PjBL Solusi Memandirikan Peserta Didik di Era Society 5.0?

 

Oleh: Nelson Sihaloho
*).Penulis Guru SMPN 11 Kota Jambi
email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com.

ABSTRAK:

Era super smart society (society 5.0) yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang tahun 2019, dunia pendidikan dituntut berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM.  Untuk menghadapi era society 5.0 tersebut satuan pendidikan harus melakukan perubahan paradigma pendidikan. Saat ini misalnya semakin banyak model-model pembelajaran mutakhir yang terus dikembangkan. Termasuk model-model pembelajaran “praktik terbaik” atau lazim disebut dengan “best practice” yang terus dilombakan. Bila Dianalisis serta dikaji lebih lanjut dengan mendalam kadangkala “best practice” tidak sesuai diterapkan disemua sekolah. Bahkan ada “best practice hanya cocok diterapkan dalam satu sekolah dilingkungan perdesaan. Beberapa diantara model pembelajaran salah satu diantaranya adalah Project Based Learning (PjBL).
Model PjBL merupakan salah satu model pembelajaran student centered anjuran Kurikulum 2013 yang melibatkan peserta didik dalam suatu proyek sehingga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Merujuk Depdikbud (2016) ada sejumlah langkah-langkah yang harus dipedomani dalam PjBL. Model PjBL meliputi penentuan pertanyaan mendasar, menyusun perencanaan proyek, menyusun jadwal, monitoring, menguji hasil, dan evaluasi pengalaman. Dalam menghadap era globalisasi yang semakin dinamis dan kompleks dibutuhkan berbagai strategi maupun model pembelajaran (Pj) agar peserta didik memiliki bekal serta ketrampilan menghadapi masa depan. Era masa depan yang semakin kompleks itu harus mampu memamndirikan peserta didik sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan peserta didik itu adalah mampu mewujudkan dan mempersiapkan mereka menghadapi era Society 5.0.
Kata kunci: PjBL, Era Society 5.0

Model PjBL

Dalam kegiatan pembelajaran peserta didik tidak cukup hanya sebatas memahami teori saja. Peserta didik harus disiapkan untuk mampu berpikir kritis dan konstruktif. Menurut Fauziyah (2016 :19) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rancangan atau pola yang digunakan sebagai pedoman pembelajaran di kelas. Model pembelajaran adalah suatu rancangan yang digunakan guru untuk melakukan pembelajaran di kelas.

Model Pembelajaran yang disarankan oleh Permendikbud No.22 th.2016 tentang Pelaksanaan Pembelajaran meyatakan bahwa: Untuk memperkuat pendekatan ilmiah dalam pembelajaran di kelas diperlukan penerapan pembelajaran berbasis penelitian/penyingkupan (dsicovery / inquiry learning) dan untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual, individual maupun kelompok disarankan menggunakan pendidikan pembelajaran berbasis pemecahan masalah (PBL dan PjBL).

Model pembelajaran akan lebih efektif apabila dalam pelaksanaannya memanfaatkan media visual (gambar) untuk membantu dan mempermudah penyampaian materi sehingga model pembelajaran menjadi lebih efektif. Hal itu dapat dilakukan dengan mengembangkan konsep pembelajaran di sekolah serta menerapkan beberapa komponen. Adapun Ria, (2020) menyatakan (1) Pertama, menerapkan kemampuan HOTS (Higher, Order, Thinking, Skil) yang merupakan kemampuan dalam memecahkan masalah secara kompleks, berpikir kritis dan kreativitas. (2). Kedua, yaitu dengan pembaharuan orientasi pembelajaranyang futuristic, yaitu mengenalkan pembelajaran yang tidak hanya pada penguasaan materi saja tetapi juga perlu menghubungkan terkait pemanfaatan teknologi untuk kemajuan masyarakat Society 5.0. (3). Ketiga, yaitu dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat. (4). Keempat, yaitu dengan mengembangakan potensi pendidik. Kompetensi dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik seorang pendidik perlu dikembangkan agar mampu beradaptasi dengan era Society 5.0 yaitu melalui pembekalan wawasan keilmuan, attitude dan skill. (5). Kelima, yaitu dengan penyediaan sarpras dan sumber belajar yang futuristic sesuai kebutuhan berupa smart building berbasis IT berupa ruang kelas, perpustakaan,dan laboratorium yang didukung fasilitas IoT dan AI yang didukung sumber belajar dan media belajar peserta didik. Mengutip Kardi dan Nur, (2000:9) menyatakan bahwa model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi pembelajaran, metode pembelajaran, maupun prosedur pembelajaran. Ciri-ciri tersebut ialah : (1) Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya; (2) Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai); (3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil;dan (4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajarann itu dapat tercapai. Begitu juga dengan PjBL banyak kalangan pakar dan para ahli memberikan defenisi tentang PjBL ini. Grant (2002) mendefinisikan project based learning atau pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Peserta didik secara konstruktif melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan. Goodman dan Stivers (2010) mendefinisikan Project Based Learning (PjBL) merupakan pendekatan pengajaran yang dibangun diatas kegiatan pembelajaran dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi peserta didik yang terkait dengan kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan secara berkelompok. Goodman dan Stivers, et,al, menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis proyek (PjBL) menciptakan lingkungan belajar “konstruktivis” dimana peserta didik membangun pengetahuan mereka sendiri dan pendidik menjadi fasilitator. Sedangkan Afriana (2015), pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

Pengalaman belajar peserta didik maupun konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek. Made Wena (dalam Lestari, 2015:14) menyatakan bahwa model Project Based Learning adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada pendidik untuk mengelola pembelajaran dikelas dengan melibatkan kerja proyek. Kerja proyek merupakan suatu bentuk kerja yang memuat tugas-tugas kompleks berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan yang sangat menantang dan menuntun peserta didik untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan peserta didik untuk bekerja secara mandiri.

Sejalan dengan itu maka dalam menghadapi era society 5.0 tersebut minimal peserta didik dituntut memiliki kemampuan 6 literasi dasar. Yakni literasi data yaitu kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital. Kemudian literasi teknologi, memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (coding, artificial intelligence, machine learning, engineering principles, biotech). Dan terakhir adalah literasi manusia yaitu humanities, komunikasi dan desain.

Peran Pendidik Era Society 5.0

Sebagai pendidik di era society 5.0, maka para guru harus memiliki keterampilan dibidang digital dan berpikir kreatif. Jika dikaji dengan mendalam bahwa model PjBL memiliki karakteristik tersendiri. Adapun Karakteristik model Project-based Learning diantaranya yaitu peserta didik dihadapkan pada permasalahan konkret, mencari solusi, dan mengerjakan projek dalam tim untuk mengatasi masalah tersebut. Pada model PjBL peserta didik tidak hanya memahami konten, tetapi juga menumbuhkan keterampilan pada peserta didik bagaimanan berperan di masyarakat. Keterampilan yang ditumbukan dalam PjBL diantaranya keterampilan komunikasi dan presentasi, keterampilan manajemen organisasi dan waktu, keterampilan penelitian dan penyelidikan, keterampilan penilaian diri dan refleksi, partisipasi kelompok dan kepemimpinan, dan pemikiran kritis. Alimuddin (2019) menyatakan di era masyarakat 5.0 guru dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas.

Pendidik harus memiliki kecakapan hidup abad 21 yaitu memiliki kemampuan leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence, entrepreneurship, global citizenship, team working dan problem solving. Hasil penelitian Global SchoolNet (2000) dalam Nurohman tentang karakteristik Project Based Learning menyebutkan bahwa Project Based Learning adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki karakteristik sebagai berikut: a) peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja, b) adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik, c) peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan, d) peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan, e) proses evaluasi dijalankan secara kontinyu, f) peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan, g) produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif, h) situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
Karena itu perkembangan teknologi merupakan bagian dari manusia itu sendiri sebab dengan berkembangnya teknologi diharapkan dapat menyelesaikan masalah sosial baik saat ini maupun di masa depan. Begitu juga dengan penerapan era society 5.0 memiliki signifikansi terhadap terciptanya beberapa literasi baru. Yakni (1). Literasi data, yaitu sebuah kemampuan untuk membaca, menganalisis dan memanfaatkan atau menggunakan big data di dunia digital. (2). Literasi teknologi, yaitu sebuah pemahaman terhadap kerja mesin dan aplikasi teknologi. (3). Literasi manusia, yaitu yang berkaitan dengan komunikasi dan desain. Dari beberapa literasi di atas, kemudian dilakukan penggabungan yang menuntut setiap orang untuk terus belajar dan berkembang. Dunia pendidikan di era society 5.0 diharapkan mampu menghadirkan kegiatan pembelajaran yang lebih bermakna dengan menciptakan pembelajaran menyenangkan. Adapun sejumlah tantangan dunia pendidikan pada era society 5.0 adalah: (1) implikasi revolusi 4.0 ke 5.0; (2) masalah lingkungan hidup; (3) kemajuan teknologi informasi; (4) konvergensi ilmu dan teknologi; (5) ekonomi berbasis ekonomi; (6) kebangkitan isdustri kreatif dan budaya; (7) pergeseran kekuatan ekonomi dunia; (8) pengaruh dan imbas teknosains; (9) mutu, investasi dan trasformasi pada sektor pendidikan. Era revolusi industri 5.0 telah mengubah cara berpikir tentang pendidikan. Perubahan yang dibuat tidak hanya cara mengajar, namun yang terpenting adalah perubahan dalam perspektif konsep pendidikan itu sendiri. Pengembangan soft skill dan transversal skill, serta keterampilan tidak terlihat yang berguna dalam banyak situasi kerja seperti keterampilan interpersonal, hidup bersama, kemampuan menjadi warga negara yang berpikiran global, serta literasi media dan informasi.

PjBL dan Literasi Multimodal

Di era digital saat ini, pemanfaatan teknologi selaras dengan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam pembelajaran abad-21. PjBL pun demikian karea banyak memiliki keunggulan. Keunggulan penerapan model PjBL yakni (1) meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu dihargai; (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah; (3) membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks; (4) meningkatkan kolaborasi: (5) mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi; (6) meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber; (7) memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas; (8) menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang berkembang sesuai dunia nyata; (9) melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata; (10) membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran” (Kurniasih dalam Nurfitriyani, 2016). Sedangkan ketrampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik pada pembelajaran abad 21 yakni daya cipta dan inovasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah, kerjasama, dan komunikasi.
Liang & Lim, (2020), mengungkapkan bahwa pembelajaran multimodal memanfaatkan berbagai sumber dengan menggunakan bahasa, gambar, gerak tubuh, tindakan, suara dan sumber daya lainnya. Model pembelajaran jenis ini mencoba mengembangkan siswa dalam membuat makna (meaning making) pada sebuah teks dari berbagai sumber. Selain itu juga menjadikan siswa menjadi pembaca dan produsen teks yang berpengetahuan luas. Literasi multimodalitas ini sangat sesuai serta sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi di era digital saat ini.
Penerapan PjBL hendaknya para peserta didik dibiasakan bekerja dengan cara kolaboratif, penilaian dilakukan dengan autentik, dan sumber belajar bisa sangat berkembang. PjBL berlangsung dalam jangka waktu panjang, interdisciplinary, peserta didik sebagai pusat perhatian dalam menyimak isu dunia nyata yang menarik perhatian mereka. Selain itu adanya investigasi dan riset yang mendalam, peserta didik duduk secara fleksibel, santai dan berkolaborasi di dalam tim. Petunjuk pembelajaran fleksibel, banyak perbedaan tingkat dan topik yang dipelajari oleh tiap peserta didik, mendorong mereka bekerja dalam tim yang heterogen untuk mencapai target. Bertanggung jawab atas diri sendiri, menggambarkan tugasnya sendiri dan bekerja sebagai anggota, suatu tim untuk waktu tertentu dengan suatu target. Pendidik sebagai fasilitator dan menyediakan sumber daya, menggunakan alat yang terintegrasi dalam semua aspek kelas, seperti dalam pemecahan masalah, komunikasi, meneliti hasil, dan mengumpulkan informasi. PjBL merupakan suatu metode pembelajaran yang dapat diterapkan pada semua jenjang pendidikan. Dalam PjBL pendidik berperan sebagai fasiliator yang bertujuan untuk menemukan pemecahan masalah. Selain itu peserta didik juga wajib mempelajari konsep cara pemecahan masalah dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Dalam mempelajari konsep dan kemampuan berpikir kritis tersebut peserta didik bekerja dengan cara bersama‐sama dalam kelompoknya untuk mengkaji masalah-masalah riil. Pada mekanisme kelompok tersebut akan terjadi dialog saling memberi maupun menerima di antara anggota kelompok, sehingga diperoleh pemahaman yang mendalam dan matang. Penerapan PjBL roject selain memfokuskan pada pemecahan masalah nyata, kerja kelompok, umpan balik, diskusi dan laporan akhir juga sebagai salah satu solusi dalam memandirikan peserta didik. Semakin banyak masalah yang mampu mereka pecahkan maka kemandirian mereka semakin teruji. Semoga bermanfaat. (*****).

Rujukan:
Chimpololo, A. (2020). An Analysis of Heutagogical Practices through Mobile Device Usage in a Teacher Training Programme in Malawi. Journal of Learning for Development, 7 (2), 190–203.
Fukuyama, M. (2018). Society 5.0: Aiming for a New Human-Centered Society. Japan Spotlight Journal, 47, 47–50. Retrieved from https://www.jef.or.jp/journal/.
Global School Net.( 2000). Introduction to Networked Project-Based Learning.http://www.gsn.org/web/pbl/whatis.htm (diuduh pada 1 Oktober 2014, pukul 22:10 WIB).
Nastiti, F., & Abdu, A. (2020). Kajian: Kesiapan Pendidikan Indonesia Menghadapi Era Society 5.0. Edcomtech Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 5(1), 61– 66.https://doi.org/10.17977/um039v5i12020p061.
Ria, Desi Rosa. (2020). Guru Kreatif di Era Society 5.0. (https://jurnal.univpgripalembang.ac.id/index.php/Prosidingpps/article/download/3941/3666, diunduh Senin 30 November 2020).

Komentar