Guru Penggerak Trend Misi Utamakan Peserta Didik

Oleh:Nelson Sihaloho

 

ABSTRAK:

Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) menyatakan bahwa “Guru penggerak yaitu guru yang mengutamakan murid dari apa pun, bahkan dari kariernya, mengutamakan murid dan pembelajaran murid. Karena itu mengambil tindakan-tindakan tanpa disuruh, diperintah, untuk melakukan yang terbaik” Dewasa ini “Guru Penggerak” menjadi tren di kalangan guru. Menjadi guru penggerak memnag tidak mudah. Sebab banyak hal yang harus di korbankan mulai pikiran, mental, tenaga, waktu bahkan mengorbankan waktu untuk keluarga. Merujuk Kemendikbudristek (2021) menjelaskan bahwa Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

Guru Penggerak merupakan agen perubahan bahkan mustahil atau  tidak mungkin bisa terjadi apabila guru maupun pimpinan unit pendidikan tidak percaya pada potensi anak. Guru Penggerak dituntut untuk punya optimisme, keyakinan, dan keimanan bahwa potensi anak tersebut ada di dalam dan tinggal dikeluarkan, tinggal difasilitasi dan dikembangkan. Guru Penggerak dalam menjalankan tugas dan kinerjanya profesionalismenya dengan tren misi mengutamakan peserta didik. Sebuah langkah dan pilihan yang berat dan tantangan yang begitu besar dalam kinerjanya  yang harus dilalui dalam mewujudkan visi pendidikan Indonesia Unggul.

Kata kunci: guru penggerak, tren, misi, peserta didik

Peran Guru Penggerak

Mengutip Kemdikbudristek (2021) menyatakan bahwa adapun peranan yang diemban oleh guru penggerak pertama, menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya, kedua, menjadi Pengajar Praktik bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah, ketiga, mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah, keempat, membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan kelima, menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah. Program guru penggerak idealnya memang lekat dengan konsepsi merdeka belajar. Guru penggerak perubahan pada dasarnya memiliki tujuan yang baik yakni membentuk guru sebagai agen perubahan yang mampu memimpin proses pembelajaran yang melibatkan berbagai elemen dan melakukan difusi inovasi di lingkungan pendidikan. Namun apabila melihat fakta riil dan realita dilapangan  program guru penggerak dihadapkan terhadap sejumlah tantangan dan persoalan yang menyangkut profesi guru. Diantaranya dari aspek regulasi, aspek kualitas dan kompetensi, aspek kesejahteraan, aspek perlidungan guru serta penghargaan dan jenjang karir guru. Selain hal tersebut tantangan dan persoalan lainnya yakni tantangan digitalisasi pendidikan. Era disrupsi pendidikan yang terjadi akan menjadi tangtangan  terhadap digitalisasi pendidikan. Era digitalisasi pada akhirnya guru harus  merubah paradigma dan mindset untuk meningkatkan sejumlah literasi yang dimilikinya, termasuk literasi digital. Menghadapi tantangan zaman yang semakin serba kompleks maka guru dituntut untuk terus belajar dan belajar. Belajar bisa dilakukan secara mandiri, komitmen, dan selalu merefleksi untuk memperbaiki kekurangan yang sudah diketahui. Dalam implementasinya maka Guru Penggerak  dituntut untuk mandiri. Konsekuensiya bahwa guru harus mampu memunculkan motivasi dalam dirinya sendiri untuk membuat perubahan terhadap lingkungan sekitarnya maupun pada dirinya sendiri.  Seoarang guru harus selalu reflektif  serta melihat dari sisi positif setiap saran dan kritik untuk memperbaiki kualitas kinerjanya. Guru Penggerak harus berkolaborasi, melakukan in untuk kemajuan sekolah. Guru Penggerak harus mampu  mewujudkan profil pelajar Pancasila terhadap para peserta didiknya. Pelajar yang memiliki profil ini adalah peserta didik yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi tersebut adalah 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif. Keenam dimensi tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh. Karena itu kebijakan merdeka belajar yang diyakini sebagai upaya pemerintah dalam menerapkan pembelajaran dengan menyesuaikan konteks perkembangan abad 21. Sebab perkembangan teknologi kian massif serta terus berkembang dengan dinamis. Merdeka belajar merupakan suatu kondisi yang memberikan kepercayaan penuh kepada guru untuk melakukan inovasi maupun kreatifitas, tidak hanya sekadar menerima perintah dari atasan (Alfian & Yaqin, 2021). Kemendikbud, (2020) menyatakan bahwa novasi dan kreatifitas yang merupakan substansi merdeka belajar, merupakan kondisi yang memberikan kepercayaan penuh kepada guru dan peserta didik dalam pembelajaran, sehingga peserta didik dapat belajar dengan optimal di bawah bimbingan guru. Dengan demikian kebijakan merdeka belajar dapat dipahami sebagai kebebasan berfikir, berkreasi, berinovasi, dan berimprovisasi bagi guru dan peserta didik, sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih berarti. Merdeka belajar merupakan terobosan untuk menciptakan suasana belajar yang bebas dan menyenangkan, baik bagi peserta didik maupun para guru (Sherly: 2020). Merujuk pendapat Paulo Freire (2000) dalam Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy and Civic Courage menyebut ada tiga hal penting tentang mengajar yang perlu dipahami para guru. Pertama, tidak ada pengajaran tanpa pembelajaran. Seorang guru harus mampu melakukan riset, memiliki respek terhadap beragam pengetahuan siswa, kritis, memahami isu etik dan estetika, menjadi teladan, mau mengambil risiko, reflektif dan kritis, serta memiliki pemahaman tentang identitas kultural masyarakat sekitarnya. Kedua, mengajar bukan hanya untuk transfer pengetahuan. Penting bagi guru untuk sadar akan ketidaksempurnaan dirinya, pengakuan terhadap kondisi orang lain, respek terhadap otonomi siswa, rendah hati, logis, toleran, memperjuangkan hak, penuh sukacita dan harap, yakin terhadap perubahan, dan penuh rasa ingin tahu. Ketiga, mengajar ialah aksi kemanusiaan. Hal tersebut terkait dengan kesadaran guru terhadap profesi, komitmen, peran pendidikan dalam mengubah dunia, otoritas dan kebebasan, hati nurani, mau mendengarkan, pemahaman ideologis, dan terbuka untuk berdialog.

 

Mengikuti tren perkembangan IPTEK

 

Perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi (TIK) digital di abad ke-21 telah membawa efek perubahan terhadap semua aspek kehidupan manusia, baik aspek sosial, pekerjaan, sistem pemerintahan, ekonomi, bisnis, kesehatan dan termasuk pendidikan. Pentingnya pendidikan untuk membentuk berbagai keterampilan dalam menguasai semua aspek yang bernuansa digital, yang dapat diintegrasikan dalam pengembangan kurikulum di sekolah ataupun pada lembaga pendidikan. Seperti model pembelajaran pada saat ini harus mengikuti arus sebagaimana yang berkembang. Setidaknya ada delapan model pembelajaran yang harus diterapkan para guru kepada siswanya. Yakni, Discovery Learning, Inquiry Learning,Problem Base Learning, Project Base Learning,Production Based Education & Training, Teaching Factory Learning, Collaboratif Learning dan Contextual Learning.  Karakteristik rancangan pembelajaran inovatif guru juga harus dapat berkolaborasi antara peserta didik dan guru itu sendiri. Begitu juga dengan  guru harus berorientasi pada HOTS, mampu mengintegrasikan teknologi dan komunikasi terus serta  guru juga harus berorientasi pada keterampilan belajar dan mengembangkan keterampilan abad 21. Begitu juga dengan teknologi pendidikan beberapa tahun terakhir ini menjadi perbincangan hangat dan menjadi tren. Berbagai teknologi pendidikan semakin gencar untuk dikembangkan agar bisa menjadi solusi pembelajaran di era modern. Trend aplikasi teknologi pendidikan abad 21 ditandai dengan sistem pendidikan yang berubah dengan dramatis. Di era abad 21 sistem pembelajaran menuntut lingkungan belajar yang fleksibel, pembelajaran yang dipersonalisasi. Kemudian diterapkannya model pembelajaran baru seperti model ruang kelas yang dibalik (flipped), di mana siswa terlibat dengan konsep melalui ceramah yang disimpan dalam format video atau vodcast yang dapat diunduh sebelum datang ke kelas, kemudian menghabiskan waktu kelas untuk kegiatan belajar lainnya yang lebih berkualitas dan kompleks.  Model pembelajaran ini dikenal sebagai ruang kelas terbalik (flipped classroom), dan pencetus istilah tersebut, guru kimia Colorado Jonathan Bergmann dan Aaron Sams juga menyebutnya “instruksi terbalik”. Pendekatan ini membuat waktu pembelajaran di kelas lebih banyak digunakan untuk kegiatan yang lebih menarik (dan seringkali kolaboratif) yang biasanya difasilitasi oleh guru. Karena itu kompetensi abad 21 menjadi fokus utama terhadap peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (SDM)  di Indonesia memasuki abad 21. Kompetensi ini menjadi pedoman untuk membentuk manusia yang memiliki kemampuan untuk bersaing di dunia kerja. Pembelajaran abad 21 menjadi cara untuk mewujudkan terpenuhinya kompetensi tersebut untuk menyelesaikan masalah. Kompetensi abad 21 adalah kumpulan keterampilan yang diperlukan pada perkembangan zaman. Adapun kompetensi abad 21 yang dimaksud meliputi keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration). kompetensi abad 21 mencakup banyak hal. Keterampilan (skills) yang tergolong dalam kompetensi abad 21 meliputi critical thinking (pemikiran kritis), creativity (kreativitas), collaboration (kolaborasi), communication (komunikasi), information literacy (informasi literasi). Kemudian media literacy (media literasi). Technology literacy (literasi teknologi), flexibility ( fleksibilitas), leadership  (kepemimpinan), initiative (inisiatif), productivity (produktivitas) and social skills (ketrampilan sosial).

 

Trend Misi Utamakan Murid

 

Pembelajaran abad 21 pun hadir sebagai jalan menuju tercapainya kompetensi abad 21. Pembelajaran abad 21 adalah pembelajaran yang menggabungkan tiga kompetensi abad 21, yakni kemampuan belajar (learning skills), kemampuan literasi (literacy skills), keterampilan hidup (life skills), keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi. Guru Penggerak dalam pembelajaran abad 21 menekankan pada pembelajaran adaptif menggunakan siklus berulang. Mulai dari mengajukan pertanyaan (pengujian), pembelajaran atau materi penguat (belajar), dan menilai kepercayaan peserta didik dalam apa yang dia ketahui.  Dalam konteks ini Guru Penggerak harus menggunakan kurikulum yang disesuaikan yakni Kurikulum Merdeka. Penekanannya mengacu pada pembelajaran adaptif dapat memperkuat kompetensi abad ke-21. Termasuk memberikan pengetahuan baru tentang produk, layanan, dan proses khusus misalkan saja perusahaan. Adaptive learning adalah pendekatan cara pengajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri dan dapat bergerak maju melalui unit-unit pelajaran dengan kecepatan mereka sendiri. Dalam rangka mencapai kompetensi abad 21, pembelajaran abad 21 menekankan pada Higher Order Thinking (HOTS) atau proses pembelajaran dengan melibatkan unsur berpikir tingkat tinggi. Biasanya pembelajaran abad 21 menggunakan metode berbasis proyek (Project Based Learning) atau Inquiry Based Learning.  Ketidakmampuan peserta didik bisa terus diperbaiki dengan adaptive learning. Pembelajaran adaptif mengacu pada personalisasi pengalaman belajar bagi peserta pelatihan dengan menggunakan teknologi berbasis komputer. Menggunakan teknologi pembelajaran adaptif, komputer memodifikasi konten pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta pelatihan.  Perkembangan teknologi pembelajaran adaptif didorong oleh kebutuhan untuk menyesuaikan konten pembelajaran sehingga peserta pelatihan dengan berbagai tingkat keterampilan dapat lebih efisien mengakses informasi berdasarkan kebutuhan spesifik mereka. Kompetensi abad 21 pun mudah tercapai dengan pembelajaran abad 21 berbasis pembelajaran adaptif.

Bahan ajar merupakan salah satu sarana yang perlu diperhatikan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru sebagai subjek yang memiliki peranan penting dalam proses membangun pengetahuan siswa perlu memperhatikan sarana yang digunakan dalam proses pembelajaran. Bahan ajar sebagai salah satu sarana yang digunakan harus memenuhi kriteria yang praktis dan efektif. Adanya bahan ajar ini sangat berpengaruh terhadap guru dan siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Bahan ajar yang baik, akan mempermudah guru dalam memandu siswa meraih keberhasilan dalam belajar. Guru harus selektif dalam memilih bahan ajar yang sesuai untuk siswanya.

Dalam kaitan ini maka semakin jelas bahwa tren pendidikan di abad 21 membutuhkan bantuan teknologi untuk menjembatani kegiatan belajar-mengajar sehingga teknologi modern memainkan peran yang sangat besar untuk dunia pendidikan khususnya pendidikan jarak jauh atau online. Beberapa tren pendidikan inovatif lainnya yakni Platform E- Learning. Platform E-learning mulai marak digunakan di Abad 21 terutama sekolah yang telah menerapkan blanded learning karena memudahkan proses pembelajaran. E-learning dapat diakses dari mana saja dan bersifat global. Selain itu, E–learning menghilangkan batasan waktu dan tempat dengan karakteristik kelas tradisonal dengan menggunakan mode komunikasi asynchronous seperti email, diskusi online, mahasiswa dapat mengakses 24 jam setiap hari. Kemudian Program Pengajaran, yakni penggunaan sistem penilaian otomatis dan asisten pengajar AI mulai diujicobakan di dunia pendidikan dan ini memberikan gambaran tentang tren pendidikan di masa depan. Ada juga Pembelajaran Immersive dengan VR/AR yakni teknologi tersebut mampu membantu siswa menghilangkan distraksi dan fokus pada tugasnya. Kemudian Gamifikasi, yakni melibatkan permainan yang dapat menarik perhatian siswa membuat belajar menjadi menyenangkan, contohnya dengan membuat game siswa seperti menjadi detektif dan lain sebagainya disesuaikan dengan konteks pelajarannya. Gamifikasi menggunakan teknik (mekanisme game) dari game, seperti prestasi, papan peringkat, dll., untuk memberikan pengalaman pengguna yang lebih menarik dan menyenangkan di kelas. Selanjutnya adalah Pembelajaran dengan Video. Pembelajaran dengan video saat ini mulai digemari siswa. Siswa bisa langsung menyimak guru melalui video secara langsung atau melihat versi rekamannya. Keunggulan media video dalam pembelajaran adalah mampu menampilkan gambar bergerak dan suara, yang mana hal tersebut merupakan satu daya tarik tersendiri karena siswa mampu menyerap pesan atau informasi dengan menggunakan lebih dari satu indera. Terakhir adalah Penggunaan Chatbot. Penggunaan Chatbot bermanfaat bagi siswa yang membutuhkan saran secara langsung atas tulisa akademik mereka.  Penggunaan Chatbot ini baru banyak di terapkan untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, untuk memudahkan pembelajaran sehari – hari. Dengan demikian menjadi Guru Penggerak  harus siap dengan trend misi mengutamakan peserta didik dalam menjalankan tugas profesionalismenya terutama meningkatkan mutu serta kualitas  siswanya kearah yang lebih baik.  Semoga bermanfat. (*****).

 

Rujukan: 

 

  1. Chaeruman, U. A. (2008). Rencana Pembelajaran Yang Mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

  1. Hendayana, Yayat. 2020. Keterampilan Pembelajaran pada Abad-21 Disiapkan untuk Sambut Bonus Demografi Indonesia [online]. Link:https://dikti.kemdikbud.go.id/kabar-dikti/kabar/keterampilan-pembelajaran-pada-abad-21-disiapkan-untuk-sambut-bonus-demografi-indonesia/ (Accessed: 2 June 2022)

 

  1. 2017. Pendidikan Karakter Dorong Tumbuhnya Kompetensi Siswa Hendayana, Yayat. 2020. Keterampilan Pembelajaran pada Abad-21 Disiapkan untuk Sambut Bonus Demografi Indonesia [online]. Link:https://dikti.kemdikbud.go.id/kabar-dikti/kabar/keterampilan-pembelajaran-pada-abad-21-disiapkan-untuk-sambut-bonus-demografi-indonesia/ (Accessed: 2 June 2022)

 

  1. Howe, Nick J. 2019. Why Onboarding Must Be More Than Orientation: Focusing on 21st-Century Skills Boosts Employee Productivity [online]. Link: https://trainingindustry.com/articles/onboarding/why-onboarding-must-be-more-than-orientation-focusing-on-21st-century-skills-boosts-employee-productivity/ (Accessed: 2 June 2022)

 

  1. Chaeruman, U. A. (2008). Rencana Pembelajaran Yang Mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

  1. (2017). Implementasi Pengembangan Kecakapan Abad 21 Dalam Perencanaan.

Komentar