Kisah Anak Punk dan Tanggung Jawab Pemerintah

PERISTIWA1006 Dilihat

Bungonews.net, BUNGO – Anak jalanan yang lebih dikenal anak Punk tidak lagi jadi pemandangan yang biasa namun kebaradaan anak punk ini seringkali membuat sebagian orang merasa diresahkan sehingga enggan merogoh kocek nya untuk sekedar berbagi, kebiasaan dan cara pandang masyarakat seperti ini mestinya tidak harus terjadi apabila masing – masing menyadari bahwa anak punk juga anak manusia yang juga menginginkan kehidupan layak nya manusia yang lain nya , namun keadaan dan latar belakang kehidupan mereka lah yang memaksa mereka harus turun ke jalan sekedar mencari rezeki dari pagi yang habis disore hari

Latar belakang kehidupan sosial ,ekonomi dan pengaruh lingkungan yang menjadikan mereka sebagai anak jalanan ( punk) ini pun berawal dari berbagai problem yang dihadapi, umumnya karena akibat broken home , himpitan ekonomi dan tidak adanya keluarga dan sanak pamily yang bisa melindungi mereka

Persoalan anak jalanan atau anak punk ini bukan lah persoalan yang mereka  anggap seringkali  meresahkan namun lebih ditekankan kepada tanggung jawab pemerintah bersama instansi terkait untuk mencari solusinya , dirazia dan ditangkap bukan lah menyelesaikan masalah namun pembinaan dan tanggung jawab memberikan perlindungan yang layak , mengayomi ,tempat bernaung atau memberikan orang tuah asuh yang mau mengadopsi , sehingga hak untuk memperoleh pendidikan yang layak pun harus dipikirkan oleh pemerintah .

Dikabupaten Bungo bukan berarti tidak ada anak punk bahkan anak punk berkeliaran mengeliling kota Muara Bungo untuk mendapatkan rezeki belas kasih dengan cara menawarkan jasa menghibur dengan alat musik seadanya dengan harapan agar diberikan duit receh sebagai pengganti jasa hiburan menyanyi yang disuguhkannya


Sekilas anak punk yang berhasil diwawancarai siang ini , Sabtu (16/07/22) disalah satu warung kopi dalam kabupaten Bungo menceritakan kepada Bungo news perjalalanan hidup mereka hingga turun kelapangan

Celcia gadis yang baru tumbuh dewasa berusia 15 tahun mengaku berasal dari kota Jambi bersama rekannya Kiki yang juga berusia 15 tahun serta Salma berusia 18 tahun yang mengaku berasal dari Banten

Celcia mengaku menjadi anak punk bukanlah pilihan nya namun dikarenakan rumah tangga orang tua nya sudah Broken ia terpaksa bergabung dengan anak punk ” rumah tangga orang tua saya sudah Broken ibu saya sudah lama pergi dari rumah sejak 1 tahun yang lalu begitu juga ayah saya , saya tidak tahu entah dimana mereka sekarang ” Tuturnya menceritakan

Ada keinginan pulang kerumah tapi kami tidak punya rumah sedangkan ibu dan ayah saya entah dimana , saya akan terus berkelana menjadi anak punk hingga saya bisa menemukan ibu saya dan berhasil membawanya pulang untuk berkumpul lagi ,tapi itu entah sampai kapan saya tidak tahu juga ” ujarnya dengan logat Jambi

Lantas bagaimana dengan rekannya Kiki , Cilcia mengakui bahwa beliau adalah temannya sejak kecil sehingga iapun ingin hidup bersama meskipun jadi anak punk

Ditanya selama kurang dari satu tahun menjadi anak punk apakah ada pengalaman pahit yang dialami selain ditangkap oleh pol PP ,seperti diganggu oleh sekelompok orang atau oleh teman laki- laki sesama anak punk disaat tidur di emperan toko ? ” Kami anak punk punya prinsip saling menjaga satu dengan yang lainnya sehingga tidak ada saling mengganggu , meskipun kami perempuan kami tetap di jaga , kami juga tidak usil dan tidak mau tahu dengan yang lainnya meskipun ada yang saling pacaran satu dengan yang lainnya bagi kami hal yang biasa. ” Jelasnya

Apakah ada rasa rindu dengan orang tua dan ingin bertemu dengan mereka ,lebih – lebih disaat mendengar takbir idul Fitri dan idul adha , ” Disaat takbir berkumandang sudah pasti kami tidak bisa menahan air mata kami , untuk menghibur diri kami hanya bisa duduk termenung dan meminum minuman alkohol dan minum tuak tapi bukan narkoba , kadang sampai kepuncak tidak sadarkan diri , itulah cara kami mengusir rasa rindu ,mengusir sepi dan mengusir kegalauan kami ” imbuhnya

Ditanya berapa penghasilan yang didapatnya minimal setiap hari ? ” Paling sedikit penghasilan kami sebesar Rp. 80.000 / hari yang kami bagi bertiga ,uang itu kami gunakan untuk beli nasi dan keperluan lainnya ” tambahnya

Ditimpali oleh Salma (18 ) gadis manis asal Banten , ” Saya juga menabungkan uang untuk membeli Handphone android karena saya sudah lama ingin pakai handphone ” timpalnya sembari mengaku sudah menikah dengan rekan laki – lakinya .

Dikisahkan oleh Salma bahwa ia pernah pulang kerumah namun setelah sampai dirumahnya ia dipukul , bahkan menurutnya ia pernah dipukul dengan kayu balok hingga kayu dan bahunya patah .

Terlepas dari benar atau tidaknya pengakuan anak punk ini , yang jelas mereka adalah anak usia sekolah yang butuh perlindungan dan pendidikan yang layak dari pemerintah.

Diketahui hingga saat ini belum ada pembinaan apalagi memberikan pendidikan yang layak serta orang tua angkat ( adovsi ) yang semestinya tanggung jawab dari pemerintah ,instansi terkait dan lembaga peduli anak jalanan di kabupaten Bungo terkecuali ditangkap dan dilepas lagi ( BN .R.001- war / jp/hpz )

Komentar