Oleh: Nelson Sihaloho
*).Penulis:Guru SMPN 011 Kota Jambi
ABSTRAK:
Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan IPTEK menjadi pilar persaingan bangsa. Bahkan penguasaan IPTEK merupakan salah satu ukuran tinggi rendahmya daya saing suatu bangsa. Perkembangan pesat teknologi digital di masa depan akan mendorong perubahan di berbagai bidang. Peta perubahan ke depan perlu dianalisis secara terperinci, sehingga potensi gangguan dan goncangan atau disrupsi teknologi di segenap aspek kehidupan dapat direspons dengan baik dan tepat. Begitu juga dengan pendidikan akan selalu dihadapkan pada suatu kondisi kepastian global. Dalam menghadapi kepastian global kompetensi yang kompetitif, unggul, dan mumpuni sangat dibutuhkan menghadapi masa depan. Untuk menghadapi masa depan spirit atau kekuatan mental akan menjadi modal utama pendidikan dalam menngarungi persaingan global.
Sumber daya mansuia (SDM) yang cepat merespon perubahan serta mampu ekses disrupsi teknologi, akan berpotensi memenangkan persaingan di masa depan. Potensi-potensi SDM hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan. Tanpa pendidikan, potensi yang dimiliki individu seperti kecerdasan, bakat, dan talenta tidak dapat berkembang. Pendidikan merupakan suatu proses pengembangan individu menjadi pribadi berkarakter positif dan mampu mengembangkan potensinya dengan optimal sesuai minatnya masing-masing. Nilai-nilai spiritual memegang peranan sangat penting terhadap perilaku anak didik di tengah masyarakat yang majemuk, plural dan heterogen perlu dikembangkan dengan berkelanjutan. Pendidikan spiritual (kerohanian) merupakan benteng utama bagi penguasaan nafsu dan emosi.
Nilai–nilai spiritualitas (kerohanian) akan berkembang apabila disertai ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), sebaliknya Iptek akan menjadi salah arah bila tidak dikendalikan dengan nilai keagamaan (kerohanian).
Kata kunci: spirit, pendidikan, ketidakpastian global
Spirit Pengetahuan dan Perubahan
Mengutip Charles Fadel (2009) menggambarkan, bahwa satu-satunya hal yang konsisten terjadi dari tahun ke tahun adalah perubahan. Patrick Dixon (2019) menyatakan dalam dekade-dekade mendatang, manusia terus berpacu dengan kecepatan perubahan. Siapa yang cepat merespon perubahan serta menepis ekses disrupsi teknologi, akan berpotensi memenangkan persaingan. Untuk memenangkan persaingan diperlukan kompetensi yang unggul dan kompetitif. Kompetensi merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, kemampuan (capabilities) dan sikap yang memberi kontribusi terhadap peningkatan kinerja seseorang atau individu dan pada akhirnya menghasilkan kesuksesan.
Kompetensi sebagai suatu gugusan atau klaster berbagai kemampuan, komitmen, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait satu sama lain sehingga memungkinkan seseorang atau suatu organisasi bertindak secara efektif dalam suatu pekerjaan atau suatu situasi, (Muthuveeran Ramasamy dan Matthias Pilz:2019).
Sejalan dengan hal tersebut Mohammad Ali (2015) menjelaskan bahwa dalam perspektif global atau universal, fungsi pendidikan adalah
(1) Pengembangan diri peserta didik (personal development),
(2) Pengembangan kompetensi untuk bekerja (employability or work competencies development),
(3) Pengembangan kewarganegaraan (citizenship), dan (4) Transmisi dan transformasi budaya (transmission and transformation of culture). Fungsi pendidikan yang terkait pengembangan diri didasarkan pada suatu prinsip bahwa setiap individu memiliki ragam potensi, seperti karakter, kecerdasan, bakat, dan minat masing-masing. Kondisi dunia yang didera ketidakpastian global dan krisis, pandemi, ataupun perang hendaknya menyadarkan kita untuk lebih peduli pada pendidikan. Pendidikan merupakan faktor penting untuk membangun identitas, karakter, dan martabat bangsa demi masa depan yang lebih baik.
Spirit dan keinginan para guru untuk terus melakukan perubahan penting untuk terus menerus dilakukan. Seorang pendidik selain berperan penting dalam transfer of values, juga transfer of skills. Ada nilai-nilai keteladanan yang mesti dimiliki seorang pendidik agar bisa menjadi pembimbing terhadap anak didiknya.
Agar menjadi berkualitas guru harus memiliki kompetensi pedagogi, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial serta kompetensi professional. Keempat kompetensi tersebut harus dipenuhi oleh seorang guru dan layak disebut guru berkualitas. Namu kenyataannya, tidak semua guru memiliki kualitas kompetensi tersebut dengan cukup dan merata.
Di era sekarang ini, pendidikan akan menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills). Beragam teknologi dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan konsep belajar berkemajuan seperti model pendidikan berbasis digital.
Kemampuan yang adaptif, kreativitas dan belajar (willing to learn) adalah basic skills yang mesti dimiliki individu agar ia bisa siap menghadapi sebuah situasi sesulit apapun yang dapat kemungkinan terjadi kapan saja. Sudah saatnya kita meninggalkan kultur pendidikan yang menekan kemerdekaan belajar peserta didik dan menciptakan sekolah sebagai ruang yang aman bagi peserta didik.
Contohkecil misalnya adalah memberikan materi pada peserta didik tentang kesadaran berkonstitusi. Kesadaran berkonstitusi secara konseptual dimaknai sebagai kualitas pribadi seseorang yang memancarkan wawasan, sikap dan perilaku yang bermuatan cita-cita dan komitmen luhur kebangsaan dan kebernegaraan Indonesia (Winataputra, 2007: 21). Dalam kaitan ini guru harus mampu memebrikan spirit bagaimana menghadapi konstitusi di masa depan yang penuh dengan berbagai kompleksitasnya.
Kurikulum Berkarakter Global
Sebgaimana kita ketahui bahwa engaruh globalisasi tidak mungkin dapat dibendung. Globalisasi juga akan menyentuh bidang pendidikan dan pengajaran terutama berkaitan dengan tantangan nilai (value). Indrajit dan Djokopranoto (2006: 99-100) menjelaskan nilai-nilai yang dibawa globalisasi meliputi dua nilai. Pertama, nilai positif dan kedua nilai negatif. Nilai positif: (1) etos kerja, (2) kerja keras, (3) penghormatan hak asasi, (4) kehidupan masyarakat sipil dan sebagainya. Nilai negatif: (1) konsumerisme, (2) hedonisme, (3) individualisme, (4) sekularisme dan sebagainya. Pengaruh yang pertama nilai-nilai postif globalisasi dapat ditransferkan sebagai sumber kurikulum dan pembelajaran siswa. Pengaruh yang kedua ini, harus diantisipasi, sebab berdampak terhadap menurunnya perilaku kebergamaan para siswa khususnya.
Adapun Sanjaya (2011) mengungkapkan bagaimanapun ideal dan sempurnanya kurikulum, maka keberhasilannya sangat tergantung pada proses implementasi yang dilakukan guru di sekolah. Dengan demikian peran tenaga kependidikan, terutama guru sebagai pendidik peserta didik terdepan memiliki tugas sebagai adapter (penyesuaian) developer (pengembang) dan implementer (pelaksana) kurikulum di kelas. Permasalahan implementasi kurikulum yang belum mendapatkan perhatian tenaga kependidikan terutama guru pada umumnya: (1) bidang cakupan (scope), (2) relevansi, (3) keseimbangan, (4) integrasi, (5) sekuens, (6) kontinuitas, (7) artikulasi, (8) transferability. Salah satu dari permasalah ini yang akan dikemukakan adalah relevansi. Relevansi kurikulum dengan kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh para siswa dalam menghadapi tantangan globalisasi yang tidak selalu membawa nilai-nilai postif. Derasnya arus globalisasi yang terjadi saat ini membuat negara semakin terhubung satu sama lain, batas-batas geografis menjadi semakin kabur dan tidak berpengaruh dalam kehidupan sosial. Untuk membentengi diri dari infiltrasi alternatif ideologi asing yang terbawa dari arus globalisasi, kita sebagai bangsa harus selalu berpegang teguh kepada Pancasila.
Karakter bangsa harus dikuatkan melalui pengamalan Pancasila secara nyata. Pancasila harus dijadikan cara hidup (way of life) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sejalan dengan upaya penguatan karakter, kualitas SDM harus unggul dan bercirikan SDM yang berjiwa mandiri, kreatif, adaptif, kolaboratif, dan inovatif menjadi keharusan di era globalisasi ini, terutama dalam menyongsong society 5.0. Di era digital saat ini, generasi muda juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan digitalnya.
Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah terus mendorong program infrastruktur digital diantaranya pembangunan jaringan fiber optik Palapa Ring, Menara BTS dan jaringan internet di daerah 3T, perluasan wilayah 4G, pengembangan sistem 5G, peluncuran satelit multifungsi SATRIA, pembangunan beberapa pusat data nasional. Strategi transformasi digital ini diharapkan dapat mendorong Indonesia menjadi salah satu dari 10 ekonomi terbesar di dunia pada 2030. Kurikulum berkarakter global adalah mengajarkan peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran, bertanggung jawab, mandiri serta mengembangkan jiwa kepemimpinanny. Ciri-ciri kurikulum yang baik implementasinya harus didukung oleh tenaga pendidik yang memiliki keterampilan mumpuni dalam mengajar untuk menciptakan peserta didik berwawasan global.
Pentingnya pendidikan karakter akan menjadi penentu untuk sektor lingkungan Nilai-nilai Pancasila masih sangat relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Sebagaimana diketahui bahwa ada enam kriteria Pelajar Pancasila yang diinginkan Kemendikbudristek, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; mandiri; bernalar kritis; kebinekaan global; bergotong royong; dan kreatif. Salah satu profil Pelajar Pancasila adalah karakter berkebhinekaan global.
Dalam hal ini, Pelajar yang memiliki profil pancasila yang berkebinekaan global memiliki semangat untuk mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitas dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Dalam hal ini terdapat 3 buah elemen kunci yang menjadi profil pelajar pancasila yang berkebinekaan Global. Ketiga buah kunci tersebut yakni mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi inter kultural dalam berinteraksi dengan sesame serta refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan. Kebhinekaan global adalah perasaan menghormati keberagaman.Kebhinekaan global adalah toleransi terhadap perbedaan.
HGN dan Daya Saing Global
Tema HGN 2022 adalah “Serentak Berinovasi Wujudkan Merdeka Belajar. Seluruh Guru di Indonesia kembali akan memperingati Hari Guru Nasional pada 25 November 2022 dan dan Hari Ulang Tahun PGRI ini berdasarkan pada Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 78 Tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional. Peran guru dibutuhkan khususnya dalam rangka pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang meletakkan dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa. Sebagaimana diketahui bahwa hasil ranking Global Competitiveness Index (GCI) atau Indeks Daya Saing Global, yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) tahun 2019 menunjukkan posisi Indonesia di urutan ke-50 dari 141 negara. Posisi ini masih kalah dibandingkan dengan negara Thailand (40), Malaysia (27) dan Singapura (1). Dari sisi kemampuan berinovasi, sebagaimana hasil survei Global Innovation Index GII terakhir pada tahun 2020 telah menempatkan Indonesia pada pe ringkat ke-85 dari 131 negara. Posisi ini masih tertinggal jauh dengan Thailand yang menduduki peringkat 44, Malaysia berada di posisi 33, dan Singapura bahkan sudah di peringkat 8. Salah satu penyebab ranking Indonesia masih kalah dan tertinggal dari negara-negara tetangga tersebut adalah masih rendahnya kemampuan berinovasi di berbagai bidang. Faktor pendidikan sangat berkaitan erat dengan kemampuan berinovasi, sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan suatu bangsa tentunya memiliki potensi yang lebih besar dalam melakukan inovasi. Seringnya pergantian kurikulum menyebabkan berubahnya infrastruktur yang diperlukan, seperti pengadaan buku sekolah, metode belajar dan kemampuan mengajar para guru itu sendiri.
Konsekuensi dari pergantian kurikulum yang sering tersebut juga membuat bingung para siswa maupun orang tua, serta menyedot anggaran yang tidak sedikit jumlahnya. Mengutip Kemristekdikti,(2015) menyatakan bahwa kualitas pendidikan dan daya saing lulusan perguruan tinggi Indonesia di pasar tenaga kerja masih jauh tertinggal, baik di tingkat internasional maupun di tingkat ASEAN pada scope yang lebih sempit. Isu-isu terkait seperti peran, manajemen, mutu, sistem, penilaian hasil, dan sebagainya dalam konteks pendidikan selalu menjadi perbincangan.
SDM yang baik akan menjadi faktor pendorong berbagai kegiatan yang dapat dilakukan suatu bangsa, termasuk perekonomian. Dalam pengembangan daya saing, suatu negara diposisikan dalam perubahan factor-driven menjadi innovation-driven (Schwab, 2014). Permasalahan penting yang mengemuka dalam pendidikan adalah: kualitas manajemen sekolah; kualitas penelitian dan pelatihan; kualitas sistem pendidikan; serta masih rendahnya tingkat partisipasi pendidikan tinggi. Empat hal utama inilah yang perlu ditingkatkan dalam dunia pendidikan sebelum dapat berpindah ke sektor lain. Schwab, et,al menyatakan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia sendiri adalah rendahnya fokus pada pembangunan mental atau karakter, sedangkan analisis masalah daya saing Indonesia diketahui bahwa akar masalahnya ialah tingkat korupsi yang tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa problematika yang menjadi kendala di Indonesia adalah masalah mentalitas. Berdasarkan pengalaman berbagai negara, kualitas pendidikan memiliki peran penting bagi daya saing bangsa yang berkelanjutan. Penguasaan teknologi dan penyiapan serta penataan infrastruktur teknologi yang baik dengan signifikan akan membantu mengakselerasi kualitas pendidikan kita. Pendidikan di Indonesia mengalami stagnasi dari sisi kualitas selama kurang lebih dua dekade terakhir harus bangkit dalam menghadapi era global.
Ketidakpastian global yang sering kita hadapu harus menjadi spirit dalam memenangkan persaingan. Penataan pendidikan mulai dari rekruitmen guru seperti PPPK dan ASN harus dilakukan dengan selektif mungkin. Umumnya guru apabila sudah berstatus ASN diawal-awal masa kerjanya masih produktif serta memiliki semangat dan produktivitas kerjanya masih tinggi. Setelah lima tahun dengan status sudah ASN tetap kinerjanya sudah mulai stagnan. Fenomena yang sering dihadapi dilapangan adalah seringkali guru dipersalahkan tentang rendahnya kualitas SDM ataupun mutu serta kualitas pendidikan. Kebijakan pendidikan yang kurang baik harus diubah menjadi semakin baik. Sebab semakin baik kebijakan pendidikan, maka berpengaruh signifikan terhadap kualitas pendidikan. Penyelsaian rekrutmen GTK honorer menjadi GTK PPPK setidaknya harus tuntas tahun 2023. Begitu juga dengan status Guru Penggerak hendaknya tidak dijadikan syarat utama untuk menjadi kepala sekolah, karena tidak seimbangnya jumlah guru penggerak dengan kebutuhan formasi kepala sekolah yang tersedia. Selamat hari Guru Nasional Tahun 2022 dan Hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mari kita jadikan Spirit HGN dan HUT PGRI sebagai modal utama untuk menghadapi ketidakpastian global. Semoga bermanfaat. (*******).
Rujukan:
Badan Pusat Statistik. (2019b). Potret Pendidikan Indonesia, Statistik Pendidikan 2018.
Kemdikbud Ristek, 2022 Tema dan Logo Hari Guru Nasional HGN Tahun 2022
Michael Porter, & Klaus Schwab. (2008). The Global Competitiveness Report 2008. World Economic Forum.
Mohammad Ali. (2017). Curriculum Development for Sustainability Education. UPI Press.
Mohammad Fakry Gaffar. (2020). Sistem Pendidikan Guru Terpadu: Solusi Terhadap Permasalahan Pendidikan Guru untuk Masa Depan Indonesia, dalam Pendidikan Menuju Indonesia Emas. UPI Press.
Sudaryono. (2017). Menuju Pendidikan Asembling. Kompas.
United Nations Children’s Fund. (2020). Situasi Anak di Indonesia – Tren, Peluang, dan Tantangan dalam Memenuhi Hak-hak Anak.
Yudi Latif. (2020). Pendidikan Berkebudayaan: Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif. Gramedia Utama.





















Komentar