah satu manfaat utama penggunaan smartphone dalam pembelajaran adalah fleksibilitas. Siswa tidak terikat oleh waktu dan tempat tertentu, mereka dapat belajar di mana saja dan kapan saja sesuai dengan kebutuhan mereka (Arigiyati, Kuncoro and Kusumaningrum, 2021). Penggunaan smartphone dalam pembelajaran juga menghadapi tantangan tertentu. Gangguan menjadi salah satu tantangan utama, di mana notifikasi media sosial dan aplikasi lainnya dapat mengalihkan perhatian siswa dari fokus pada pembelajaran. Masalah keamanan dan privasi juga perlu menjadi perhatian, mengingat adanya risiko potensial terkait dengan penggunaan teknologi ini. Penggunaan smartphone dalam konteks pembelajaran juga dapat menciptakan gangguan sosial. Siswa mungkin tergoda untuk menggunakan smartphone mereka untuk kegiatan non-pembelajaran selama jam pelajaran, mengganggu interaksi langsung dengan guru dan teman sekelas. Dampak negative lainnya yakni gangguan dan ketergantungan pada smartphone yang berlebihan, dapat mengganggu konsentrasi dan fokus siswa serta memengaruhi keseimbangan antara belajar dan aktivitas lainnya. Ketidaksetaraan akses terhadap perangkat dan konektivitas internet, yang dapat menciptakan kesenjangan pembelajaran antara siswa yang memiliki akses dan yang tidak memiliki akses. Distraksi informasi yang tersebar di internet kini telah menjadi fenomena global di era digital.  Pergerakan teknologi akan terus bergerak tanpa henti dan memaksa manusia harus siap berhadapan dengan derasnya era digital saat ini. Era digital pada akhirnya telah mempengaruhi pola kehidupan manusia serta mengubah cara bagaimana manusia bekerja ataupun belajar. Kemampuan interkoneksi yang tidak terbatas melalui jaringan internet membuat ruang digital mempunyai jangkauan yang sangat luas. Ruang digital menjadikan kehidupan semakin praktis dan efisien sehingga memungkinkan untuk melakukan berbagai aktifitas, dari mulai belanja, bekerja, dan belajar, hanya melalui jaringan internet.  Dampaknya apabila kita terlalu banyak beraktifitas menggunakan dunia maya berakibat pada kurang fokus dan kurang konsentrasi dalam memahami suatu materi ataupun topik. Contohnya terhadap siswa bukan memanfaatkan waktunya di rumah untuk mengulang pelajaran melainkan membuka platform hiburan yang menyita banyak waktu mereka. Karena keasyikan membuka konten hiburan sampai akhirnya malas untuk membuka materi yang dapat menambah pengetahuan. Pembelajaran melalui ruang digital mengurangi input sensorik dari interaksi sosial, peserta didik akan mengalami lebih banyak kesulitan belajar. Perlu kita garis bawahi bahwa para siswa generasi milenial dan generasi Z saat ini mudah terdistraksi dengan hal yang tidak berkaitan dengan pelajaran.

Harus Tepat

Pengaruh teknologi terhadap pendidikan di era saat sangat dirasakan pegaruhnya. Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan. Perkembangan teknologi yang berkembang demikian cepat tersebut selain memberikan dampak positif juga dampak negatf. Kemajuan teknologi merupakan hasil atau buah dari sistem pendidikan. Kendati demikian sebaliknya justru masih sangat banyak sistem pendidikan yang belum tersentuh oleh teknologi bahkan kita sering kali menggunakan teknologi dengan kurang tepat. Penggunaan teknologi yang kurang tepat berakibat pada siswa menjadi lebih bergantung pada alat untuk menyelesaikan pekerjaan mereka disbanding dengan pengetahuan mereka sendiri. Adapun beberapa  dampak negatif penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan yakni pengeluaran biaya yang tidak sedikit. Sebab penggunaan teknologi membutuhkan computer atau perangkat lain telah menggantikan pena dan kertas. Perangkat berteknologi tinggi juga menawarkan kepada pengguna banyak fitur canggih yang jauh lebih berguna daripada menggunakan pena dan kertas. Teknologi berkembang begitu cepat sedangkan guru harus fokus pada pembelajaran bahkan sering kali kewalahan bila harus dituntut untuk mengejar kemajuan teknologi pendidikan.

Distraksi menjadi salah satu hal yang dapat menghambat produktivitas seseorang harus diminimalisir. Sebab saat kita terdistraksi sesuatu maka perhatian terhadap tugas yang sedang dikerjakan teralihkan ke sesuatu yang tidak berkaitan atau tidak penting. Agar produktivitas kita tidak menurun dan tidak terdistraksi maka kita harus memiliki befbagai alternative dan solusi dalam mengatasinya. Distraksi digital misalnya seiring dengan perkembangan teknologi semakin umum terjadi. Penggunaan perangkat elektronik seperti ponsel, tablet, atau komputer dengan akses internet dapat menjadi sumber distraksi yang kuat. Notifikasi dari media sosial, pesan teks, atau permainan online pun dapat mengganggu fokus dan menyebabkan penurunan produktivitas. Distraksi merupakan permasalahan umum yang biasanya dirasakan oleh seseorang yang sedang ingin fokus bekerja atau belajar.

Tidak terkecuali kalangan guru harus mampu menghindar dari distraksi digital. Beberapa tips untuk mencegahnya yakni dengan melakukan beberapa hal seperti tidak menggunakan telepon, mengajar dengan kondusif tidak berisik, serta focus pada tujuan pembelajaran serta selalu berupaya meminimalisir distraksi yang muncul. Teknik lainnya adalah menghindari “multitasking” dalam bekerja. Multitasking dalam bekerja dapat menyebabkan stress. Monotasking berarti fokus mengerjakan tugas satu per satu dengan konsentrasi penuh, sedangkan multitasking adalah mengerjakan banyak tugas di saat yang bersamaan. Guru dengan melakukan monotasking dipercaya bekerja bisa lebih fokus, menumbuhkan disiplin diri, menguatkan kemampuan konsentrasi, dan dapat memberikan rasa tenang saat mengerjakan tugas-tugas profesionalismenya. Berbeda dengan multitasking yang bisa menurunkan konsentrasi, merusak memori serta fungsi otak, bisa memberikan rasa lelah berlebihan, dan akibatnya membuat seorang guru jadi kurang detail saat mengerjakan tugas.

Maka, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang guru adalah dengan mengerjakan tugas satu per satu. Survei di Amerika pada tahun 2019, menunjukkan 29% waktu yang dihabiskan anak dalam sehari di internet adalah untuk multitasking. Sejumlah hasil riset menemukan bahwa saat anak tidak fokus pada satu tipe pekerjaan ketika belajar, daya konsentrasi mereka menjadi menurun. Survei di Inggris pada tahun 2018 pada 2000 siswa berusia 11-15 tahun menunjukkan bahwa YouTube lebih menganggu pembelajaran ketimbang televisi. Anak-anak yang disurvei menyatakan mereka rela menunda aktivitas belajar demi menonton video Youtube. Riset terhadap siswa sekolah vokasi di Australia pada tahun 2017 menunjukkan bahwa keputusan memilih media sosial dalam pembelajaran hanya diambil ketika ada relevansi yang jelas antara media sosial dengan pekerjaan mereka di masa depan.

Dengan demikian bahwa dalam menjalankan tugas-tugas profesionalismenya sejalan dengan implementasi kurikulum merdeka, guru penggerak, sekolah penggerak guru sebisa mungkin untuk menghindari distraksi digital. Pengurangan penggunaan gadget dan terkontrol akan menghindarkan guru maupun siswa dari distraksi digital. Penggunaan gadget tidak selamanya buruk asalkan tidak dilakukan dengan berlebihan. Kita harus bijaksana dalam menghadapi distraksi digital yang terus berkembang dan menggoda dengan fitur-fitur terbarunya.

Meningkatnya volume pekerjaan dan tuntutan terhadap profesionalisme guru menjadikan guru kurang produktif. Sebab beban kerja yang terlalu banyak serta tuntutan kecakapan digital tidak menutup kemungkinan bertentangan dengan prinsip kerja produktif. Tidak semua pekerjaan produktif harus dilakukan dengan menggunakan teknologi dan internet atau semacam media sosial atau smartphone. Gangguan sosial yang mungkin terjadi akibat penggunaan smartphone untuk kegiatan non-pembelajaran selama jam pelajaran, mengganggu interaksi langsung dengan guru dan teman sekelas. Semoga bermanfaat. (*****)

 

Rujukan:

  1. Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Tips Efektif Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan. Yogyakarta: Diva Press.
  2. Arsyad, Azhar. 2002. Media Pengajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada
  3. 2008. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Bandung : CV. Alfabeta.
  4. Sudibyo, Lies. 2011. “Peranan dan Dampak Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan di Indonesia”. Jurnal WIDYATAMA Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Vol. 20, No.2: 175- 185.
  5. Azis, T. N. (2019) ‘Strategi pembelajaran era digital’, in The Annual Conference on Islamic Education and Social Science, pp. 308–318.
  6. Sari, D. E. (2019) ‘Quizlet: Aplikasi Pembelajaran Berbasis Smartphone Era Generasi Milenial’, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 29(1), pp. 9–15.
  7. Yuni, R. S. P. (2017) ‘Hubungan intensitas penggunaan smartphone dengan disiplin belajar siswa’, E-Societas, 6(1).

Komentar