Oleh: Nelson Sihaloho
ABSTRAK:
Banyak kalangan menyatakan bahwa, keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling tinggi tingkat kesulitannya dikalangan para siswa ataupun mahasiswa dibandingkan dengan ketrampilan lainnya. Dibandingkan dengan tiga kemampuan berbahasa yang lain yakni kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca. menulis adalah yang paling sulit dikuasai bahkan oleh penutur asli bahasa sekalipun.
Demikian juga dengan menulis essai membutuhkan suatu kemampuan untuk menjabarkannya dalam sebuah karya. Karya essai merupakan sebuah tulisan prosais yang menyajikan gagasan subjektif-personal tentang suatu masalah berdasarkan sudut pandang pribadi penulisnya. Essai juga sering dan lazim disebut tulisan berisi opini atau pendapat seseorang terhadap sebuah permasalahan aktual atau menarik perhatian. Pada hakikatnya tulisan jenis essai lebih mengutamakan ketajaman analisis, interpretasi, dan refleksi dengan kedalaman uraian disertai kekuatan argumentasi penulis. Ketrampilan atau kemampuan menulis essai dikalangan siswa sangat penting ditumbuhkembangkan agar mereka mampu menuangkan ide-ide cemerlangnya melalui tulisan. Tidak terkecuali dikalangan guru ataupun pendidikan sering kali kita menemukan sulitnya menulis essi. Dengan menulis essai, selain dapat menumbuhkan jiwa kritis dan kreatif diklangan siswa juga mampu terhindar dari tindakan anarkis seperti tawuran dalam menyampaikan aspirasinya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menumbuhkembangkan kemampuan siswa menulis essai adalah dengan metode blended learning. Pengalaman penulis dengan mengarahkan siswa mencari informasi di internet mereka lebih mudah memahami atau menulis berbagai tulisan essai.
Kata kunci: menulis, essai, blended learning
Hakikat Menulis Essai
Kegiatan menulis termasuk ke dalam aktivitas bahasa yang produktif. Bahasa produktif dapat diartikan sebagai kegiatan dalam berbahasa untuk menyampaikan informasi ataupun gagasan, baik itu secara lisan maupun tertulis. Aktivitas bahasa produktif mengacu pada aktivitas pembicara untuk menyampaikan ide, pemikiran, perasaan, dan pesan informasi. Pembelajaran menulis tentunya diajarkan pada semua jenjang pendidikan formal dari mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Menulis dalam bahasa sendiri adalah suatu tantangan proses, ketika sampai pada penulisan bahasa kedua, prosesnya dianggap lebih menantang. Seorang penulis perlu memahami tujuan, agar dapat meningkatkan motivasi diri dalam menulis. Mengutip Rosidi (2009) menyatakan menulis memiliki beberapa tujuan, diantaranya: memberitahukan atau menjelaskan, meyakinkan atau mendesak, menceritakan sesuatu, mempengaruhi pembaca, menggambarkan sesuatu. Memberitahukan atau menjelaskan sesuatu, dimana dengan mengenali tujuan-tujuan tersebut, maka akan dapat membantu dalam pengembangan tulisan. Begitu juga dengan menulis karya dalam bentuk essai perlu dipahami dengan baik. Essai termasuk ke dalam suatu karya tulis. Saat siswa masih berada pada jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, siswa lebih mengenal essai sebagai suatu bentuk soal uraian dalam ujian atau tes. Berbeda halnya tatkala sudah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, essai lebih dikenal sebagai suatu bentuk karya tulis. Secara bahasa, “essay” berasal dari bahasa Prancis, yang artinya mencoba atau berusaha. Esai adalah suatu tulisan yang menggambarkan opini penulis tentang subjek tertentu yang dicoba untuk dinilainya (Dalman, 2011). Pengertian tersebut mengarah pada isi bahasan esai, yang mana esai membahas tentang suatu subjek atau pun masalah. Lain halnya dengan Wijayanti yang menghimpun pendapat dari guru dan siswa tentang esai. Pendapat siswa dan guru mengenai essai memiliki kesamaan. Pertama, essai adalah karangan atau bentuk tulisan (artinya lebih dari satu paragraf). Kedua, essai bertutur tentang kejadian yang diketahui/dipahami tentang sesuatu yang terjadi di masyarakat atau lingkungan (dengan demikian, mengandung fakta atau pengalaman). Ketiga, esai berisi pendapat/pandangan penulis tentang hal yang dibicarakan (artinya memuat argumentasi dan bersifat subjektif) (Wijayanti dkk. 2012). Lebih lanjut Widyamartaya, dkk. (2004) menyatakan esai secara mudahnya boleh dipandang sebagai suatu usaha untuk melahirkan pandangan mengenai suatu topik dengan bentuk yang pendek serta dengan cara penuturan yang sebaik-baiknya, yang terpenting dalam esai bukan apa yang dibicarakan, melainkan bagaimana cara membicarakannya. Essai ditujukan pada publik umum dan berupaya untuk mengomunikasikan ide, tesis, atau informasi dalam bentuk wacana dengan anekdot bebas, gambaran dan contoh-contoh keseharian yang menggambarkan pengalaman masyarakat umum (Agus R. Sarjono dalam Horizon XXXVIII/1/2004: 8-9). Esai adalah sebuah tulisan, karangan, analisis, atau penafsiran tentang sesuatu. Kebanyakan dengan topik yang kurang lebih terbatas, dengan luas, gaya dan metode bebas, walaupun pada umumnya dapat dibaca dengan sekali duduk. Menurut ilmu jurnalistik, esai adalah tulisan berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subjektif dari berbagai aspek atau bidang kehidupan (Rahardi, 2006: 27). Selain itu, esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya (Depdiknas, 2011). Pengarang esai disebut esais. Esai sebagai satu bentuk karangan dapat bersifat informal dan formal. Esai informal mempergunakan bahasa percakapan, dengan bentuk sapaan “saya” dan seolah-olah yang bersangkutan berbicara langsung dengan pembacanya. Ada juga yang menyatakan bahwa essai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Pengarang esai disebut esai. Esai sebagai satu bentuk karangan dapat bersifat informal dan formal. Esai informal mempergunakan bahasa percakapan, dengan bentuk sapaan saya dan seolah-olah ia berbicara langsung dengan pembaca. Adapun esai yang formal pendekatannya serius. Pengarang mempergunakan semua persyaratan dalam penulisan. Ada enam tipe esai, yakni: pertama, Essai Deskriptif. Esai jenis ini dapat menulis subjek atau objek apa saja yang dapat menarik perhatian pengarang. Ia bisa mendeskripsikan sebuah rumah, sepatu, tempat rekreasi dan sebagainya. Kedua, Essai Tajuk. Esai jenis ini dapat dilihat dalam media massa dan majalah. Esai ini mempunyai satu fungsi khusus, yaitu menggambarkan pandangan dan sikap media massa/majalah tersebut terhadap satu topik dan isyu dalam masyarakat Ketiga, Esai Watak. Esai ini memperbolehkan seorang penulis membeberkan beberapa segi dari kehidupan individual seseorang kepada para pembaca. Lewat watak itu pembaca dapat mengetahui sikap penulis terhadap tipe pribadi yang dituangkan. Penulis tidak menuliskan biografi. Keempat, Esai Pribadi, hampir sama dengan esai watak. Akan tetapi esai pribadi ditulis sendiri oleh pribadi tersebut tentang dirinya sendiri. Penulis akan menyatakan Saya adalah saya. Kelima, Esai Reflektif. Esai reflektif ditulis secara formal. Penulis mengungkapkan dengan dalam, sungguh-sungguh, dan hati-hati beberapa topik yang penting berhubungan dengan kehidupan, misalnya politik, pendidikan, dan hakikat manusiawi. Keenam adalah Esai Kritik. Dalam esai kritik penulis memusatkan diri pada uraian tentang seni, misalnya, lukisan, tarian,teater, kesusasteraan. Esai kritik bisa ditulis tentang seni tradisional, pekerjaan seorang seniman pada masa lampau. Esai ini membangkitkan kesadaran pembaca tentang pikiran dan perasaan penulis tentang karya seni.
Menulis Essai dengan Blended Learning
Apabila merujuk pada struktur essai sama dengan karangan lain seperti prosa, pantun, cerpen, essai pun memiliki struktur. Struktur esai yang baik dalam Bahasa Indonesia dibagi menjadi 3 yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Beberapa ahli juga memiliki pendapat yang sama tentang struktur esai, mereka juga membaginya ke dalam tiga bagian yang terdiri atas, paragraf pendahuluan (yang diakhiri dengan kalimat tesis), paragraf isi, dan paragraf penutup (Wijayanti dkk. 2012). Lalu bagaimana menulis essai bisa diterapkan terhadap siswa dengan metode blended learning. Sebagaimana diketahui bahwa adalah sebuah proses pembelajaran yang memadukan kegiatan belajar mengajar tatap muka (luring) dengan online learning (daring). Saat ini, model blended learning sudah semakin populer diterapkan oleh berbagai institusi di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kehadiran blended learning merupakan sebuah inovasi dalam dunia pendidikan yang memang muncul untuk menjawab berbagai pertanyaan dan kritik yang ada. Ada banyak hal yang melatarbelakangi makin populernya blended learning, salah satunya seperti instruksi dari pemerintah Indonesia kepada sekolah untuk menyelenggarakan aktivitas belajar dari rumah terkait kondisi yang sekarang ini. Blended learning atau pembelajaran campuran adalah metode belajar yang menggabungkan pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi dan media digital dengan pembelajaran berbasis tradisional atau tatap muka. Mengutip Charles R. Graham dalam bukunya yang berjudul “The Handbook of Blended Learning: Global Perspectives, Local Designs” mendefinisikan blended learning sebagai sistem pembelajaran yang mengkombinasikan instruksi tatap muka dengan instruksi yang dimediasi oleh komputer. Solusi mengatasi permasalahan pembelajaran menulis essai dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan mengatasi masalah tersebut adalah model pembelajaran bauran (blanded learning). Berkaitan dengan hal tersebut materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat disampaikan secara langsung (luring) dan daring. Dalam hal ini digunakan aplikasi yang terdapat dalam android seperti whatsapp (untuk berdidkusi), googlemeet (untuk pembelajaran virtual), dan blog (untuk membagikan tugas yang dapat diakses siswa). Dengan demikian, sepintas mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya. Menurut Dewi, dkk (2019: 52) model blended learning ialah perpaduan antara pembelajaran langsung di kelas dan pembelajaran jarak jauh, sehingga dalam prosesnya menggunakan sumber belajar online. Sejalan dengan pendapat terebut, Mosa (2006) menyampaikan, bahwa yang dicampurkan adalah dua unsur utama, yakni pembelajaran di kelas dengan tatap muka secara konvensional (classroom lesson) dengan pembelajaran secara online. Hal tersebut yang dimaksudkan adalah pembelajaran yang secara konvensional biasa dilakukan di dalam ruangan kelas dikombinasikan dengan pembelajaran yang dilakukan secara online baik yang dilaksanakan secara independent maupun secara kolaborasi dengan menggunakan sarana prasarana teknologi informasi dan komunikasi. Selain blended learning ada istilah lain yang sering digunakan di antaranya blended e-learning dan hybrid learning (Sinaga, 2019 dalam jurnal yang berjudul “Blended Learning: Transisi Pembelajaran Konvensional Menuju Online”). Istilah yang disebutkan tadi mengandung arti yang sama yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi pembelajaran. Dengan demikian, blended learning dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memanfaatkan berbagai macam pendekatan. Pendekatan yang dilakukan dapat memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi. Driscoll (2002) menyebutkan empat konsep mengenai pembelajaran blended learning Keempat konsep tersebut yakni a).Blended learning merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan atau menggabungkan berbagai teknolo-gi berbasis web, untuk mencapai tujuan pendidikan. b). Blended learning merupakan kombinasi dari berbagai pendekatan pembelajaran (seperti behaviorisme, konstruktivisme, dan kognitivisme) untuk menghasilkan suatu pencapaian pembelajaran yang optimal dengan atau tanpa teknologi pembelajaran. c). Blended learning juga merupakan kombinasi banyak format teknologi pembelajaran, seperti video tape, CDROM, web-based training, dan film dengan pembelajaran tatap muka. d) Blended learning menggabungkan teknologi pembelajaran dengan perintah tugas kerja aktual untuk menciptakan pengaruh yang baik pada pembelajaran dan tugas. Pradnyana (2013: 6) menyebutkan tujuan dari pembelajaran blended learning adalah sebagai berikut. a. Membantu peserta didik untuk berkembang lebih baik di dalam proses belajar, sesuai dengan gaya belajar dan preferensi dalam belajar. b. Menyediakan peluang yang praktis realistis bagi pendidik dan pesertadidik untuk pembelajaran secara mandiri, bermanfaat, dan terus berkembang. c. Peningkatan penjadwalan fleksibilitas bagi peserta didik, dengan menggabungkan aspek terbaik dari tatap muka dan instruksi online. d. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan para peserta didik dalam pengalaman interaktif. Porsi online memberikan peserta didik dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan pada setiap saat dan di mana saja selama peserta didik memiliki akses internet. e. Mengatasi masalah pembelajaran yang membutuhkan penyelesaian melalui penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi. Penerapan blended learning tidak terjadi begitu saja. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan, yaitu karakteristik tujuan pembelajaran yang ingin kita capai, aktivitas pembelajaran yang relevan serta memilih dan menentukan aktivitas mana yang relevan dengan konvensional dan aktivitas mana yang relevan untuk online learning (Cahyani, 2020). Berkaitan dengan menulis, Nurudin (2010: 4) berpendapat bahwa menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami. Definisi tersebut mengungkapkan bahwa menulis yang baik adalah menulis yang dapat dipahami oleh orang lain. Hal yang diperlukan seorang penulis untuk mencapai suatu tujuan agar terampil dalam menulis dan tulisan tersebut dapat dipahami oleh orang lain adalah latihan dan praktik terus menerus dengan cara teratur dengan penuh kesungguhan. Untuk terampil menulis dengan baik, penulis harus mempunyai keterampilan berbahasa dan kemampuan tentang menulis. Menulis merupakan suatu kemampuan menggunakan pola-pola bahasa dan penampilannya, secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan. Mengutip Kosasih dan Restuti (2018:93) teks tanggapan adalah teks yang berisi pendapat yang berupa kritik, sanggahan, atau pujian terhadap lingkungan hidup, kondisi sosial, keragaman budaya, tentang peristiwa, fenomena, ucapan, dan perbuatan, atau tentang suatu karya orang lain. Stein, (2014) menyatakan bahwa blended learning sebagai alternatif solusi untuk memecahkan kesenjangan belajar yang saat ini lebih terfokus pada pembelajaran tatap muka atau hanya pembelajaran online saja. Perspektif tersebut mengungkapkan tentang pengalaman belajar online, tetapi pada dasarnya tidak hanya sekedar pengalaman online. Blended learning dapat menstimulasikan keterampilan, memberi sikap kreatif untuk dapat melakukan kegiatan belajar secara mandiri, dimana kegiatan pembelajaran tidak tergantung pada instruktur, sehingga pembelajaran dengan blended learning terintegrasi untuk memberikan kemudahan dan membangun sikap mandiri kepada siswa untuk kreatif dan inovatif dalam melakukan aktivitas belajar. Termasuk dalam menulis karya essai pata siswa dapat mengunduh atau mendownload di internet ssuai dengan petunjuk dari guru. Menurut perspektif Mortera-Gutierrez (Erdem&Kilbar, 2014:200) mengenai blended learning (BL) yang merupakan kombinasi atau gabungan dari banyak pendekatan yang diimplementasikan dalam proses pembelejaran, di dalamnya berisi paduan dari beberapa metode penyampaian materi yang tidak sama, seperti paduan dari beberapa software, web based course (kelas maya) atau komputer yang digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi, dan metode konvensional yaitu kegiatan pembelajaran dengan tatap muka antara instruktur dengan mahasiswa. Relevansi perspektif tersebut sesuai dengan keadaan pembelajaran modern yang terjadi saat ini, bahwa pembelajaran dapat dilaksanakan dengan mengembangkan berbagai software yang dirancang untuk kegiatan pembelajaran dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas yang mendukung proses pembelajaran.Osguthorpe dan Graham (2003) mengidentifikasi enam manfaat BL lain: (1) fleksibilitas yang memungkinkan desain pembelajaran disesuaikan dengan tujuan maupun kebutuhan individu siswa; (2) akses yang luas kepada pengetahuan; (3) kesempatan mengembangkan interaksi sosial; (4) fasilitasi bagi pengembangan kompetensi pribadi mahasiswa; (5) efisiensi biaya dan kesempatan untuk menjangkau mahasiswa di segala penjuru dunia dalam waktu singkat dan dengan pelayanan semi personal yang konsisten; dan (6) kemudahan melakukan revisi terhadap konten pembelajaran. Dengan demikian menulis Essai dikalangan siswa dapat dilakukan dengan metode blended learning. Contoh maupun jenis-jenis karya-karya Essai dapat di unggah atau di download di internet kapan saja dimana saja sepanjang sinyal hot spot internet tersedia. Guru pembimbing dapat melakukan penilaian obyektif atas karya-karya siswa dari internet sesuai dengan sumbernya. Karya-karya essai yang mereka dapatkan dari internet harus lebih dikembangkan agar hasilnya lebih baik lagi. Semoga bermanfaat. (*****).
Rujukan:
- Albiladi, K. (2019). Blended Learning in English Teaching and Learning: A Review of the Current Literature. Journal of Language Teaching and Research, 10(2), 232–238. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.17507/jltr.1002.03
- Chaeruman, U, A. (2007). Suatu Model Pendidikn Dengan Sistem Belajar Mandiri. Jurnal Teknodik n0. 21/XI/Teknodik/Agustus
- Febrian, Jack. 2007. Menggunakan Internet, Bandung : Informatika Bandung.
- 2014. Pembelajaran Bauran, Blended Learning, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
- Ramadhan, Rizky, Uwes Anis Chaeruman, dan Cecep Kustadi. 2020. Pengembangan Pembelajaran Bauran (Blended Learning) di Universitas Negeri Jakarta. Jurnal Pembelajaran Inovatif, Vol 1(1) : 37-48
- Sutisna, A. (2016). Pengembangan Model Pembelajaran Blended Learning pada Pendidikan Kesetaraan Program Paket C dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar. 18(3), 156–168.





















Komentar